Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Lain
Tio terbangun dengan perasaan yang aneh. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia tidak merasakan sakit yang menusuk di sekujur tubuh.
Tidak ada denyutan di kaki, tidak ada nyeri di kepala, tidak ada pegal di punggung. Ia hanya... tenang.
Matahari pagi masuk melalui celah-celah dinding bambu, menciptakan garis-garis cahaya di lantai tanah. Debu-debu halus menari di dalam cahaya itu. Suara ayam berkokok dari kejauhan, diselingi kicauan burung yang merdu.
Tio duduk perlahan. Tubuhnya terasa ringan. Ia menunduk, melihat kakinya. Mata nya membelalak.
Bengkak di kaki kanannya—yang kemarin sebesar betis, ungu kehitaman, mengeluarkan nanah—kini telah menyusut drastis.
Ukurannya hampir normal, hanya sedikit lebih besar dari kaki kiri. Warna ungu telah memudar menjadi merah muda. Luka infeksi di pergelangan kaki tampak mengering, seperti luka yang sudah dirawat berhari-hari.
Tio mengucek mata, mengira masih bermimpi. Tapi kakinya tetap sama. Nyata.
"Iki... piye iso?" gumamnya tidak percaya. (Ini... bagaimana bisa?)
"Ramuan alas, Le. Ora kaya obat modern, ning manjur." (Ramuan hutan, Nak. Tidak seperti obat modern, tapi manjur.)
Tio menoleh. Ki Jaga duduk di ambang pintu, tersenyum melihat ekspresi Tio. Di tangannya, ia memegang cobek batu bekas menumbuk daun-daunan semalam.
"Mbah... ini... dalam satu malam?" Tio masih tidak percaya.
Ki Jaga mengangguk. "Kowe turu suwe, Le. Sakwise diolesi ramuan, kowe turu nganti saiki. Wis meh 12 jam."
(Kamu tidur lama, Nak. Setelah diolesi ramuan, kamu tidur sampai sekarang. Sudah hampir 12 jam.)
Tio mengerjap. 12 jam? Ia tidur 12 jam? Tidak heran tubuhnya terasa segar.
"Matur nuwun, Mbah. Matur nuwun sanget." (Terima kasih, Kakek. Terima kasih banyak.)
Ki Jaga melambaikan tangan. "Ora usah rewel. Wis, kene tak kandhani sopo dew, nanging sakdurunge... mangan dhisik."
(Tidak usah ribet. Sudah, sini akan kukatakan siapa kita, tapi sebelumnya... makan dulu.)
Sarapan kali ini lebih lengkap dari kemarin. Mbok Ranti menyajikan nasi putih hangat dengan lauk pindang ikan kecil-kecil, sambal terasi, dan lalapan daun pepaya. Tio makan dengan lahap, meski perutnya yang mengecil cepat kenyang. Tapi kali ini ia bisa makan lebih banyak dari kemarin—tanda bahwa tubuhnya mulai pulih.
Sambil makan, Tio mengamati sekeliling. Gubuk ini sederhana, sangat sederhana. Lantai tanah, dinding anyam bambu, perabotan dari kayu dan bambu, periuk dari tanah liat. Tidak ada listrik—ia tidak melihat kabel, stopkontak, atau bola lampu. Tidak ada plastik—semua wadah dari tempurung, kayu, atau anyaman. Tidak ada benda modern sama sekali.
Dan yang lebih aneh, ia tidak mendengar suara kendaraan. Tidak ada suara motor, mobil, atau apapun yang menandakan peradaban modern. Hanya suara alam dan sesekali suara ayam atau burung.
Tio mencoba meraih ponselnya—lupa, ponselnya sudah hancur sejak hari pertama. Tapi ia penasaran, apakah ada sinyal di sini? Mungkin ia bisa meminjam telepon Ki Jaga? Tapi melihat sekeliling, ia ragu ada telepon di desa ini.
"Mbah," Tio memulai, setelah selesai makan.
"Aku meh takon. Desa iki desa opo? Kabupaten opo? Kuto paling cedhak neng endi?" (Kakek, saya mau tanya. Desa ini desa apa? Kabupaten apa? Kota paling dekat di mana?)
