Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Kepastian
"Apa boleh?" Tanya Gatra memastikan sekali lagi dengan gugup karna sudah cukup lama menunggu, tapi Nayra tak kunjung buka suara. "Tapi kalau kamu keberatan atau terganggu kamu boleh nolak niat baik saya."
"Saya ngga terganggu, saya kaget." Balas Nayra akhirnya. "Tapi kenapa harus saya? Saya ini... janda sementara Mas Gatra belum pernah menikah."
"Ngga ada yang salah dengan status kamu," ungkap Gatra sungguh-sungguh.
"Menurut Mas Gatra, tapi gimana dengan orang tuanya?"
Gatra tersenyum memahami kekhawatiran ibu dari satu anak di depannya. "Saya rasa mereka bakal senang dan menerima kalian dengan tangan terbuka."
"Rayyan–"
"Anak yang sangat mudah di sukai," sela Gatra cepat. "Buktinya saya yang enggak suka anak kecil aja pelan-pelan jadi suka dan itu semua berkat Rayyan."
Nayra membalas tatapan Gatra sambil tersenyum haru. "Terima kasih."
Gatra membalas tersenyum. "Kamu... kalian jangan khawatir pasti di terima baik oleh ibu dan ayah saya, Nay. Tentang status malah diusia ini saya yakin kamu pasti punya banyak pengalaman hidup yang membuat kamu makin dewasa dalam menjaga emosi. Maaf, karna saya ngga bisa berkata-kata manis, tapi saya serius mau mengenal kamu lebih jauh lagi, lalu saat kita sudah sama-sama siap baru melangkah kejenjang berikutnya."
"Apa Mas yakin?" Tanya Nayra sekali lagi karna tidak ingin suatu saat nanti adanya masalah karna dirinya sudah memiliki anak. "Terlebih tentang status–"
"Saya juga ngga sempurna, Nay. Belum menikah diusia matang menjadi salah satu bukti ketidak sempurnanya saya." Ungkap Gatra tak merasa malu. "alasan lain saya belum menikah sebenarnya saya ngga mau bikin orang yang saya cintai merasa di tipu saat memiliki keluarga dengan saya, lalu nantinya hal itu membuat keluarga saya berantakan karna saya belum selesai dengan luka masa lalu yang belum sembuh. Tapi saya jadi penasaran, apa kamu keberatan dekat pria yang masih pergi ke psikolog untuk menyembuhkan pola pikirnya yang aneh ini?"
"Asal tidak di lakukan pada Rayyan dan Mas mau berubah menjadi lebih baik maka saya ngga masalah. Selain itu dengan pergi ke sana berarti Mas sadar dan ingin sembuh," sahutnya masih ada keraguan, bukan ingin menolak karna pada dasarnya ia tak pernah menolak ajakan seseorang untuk mengenalnya lebih jauh lagi. Hanya saja kebayangkan di bulan kedua pria-pria itu memberi jarak lalu menyudahi keseriusannya.
Jika saja saat ini ia masih sendiri maka semua itu tak masalah, tapi masalahnya ia punya Rayyan yang sering kecewa walaupun tidak pernah mendengarkan langsung dari putranya.
"Saya ngga akan tutup-tutupi lagi, seperti yang pernah Mas Gatra dengar, keluarga saya bermasalah. Hubungan sama Mama, Papa, adik-adik saya dan mertua ngga pernah seperti keluarga lainnya."
"Kita bisa berusaha supaya mereka–"
"Ngga bisa, Mas. Mereka gila kekuasaan dan uang." Pungkasnya tak mendapatkan tanggapan, Gatra hanya memandang Nayra tanpa ada sorot kasihan di dalamnya. "Saya menerima ajakan Mas Gatra, tapi kita ngga akan melibatkan mereka saya di dalamnya."
Gatra tentu saja kaget karna tak pernah mengira kalau Nayra akan terus terang tentang keluarganya. Tapi ia sudah membuat keputusan maka untuk saat ini, pria itu menuruti keinginan sang wanita.
"Kalau kita ngga kenal dekat saya juga ngga akan buka-bukaan kayak gini, Mas. Saya juga ngga mau kalau nanti Mas Gatra tiba-tiba aja hilang dan akan membuat Rayyan sedih." Ungkapnya lalu menghela nafas kasar. "Maksudnya saya ngga akan melarang, selama pendekatan Mas boleh melakukan apapun karna yang bakal mengalami konsekuensi baik atau buruknya adalah Mas sendiri, tapi kalau menyerah, omongin dulu. Soalnya ada hati lain yang bakal kecewa."
Gatra mengangguk memahami resikonya lalu memutar otak untuk mencari topik baru karna pembicaraan mereka untuk di awal terlalu berat. "Ceritakan tentang kamu, Nayra. Walaupun saya sudah tahu sedikit dari Rayyan, tapi saya pengen tahu lebih banyak lagi."
"Tahu apa lagi? Saya ngga punya hal-hal yang baik untuk di ceritakan."
"Apapun misalnya–"
"Gimana kalau Mas Gatra aja yang cerita? Saya ngga tahu apapun tentang, Mas."
"Cerita apa yaa... Ah, nama saya Gatra Pratama, umur 35 tahun, anak pertama dari dua bersaudara, tapi sudah lebih dari satu tahun hubungan kami meregang."
"Wajarlah adek kakak kalau ada masalah dikit."
Gatra mengangguk. "Tapi ini beda, Nay. Saya dulu pernah lalai jagain keponakan saya namanya Naufal jadi bikin adik saya marah sampai sekarang."
Nayra hendak bertanya lebih jauh, tapi mengurungkannya karna tak ingin menyinggung pria di depannya. Ia akhirnya hanya mendengar sekali menanggapi tanpa ingin mengorek lebih jauh lagi.
Gatra juga mengatakan tentang kerjaannya di kapal yang bisa memakan waktu berbulan-bulan yang sudah di dengarnya dari dulu.
Sebagai wanita yang bekerja Nayra tak mempersalahkan tentang hubungan jarak jauh. Mereka juga sama-sama sudah dewasa dan menurutnya hanya pasangan yang tidak waras kalau harus selingkuh padahal pasangannya di lautan sedang mencari uang untuk kebutuhan keluarganya.
"Saya percaya sama kamu, tapi cuma mewanti-wanti soalnya udah banyak kejadiannya." kata Gatra. "Apa lagi kamu cantik, punya karir bagus, uang banyak jadi ngga ada alasan buat kamu setia sama orang kayak saya."
"Emang Mas Gatra kenapa? Pekerjaan bagus kok, orangnya juga baik, sayang Rayyan yang paling utama. Tapi saya curiga dulu pernah ada di posisi itu ya?" Nayra blak-blakan membuat Gatra mengangguk. "Intinya percaya aja, saya yakin hubungan akan berhasil dan berjalan dengan sehat kalau saling yakin satu sama lain."
Gatra tersenyum lalu meraih sebelah tangan Nayra yang ada meja. "Nay, mulai sekarang banyak-banyak bahagia dan jangan memendam beban seorang diri lagi. Saya mungkin ngga bisa sebaik Yudha untuk memahami kamu, tapi saya akan berusaha menjadi teman, sahabat dan pasangan yang selalu mendengar kamu. Saya juga ngga sempurna, tapi saya akan berusaha melakukan semampunya untuk kebahagiaan kita."