Warning!! bijaklah dalam memilih bacaan.
Anggara hanya ingin terbebas dari belenggu keluarganya. Dia ingin menjalani hidupnya sesuka hati, tanpa aturan apalagi kekangan dari sang ayah yang sangat di bencinya.
Persahabatan dengan Andra membuatnya terjun pada pekerjaan yang yang tak pernah dia bayangkan.
Hingga suatu hari mereka bertemu dengan Maharani, dalam sebuah insiden yang membuat Angga terluka, yang tanpa sadar membuat mereka semakin dekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wound
*
*
Maharani tak dapat lagi memejamkan matanya. Mimpinya dua jam yang lalu membuatnya terjaga hingga dini hari. Mimpi yang sama setiap malam dalam dua tahun terakhir. Mimpi yang membuatnya merasa sesak dan sedih, yang selalu membuatnya menjerit dan berteriak dalam tidurnya.
Gadis itu meringkuk didalam selimut tebalnya, menenggelamkan tubuh mungilnya dan berusaha memejamkan mata lagi. Namun lagi-lagi kejadian nahas itu berputar kembali didalam kepalanya. Seperti baru terjadi kemarin.
Bayangan seseorang yang menjamah tubuhnya, mencengkeramnya dengan kasar lalu mengoyak kesuciannya tanpa belas kasihan. Menghancurkan masa depannya tanpa ampun. Dan merenggut kehidupan ceria gadis itu dalam sekejap mata. Tak mengindahkan jeritannya yang dibungkam dengan keras seolah dia bukanlah manusia yang pantas mendapatkan belas kasihan.
Maharani tergugu, semakin merapatkan diri hingga semua anggota tubuhnya menempel satu sama lain. Kedua tangannya menutup telinganya dengan erat saat dirinya seperti mendengar suara jeritan pilu dikepalanya. Suara yang dia kenali sebagai miliknya. Saat dia memohon ampun, meminta pria yang dia kenali sebagai ayah kandungnya berhenti berlaku bagai binatang pada dirinya.
Gadis itu menarik sebuah bantal di sisi kepala, lalu meletakannya diatas wajahnya. Dan pecahlah tangisnya. Rasa pedih terus menggerogoti hatinya, semakin hari semakin membuat luka batinnya menganga. Seperti sebuah lubang hitam yang terus membesar. Yang lama-lama berusaha menelannya hingga mungkin suatu saat akan membuatnya menghilang.
Hatinya terasa ngilu, merayap hingga ke tenggorokan, membuatnya merasa semakin sesak.
Gadis itu bangkit, menyingkirkan bantal dari wajah sembabnya. Lalu turun mendudukkan tubuhnya dilantai disamping tempat tidur, masih terisak.
Maharani menyentuh lengan kirinya, menyingkap piyama yang menutupi lengannya, menyentuh kulitnya yang penuh bekas sayatan yang sudah menghitam. Rasa sakit didalam hatinya terus menggerogoti hingga rasanya ingin mati saja.
Dia membuka laci meja belajar disamping tempat tidur, merogoh kedalam hingga tangannya menemukan sebuah bungkusan kecil, lalu mengeluarkannya.
Sebuah benda tipis terbungkus kertas yang masih baru bergambar kepala macan hitam. Maharani membuka perekatnya, dan mengeluarkan isinya.
Sebuah silet.
Napasnya memburu, dadanya berdebar kencang. Gadis itu mengarahkan silet tersebut ke permukaan lengan hampir dekat dengan urat nadinya. Lalu ...
Sret, sret, sret ...
Beberapa sayatan melukai permukaan lengannya dengan mudah, lalu keluarlah cairan berwarna merah dengan pelan, yang seketika menguarkan aroma besi berkarat diudara.
Maharani menarik napasnya dalam-dalam. Dia memejamkan matanya. Merasakan perih yang nyata pada bagian tubuh berikutnya yang dia lukai malam itu. Seperti beberapa malam sebelumnya yang dia lakukan pada lengan sebelah kanannya yang kini lukanya hampir mengering. Atau bagian tubuh yang lain ketika luka pada lengannya tak membuatnya merasa puas saat merasakan sakit dan perihnya.
