NovelToon NovelToon
Menantang Langit Yang Busuk

Menantang Langit Yang Busuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Iblis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: KuntilTraanak

Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.

Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.

Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.

Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23—Hamil?

Setelah memberi ibunya makan dan memandikannya. Yuofan kini kembali keluar gua dan menatap kearah wadah berbentuk telur besar yang berisikan darah di depannya. Ia kemudian melepas satu persatu pakaiannya dengan niatan berendam didalam darah tersebut sesuai dengan yang Wuxu sarankan.

“Seharusnya kau beritahu dari awal saja,” kata Yuofan dengan nada ketus seraya menatap ke arah rubah hitam itu dengan wajah tidak puas. Di dalam hatinya, ia merasa seperti baru saja dijahili dan dibiarkan mencoba sesuatu yang mengerikan seperti tadi.

“Aku baru ingat bahwa cara ini juga bisa digunakan.” balas Wuxu beralasan.

Tetapi Yuofan menghiraukannya dan segera masuk ke dalam telur besar itu dengan melompat tinggi. Seketika, darah di dalam telur tersebut bercipratan ke segala arah saat tubuh Yuofan menghantam permukaannya dengan cukup keras. Bersamaan dengan itu, Yuofan merasakan bau amis yang sangat kuat yang membuatnya harus menutup hidung untuk menghalangi bau tersebut.

“Berapa lama aku harus melakukan ini?” tanya Yuofan menatap kearah Wuxu yang melayang di depannya.

“Sampai darahnya terserap habis.” balas Wuxu yang kemudian melayang terbang kebelakang Yuofan.

Wuxu menekan beberapa titik meridian di tubuh Yuofan dengan jari-jarinya secara berurutan. Bersamaan dengan itu, Yuofan menutup matanya dan berusaha memusatkan fokusnya pada apa yang ia rasakan di dalam tubuhnya.

Perlahan, ia mulai merasakan perubahan. Tubuhnya dipenuhi rasa sakit yang menyebar dari titik-titik yang ditekan tadi. Ia bisa merasakan seolah pori-pori di tubuhnya terbuka, dan darah yang saat ini merendam tubuhnya perlahan masuk dan meresap ke dalam tubuhnya melalui jalur-jalur energi.

Rasa sakit itu tidak ringan, sensasinya menyebar dari kulit, lalu masuk kedalam satu pusat di sekitar perutnya. Yuofan mengigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan rasa sakit tersebut. Ia tidak ingin mengeluarkan suara, karena ia tidak ingin membuat ibunya—yang berada di dalam gua ketakutan mendengar teriakannya. Jadi ia menahan semuanya, menekan suaranya dalam-dalam meskipun tubuhnya hampir bergetar karena rasa sakit yang terus datang bergelombang.

Wuxu kemudian berpindah kedepan, ia melihat proses masuknya darah-darah itu kedalam tubuh bocah itu. Namun dahinya mengerut dan tatapan nya terlihat heran saat ia melihat darah itu berpusat di perut Yuofan.

“Hmm…?” Wuxu menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Apa proses pembentukan inti iblis pada manusia seperti ini, ya?” gumamnya sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Karena merasa ini memang janggal, akhirnya Wuxu memutuskan untuk memeiksa tubuh Yuofan melebih jauh. Ia meletakkan tangannya di depan perut Yuofan sembari mengeluarkan energi dalam tubuhnya.

“Energi yang ku dapat dari menkonsumsi darah manusia tadi seperti kurang…” gumamnya yang kemudian mengerahkan seluruh kekuatan nya.

Ia menutup matanya untuk melihat apa yang terjadi didalam sana. Lapisan demi lapisan ia lewati, perlahan pandangannya berfokus pada sesuatu aneh yang mirip seperti gumpalan merah tetapi dengan dua tanduk kecil disana. Ia terus mengeluarkan energinya untuk melihat lebih dekat wujud dari gumpalan itu.

Wuxu langsung menarik tangannya dengan wajah tak percaya.

“Apa-apaan ini sebenarnya,” ucapnya dengan detak jatung yang berdetak lebih kencang.

Belum sempat menenangkan dirinya, ia pun kembali dikejutkan dengan Yuofan yang menggeram kesakitan. Dengan cepat, Wuxu kembali kebelakang Yuofan dan menutup jalur masuk darah tersebut, walau sebenarnya ini sudah terlambat.

Darah yang sebelumnya memenuhi isi dari wajah besar itu, kini sudah terserap habis oleh Yuofan.

Bersamaan dengan ditutup nya saluran itu, Yuofan langsung tergeletak tak sadarkan diri dengan tubuh yang lemas. Wuxu dengan wujud kecilnya tentu tak bisa menahannya, setengah tubuhnya pun tertindih oleh bocah itu.

“Bajingan kecil ini!” Wuxu menggeram kesal melihat kaki hingga pinggangnya tertindih oleh Yuofan. Ia pun hanya bisa pasrah dan menunggu bocah itu tersadar dari pingsannya.

