Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam di balik kemudi
Prediksi Ravion tentang Calista yang akan "terbakar habis" bukan sekadar gertakan. Hanya dalam waktu dua puluh empat jam setelah berita skandal itu mencuat, Ravion melakukan serangan balik yang sistematis. Ia tidak hanya membantah berita itu dengan fakta hukum tentang kompensasi yang sedang ia siapkan untuk keluarga Elfesya, tetapi ia juga mencabut semua dukungan finansial dan kontrak modeling yang melibatkan Calista Ziva.
Nama Calista masuk ke dalam daftar hitam agensi-agensi besar. Brand kecantikan internasional yang menjadikannya brand ambassador memutuskan kontrak secara sepihak karena citranya dianggap terlalu berisiko dan penuh drama negatif. Karir yang ia bangun dengan keangkuhan selama bertahun-tahun runtuh dalam semalam.
Calista terduduk di dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari pintu keluar area apartemen Ravion. Wajahnya kacau, riasannya luntur oleh air mata amarah. Ia telah kehilangan segalanya: status, uang, dan Ravion. Di kepalanya, hanya ada satu nama yang bertanggung jawab atas kehancuran ini.
"Elfesya... jika aku jatuh ke neraka, aku tidak akan membiarkanmu tetap di surga," desis Calista. Matanya yang merah menatap tajam ke arah gerbang lobi.
Sore itu, Elfesya memutuskan untuk keluar sendirian. Ia ingin membeli beberapa keperluan sekolah tambahan untuk Elric di toko buku seberang blok apartemen. Ravion sedang terjebak dalam rapat darurat dengan dewan direksi, dan Elfesya tidak ingin terus-menerus merepotkan pengawal yang ditugaskan Ravion. Ia merasa Jakarta masih cukup aman baginya—sebuah kesalahan fatal yang didasari oleh sisa ketulusannya.
Elfesya melangkah keluar dari gerbang pejalan kaki. Udara Jakarta terasa panas, namun ia menikmatinya. Ia berjalan menuju zebra cross, menunggu lampu pejalan kaki berubah hijau.
Di kejauhan, mesin mobil Calista menderu. Ia melihat sosok Elfesya yang sedang berdiri tenang di pinggir jalan. Tanpa berpikir panjang, Calista menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Mobil itu melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya, mengabaikan lampu merah dan teriakan klakson dari kendaraan lain.
Ckiiiiiitttttt!
Suara ban yang beradu dengan aspal terdengar memekakkan telinga. Elfesya hanya sempat menoleh dan melihat cahaya lampu depan yang menyilaukan sebelum tubuhnya dihantam dengan keras. Ia terlempar beberapa meter ke aspal jalanan yang keras.
Dunia mendadak menjadi hening bagi Elfesya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari kaki hingga kepalanya. Pandangannya mengabur, menatap langit Jakarta yang sore itu berwarna jingga kemerahan—warna yang selalu ditakuti Ravion.
"Ravion..." bisik Elfesya pelan sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.
Calista tidak berhenti. Ia memutar kemudinya dan melaju pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kerumunan orang yang mulai berlari menghampiri tubuh Elfesya yang bersimbah darah.
Kabar itu sampai ke telinga Ravion saat ia baru saja menutup rapat direksinya. Saat asistennya masuk dengan wajah sepucat kertas dan membisikkan bahwa Elfesya dilarikan ke Rumah Sakit Medika karena tabrak lari, jantung Ravion seolah berhenti berdetak.
Ia tidak bicara. Ia langsung berlari menuju lift, mengabaikan panggilan ayahnya dan para pemegang saham. Di dalam mobil menuju rumah sakit, tangan Ravion gemetar hebat—lebih hebat daripada saat ia mengalami serangan panik di kantor.
"Cari mobil itu! Cek semua rekaman CCTV di sekitar apartemen!" perintah Ravion melalui telepon, suaranya terdengar seperti raungan binatang buas yang terluka. "Jika itu dia... jika itu Calista... aku tidak akan memenjarakannya. Aku akan menghancurkannya dengan tanganku sendiri!"
Sesampainya di rumah sakit, Ravion berlari melewati lorong-lorong putih yang dingin. Di depan ruang Unit Gawat Darurat (UGD), ia menemukan Elric yang sedang duduk bersandar di dinding, menangis tersedu-sedu dengan baju sekolah yang terkena noda darah kakaknya.
"Elric!" panggil Ravion parau.
"Kak Ravion... Kak El... tadi dia cuma mau beli buku untukku," isak Elric. "Banyak darah, Kak. Banyak sekali."
Ravion memeluk adik iparnya itu dengan erat, meskipun hatinya sendiri sedang hancur berkeping-keping. Ia menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat dengan lampu merah yang menyala. Di balik pintu itu, wanita yang baru saja ia perjuangkan cintanya sedang bertaruh nyawa.
Ravion bersumpah dalam hati. Jika Elfesya tidak kembali, maka ia akan memastikan dunia ini tidak akan pernah tenang bagi siapapun yang terlibat. Dan bagi Calista Ziva, pelariannya hanyalah awal dari mimpi buruk yang tidak akan pernah berakhir.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...