NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takut kehilangan atau di khianati?

"Nad, lo pernah gak sih ketemu Kevin sebelumnya?" tanya Yuri yang pada akhirnya tidak bisa menahan diri dari rasa penasaran.

Nadia yang tidak curiga akan hal apapun, langsung menggeleng tanpa berpikir terlebih dahulu. "Seingat gue sih gak pernah ya. Kenapa emangnya, beb?"

"Gak ada sih. Gue deh kayaknya yang pernah ketemu Kevin sebelumnya. Wajahnya terasa familiar gitu." lanjut Yuri sengaja berbohong agar Nadia tidak merasa curiga.

"Kalau gue sih gak pernah kayaknya." ulang Nadia menegaskan sekali lagi.

Laura pura-pura memejamkan mata, dia duduk di depan di samping Yuri. Laura masih terpikir bagaimana sorot mata Kevin menatap Nadia beberapa saat yang lalu.

Tatapan itu kayak aneh. Mencurigakan?! Apa mungkin Kevin tertarik sama Nadia!

Yuri juga memikirkan hal yang sama. Terlebih ini bukan pertama kali Yuri menangkap basah Kevin menatap Nadia dengan tatapan seperti itu.

Gimana cara ngomongnya ke Nadia ya! Atau gue ngomong langsung ke Jeni? pikir Yuri dilema.

"Btw, tadi yang Kevin bilang tentang balas chat itu, siapa beb?" tanya Yuri mengalihkan pikirannya.

Laura membuka matanya, menghela napas ringan. "Oh, itu Rio, mantan gue. Dia mau ngobrol sama gue, tapi gue males aja ketemu dia lagi. Eh ternyata dia malah sahabatan sama Kevin. Ya, jadi gitu lah, dia minta bantuan Jeni sama Kevin buat atur pertemuan gue sama dia." jelas Laura singkat.

"Mantan lo yang tiba-tiba menghilang itu!"

"Iya."

Yuri mengangguk paham. Laura pernah cerita sekilas tentang mantannya yang tiba-tiba hilang tanpa kabar.

Saat dua sahabatnya mengobrol banyak hal hampir sepanjang perjalanan, Nadia justru sudah memasuki dunia mimpi.

Sementara Jeni sendiri, sedang memikirkan banyak hal di kepalanya. Kevin bahkan menyadari kekasihnya itu terlalu banyak diam malam ini.

"Sayang, kamu kenapa?"

Jeni menggeleng, senyum samar terlihat di bibirnya.

"Kamu capek banget ya hari ini." meraih tangan Jeni untuk dia genggam.

"Hmm." jawab Jeni singkat sebelum menutup kedua matanya.

Jeni tidak tidur, dia memikirkan apa yang dilihatnya beberapa waktu lalu di parkiran mall. Jeni menyadari tatapan Kevin yang begitu dalam pada Nadia seperti tatapan seorang laki-laki yang sedang menatap wanita yang dia suka.

Gak! Gak mungkin. Gue salah paham. Kevin cinta sama gue, dia gak mungkin suka sama Nadia, kan?! Tapi tatapan itu...

Jeni berulang kali meyakinkan dirinya bahwa apa yang dia lihat hanya kesalahpahaman semata.

Gue pasti terlalu takut kehilangan Kevin, makanya gue sampai curiga. Iya, pasti gue cuma terlalu baper.

Merasa tidak bisa terus-terusan mencurigai sesuatu yang mungkin hanya sekedar salah paham, Jeni akhirnya membuka matanya. Dia menghela napas beberapa kali sebelum menatap tajam wajah kekasihnya yang fokus menyetir.

"Sayang."

"Hmm, iya. Ada apa sayang." jawab Kevin lembut, menatap Jeni dengan sorot mata yang membuat Jeni berkali kali jatuh hati padanya.

"Sayang, kamu cinta kan sama aku?"

Kevin mendelik bingung mendengar pertanyaan itu. "Iya dong, aku cinta kamu banget."

"Kamu gak akan ninggalin aku kan?"

Kevin menghela napas, sebelum menjawab pertanyaan itu, dia mencari tempat untuk berhenti sebentar. Kevin menyadari ada yang tidak beres dengan mood kekasihnya saat ini.

Begitu mobil menepi, berhenti di area berhenti terdekat. Kevin langsung meraih kedua tangan Jeni untuk dia genggam. "Sayang kenapa nanya gitu?"

Jeni menunduk beberapa saat, "Aku takut..."

"Takut? Apa yang membuat kamu takut."

Wajah Jeni perlahan terangkat untuk menatap wajah kekasihnya yang tampak bingung. "Kamu tau kan, aku gak punya siapa-siapa selain kamu. Aku kepikiran, mungkin suatu hari nanti kamu bosan sama aku, terus kamu ninggalin aku."

Kevin tersenyum gemas, ditariknya tubuh itu masuk dalam pelukannya. Perlahan tangannya mengelus lembut punggung Jeni.

"Aku gak bisa janji untuk gak ninggalin kamu. Tapi, aku akan berusaha agar kita terus selalu bareng dalam keadaan apapun. Dan aku gak pernah bosan kok sama kamu."

"Kamu jujur gak?"

"Iya aku jujur sayang."

"Aku, aku mau kamu jujur tentang semua hal. Kalau mungkin kamu gak nyaman karena aku bawel, aku ngerepotin dan aku...."

"Sayang, I love you. Gak ada satu pun sifat kamu yang membuat rasa cinta aku berkurang ke kamu. Percaya sama aku. Aku cinta kamu, hanya kamu Jeni Stevani." Kevin mengatakan itu dengan lembut kemudian mengecup keningnya.

Jeni merasa lega. Dia bisa merasakan ketulusan Kevin. Tapi, bayangan tatapan Kevin saat menatap Nadia masih belum bisa pergi dari pikirannya.

"Kamu percaya kan sama aku?" tanya Kevin menatap tepat kedua sorot mata Jeni yang mencoba menyembunyikan ketakutannya membayangkan Kevin benar-benar menyukai Nadia.

"Sayang, kok diam aja."

Jeni memberanikan diri membalas tatapan Kevin. "Aku, aku percaya sama kamu."

Kevin tersenyum lega. Dia kembali memeluk Jeni dan memberikan kecupan hangat di keningnya.

"Maaf ya, sayang. Aku terlalu kekanakan." bisik Jeni menahan tangis.

"Gak usah minta maaf. Kamu gak salah kok. Wajar kok kamu merasa takut dan curiga sama aku. Itu artinya kamu manusia normal. Tapi, kamu juga harus percaya dan coba berpikir lebih tenang, kamu tau aku bukan remaja yang ingin bermain-main cinta. Aku pria dewasa yang sudah siap berkomitmen. Aku memilih kamu, sayang. Andai kamu sudah selesai kuliah, kita pasti sudah menikah sekarang."

Jeni akhirnya menangis, mengeratkan pelukannya seakan takut kehilangan kekasihnya saat itu juga. Kevin pun terus memeluknya untuk memberitahu bahwa dia tidak main-main dengan hubungan mereka.

Setelah cukup lega, Kevin melanjutkan kembali perjalanan mengantar Jeni pulang.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!