Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Udara di dalam ruang sidang utama Pengadilan Negeri terasa seberat timah. Ini bukan sekadar persidangan; ini adalah tontonan nasional. Di luar gedung, ribuan demonstran berteriak menuntut keadilan bagi "Gadis-Gadis yang Hilang," sementara di dalam, barisan pengacara mahal berbaju necis duduk dengan angkuh, mencoba mencari celah dalam setiap kata yang keluar dari mulut saksi.
Adella duduk di kursi saksi mahkota. Cahaya lampu dari kamera media yang diperbolehkan meliput terbatas memantul di matanya yang kini tampak setenang telaga, namun sedingin es. Di barisan terdakwa, Baron Adwan duduk dengan punggung tegak, sementara Julian Mahendra tampak gelisah, sesekali memperbaiki letak kacamatanya yang tidak miring. Pak Adwan tidak ada di sana; ia masih dalam status buron setelah pelariannya yang dramatis dari ambulans saat dipindahkan dua hari lalu.
Saudari saksi, Anda mengklaim bahwa terdakwa Baron Adwan mengetahui secara spesifik tentang keberadaan gudang bawah tanah di SMA Persada. Apakah Anda memiliki bukti fisik yang menghubungkan terdakwa secara langsung, bukan hanya melalui cucunya yang saat ini melarikan diri?" tanya Hakim Ketua, suaranya menggema di ruangan yang kedap suara itu.
Adella menarik napas dalam. "Bukti fisiknya adalah aliran dana yang disamarkan sebagai 'biaya pemeliharaan arsip sastra' selama sepuluh tahun terakhir. Dana itu tidak melalui rekening sekolah, melainkan melalui rekening pribadi Julian Mahendra atas perintah langsung dari Baron Adwan."
Julian mendesis, menatap Adella dengan tatapan yang ingin melubangi kepalanya. Namun, pembelaan Baron segera berdiri. "Keberatan, Yang Mulia! Saksi hanya berasumsi. Aliran dana tersebut adalah sah untuk kepentingan yayasan pendidikan."
Di tengah perdebatan hukum yang melelahkan itu, Adella merasakan sebuah getaran aneh. Bukan dari ponselnya—yang telah disita untuk bukti—melainkan dari instingnya. Ia melihat ke arah balkon ruang sidang yang diperuntukkan bagi pengunjung umum. Di sana, di barisan paling belakang yang gelap, duduk seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas linen berwarna krem. Pria itu tidak berteriak seperti demonstran lain; ia hanya duduk diam sambil memutar-mutar sebuah koin emas di jemarinya.
Pria itu menatap Adella, lalu memberikan sebuah anggukan yang sangat formal, seolah-olah ia sedang menonton pertunjukan opera yang menghibur.
Siapa dia? batin Adella.
Saat jam istirahat sidang, Adella dikawal oleh dua petugas polisi menuju ruang tunggu steril. Viona menunggunya di sana dengan wajah yang pucat.
"Adella, kita punya masalah besar," bisik Viona sambil menunjukkan sebuah tablet. "Status Pak Adwan sebagai buron baru saja naik menjadi prioritas nasional, tapi ada yang aneh. Semua rekaman CCTV dari lokasi pelariannya dihapus secara permanen. Bukan oleh keluarga Adwan, tapi oleh pihak luar yang memiliki akses tingkat tinggi ke jaringan kepolisian."
"Apa maksudmu?" Adella mengerutkan kening.
"Ada kekuatan lain yang sedang bermain, Adella. Kekuatan yang lebih besar dari Baron," Viona menggeser layar tabletnya, menampilkan sebuah logo yang membuat Adella membeku: sebuah simbol segitiga dengan garis vertikal di tengahnya—lambang "Lembaga Arkana."
"Siapa mereka?"
"Mereka adalah konsorsium rahasia yang mendanai yayasan-yayasan elit seperti milik Adwan untuk melakukan eksperimen sosial terhadap anak-anak berbakat. Pak Adwan, Julian, bahkan Baron... mereka semua hanyalah 'manajer proyek' bagi Arkana. Dan sekarang, karena proyek ini bocor ke publik, Arkana mulai membersihkan jejaknya."
Adella menyadari bahwa ia baru saja menebang pohon, namun akarnya masih mencengkeram bumi dengan sangat kuat. "Pria di balkon sidang tadi... dia memakai pin dengan lambang itu."
"Itu Aristho Arkana," suara Viona bergetar. "Dia adalah Arsitek sebenarnya. Pak Adwan hanyalah pengagum rahasianya yang mencoba meniru metodenya."
Tiba-tiba, lampu di ruang tunggu berkedip dan mati total. Suasana menjadi gelap gulita selama beberapa detik sebelum lampu darurat merah menyala. Suara keributan terdengar dari koridor luar.
"Tetap di belakangku, Viona!" Adella segera mengambil pulpen tajam yang selalu ia sembunyikan di balik lipatan kaus kakinya.
Pintu ruang tunggu didobrak terbuka. Bukan oleh polisi, melainkan oleh seorang pria bertopeng taktis. Namun, pria itu tidak menyerang. Ia melempar sebuah tabung kecil ke lantai yang mengeluarkan asap tebal.
"Adella, ikut kami jika ingin hidup," suara itu berat dan familiar.
"Pak Adwan?" Adella terperanjat.
Pria bertopeng itu membuka penutup wajahnya sedikit. Benar saja, itu adalah Pak Adwan. Namun, penampilannya sangat berbeda. Matanya tidak lagi menunjukkan kegilaan estetika; ia tampak seperti prajurit yang sedang dalam misi bunuh diri.
