NovelToon NovelToon
Darah Ratu 1000 Tahun

Darah Ratu 1000 Tahun

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Perperangan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Naomihanaaya

Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Kebenaran yang Tersembunyi

Pagi itu terasa lebih sepi dari biasanya.

Cahaya matahari sudah menyinari desa kecil itu dengan hangat, namun ada sesuatu yang terasa hilang. Aktivitas penduduk tetap berjalan seperti biasa—para petani berangkat ke ladang, anak-anak bermain di jalan tanah, dan suara percakapan ringan terdengar dari berbagai sudut desa.

Namun di dalam rumah paman Alana, suasana berbeda lebih sunyi lebih berat.

Alana berdiri di dekat pintu, matanya menyapu ruangan seolah mencari sesuatu yang tidak ada.

“Atau… seseorang,” gumamnya pelan.

Ia baru saja menyadari sesuatu sejak bangun pagi.

Edward tidak ada.

Biasanya, dalam beberapa hari terakhir, pria itu akan muncul. Entah sekadar lewat, membantu pekerjaan, atau hanya berdiri diam di dekat rumah seperti bayangan yang tak pernah benar-benar pergi.

Namun hari ini tidak ada tanda keberadaannya.

Alana menoleh ke arah paman dan bibinya yang sedang duduk di meja.

“Paman… Bibi…” panggilnya pelan.

Keduanya langsung menatapnya.

“Ada apa?” tanya bibi dengan nada lembut.

Alana ragu sejenak, lalu akhirnya berkata,

“Edward… ke mana?”

Pertanyaan itu membuat suasana berubah.

Hanya sesaat.

Namun cukup untuk membuat Alana menyadarinya.

Paman dan bibi saling berpandangan singkat.

Sebuah pertukaran diam yang tidak luput dari perhatian Alana.

Paman akhirnya menghela napas pelan.

“Dia kembali ke kota.”

Alana mengerutkan kening.

“Ke kota?”

Bibi mengangguk, mencoba tersenyum.

“Ya. Katanya ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”

Alana menatap mereka bergantian.

“Tanpa pamit?”

Paman menjawab cepat,

“Dia bilang tidak ingin merepotkan siapa pun.”

Jawaban itu terdengar masuk akal.

Namun entah kenapa…

Alana merasa ada yang tidak benar.

Perasaan itu kembali muncul.

Perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan.

Seolah ada sesuatu yang disembunyikan darinya.

“Dia akan kembali, kan?” tanya Alana pelan.

Bibi mengangguk.

“Tentu saja.”

Namun kali ini…

senyum di wajahnya tidak sepenuhnya meyakinkan.

Alana terdiam ia ingin mempercayai mereka Namun hatinya terasa tidak tenang seolah sesuatu yang penting telah pergi dan ia tidak tahu kenapa itu begitu mengganggunya akhirnya ia mengangguk pelan.

“Baiklah…”

Namun setelah itu, ia berbalik tanpa berkata apa-apa lagi langkahnya membawa dirinya keluar rumah menuju halaman belakang.

Kebun kecil di belakang rumah masih sama seperti biasanya.

Tanaman sayur tumbuh rapi, bunga-bunga liar bermekaran di sudut-sudut tanah, dan angin pagi berhembus lembut membawa aroma segar yang menenangkan.

Alana berjalan perlahan ke tengah kebun.

Ia berhenti di bawah pohon kecil.

Lalu duduk di bangku kayu tua yang sudah lama berada di sana.

Tangannya tanpa sadar menyentuh kalung di lehernya kalung dengan berlian hijau.

Kalung yang entah kenapa selalu membuatnya merasa tenang ia menatap kilau hijau itu dalam diam.

“Kenapa aku merasa… kehilangan sesuatu?” bisiknya pelan.

Ia tidak mengerti.

Edward hanyalah pendatang seseorang yang baru ia kenal namun kepergiannya terasa lebih dari sekadar itu Alana menutup matanya sejenak mencoba menenangkan dirinya namun, perasaan itu tetap ada mengganggu dan tidak bisa diabaikan.

Sementara itu di dalam rumah, suasana menjadi lebih tegang setelah Alana pergi.

Bibi menghela napas panjang.

“Dia mulai curiga.”

Paman mengangguk.

“Wajar.”

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kita tidak bisa terus menyembunyikan semuanya darinya.”

Kakek yang sejak tadi diam akhirnya berbicara,

“Belum waktunya.”

Nada suaranya tenang, namun tegas.

Paman menatapnya.

“Lalu sampai kapan?”

Kakek tidak langsung menjawab.

Ia menatap ke arah pintu.

Seolah memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar.

“Selama dia belum siap…”

katanya pelan.

“kebenaran itu hanya akan menyakitinya.”

Bibi menunduk.

Ia tahu itu benar Namun tetap saja rasanya tidak mudah.

“Kita berbohong padanya…” gumamnya.

Kakek menggeleng pelan.

“Bukan berbohong.”

“Melindungi.”

Perbedaan kecil itu terasa besar dalam suasana seperti ini.

Namun sebelum mereka sempat melanjutkan pembicaraan.sebuah suara halus terdengar dari luar langkah kaki.

Sangat pelan Namun cukup untuk menarik perhatian seseorang yang waspada.

Di balik dinding dekat jendela Arlan berdiri diam sejak tadi Ia tidak sengaja mendengar percakapan mereka Namun, begitu ia menyadari bahwa mereka membicarakan sesuatu yang penting…

ia tidak pergi Ia tetap diam.