Gadis itu tergugu lagi sambil menikmati rasa pedih pada fisik dan batinnya yang tak kunjung membaik. Yang entah kapan akan berakhir.
*
*
*
Sebuah motor merah berhenti tepat didepan rumah sederhana bertingkat dua yang sudah sepi. Yang mungkin saja penghuninya telah terlelap dalam buaian. Semua lampu didalam rumah telah dipadamkan, hanya satu yang menyala di teras luar.
Angga merogoh saku jaket kulitnya, lalu mengeluarkan ponsel, melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Pemuda itu menghela napas pelan.
"Kenapa juga gue malah kesini lagi?" gumamnya pada dirinya sendiri. Ini hari ketujuh dirinya dengan sengaja membelokkan motor besarnya saat dalam perjalanan pulang usai kegiatannya di klub malam.
Kemudian dia menyalakan kembali mesin motornya, lalu memutuskan untuk pergi dari sana.
Angga menjalankan kuda besinya dengan santai, menyusuri jalanan kota yang benar-benar lengang, menikmati suasana sepi pada dini hari itu. Lalu berhenti di sekitar area parkir alun-alun kota yang temaram.
Beberapa pedagang kaki lima masih buka dan menerima pembeli yang kebanyakan adalah pasangan muda mudi yang entah apa yang mereka lakukan pada hampir subuh itu. Mungkin seperti dirinya yang baru pulang dari klub malam, atau mungkin juga para pengais rejeki yang entah pekerjaan apa yang mereka jalankan pada waktu selarut itu.
Angga merebahkan tubuh tingginya diatas motor besar miliknya. Dengan sebelah tangan dilipat dibawah kepala. Menikmati semilir angin dini hari yang dingin menerpa kepala dan wajahnya yang memucat diterpa udara.
Ting!
Bunyi notifikasi pesan masuk diponsel angga.
[Ga?] sebuah pesan dari nomor Andra.
[Ga lu dimana?] pesan dari Andra lagi.
[Apaan?] Angga mengirim balasan.
[Tante Sherry nyariin lu!] balasan dari Andra.
Angga mendengus kasar.
[Gue balik.] jawab Angga.
[Kenapa lu balik?] Andra membalas lagi.
[Gue lagi nggak mood.] balasan Angga.
[Kenapa lu sakit?]
[Iya gue sakit.]
Andra tak membalas lagi.
Sekali lagi Angga menghela napasnya dalam. Lalu menatap layar ponselnya lama-lama. Gambar wajah seorang gadis yang diambilnya secara diam-diam saat dia sedang mengerjakan pekerjaannya di gudang swalayan Vira.
"Gue sakit, Ran. Hati gue yang sakit tiap inget lu. Tapi sakit ini sekaligus bikin gue bahagia. Kenapa bisa gitu?" gumamnya, seperti tengah berbicara dengan seseorang yang nyata.
"Tiba-tiba aja gue nggak bisa kerja kayak biasanya. ... haaahh...." Angga mendesah pelan.
Pemuda itu memejamkan matanya dengan erat. Lalu tiba-tiba tertawa tanpa alasan. Mengingat telah satu Minggu ini dirinya tak dapat melakukan pekerjaannya seperti biasa. Melayani hasrat perempuan-perempuan kesepian yang menyewa jasanya. Dia seperti mati rasa. Alat tempurnya bahkan tak bisa diajak kompromi. Dia tak bisa melakukannya kali ini. Selain sebatas menemani mereka minum dan mengobrol tak tentu arah.
"Kayaknya gue udah gila." gumamnya lagi. Lalu bangkit, dan duduk masih diatas motor besarnya yang kokoh tak tergoyahkan.
Bayangan wajah lugu Maharani selalu hadir menggantikan wajah perempuan dibawah kungkungannya. Membuat hasratnya yang sudah membumbung tinggi surut begitu saja.
Angga mengusap wajahnya kasar. Lalu menepuk-nepuk kepalanya agak keras agar kesadarannya yang dia rasa mulai menghilang kembali terkumpul.
