NovelToon NovelToon
Dinginmu, Hangatku

Dinginmu, Hangatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah yang Tidak Logis

Raka tidak langsung kembali ke hotel.

Ia berjalan.

Tanpa tujuan yang terlihat, tanpa rute yang jelas—menyusuri jalanan Zurich yang mulai dipenuhi cahaya sore. Orang-orang lalu lalang, suara percakapan ringan terdengar di kafe-kafe terbuka, sepeda melintas dengan kecepatan yang terukur.

Semua terasa… normal.

Dan justru itu yang membuatnya terasa asing.

Karena di kepalanya, tidak ada lagi yang normal.

Eldric K tidak memprediksi langkah.

Dia memprediksi manusia.

Kalimat Margareth itu terus berputar, seperti gema yang tidak mau hilang.

Jika itu benar…

maka setiap keputusan yang Raka ambil berdasarkan logika—

akan selalu bisa ditebak.

Setiap langkah rasional.

Setiap strategi yang “masuk akal”.

Semuanya… sudah termasuk dalam perhitungan.

Raka berhenti di persimpangan kecil.

Lampu lalu lintas berubah merah.

Ia menatap angka hitung mundur di seberang jalan.

14… 13… 12…

Dan untuk pertama kalinya—

ia mempertanyakan cara berpikirnya sendiri.

Selama ini, ia selalu menang karena satu hal:

Ia berpikir lebih cepat.

Lebih tajam.

Lebih tidak linier dibanding orang lain.

Namun sekarang—

ia menghadapi seseorang yang bahkan tidak bermain di level yang sama.

Seseorang yang tidak hanya membaca langkah—

tapi membaca alasan di balik langkah itu.

Membaca manusia.

Lampu berubah hijau.

Raka tidak bergerak.

Orang-orang di belakangnya mulai menyalip.

Ia tetap diam.

Lalu—

ia tersenyum tipis.

Sesuatu baru saja berubah.

“Kalau begitu… aku tidak akan jadi manusia yang bisa dia baca.”

Ia berbalik arah.

Bukan ke hotel.

Bukan ke rumah sakit.

Tapi ke arah yang bahkan tidak ada dalam rencana.

Pukul 16.02, Dian menerima pesan.

“Ubah rencana. Jangan kirim apa pun ke Interpol.”

Dian membaca pesan itu dua kali.

Lalu mengangkat ponselnya.

Menekan nomor Raka.

Tidak diangkat.

Ia mencoba lagi.

Masih tidak diangkat.

Arka memperhatikan dari seberang ruangan. “Apa?”

Dian mengangkat layar ponselnya.

Arka membaca cepat.

Keningnya langsung berkerut.

“Ini bukan bagian dari rencana.”

“Aku tahu.”

“Dan dia tidak kasih penjelasan?”

Dian menggeleng.

“Tidak.”

Sunyi.

Arka menarik napas panjang.

“Kalau ini orang lain, aku sudah anggap ini kesalahan.”

“Tapi ini Raka,” kata Dian pelan.

“Ya,” jawab Arka. “Itu yang justru membuatnya berbahaya.”

Arsenia berdiri di dekat jendela kamar rumah sakit.

Ia tidak mendengar percakapan itu.

Namun ia tahu sesuatu berubah.

Entah bagaimana—

ia bisa merasakannya.

Ia menatap pantulan dirinya di kaca.

Lalu berbisik pelan.

“Raka… kamu sedang melakukan sesuatu yang tidak kamu ceritakan.”

Sementara itu—

Raka sudah berada di tempat yang tidak seharusnya ia datangi.

Kantor cabang kecil dari sebuah firma hukum internasional.

Bangunan itu tidak mencolok.

Tidak ada yang istimewa.

Namun bagi seseorang yang tahu cara membaca sistem—

tempat seperti ini sering kali menyimpan sesuatu yang lebih besar dari yang terlihat.

Ia masuk tanpa ragu.

Resepsionis menyapanya dengan senyum profesional.

“Selamat sore, ada yang bisa kami bantu?”

Raka tersenyum tipis.

“Aku ingin membuat janji.”

“Dengan siapa?”

Raka berhenti sejenak.

Lalu menyebut satu nama.

Nama yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami kenapa ia mengucapkannya.

“Larasati Wulan Dewi.”

Resepsionis itu tidak langsung menjawab.

Namun perubahan kecil di wajahnya—

cukup.

