NovelToon NovelToon
Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.

Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.

Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.

୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latihan Menembak

...୨ৎ──── C A V E L L ────જ⁀➴...

Aku berhasil tidur tiga jam lagi dan sekarang merasa sedikit lebih manusiawi.

Masih pagi buta saat aku berjalan menuju suite Cherry. aku mengetuk, menunggu jawabannya sebelum membuka pintu kamar.

Dia duduk di depan meja rias, dan ini pertama kalinya aku melihatnya tanpa makeup.

"Oh," dia menghela napas sambil cepat-cepat berdiri.

"Kita harus mulai latihanmu," kataku sambil mendekatinya. Mataku menyerap pemandangan kecantikan alaminya. Dengan atau tanpa makeup, tunanganku benar-benar membuat napasku berhenti.

"Latihan?" tanyanya.

Pandanganku menyapu setelan yang dia pakai. "Latihan menembak. Kamu punya pakaian santai?"

Dia mengangguk. "Aku punya legging."

"Ganti pakai itu." Saat dia masih berdiri, aku menambahkan, "Sekarang."

"Oh... oke." Dia langsung lari ke closet.

Sambil menunggu dia ganti baju, aku berjalan ke jendela dan melihat pemandangan danau. Gak lama kemudian Cherry keluar lagi dari kamar.

Saat mataku jatuh pada legging ketat dan kaus lengan panjang, aku langsung tegang dalam sepersekian detik.

Tuhan.

Melihat celah di antara paha dan payudara tegasnya hampir membuatku melemparnya ke tempat tidur.

"Ini jelas gak akan berhasil," geramku.

Matanya langsung dipenuhi kekhawatiran saat dia berbisik, "Cuma itu yang aku punya."

Aku meraih tangannya dan menariknya keluar kamar menuju suiteku. Aku gak berhenti sampai kami masuk ke closet aku.

Aku mencabut sebuah sweater dari gantungan, lalu langsung memasukkannya ke kepalanya.

"Tangan ke atas."

Dia cepat-cepat memakai sweater itu. Saat sweater itu jatuh sampai pertengahan pahanya, aku merasa sedikit lebih baik.

aku memegang pinggulnya, mengangkatnya, lalu menaruhnya di meja display di tengah closet.

Aku menaruh kedua tangan di sisi tubuhnya dan membungkuk sedikit hingga menangkap matanya yang masih kaget.

"Jangan pernah pakai legging di luar kamar," perintahku. Dia langsung mengangguk. "Jangan pakai pakaian yang memperlihatkan belahan dada di depan umum."

Kerutan muncul di dahinya. "Kamu mau aku berpakaian lebih tertutup?"

"Gak. aku suka cara Kamu berpakaian. Tapi jangan memperlihatkan apa yang jadi milik aku ke pria lain, atau akan ada masalah besar."

Ada kilatan lega di wajahnya. "Oke."

Aku mundur sedikit, dan saat melihat dia memakai sweaterku, rasa posesif memenuhi dadaku.

"Aku suka Kamu pakai baju aku," gumamku.

"Aku juga suka," katanya sambil tersenyum sebelum turun dari meja. "Hangat dan nyaman."

Cherry memakai sepatu sneakers. Tanpa sepatu hak tinggi, tinggi badannya hanya sampai pertengahan dadaku. Lalu aku sadar dia hanya beberapa meter dari tempat tidurku.

Selain Livinia yang datang untuk bersih-bersih, gak ada perempuan lain yang pernah masuk ke suite aku.

Sial.

Mataku berpindah dari Cherry ke tempat tidur lalu kembali lagi padanya.

Sebelum aku memutuskan untuk meniduri tunanganku, aku meraih tangannya dan menyeretnya keluar kamar, buru-buru menjauhkan kami dari tempat tidur itu.

Baru di tengah tangga aku ingat kalau tubuh Cherry setengah ukuranku, jadi aku memperlambat langkah.

Kami keluar lewat pintu depan menuju bangunan luar dekat pepohonan, tempat gudang senjata dan lapangan tembakku berada.

Saat aku memasukkan kode dan pintunya terbuka, aku masuk lalu menyalakan lampu.

Aku mendengar Cherry menghela napas. "Wah. Senjatanya banyak banget."

Aku melihat deretan senjata dan memilih satu untuknya. "Ini SIG P365. Kapasitasnya dua belas peluru."

Aku mengecek pelurunya lalu menyerahkan pistol itu padanya. Dia mengambilnya, jari-jarinya melingkari pegangan dengan hati-hati.

"Gimana rasanya?" tanyaku.

"Gak seberat yang aku kira," akunya.

"Bagus."

Aku berjalan ke bagian belakang tempat lapangan tembak berada, menarik Glock aku dari belakang, lalu berkata,

"Perhatikan apa yang aku lakukan."

"Oke."

Mata Cherry terpaku padaku saat aku menembakkan lima peluru ke target, mengenai kepala dan dada.

Saat aku melihatnya lagi, pipinya sudah memerah. Aku memiringkan kepala.

"Kamu suka lihat aku menembak?"

"Eh..." Dia tetap menatapku saat mengaku, "Iya."

"Mendekat," perintahku.

Saat dia sudah dekat, aku menariknya ke depan aku supaya dia menghadap target. Aku membungkuk sedikit dan berkata, "Posisikan tangan kamu seperti yang aku lakukan."

Dia mengangkat tangannya, mengarahkan pistol ke target.

"Tarik pelatuknya."

Dia menembak satu kali. Pelurunya mengenai dinding beberapa sentimeter dari target.

Dia menoleh ke aku lewat bahunya. "Maaf."

