Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telinga batin
Aris menatap jam tangan perak yang selama ini menjadi kompas, penjara, sekaligus identitasnya. Tanpa ragu sedikit pun, ia mengambil sebuah batu besar di tepi halaman. Dengan satu hentakan napas, ia menghantamkan batu itu ke jam di pergelangan tangannya.
*Krak!*
Suara logam pecah terdengar nyaring, disusul oleh percikan cahaya biru dan merah yang melesat ke udara sebelum akhirnya memudar menjadi abu. Jam itu hancur berkeping-keping. Seketika, Aris merasa beban berat yang selama ini menyesakkan dadanya—beban waktu yang ia pikul—runtuh. Ia terhuyung, namun kini napasnya terasa lebih ringan. Ia bukan lagi Aris si pengelana waktu. Ia hanyalah Aris.
Ia kembali masuk ke ruang Kyai, bersimpuh dengan khusyuk. "Kyai, saya telah menghancurkannya. Saya tidak lagi tahu apa yang akan terjadi esok. Izinkan saya pergi mencari Putri, bukan sebagai orang yang bisa melihat masa depan, tapi sebagai seorang musafir yang belajar bertawakal."
Kyai sepuh tersenyum, sinar matanya tampak lebih tajam dari biasanya. Beliau beranjak, mengambil sebuah kalung tasbih kecil berwarna kayu gaharu tua yang aromanya sangat menenangkan, lalu mengalungkannya ke leher Aris.
"Ini bukan jimat, Aris. Ini adalah pengingat bahwa hatimu harus selalu berzikir, agar langkahmu tidak tersesat oleh keinginan pribadi," ujar Kyai.
Kemudian, Kyai sepuh meletakkan kedua telapak tangannya di telinga Aris. Beliau membacakan doa yang lirih namun terasa bergetar di dalam sanubari Aris. Ada sensasi hangat yang menjalar, seolah ada sumbatan yang selama ini menutup pendengaran batinnya terbuka lebar.
"Bukan lagi penglihatan tentang masa depan yang kau butuhkan," bisik Kyai tepat di telinga Aris. "Mulai sekarang, dengarkanlah suara alam, dengarkanlah detak kejujuran orang-orang di sekitarmu, dan dengarkanlah petunjuk halus yang dititipkan Tuhan di balik suara angin dan bisikan hati. Ini adalah telinga batin. Ia tidak memberitahumu apa yang akan terjadi, tapi ia memberitahumu apa yang benar untuk dilakukan."
Aris memejamkan mata. Seketika, ia mendengar keheningan pondok dengan cara yang berbeda. Ia mendengar degup jantung Kyai yang tenang, ia mendengar desau angin yang membawa pesan tentang perjalanan, dan ia mendengar sayup-sayup suara azan yang memanggil bukan dari satu masjid, melainkan dari kedalaman jiwanya sendiri.
"Pergilah," ucap Kyai sepuh. "Putri tidak berada di jalan yang jauh dari kebenaran. Ikuti apa yang hatimu dengarkan, bukan apa yang matamu lihat."1
Aris mencium tangan sang Kyai dengan takzim. Dengan kalung tasbih di lehernya dan indra batin yang baru terbuka, ia melangkah keluar gerbang pondok. Ia tidak membawa peta, ia tidak membawa teknologi. Ia hanya berjalan, menatap ke depan dengan keyakinan penuh bahwa setiap langkahnya adalah ibadah.
***
Langkah pertama Aris di luar pondok membawa keheningan yang syahdu. Namun, di tengah kesunyian itu, sesuatu yang lain muncul. Bukan penglihatan, bukan bisikan gaib, melainkan sensasi fisik yang sangat mendasar, asa perih yang melilit di perutnya.
Aris memegangi perutnya. Ia baru menyadarinya sekarang. Selama berbulan-bulan, saat ia masih terikat pada jam tangan perak, ia jarang sekali benar-benar merasakan lapar. Mungkin karena fokusnya yang terobsesi pada waktu, atau mungkin karena jam itu entah bagaimana "mengatur" energi di tubuhnya.
Kini, setelah benda itu hancur, rasa lapar itu datang menyerang dengan ganas. Rasanya nyata, menusuk, dan sangat manusiawi.
Aris tertawa kecil, suara tawanya terdengar canggung di tengah hutan bambu. "Jadi, begini lah rasanya menjadi manusia biasa?" bisiknya pada diri sendiri.
Rasa lapar ini bukan sekadar sensasi kosong, melainkan pengingat bahwa ia sekarang hidup sepenuhnya di saat ini. Ia tidak lagi bisa memutar waktu untuk melewatkan rasa tidak nyaman. Ia harus mencari makan, ia harus bertahan hidup, dan ia harus berjalan mencari Putri dengan kondisi fisik yang jujur.