"Beneran nggak sih ini? masa iya gue suka sama dia. Geli banget rasanya." Angga bergumam, "Kenapa juga gue bisa berubah haluan kayak gini. Nggak mungkin banget!" katanya lagi. Bicara terus berulang seperti orang bodoh.
Angga terdiam sebentar, dia berpikir. Sesaat kemudian menyalakan mesin motornya, dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu menuju kosan tempat dirinya bernaung selama beberapa bulan ini.
*
*
*
*
Matahari mulai menghangat ketika Maharani tiba di pelataran gedung kampus. Gadis itu memulai kegiatan kuliahnya lagi setelah hampir dua bulan cuti. Vira memberinya kelonggaran untuk kuliah dari pagi hingga siang. Dan menjalani pekerjaannya setelah semua kegiatan kuliahnya selesai pada hampir sore hari.
Rasanya senang kembali ke tempat dirinya menimba ilmu untuk modal menggapai masa depan dan cita-citanya.
Maharani berjalan dengan kepala menunduk, seperti biasa. Tak mengindahkan keadaan disekitarnya yang riuh dengan gelak tawa ceria para mahasiswa yang seakan tak mengenal kesulitan hidup.
"Rani?" suara yang dikenalnya terdengar memanggil. Maharani berhenti berjalan, lalu menoleh.
Andra tampak memepecepat langkahnya menghampiri gadis itu. Dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
"Kamu kuliah lagi?" tanya Andra sesaat setelah jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah lagi.
Maharani mengangguk.
Andra tersenyum. "Syukurlah." lalu mereka berjalan bersisian.
"Udah ketemu Angga?" Andra memulai percakapan.
Maharani mendongak. "Belum." katanya.
Mereka tiba di kelas, sesaat Andra berhenti berjalan. Menemukan sahabatnya yang telah duduk di kursi tempatnya biasa mengikuti pelajaran.
Angga tersenyum riang. Lalu melirik kearah gadis yang datang bersamaan dengan sahabatnya.
"Tumben? semalam bilangnya sakit?" Andra melanjutkan langkahnya mencapai tempat duduknya.
"Tidur sebentar juga gue baikan." jawab Angga, masih menatap Maharani yang melangkah menjauh ke tempat diujung.
Bel tanda perkuliahan dimulai pun berbunyi. Seorang dosen pria masuk dengan tergesa. Menyapa para mahasiswa yang hadir, kemudian memulai pembahasan pada pagi itu. Yang tak sedikitpun Angga mengerti. Yang dia lakukan hanya sesekali mencatat, dengan mencontek dari buku catatan sahabat disampingnya.
"Kita kedatangan teman lama lagi yang sebelumnya cuti, ya?" dosen tersebut menyela pembahasan ketika menangkap sosok yang dia kenali kembali hadir dalam kegiatan kuliah pagi itu.
Semua orang mendongak, lalu menoleh ke kanan dan kiri. Mencari sosok yang dimaksud oleh dosen tersebut.
"Selamat datang lagi, Maharani. Semoga kali ini kamu bisa kuliah seterusnya." dosen tersebut melangkah pelan diantara mahasiswa yang duduk sejajar dengan gadis yang dia maksud.
Semua mata tertuju ke sudut dimana Maharani duduk terdiam.
"Te-terimaka-sih, pak." ucap Maharani, pelan dan terbata.
Dosen itu berhenti tepat beberapa langkah dari Maharani, lalu tersenyum.
"Welcome back." katanya, dengan tatapan yang aneh.
Maharani hanya mengangguk pelan.
Dosen tersebut memutar tubuhnya, lalu kembali membahas pelajaran yang sempat terjeda. Kemudian mundur beberapa langkah hingga posisinya berada tepat disamping gadis itu yang duduk mengkerut.
Semua orang diruangan itu kembali pada catatannya, namun tidak dengan Angga. Pemuda itu terus memperhatikan dengan serius kearah sudut dimana Maharani berada. Gadis itu terlihat ketakutan, seperti waktu pertama kali mereka bertemu di rumahnnya setelah dirinya diselamatkan.
Angga mengerutkan dahi.
*
*
Bersambung ...