Aku menggeleng. "Itulah kenapa kita di sini. Supaya Kamu bisa belajar menembak."

aku memasukkan Glock kembali ke pinggang, lalu melingkarkan tanganku di sekitar Cherry dan mengangkat tangannya. Aku menyelaraskan bidikan.

"Tarik pelatuk."

Dia menembak dan mengenai sisi target.

Aku memperbaiki posisi tangannya. "Tembak."

Kali ini pelurunya mengenai jantung target dan sudut bibirku terangkat.

"Lagi."

Bang.

"Lagi."

Bang.

"Lagi."

Bang.

Aku menurunkan tangannya dan tanpa berpikir menepuk pantatnya.

"Bagus."

Aku mengepalkan tangan supaya gak menyentuhnya lagi, karena aku ingin merasakan tubuhnya.

Suaraku serak saat aku memerintah, "Lanjutkan menembak sampai magazinenya kosong."

Aku terus mengisi magazin demi magazin dan melihat Cherry semakin membaik di setiap tembakan.

Saat dia menarik pelatuk lagi, mataku jatuh pada cincin pertunangannya dan aku sadar cincin itu sedikit kebesaran.

Aku harus mengecilkannya. aku sama sekali gak suka ide melepas cincin itu dari jarinya.

"Ada apa?" tanya Cherry.

"Cincinnya terlalu besar," gumamku.

"Aku lagi naikin berat badan. Mungkin nanti akan lebih pas."

Mataku menyapu tubuhnya, dan aku suka suara kemungkinan tubuhnya menjadi lebih berisi.

Bukan berarti ada yang salah dengan tubuhnya sekarang, hanya saja aku gak perlu terlalu hati-hati supaya gak menyakitinya kalau dia lebih berisi. Ekspresi aneh muncul di wajahnya.

"Kecuali kalau Kamu gak suka aku naikin berat badan."

Apa-apaan itu?

"Kenapa Kamu berpikir begitu?" tanyaku hampir menggeram.

"Mamaku selalu mengontrol berat badan aku. aku pikir mungkin Kamu juga mau begitu."

Aku menarik napas dalam-dalam supaya gak kehilangan kesabaran. "Aku gak keberatan. Cuma jangan sampai Kamu tambah kurus. Tubuh Kamu sudah ringan banget seperti bulu."

Senyum langsung muncul di wajahnya. "Oke."

Aku menyilangkan tangan di dada. "Apa lagi yang Mama Kamu lakukan?"

Seperti sebelumnya, dia menggeleng. "Gak ada."

"Ceritain," tuntutku.

Dia menatap pistol di tangannya.

"Mereka cuma... gak senang saat aku lahir," jawabnya dengan nada tegang. "Aku anak yang gak direncanakan."

Dia mengangkat bahu, lalu emosinya menguat di wajahnya saat dia mencoba tersenyum.

"Aku dapat pelukan pertamaku aja dua minggu lalu. Dari Nyonya Persiie. Rasanya nyaman."

Pelukan pertama?

Darahku terasa membeku.

"Orang tuamu gak pernah menunjukkan kasih sayang sama sekali?"

"Gak."

Dia menatap target lalu mengangkat pistolnya lagi.

"Turunkan pistolnya," perintahku.

Dia menghela napas, meletakkan pistol di meja dekat dinding.

"Aku benaran gak mau membicarakan orang tuaku."

"Kemari."

Matanya terangkat ke wajahku dan dia mendekat. Aku mengangkat tangan, melingkarkan jari di tengkuknya lalu menariknya ke dadaku.

Aku membungkuk dan melingkarkan tangan yang lain di tubuhnya, memeluknya erat. Aku merasakan tubuhnya sedikit gemetar.

Aku mengangkatnya dari lantai. "Lingkarkan kakimu ke aku."

Cherry melakukan apa yang aku katakan, lengannya melingkari leherku.

Aku berjalan ke area duduk.

Saat aku duduk, aku berkata, "Duduk di atas aku."

Sekali lagi dia melakukan apa yang aku minta. Saat sudah nyaman, aku memeluknya lebih erat dan mencium kepalanya.

"Kamu cuma mau meluk aku?" bisiknya dengan suara emosional.

"Iya." Aku mulai mengusap punggungnya naik turun. "Tenang. Bersandar saja sama aku."

Dia melepaskan lengannya dari leherku lalu menyandarkan tubuhnya ke dadaku.

Sudut bibirku terangkat. Aku mulai merasakan hangat tubuhnya dan aromanya mengelilingiku. Aku menutup mata dan fokus pada rasanya memeluk dia.

Nyaman.

Dia pas sekali di pangkuan dan pelukanku.

Dia menaruh satu tangannya di sampingku dan aku merasakan ketegangan di tubuhnya perlahan menghilang.

Beberapa menit kemudian dia berkata pelan, "Ini enak banget. aku suka."

"Bagus," gumamku.

Aku memeluknya beberapa saat lagi sampai dia mengangkat kepala dan duduk di pangkuanku. Aku mengangkat tangan ke wajahnya dan mengusap rahangnya dengan jariku.

"Kamu cantik, Cherry."

"Makasih."

Saat aku hanya diam menatapnya, dia bertanya, "Aku harus turun dari pangkuan kamu?"

Aku menggeleng. Saat dia mulai terlihat canggung karena aku hanya menatapnya, aku berkata,

"Aku suka keheningan. Ini membantu aku mengisi ulang energi."

"Aku bakal ingat itu," bisiknya sebelum kembali bersandar di dadaku.

Sudut bibirku terangkat dan aku menutup mata, membiasakan diri dengan rasa tubuhnya yang menempel pada tubuhku.

1
Muft Smoker
next kak ,, cerita ny bagus
Ra
good
Rin Jarin
keren
Aditya hp/ bunda Lia
niat mau dijodohin sama farris tapi malah jadi nya sama dia sendiri ... 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!