Hingga menit berubah menjadi jam, langit jingga berubah menjadi hitam lalu berubah kembali menjadi biru, bocah itu tak kunjung sadarkan diri.

Wuxu tahu bahwa bocah itu tidaklah meninggal, sebab saat ini ia masih ada didunia sebagai buktinya. Ia pun berusaha mencubit tubuh Yuofan dengan keras, bahkan memutar kulitnya dengan seluruh tenaganya.

“Ugh!” Yuofan meringis memegangi kulit punggungnya yang dicubit. Bocah itu lalu membuka matanya dan mengambil posisi duduk secara perlahan.

“AKHIRNYAA!” Wuxu berteriak dengan puas seraya mengambil nafas dengan gragas.

Yuofan mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh rubah itu. “Apa-apaan kau ini?” tanya nya yang langsung mendapatkan tatapan bak sebuah pisau mampu membelah lehernya dengan cepat.

“Apa-apaan kau bilang?” Wuxu menundukkan dengan wajah yang menggelap—walau dia memang sudah gelap.

Wuxu mengangkat kepalanya, “KAU MENINDIH KU!” Teriaknya yang membuat Yuofan tersenyum kikuk.

Yuofan menengok kebelakang disaat ia menyadari ada sinar yang masuk melalui celah kakinya. “Ba-baik, aku minta maaf.” ucapnya yang menyadari bahwa ia tak sadarkan diri semalaman.

Namun di saat yang sama, ia langsung melirik ke arah ibunya. Tanpa banyak berpikir, ia segera berlari menghampirinya, melewati Wuxu yang masih terlihat marah.

Ia berhenti di dekat ibunya dan menundukkan tubuhnya sedikit untuk melihat wajah wanita itu dengan lebih jelas. Dari bola mata ibunya yang terlihat bergerak pelan di balik kelopak yang hampir tertutup, ia bisa menebak bahwa ibunya benar-benar tidur dengan pulas.

Yuofan berjalan pergi dari sana, langkahnya mengarah kesebuah sungai yang menjadi tempatnya membersihkan diri. Disana, Wuxu mengekori dari belakang dengan tatapan aneh membuatnya merasa tidak nyaman.

“Aku benar-benar minta maaf untuk itu. Kesadaran ku tiba-tiba melemah ketika kau menekan area dipunggung ku lagi.” ujarnya tanpa menghentikan langkahnya.

Tetapi Wuxu hanya terdiam, hingga ketika mereka telah sampai di sisi sungai itu. Akhirnya Wuxu pun mendekat kearah Yuofan dengan melayangkan dirinya. Ia berdiri disamping kiri Yuofan yang saat ini sedang merendam dirinya didalam air sungai.

“Apa kau ingat, aku pernah berkata tentang aku yang merasakan keakraban dengan mu ketika pertemuan pertama kita?” tanya Wuxu yang diangguki oleh Yuofan.

“Sepertinya memang ada sesuatu didalam dirimu,” ujarnya membuat Yuofan melirik kearah rubah itu.

Wuxu tetap tenang. Pikirannya kembali ke masa sebelumnya dimana ia melihat sosok merah yang mirip seperti sebuah janin, tetapi janin itu memiliki tanduk juga bola mata berwarna hitam. Bukan hanya itu, janin itu memiliki bola mata ketiga yang terletak di antara kedua alisnya, dan mata itulah yang membuatnya ketakutan.

“Saat kau menyerap darah sebelumnya, aku merasa janggal saat darah-darah itu pergi kepusat perut, bukan di atas ulu hati,” Yuofan mendengarkan dengan seksama seraya membasuh tubuhnya.

“Saat aku memeriksa tubuhmu lebih dalam, disana aku melihat segumpal daging berwarna merah, dan saat aku mendekat gumpalan itu ternyata perwujudan dari sebuah janin.” ujar Wuxu membuat Yuofan terkejut bukan main.

Yuofan berdiri dengan wajah tak percaya menatap kearah Wuxu. “Maksudmu aku hamil?!” teriak Yuofan seraya memegangi perutnya.

Dengan gerakan cepat Wuxu menampar bocah itu kesal. “Kau kan laki-laki, bocah!”

Sembari memegangi pipinya yang panas, Yuofan menatap Wuxu dengan bingung. “Lalu apa? Jika ada janin dalam perutku bukankah itu disebut hamil? Kalau tidak begitu disebut apa?”

Wuxu terdiam, merasa jawaban itu ada benarnya.

Tetapi ia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Bukan seperti itu maksudku,” ucapnya sembari melambaikan tangannya.

“Janin ini terbuat dari serpihan jiwa raja iblis.” jawab Wuxu membuat suasana disekitarnya menjadi dingin.

1
Koplak
mulai seru nih
Koplak
pertama baca langsung tertarik💪
Nanik S
Cerita yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!