Ia terus berjalan dengan langkah yang mulai berat, hingga akhirnya menemukan sebuah warung kecil di tepi desa yang masih menyalakan lampu minyak. Ia duduk di bangku kayu panjang, memesan semangkuk nasi hangat dan teh manis.
Saat suapan pertama masuk ke mulutnya, Aris merasakan kenikmatan yang luar biasa—sesuatu yang selama ini ia lewatkan karena terlalu sibuk mengintip masa depan. Ia menatap kalung tasbih di lehernya, lalu memejamkan mata sejenak, mengucap syukur atas rasa lapar ini. Rasa lapar ini adalah bukti bahwa ia sedang hidup.
Namun, saat ia sedang menikmati makanannya, telinga batinnya yang baru saja dibuka oleh Kyai menangkap sesuatu. Suara ketakutan dari arah belakang warung. Seorang anak kecil sedang menangis, dan ada suara orang dewasa yang sedang memarahi dengan kasar.
Aris meletakkan sendoknya. Rasa laparnya masih ada, tapi hatinya kini mendengar sesuatu yang jauh lebih mendesak daripada isi perutnya sendiri.
Aris bangkit dari bangkunya, meninggalkan sisa nasi hangat di mangkuknya. Rasa lapar itu memang masih mendera, namun suara isak tangis anak kecil yang tertahan itu terasa lebih memilukan, menarik hatinya dengan kekuatan yang tidak bisa ia abaikan.
Ia berjalan ke arah belakang warung, menyusuri jalan setapak tanah yang gelap menuju sebuah gubuk reyot di balik rimbunnya pohon pisang. Telinga batinnya menangkap dengan jelas setiap detail: bukan hanya tangisan, tapi suara dentuman keras kayu yang dipukulkan ke tanah, dan suara napas berat seorang pria yang penuh amarah.
"Sudah kubilang, jangan menangis! Tangisanmu hanya memanggil sial ke rumah ini!" bentak pria itu.
Aris berhenti di balik semak. Telinga batinnya kini bekerja seperti radar yang sangat peka. Ia bisa mendengar detak jantung anak kecil itu—cepat, tidak teratur, tanda ketakutan yang luar biasa. Ia juga mendengar detak jantung pria itu—terdengar tidak stabil, ada suara serak dalam tarikan napasnya yang mengindikasikan rasa sakit fisik yang kronis, mungkin sebuah penyakit yang selama ini ia pendam hingga membuatnya frustrasi.
Aris tidak lagi melihat masa depan, ia hanya mendengar kebenaran saat ini.
Ia melangkah keluar dari kegelapan, berdiri tepat di depan pintu gubuk yang terbuka. "Maaf mengganggu malam-malam, Pak."
Pria itu kaget, hampir menjatuhkan tongkat kayu yang ia pegang. Ia menatap Aris dengan mata melotot, namun Aris tidak menatapnya dengan rasa takut atau menghakimi. Aris menatapnya dengan ketenangan yang dalam—ketenangan seorang pria yang baru saja menanggalkan seluruh beban masa lalunya.
"Saya dengar ada yang bersedih di sini," ucap Aris lembut. "Saya musafir yang sedang lapar, tapi sepertinya hati saya lebih tidak tenang daripada perut saya saat mendengar suara anak ini."
Pria itu tertegun, amarah di wajahnya perlahan luruh, berganti dengan rasa malu dan kelelahan yang luar biasa. "Dia... dia hanya menambah beban," bisik pria itu, suaranya pecah. "Aku bahkan tidak bisa memberinya makan, dan sekarang dia terus menangis karena lapar."
Anak kecil itu keluar dari balik kaki ayahnya, menatap Aris dengan mata sembab.
Aris tersenyum, ia teringat bagaimana ia sendiri baru saja merasakan lapar yang begitu jujur tadi. Ia melepas kalung tasbih gaharu dari lehernya sejenak, lalu merogoh kantong bajunya—ia masih memiliki sisa uang dari pemberian Kyai untuk perjalanannya.
"Saya punya sedikit uang," kata Aris sambil menyerahkannya kepada pria itu. "Tolong, belikan anak ini makan. Dan izinkan saya duduk sebentar, mungkin saya bisa membantu Bapak memijat kaki Bapak yang sakit itu? Saya tahu Bapak sangat kesakitan."
Pria itu terbelalak. "Bagaimana kau tahu kakiku sakit?"
Aris tidak menjawab dengan penjelasan teknis. Ia hanya tersenyum. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, ia tidak tahu apakah setelah ini ia akan menemukan Putri atau justru terjebak dalam masalah baru. Yang ia tahu, saat ini, di gubuk kecil ini, inilah hal yang benar untuk dilakukan.
Ia telah berhenti menjadi pengelana waktu, dan kini, ia benar-benar menjadi manusia.
***
Setelah membantu pria itu dan memastikan anak tersebut tenang, Aris melanjutkan perjalanannya di bawah sinar bulan.
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor