Apa?!! Menikahi Musuhku? Apa itu mungkin?... Namaku adalah Demian Wulfric, yaitu raja dari kerajaan Endom, kerajaan terkuat di belahan bumi Eropa. Aku disebut sebagai raja dari kayangan, karena parasku yang sangat rupawan dan sifatku yang sangat dingin.
Selama hidupku, aku menanggung amarah yang amat dalam kepada musuh yang telah membunuh orang tuaku dan memporak-porandakan rakyat serta kerajaanku.
Namun, takdir berkata lain, aku terpaksa harus menikahi putri dari musuhku, yaitu putri dari kerajaan Alamore yang bernama Putri Aurora Delacour. Ia adalah putri yang sangat cantik jelita yang memiliki 'Mutiara Abadi' di dalam tubuhnya. Mutiara yang membuatku sangat bergantung kepadanya dan aku harus menahan rasa cinta yang mendalam kepadanya, hanya karena masa lalu yang sangat menyakitkan di antara kami.
Bagaimana kisah perjalanan cinta kami selanjutnya? Jangan lewatkan kisah kami ya...
Jangan lupa like, komen & dukung cerita ini dengan 5 Vote yaah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ekouchi Aya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan & Pemberangkatan
"Ehemmm," suara Aurora mengagetkanku yang mulai terpesona dengan wajahnya.
"Terimakasih, Yang Mulia," saut Aurora sambil menyilakan anak rambutnya ke belakang telinganya.
"Kalau begitu, kau boleh kembali," sautku karena mulai merasa tidak nyaman dengan suasana.
Aurora pun berpamitan dan meninggalkanku di taman sendirian. Aku hanya terdiam memikirkan apa yang telah terjadi barusan. Indahnya bunga-bunga taman tak lagi menjadi hal yang membuatku bahagia kali ini, akan tetapi pertemuan kami yang tak direncanakan memberikan nilai yang sangat berharga bagiku.
"Kenapa, jantungku terasa berdegup kencang? sepertinya, bukan pertama kalinya aku bertatap muka dengan Aurora?" sautku pada diriku sendiri yang saat itu masih terpaku di sekitar bunga-bunga indah.
Aku mulai tak sadar dengan apa yang telah aku rasakan selama ini. Aku sering merasa sedikit frustasi dengan perasaanku kepada Aurora yang sering muncul. Bahkan, aku sadar bahwa aku tak boleh menaruh perasaan apapun kepada Aurora. Tapi entah, hati kecilku seakan membisikkan rasa kelonggaran dan memunculkan sebuah alasan untukku bisa mencintai Aurora. Tapi, ketika fikiran itu muncul, dengan sekuat tenaga kuhentikan.
* * *
Tiga hari kemudian, datan lah hari di mana tamu dari kerajaan Tamir undur diri untuk kembali ke kerajaannya. Semua mentri, kusiapkan untuk melepas kepergian mereka. Akan tetapi, pada saat itu, aku tak menjumpai Aurora yang seharusnya ikut serta dalam acara pelepasan itu.
"Yang Mulia, hamba sangat bahagia sekali bisa mengunjungi kerajaan Endom," Tutur Raja Eric yang sangat sopan kepadaku.
"Terimakasih, sudah berkenan untuk singgah di kerajaan kami," ucapku dengan penuh kehormatan.
"Mengenai niat kami kepada Anda, mohon untuk segera di pertimbangkan, Yang Mulia," kata Raja Eric mengingatkanku kembali.
"Tentu, Yang Mulia Raja Eric, saya akan pertimbangkan segera," jawabku dengan santai.
Ketika rombongan dari kerajaan Tamir hendak berpamitan, tiba-tiba Putri Dania menyela pembicaraan.
"Maaf Yang Mulia, kenapa Aurora tidak hadir mengantarkan kepergian kami?, apa dia marah karena kejadian waktu itu?" Pertanyaan Putri Dania pura-pura merasa khawatir.
"Tentu tidak, mungkin dia ada keperluan mendadak," terangku kepada Putri Dania.
"Tapi, Pangeran Brian pun tak hadir di sini?" tanya Putri Dania lagi, membuatku tersadar bahwa Aurora dan Pangeran Brian tidak ikut serta dalam acara pengantaran tamu.
"Mungkin mereka ada urusan masing-masing," sela paman yang menatapku untuk tidak menunjukkan ekspresi khawatir.
"Oh begitu, hubungan mereka sangat dekat sekali yah.." saut Putri Dania membuatku merasa ingin marah.
Paman pun mulai mencoba mengontrol emosiku, supaya tak terlihat oleh rombongan tamu di kala itu.
Setelah beberapa saat aku menahan emosiku, rombongan tamu pun telah meninggalkan kerajaan Endom.
"Kai, cepat cari mereka berdua!" perintahku mulai ingin emosi kembali.
"Yang Mulia, tenanglah, kenapa Anda sangat emosi ketika mengetahui Brian dan Putri Aurora tidak ada?" tanya paman Adam yang membuatku bingung harus menjawab apa.
"Mereka seharusnya menghormati tamu kita, tapi apa?, mereka malah sama-sama tidak menghadiri acara pemberangkatan," ujarku dengan sedikit emosi.