Ki Jaga tersenyum. Senyum yang sama seperti kemarin—ramah, tapi ada sesuatu di belakangnya.
"Desa iki jenenge Tenganan, Le." (Desa ini namanya Tenganan, Nak.)
Tio mengernyit. Tenganan? Ia pernah mendengar nama itu? Mungkin di Bali? Tapi ini bukan Bali, ini Jawa. Gunung Slamet.
"Tenganan? Kabupaten Pemalang, Mbah?" tanyanya ragu.
Ki Jaga menggeleng pelan. "Ora, Le. Tenganan iki... dudu kabupaten sing mbok kenal."
(Bukan, Nak. Tenganan ini... bukan kabupaten yang kau kenal.)
Tio diam, mencerna kata-kata itu.
"Maksud Mbah?"
Ki Jaga menatapnya lama. Matanya yang tajam itu sekarang terlihat... dalam. Seperti sumur tua yang tidak ada dasarnya.
"Dewe, Le... wong-wong kene... dudu bagéan seko dunyo sing mbok kenal." (Kami, Nak... orang-orang sini... bukan bagian dari dunia yang kau kenal.)
Tio terdiam.
Kata-kata itu menggema di kepalanya. Bukan bagian dari dunia yang kau kenal. Apa maksudnya? Apakah ini semacam desa terpencil yang terisolasi? Atau...
"Maksud Mbah... desa ini terisolasi? Susah dijangkau?" Tio mencoba interpretasi paling logis.
Ki Jaga tersenyum lagi, tapi kali ada sedikit kesedihan di matanya. "Kowe wong pinter, Le. Ning ora cukup pinter kanggo ngerti kabeh."
(Kamu orang pintar, Nak. Tapi tidak cukup pintar untuk mengerti semuanya.)
Ia berdiri, berjalan ke pintu, memandang ke luar. Kabut masih tebal, seperti biasa.
"Kowe mlebu mrene liwat ngendi?" tanya Ki Jaga tanpa menoleh. (Kamu masuk ke sini lewat mana?)
Tio mencoba mengingat. "Aku... aku nggak tahu. Aku cuma jalan terus ke bawah. Ikut sungai, terus nyasar, terus ketemu macan, terus... aku nggak tahu."
Ki Jaga mengangguk. "Kowe mlebu mrene mergo kowe wis meh mati. Ambang batas antar urip lan pati kuwi tipis. Ing kono, lawang antar dunyo mbukak."
(Kamu masuk ke sini karena kamu sudah hampir mati. Ambang batas antara hidup dan mati itu tipis. Di situ, pintu antar dunia terbuka.)
Tio bergidik. "Maksud Mbah... ini dunia lain?"
Ki Jaga berbalik, menatapnya. "Kowe weruh opo ing saknjabane gubuk iki?"
Tio menggeleng. "Enggak. Kabut tebal."
"Kabut kuwi sing misahake dewe karo dunyomu. Ing njero kabut kuwi, ono wates. Wong-wong koyo kowe biasane ora iso liwat. Tapi kowe... kowe liwat. Mergo kowe meh mati."
(Kabut itu yang memisahkan kami dengan duniamu. Di dalam kabut itu, ada batas. Orang-orang sepertimu biasanya tidak bisa lewat. Tapi kamu... kamu lewat. Karena kamu hampir mati.)
Tio duduk terpaku. Otaknya mencoba memproses, tapi rasanya seperti mencoba menampung lautan dalam tempurung kelapa. Dunia lain? Dimensi lain? Ini seperti cerita horor yang pernah ia dengar, tapi tidak pernah ia percaya.
"Mbah... ini... serius?"
Ki Jaga tertawa kecil. Tawanya renyah, seperti bambu tertiup angin. "Kowe takon, aku jawab. Percoyo utowo ora, kuwi urusanmu."
Tio diam. Matanya menerawang, mencoba mengingat kembali semua keanehan yang ia alami. Bayangan-bayangan yang menonton setiap malam. Suara gamelan di tengah hutan.
Kakek tua dalam mimpi yang memberinya makan dan minum. Macan kumbang yang seakan menuntunnya. Dan sekarang, desa ini, orang-orang ini, yang dalam satu malam bisa menyembuhkan lukanya dengan daun-daunan.
Mungkin... mungkin ini semua nyata.
