Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa-sisa Debu di Bawah Telapak Kaki Iblis
Episode 24
Hujan lebat yang mengguyur Kota Azure sejak sore tadi kini mulai mereda, menyisakan rintik-rintik halus yang jatuh di atas reruntuhan Arena Agung. Bau anyir darah yang kental seolah-olah menyatu dengan aroma tanah basah dan asap dari bangunan yang terbakar. Langit di atas kota masih tertutup awan hitam yang berputar-putar, seolah-olah enggan melepaskan pandangannya dari pemandangan mengerikan yang baru saja terjadi di bawahnya.
Gu Sheng berdiri di tengah-tengah kawah yang hancur, tepat di bawah balkon VIP yang kini tinggal puing-puing batu. Jubah hitamnya yang compang-camping tampak berat karena basah oleh air hujan dan darah musuh-musuhnya. Rambut hitamnya yang panjang menempel di wajahnya yang pucat, namun matanya, mata yang kini memancarkan cahaya ungu gelap yang sangat pekat tidak berkedip sedikit pun.
Ia menatap telapak tangan kanannya. Di sana, sisa-sisa cahaya emas dari Tulang Dewa yang baru saja ia telan masih berkedip pelan di bawah kulitnya, sebelum akhirnya benar-benar menyatu ke dalam aliran Qi hitamnya.
“Dug... Dug... Dug...”
Setiap detak jantung Gu Sheng kini terdengar seperti dentuman genderang perang yang bergema di seluruh stadion yang sunyi. Di dalam tubuhnya, sebuah gejolak energi yang luar biasa sedang terjadi. Esensi suci dari Tulang Dewa dan esensi iblis dari Dantian Penelan Langit-nya sedang bertarung untuk memperebutkan dominasi, sebelum akhirnya dipaksa untuk bersatu oleh kehendak Gu Sheng yang keras.
“Bocah, kau benar-benar gila!” suara Kaisar Iblis bergema dengan nada yang dipenuhi oleh rasa takjub sekaligus kengerian di dalam batin Gu Sheng. “Melahap Tulang Dewa secara utuh... tidak ada seorang pun di Alam Atas yang pernah terpikir untuk melakukan hal sekeji dan senekat itu! Kau sedang mencampurkan minyak dan air, cahaya dan kegelapan! Jika kau tidak segera menstabilkan Lautan Ruh-mu, kau akan meledak menjadi jutaan kepingan energi dalam waktu kurang dari tiga jam!”
Gu Sheng menggertakkan giginya, urat-urat di lehernya menonjol hingga tampak seperti kabel besi yang melilit. "Aku... tidak akan... meledak," desisnya di sela-sela napasnya yang mengeluarkan uap hitam. "Jika energi ini ingin menghancurkanku, maka aku akan menelannya sampai ia tidak punya pilihan selain tunduk padaku!"
Ia memicu Gerbang Pertama (Kai Men) untuk menjernihkan pikirannya dan Gerbang Kedua (Xiu Men) untuk memperkuat elastisitas meridiannya yang kini sedang diregangkan hingga batas maksimal oleh lonjakan kekuatan Spirit Sea Tingkat Keempat.
Di tribun penonton, ribuan orang masih bersujud. Tidak ada yang berani berdiri, bahkan tidak ada yang berani mengangkat kepala mereka untuk melihat sang Iblis. Mereka takut jika mata mereka bertemu dengan mata Gu Sheng, mereka akan langsung mati karena tekanan batin. Kesunyian itu begitu berat, seolah-olah waktu sendiri telah berhenti di tempat ini.
Su Mei dan Qing Er perlahan-lahan berjalan menuruni tangga tribun menuju arah Gu Sheng. Su Mei, yang biasanya selalu tampak tenang dan cerdik, kini berjalan dengan hati-hati. Ia bisa merasakan bahwa tanah di sekitar Gu Sheng telah berubah menjadi wilayah kematian di mana energi spiritual di udara telah dihisap habis oleh pemuda itu.
"Tuan Muda...!" Qing Er berteriak kecil, suaranya gemetar antara lega dan ketakutan. Ia ingin berlari dan memeluk Gu Sheng, namun Su Mei menahan bahunya dengan kuat.
"Jangan dulu, Qing Er," bisik Su Mei, wajahnya sangat serius. "Dia sedang berada di ambang ketidakstabilan energi. Satu sentuhan fisik yang salah bisa memicu ledakan Qi yang akan membunuhmu seketika."
Qing Er berhenti, matanya berkaca-kaca menatap punggung tegap tuannya yang dipenuhi luka. "Tapi... Tuan Muda sedang kesakitan..."
Gu Sheng menoleh sedikit, melirik ke arah mereka melalui bahunya. "Tetaplah di sana," ucapnya dengan suara yang terdengar seperti suara dua orang yang berbicara bersamaan, satu suaranya sendiri satu lagi suara gema dari Dantian-nya.
Gu Sheng kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lantai arena, beberapa meter dari kakinya. Di sana, Mu Ruoxue masih tergeletak. Tubuhnya yang tadinya memancarkan aura suci kini tampak seperti pakaian kotor yang dibuang. Dadanya yang berlubang masih mengeluarkan darah merah tua yang encer. Mata indahnya yang dulu dipuja oleh ribuan pria, kini kosong dan dipenuhi oleh air mata darah.
Ia masih hidup, namun jiwanya sudah mati. Ia telah menjadi saksi bagaimana seluruh dunianya, ayahnya, tunangannya, kekuataannya hancur dalam sekejap mata oleh pria yang pernah ia hianati.