"Kakekku dan Julian adalah pion yang akan dikorbankan malam ini," bisik Pak Adwan cepat. "Sidang ini adalah jebakan. Aristho ingin melenyapkan semua saksi, termasuk kamu dan aku, agar rahasia Arkana tetap terkubur. Menara Adwan akan diledakkan dalam waktu sepuluh menit."
"Kenapa aku harus percaya padamu?" Adella menodongkan pulpennya ke leher Pak Adwan.
"Karena aku mencintaimu sebagai mahakaryaku, Adella. Dan aku tidak akan membiarkan orang lain menghancurkan apa yang telah aku ciptakan," Pak Adwan tersenyum miring, sebuah senyum yang masih mengerikan namun kali ini terasa tulus dalam kegilaannya. "Lari lewat jalur ventilasi belakang. Sekarang!"
Adella menatap Viona, lalu menatap Pak Adwan. Di tengah kekacauan itu, suara ledakan pertama terdengar dari arah lantai bawah gedung pengadilan. Guncangan hebat membuat debu-debu jatuh dari plafon.
"Viona, lari!" Adella menarik tangan temannya itu.
Mereka berlari melalui lorong-lorong sempit yang dipenuhi asap. Di tengah pelarian, Adella melihat melalui jendela kaca koridor; gedung pengadilan telah dikepung oleh kendaraan hitam tanpa plat nomor. Orang-orang bersenjata mulai masuk, menembaki siapa pun yang menghalangi jalan mereka. Ini bukan penangkapan; ini adalah pembersihan total.
Adella melihat Baron Adwan digiring keluar oleh orang-orang bertopeng tersebut, namun bukan untuk diselamatkan. Di tengah halaman gedung, di bawah guyuran hujan yang tiba-tiba turun deras, Baron ditembak tepat di keningnya oleh salah satu pria bersenjata. Dinasti itu berakhir di atas aspal yang basah.
Julian Mahendra terlihat berteriak histeris sebelum ia juga diseret masuk ke dalam salah satu mobil hitam yang melaju kencang.
Adella sampai di pintu keluar darurat yang menuju ke gang belakang. Namun, di sana, berdiri Aristho Arkana. Pria dengan koin emas itu.
"Selamat, Adella," ujar Aristho dengan suara yang sangat lembut, hampir seperti pujian seorang ayah. "Kamu telah menunjukkan performa yang luar biasa. Melampaui ekspektasi kami terhadap subjek nomor 042."
Adella berhenti, napasnya memburu. "Subjek 042?"
"Kamu pikir pertemuanmu dengan Pak Adwan adalah kebetulan? Kamu pikir rahasia kelahiranmu adalah kecelakaan?" Aristho memutar koin emasnya. "Semuanya telah dirancang sejak ibumu masuk ke klinik kesuburan milik yayasan kami dua puluh tiga tahun yang lalu. Kamu adalah produk dari rekayasa sosial dan genetika kami. Baron hanyalah donor yang tidak tahu apa-apa."
Adella merasa mual yang luar biasa. Seluruh keberadaannya, amarahnya, kecerdasannya, bahkan perlawanannya... apakah semuanya adalah bagian dari rencana?
"Pak Adwan menjadi terlalu terobsesi secara pribadi, itulah sebabnya kami harus menyingkirkannya," Aristho melangkah maju. "Tapi kamu... kamu adalah kesuksesan yang sempurna. Bergabunglah dengan kami, Adella. Jadilah bagian dari dewan arsitek. Kamu tidak butuh hukum, karena kamu adalah hukum itu sendiri."
Viona mencengkeram lengan Adella. "Jangan dengarkan dia, Adella!"
Adella menatap Aristho, lalu ia melihat ke arah Pak Adwan yang muncul dari balik bayangan di belakang Aristho, siap untuk menerjang.
"Aku bukan subjek," ujar Adella dengan suara yang sangat rendah namun tajam. "Aku adalah anomali yang akan menghancurkan algoritma kalian."
Dalam satu gerakan cepat, Adella tidak menyerang Aristho dengan pulpennya. Ia justru melemparkan koin emas yang sempat ia sambar dari meja bukti di ruang sidang tadi (yang ternyata milik Baron) ke arah sensor kebakaran di atas kepala Aristho, sambil secara bersamaan menekan tombol aktivasi pada ponsel yang telah dimodifikasi oleh Viona.
BOOM!
Sebuah ledakan gas kecil yang telah disiapkan Viona sebagai rencana cadangan menghantam sistem pipa di dinding gang. Uap panas menyembur ke arah Aristho, memberikannya kebutaan sesaat.
"Lari!" teriak Adella.
Adella dan Viona melompat ke dalam mobil curian yang mesinnya masih menyala. Saat mereka melaju pergi, Adella melihat melalui kaca spion; Pak Adwan dan Aristho terlibat dalam perkelahian fisik yang brutal di tengah kepulan asap. Guru gila itu akhirnya bertarung melawan penciptanya sendiri.
Adella memegang kemudi dengan tangan yang gemetar. Ia telah bebas dari keluarga Adwan, namun ia baru saja menyadari bahwa ia berada di tengah perang yang jauh lebih besar. Perang melawan organisasi yang menganggap manusia sebagai angka.
"Kita mau ke mana sekarang?" tanya Viona dengan suara bergetar.
Adella menatap lurus ke depan, ke arah cakrawala kota yang mulai gelap. "Ke tempat di mana mereka tidak bisa menemukan kita. Ke tempat di mana anomali berkumpul."