"Mbah... terus aku... aku bisa pulang?" suara Tio bergetar.
Ki Jaga mendekat, duduk di sampingnya. Tangannya yang keriput menepuk bahu Tio.
"Bisa, Le. Wong kowe isih urip. Sing mati kuwi sing ora iso bali. Tapi... kudu sabar. Kudu ngenteni wektu sing pas."
(Bisa, Nak. Kamu masih hidup. Yang mati itu yang tidak bisa kembali. Tapi... harus sabar.
Harus menunggu waktu yang pas.)
"Kapan, Mbah?"
"Ora suwe. Nanging sakdurunge, kudu waras dhisik. Kudu kuwat dhisik."
(Tidak lama. Tapi sebelumnya, harus sembuh dulu. Harus kuat dulu.)
Tio mengangguk pasrah. Ia tidak punya pilihan lain.
Sore itu, Tio berjalan-jalan di sekitar desa, ditemani Ki Jaga. Meski masih pincang, kakinya sudah jauh lebih baik. Ia bisa berjalan tanpa tongkat, meski pelan.
Desa Tenganan kecil. Mungkin hanya 20-30 rumah, semuanya dari bambu dan kayu, beratap ijuk. Penduduknya ramah—mereka menyapa Tio dengan senyum, meski ada rasa ingin tahu di mata mereka. Anak-anak berlarian, tertawa, bermain layangan dari daun.
Tapi Tio memperhatikan hal-hal aneh.
Gerakan mereka. Semua penduduk bergerak dengan anggun, seperti penari. Tidak ada gerakan kasar, tidak ada langkah tergesa. Semua mengalir, lembut, indah.
Mata mereka. Semua memiliki mata yang tajam—tajam seperti elang, seperti bisa melihat menembus. Dan kadang, di sudut mata, Tio melihat kilatan merah. Samar, cepat, tapi ada.
Dan yang paling aneh, tidak ada bayi. Tio tidak melihat bayi sama sekali. Anak-anak yang ada semuanya sudah besar, mungkin 5 tahun ke atas. Tidak ada yang digendong, tidak ada yang menyusui.
"Mbah," Tio berbisik. "Wong kene... wong biasa toh?"
(Kakek, orang sini... orang biasa ya?)
Ki Jaga tersenyum. "Miturutmu?"
Tio tidak bisa menjawab.
Malam turun. Tio kembali ke gubuk Ki Jaga. Mbok Ranti menyiapkan makan malam—lagi-lagi masakan sederhana tapi lezat. Tio makan dalam diam, pikirannya masih berkecamuk.
Sebelum tidur, ia bertanya satu pertanyaan terakhir.
"Mbah, sebenernya Mbah ki sopo? Wong kene ki sopo sejatinya?"
Ki Jaga menatapnya lama. Lalu tersenyum—senyum yang sama, penuh teka-teki.
"Dewe ki... mbok menawi lelembut, Le. Wong sing njogo keseimbangan antar dunyo. Wong sing wis ono kene sakdurunge manungso koyo kowe teko."
(Kami ini... bisa dibilang lelembut, Nak. Orang yang menjaga keseimbangan antar dunia. Orang yang sudah ada di sini sebelum manusia sepertimu datang.)
Tio membeku. Lelembut—makhluk halus. Kata itu bergema di kepalanya.
Tapi anehnya, ia tidak takut. Orang-orang ini telah menyelamatkannya. Mereka memberinya makan, merawat lukanya, melindunginya. Apa pun mereka, Tio berhutang nyawa pada mereka.
"Matur nuwun, Mbah," bisiknya. "Kanggo kabeh."
(Terima kasih, Kakek. Untuk semuanya.)
Ki Jaga mengangguk. "Ngaso, Le. Sesuk isih ono perjalanan."
(Istirahat, Nak. Besok masih ada perjalanan.)
Tio berbaring di tikar. Di luar, kabut tebal masih menyelimuti desa. Di dalam, hati Tio dipenuhi campuran aneh—syukur, bingung, takut, dan harapan.
Ia telah memasuki dunia lain. Dan entah bagaimana, ia harus kembali ke dunianya.
Tapi malam ini, ia hanya ingin tidur. Besok, ia akan memikirkan semuanya.