Mendengarkan dan sekarang.ia tahu satu hal.

Mereka menyembunyikan sesuatu dari Alana dan juga darinya Arlan menyipitkan matanya.

Ia menahan napas, memastikan tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun.

Di dalam ruangan, pembicaraan berlanjut.

Paman mengusap wajahnya.

“Aku masih tidak percaya…”

“Seorang vampir…”

Kalimat itu membuat jantung Arlan berdetak lebih cepat.

Vampir?

Ia hampir mengira dirinya salah dengar Namun ia tidak bergerak.

Tidak bersuara Ia hanya… mendengarkan.

Bibi berbicara dengan suara lebih pelan,

“Edward… benar-benar bukan manusia biasa.”

Arlan membeku.

Nama itu.

Edward.

Pikirannya langsung terhubung.

Potongan-potongan kecil yang selama ini terasa aneh mulai menyatu.

Cara Edward bergerak.

Cara makhluk di hutan itu bereaksi.

Dan sekarang kata itu.

Vampir.

Paman melanjutkan,

“Jika Arlan tahu tentang ini…”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Namun kakek menjawab dengan tenang,

“Dia belum boleh tahu.”

Namun sayangnya.sudah terlambat.

Di luar, Arlan berdiri kaku.

Wajahnya berubah Pucat Matanya membesar.

“Tidak mungkin…” bisiknya sangat pelan.

Namun semua yang ia dengar terlalu jelas untuk disangkal.

Edward Seorang vampir Bukan hanya itu Dari nada suara mereka ia tahu.

Edward bukan vampir biasa.

Ia mengingat kembali kejadian di hutan.Cara makhluk itu takut.Cara mereka menyebutnya tanpa berkat Dan sekarang semuanya masuk akal.

“Dia… bukan sekadar vampir…” gumam Arlan.

Napasnya terasa berat Namun bukan karena takut Melainkan karena sesuatu yang lain.

Kemarahan Kekhawatiran Dan satu hal yang paling kuat ketakutan akan sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya.

“Alana…” bisiknya.

Jika Edward adalah vampir maka apa hubungannya dengan Alana?

Kenapa ia begitu dekat dengannya?

Kenapa semua orang menyembunyikan ini?

Arlan mengepalkan tangannya Ia merasa dikhianati bukan karena kebohongan.

Namun karena fakta bahwa semua orang tahu kecuali dirinya.

Dan yang lebih buruk Alana juga tidak tahu.

Di dalam rumah, kakek tiba-tiba mengangkat kepalanya.

Ia merasa sesuatu sangat halus.

Namun cukup untuk membuatnya sadar.

“Ada yang mendengar.”

Paman langsung menoleh.

“Siapa?”

Namun sebelum mereka sempat bergerak Arlan sudah mundur perlahan Ia melangkah menjauh dari jendela.

Berusaha tidak membuat suara.Dan dalam beberapa detik ia menghilang dari tempat itu.

Di kebun belakang, Alana masih duduk diam.

Ia tidak tahu berapa lama ia berada di sana.

Waktu terasa berjalan lambat.

Namun pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.

Tiba-tiba.langkah kaki terdengar mendekat.

Alana membuka matanya.

Arlan berdiri di sana.

Namun ada sesuatu yang berbeda Wajahnya serius.Terlalu serius.

“Kak Arlan?” panggil Alana pelan.

Arlan tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatapnya Lama.

Seolah melihat sesuatu yang berbeda dari biasanya.

“Alana…” katanya akhirnya.

Nada suaranya rendah.

“Apa kau percaya padaku?”

Pertanyaan itu membuat Alana sedikit terkejut.

“Tentu saja,” jawabnya tanpa ragu.

Arlan mengangguk pelan.

Namun di dalam dirinya pertarungan sedang terjadi Ia ingin memberitahunya.

Tentang Edward.

Tentang kebenaran.

Namun sesuatu menahannya.

Ia tidak tahu bagaimana Alana akan bereaksi.

Ia tidak tahu apakah itu akan menyakitinya.

Namun satu hal yang ia tahu ia tidak bisa diam Belum.

“Jika suatu hari…” kata Arlan pelan,

“kau mengetahui sesuatu yang mengejutkan…”

ia berhenti sejenak.

“apakah kau akan tetap menjadi dirimu sendiri?”

Alana mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Arlan tersenyum tipis.

Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.

“Tidak apa-apa.”

Ia mengalihkan pandangan.

“Lupakan saja.”

Namun di dalam hatinya ia sudah membuat keputusan Ia akan mencari tahu semuanya.

Tentang Edward Tentang vampir.

Dan tentang hubungan mereka dengan Alana.

Karena sekarang ini bukan lagi sekadar rasa curiga Ini adalah kebenaran.

Kebenaran yang tersembunyi Dan cepat atau lambat akan terungkap sepenuhnya.

Sementara itu, di tempat yang jauh Edward berdiri di dalam aula istananya.

Tatapannya dingin Namun pikirannya tidak sepenuhnya di sana Ada sesuatu yang mengganggunya.

Sangat halus Namun cukup untuk membuatnya tidak tenang Ia menutup matanya Mencoba merasakan sesuatu.Namun yang ia rasakan hanya kekosongan yang samar Seolah ada sesuatu yang mulai berubah.

Dan tanpa ia sadari rahasia yang selama ini ia jaga dengan hati-hati perlahan mulai terungkap.

Dan kali ini bukan oleh musuh Namun oleh seseorang yang berada sangat dekat Arlan dan ia akan mengubah segalanya.

1
Naomi🌸
😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!