“Maaf, Ibu Larasati tidak menerima—”

“Aku tahu dia ada di sini.”

Nada suara Raka tetap tenang.

Tidak mengancam.

Namun pasti.

Resepsionis itu menatapnya beberapa detik.

Lalu mengangkat telepon.

Berbicara pelan dalam bahasa Jerman.

Raka tidak mencoba mendengar.

Ia hanya menunggu.

Tiga puluh detik.

Satu menit.

Lalu—

“Silakan naik ke lantai tiga.”

Di tempat lain.

Di ruangan tanpa jendela.

Seseorang memperhatikan.

Layar menunjukkan satu hal sederhana:

Raka Adiwangsa — deviation detected.

Tidak ada alarm.

Tidak ada kepanikan.

Hanya satu perubahan kecil dalam ritme data.

Dan itu sudah cukup.

Kembali ke kantor.

Pintu lift terbuka.

Koridor lantai tiga sepi.

Terlalu sepi.

Raka berjalan perlahan.

Langkahnya tidak tergesa.

Namun matanya tajam.

Pintu di ujung koridor terbuka sedikit.

Seolah sudah menunggunya.

Ia tidak mengetuk.

Ia masuk.

Ruangan itu luas.

Minimalis.

Dinding kaca menghadap kota.

Dan di tengahnya—

seorang perempuan berdiri.

Tinggi.

Elegan.

Dengan aura yang tidak perlu diperkenalkan.

Larasati Wulan Dewi.

Ia tidak terlihat terkejut.

Tidak terlihat terganggu.

Seolah-olah kedatangan Raka sudah ada dalam jadwalnya.

“Aku bertanya-tanya,” ucapnya pelan, “berapa lama kamu akan sampai ke sini.”

Raka menutup pintu di belakangnya.

“Lebih cepat dari yang kamu perkirakan?”

Larasati tersenyum tipis.

“Tidak.”

Ia berjalan mendekat.

“Lebih lambat.”

Sunyi turun di antara mereka.

Dua orang yang berdiri di sisi berbeda dari permainan yang sama.

“Kamu tidak mengirim data ke Interpol,” kata Larasati.

Bukan pertanyaan.

Raka tidak menunjukkan reaksi.

“Tebakan yang berani.”

Larasati tersenyum.

“Bukan tebakan.”

Ia berhenti satu langkah di depan Raka.

“Keputusanmu terlalu… tidak logis.”

Raka menatapnya.

Dan di saat itu—

ia mengerti sesuatu.

“Dia sudah tahu,” gumamnya.

“Siapa?” tanya Larasati ringan.

Raka tersenyum tipis.

“Eldric.”

Untuk sepersekian detik—

Larasati diam.

Lalu—

ia tertawa kecil.

“Jadi kamu sudah sampai sejauh itu.”

Raka tidak menjawab.

Namun kini ia yakin.

Lebih dari sebelumnya.

“Kalau begitu,” lanjut Larasati, “aku akan jujur sedikit.”

Ia berbalik, berjalan ke meja, mengambil segelas air.

“Ya. Aku bekerja untuknya.”

Tidak ada penyangkalan.

Tidak ada drama.

Hanya fakta.

“Dan kamu datang ke sini…” katanya sambil menatap Raka lagi, “…tanpa rencana yang jelas, tanpa backup, tanpa memberi tahu timmu—”

Ia tersenyum tipis.

“—adalah hal paling menarik yang kamu lakukan sejak semua ini dimulai.”

Raka menatapnya.

Tenang.

Namun di dalam dirinya—

sesuatu sedang berubah.

Sesuatu yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya.

“Aku ingin bertemu dia.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Langsung.

Tanpa lapisan.

Larasati menatapnya.

Lama.

Seolah menilai.

Bukan sebagai lawan.

Tapi sebagai… variabel.

Lalu ia berkata pelan:

“Kalau kamu benar-benar ingin bertemu Eldric…”

Ia melangkah lebih dekat.

Suaranya hampir seperti bisikan.

“…kamu harus berhenti mencoba menang.”

Raka tidak langsung menjawab.

Namun matanya tidak goyah.

“Karena,” lanjut Larasati, “satu-satunya cara untuk masuk ke dalam permainannya…”

Ia tersenyum tipis.

“…adalah dengan menjadi bagian dari permainan itu sendiri.”

Dan untuk pertama kalinya—

Raka menyadari sesuatu yang mengganggu:

Mungkin…

ia sudah masuk.

Tanpa sadar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!