"Reaksi Anda hanyalah sebuah kecemburuan, Yang Mulia," tutur pamanku sambil tersenyum meledekku.
"Paman, jangan menggodaku ketika aku sedang marah," jelasku sedikit kasar kepada paman.
"Saya hanya berfikir, sampai kapan kita menyembunyikan identitas Putri Aurora dari anggota kerajaan yang lain khususnya, Brian," jelas pamanku membuatku teralihkan suasana.
"Apa, Paman khawatir jika Brian segera mengetahui fakta sebenarnya?" tanyaku pada paman.
"Setidaknya kita harus bersiap, jikalau Brian mengetahui kebenaran tentang status Putri Aurora," tutur paman memperingatkanku.
"Tapi Paman, sebelum putra Paman mengetahuinya, aku ingin memperkenalkan Aurora kepada seseorang terlebih dahulu" Pernyataanku membuat paman teringat dengan seseorang yang sangat dekat denganku selain dirinya.
"Nyonya Luis?" tanya paman dengan yakin.
"Hmmmm," jawabku seraya menganggukkan kepala.
Bibi Luis, adalah panggilan yang biasa kugunakan untuk memanggil dayang pribadi dari mendiang ibuku. Dia telah kuanggap seperti ibuku sendiri, karena bibi Luislah yang membesarkanku sampai aku berumur delapan belas tahun.
Akan tetapi, karena kondisinya yang semakin tua, dia telah memutuskan untuk tinggal bersama sanak keluarganya di luar istana. Jika aku rindu padanya , sesekali aku mengunjunginya dan menceritakan semua masalah beban kerajaanku kepadanya.
Dalam kesempatan ini, aku berfikir harus memberi tahu bibi Luis perihal pernikahanku dengan Aurora, sehingga aku bisa mendapatkan sedikit nasehat dan solusi darinya.
* * *
Malam itu, di paviliun Effgen, aku menemui Aurora yang sedang menghabiskan waktunya di taman paviliun. Di bawa sinar rembulan, kami berbincang-bincang.
"Kenapa, tadi kau tak hadir dalam acara pemberangkatan tamu kita?" tanyaku mengawali obrolan malam kami.
"Saya hanya tak ingin pergi ke sana," terang Aurora sambil berdiri di sampingku.
"Kau hanya beralasan karena waktu itu kau bersama Pangeran Brian?" Aku mulai mencari masalah dengannya.
"Kenapa Anda berfikiran seperti itu?, sudah saya bilang, saya hanya tak ingin pergi saja, tak ada hubungannya dengan Pangeran Brian," jelas Aurora kala itu.
"Terserah apa alasanmu," sautku membuat Aurora mulai merasa sebal.
"Jika memang terserah saya, kenapa Anda sangat ingin tahu?" sinis Aurora pada u.
"Sudahlah, kedatanganku kemari hanya ingin menyampaikan bahwa, besok pagi bersiap-siaplah untuk keluar istana, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ajakku pada Aurora.
"Anda, meminta saya untuk ikut menemani Anda ke suatu tempat?" tanya Aurora memastikan ajakanku.
"Hhmmm" jawabku singkat.
"Bersiaplah pagi-pagi sekali, aku tak suka menunggu," cetusku pada Aurora yang kala itu langsung meninggalkan Aurora.
"Seenaknya saja, dasar Raja Demian angkuh, egoiss" Aurora mulai sebal.
* * *
Pagi pun tiba, Matahari masih terlihat malu mengintip indahnya dunia. Sebagaimana permintaanku kepada Aurora, dia telah bersiap untuk ikut denganku ke kediaman bibi Luis. Saat itu terlihat kereta kuda istana beserta prajurit iringan telah siap untuk mengiringiku dalam pemberangkatan.
Aku memang tak ingin menunggu, tapi aku pun tak ingin seseorang menungguku terlalu lama, sehingga aku putuskan untuk datang terlebih dahulu ke tempat pemberangkatan.
"Maafkan saya, Yang Mulia, apakah Anda menunggu lama?" tanya Aurora melihatku berdiri di samping kereta kuda.
"Sudah kubilang, aku tak suka menunggu," sautku pura-pura ingin membuatnya merasa bersalah.
"Tapi, saya sudah bersiap-siap sepagi mungkin, Andalah yang terlalu bersemangat," Aurora membela diri.
Aku hanya tersenyum kecil karena melihat tingkahnya yang tak mau menjadi kambing hitam.
"Sudahlah, ayo segera masuk ke dalam kereta," perintahku pada Aurora.
"Tunggu sebentar, apa saya akan menaiki kereta ini bersama Yang Mulia? cetus Aurora membuatku tak sabar.
"Lalu?, apa kau mau memilih untuk jalan kaki saja?" sautku.
"Bukan begitu, jika saya menaiki kereta, lalu Mia ...," tutur Aurora khawatir.
"Dia akan menaiki kuda bersama Kai dan lainnya," selaku ingin mempercepat pemberangkatan.
Aurora pun terdiam dan mulai memasuki kereta kuda.
seorang raja ko sifatnya seperti itu menyebalkan