Gu Sheng berjalan mendekati Mu Ruoxue. Langkah kakinya berat, meninggalkan jejak hitam yang terbakar di atas lantai granit. Ia berhenti tepat di depan kepala Mu Ruoxue, lalu ia menginjak rambut panjang wanita itu ke tanah.
"Ruoxue," ucap Gu Sheng datar. "Kau ingin melihat puncak dunia, bukan? Sekarang, lihatlah. Puncak dunia yang kau inginkan ternyata hanyalah tumpukan mayat keluargamu sendiri."
Mu Ruoxue hanya bisa mengeluarkan suara rintihan yang tak jelas. Lidahnya kaku, dan kesadarannya mulai memudar karena kehilangan banyak darah. Namun, rasa sakit di dadanya, rasa sakit dari kekosongan tempat Tulang Dewa dulu berada, jauh lebih menyakitkan daripada kematian.
"Aku tidak akan membunuhmu hari ini," lanjut Gu Sheng. Ia membungkuk, meraih leher Mu Ruoxue dan mengangkatnya sedikit agar wanita itu bisa melihat sekeliling stadion. "Aku ingin kau tetap hidup sebagai pengingat bagi setiap orang di kota ini. Setiap kali mereka melihatmu merangkak di jalanan seperti anjing cacat, mereka akan ingat apa yang terjadi ketika mereka berani mengusik Keluarga Gu."
Gu Sheng melepaskan cengkeramannya, membiarkan tubuh Mu Ruoxue jatuh kembali ke genangan darah. Ia kemudian menatap ke arah Senior Zhao (Zhao Ruo) yang mayatnya sudah kering kerontang tak jauh dari sana.
Ia meraih pedang perak milik Zhao Ruo yang tergeletak di tanah. Pedang itu adalah simbol dari Sekte Pedang Langit. Dengan satu gerakan tangan yang sangat kuat, Gu Sheng mematahkan pedang pusaka itu menjadi dua bagian dengan tangan kosong.
Ting!
Suara patahnya pedang itu bergema di seluruh arena. Gu Sheng melempar potongan pedang itu ke arah kerumunan.
"Siapa pun yang memiliki hubungan dengan Sekte Pedang Langit di kota ini... kalian punya waktu hingga matahari terbit besok untuk meninggalkan Kota Azure," suara Gu Sheng menggelegar ke seluruh penjuru kota. "Setelah matahari terbit, siapa pun yang masih tersisa... aku akan menelan seluruh klan kalian tanpa sisa."
Mendengar ancaman itu, beberapa keluarga bangsawan yang selama ini menjadi sekutu Keluarga Mu langsung pingsan karena ketakutan. Mereka tahu bahwa Gu Sheng bukan hanya sekadar mengancam, ia baru saja membuktikan bahwa ia mampu membantai tujuh pembunuh elit dan seorang murid inti sekaligus.
Gu Sheng kemudian berbalik, berjalan menuju Su Mei dan Qing Er. Saat ia mendekat, aura kegelapan di sekelilingnya mulai sedikit mereda, meskipun tetap memberikan tekanan yang luar biasa.
"Su Mei," panggil Gu Sheng.
"Iya, Tuan Muda Gu?" Su Mei membungkuk sedikit, menunjukkan rasa hormat yang kini lebih tulus daripada sekadar hubungan bisnis.
"Ambil alih seluruh aset Keluarga Mu dan Keluarga Gu yang berkhianat. Gunakan Paviliun Seribu Harta sebagai pengelolanya. Siapa pun yang menentang, kau tahu apa yang harus dilakukan," perintah Gu Sheng. Ia kemudian menyerahkan lencana kepala keluarga Mu yang ia ambil dari mayat Mu Chen.
Su Mei menerima lencana itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ini adalah kekuatan yang luar biasa besar. "Lalu... apa rencanamu selanjutnya? Kau butuh tempat untuk memulihkan diri."
"Aku akan kembali ke Paviliun. Aku butuh tiga hari untuk sepenuhnya menyerap esensi Tulang Dewa ini," jawab Gu Sheng. "Setelah itu... aku akan pergi menuju wilayah pusat. Sekte Pedang Langit masih berutang nyawa ayahku, dan aku akan pergi ke sana untuk menagihnya."
Gu Sheng meraih tangan Qing Er. Tangan gadis itu terasa sangat hangat, memberikan sedikit ketenangan pada batin Gu Sheng yang sedang bergejolak. "Ayo pergi, Qing Er. Pembersihan di sini sudah selesai."
Gu Sheng berjalan keluar dari Arena Agung dengan langkah yang mantap, diikuti oleh Su Mei dan Qing Er. Di belakang mereka, ribuan orang masih bersujud di tengah rintik hujan, menjadi saksi bagaimana seorang sampah kembali sebagai kaisar kegelapan yang akan mengubah takdir seluruh benua.
Malam itu, Kota Azure tidak tidur. Ribuan orang sibuk melarikan diri, sementara ribuan lainnya sibuk bersujud memohon ampunan. Bendera Keluarga Mu dibakar di setiap sudut jalan, digantikan oleh ketakutan yang mendalam akan nama Gu Sheng.
Dan jauh di dalam kegelapan Paviliun Seribu Harta, Gu Sheng duduk bersila di tengah ruangan meditasi yang paling dalam. Di dalam tubuhnya, api emas Tulang Dewa dan air hitam Dantian Penelan Langit mulai menyatu, membentuk sebuah energi baru yang berwarna ungu tua, energi yang disebut sebagai Qi Iblis Penghancur Bintang.
Proses penyatuan ini akan memakan waktu tiga hari penuh penderitaan, namun saat ia membuka matanya nanti, dunia akan menyadari bahwa Iblis ini tidak hanya memiliki kekuatan untuk menelan... ia memiliki kekuatan untuk menghancurkan segalanya.