Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Antara Dua Detak Jantung
Lampu operasi di atas kepalanya terasa seperti matahari yang meledak, putih dan menyilaukan. Aruna mencoba menutup mata, tapi kelopak matanya terasa berat seperti timah. Suara mesin pendeteksi jantung berbunyi teratur, piip... piip... piip..., sebuah ritme yang sangat asing dibandingkan suara denting pedang atau deru angin di Kuil Langit.
"Pasien mulai tidak stabil. Tekanan darahnya naik," suara perawat itu terdengar dingin, datar, dan mekanis.
Aruna ingin berteriak. Ia ingin mengatakan bahwa dia bukan hanya seorang pasien tumor otak. Dia adalah seorang ibu yang sedang mengandung, seorang istri dari seorang jenderal, dan seorang penulis yang baru saja meruntuhkan sebuah dunia. Namun, masker oksigen yang menutupi mulutnya membuat setiap kata hanya menjadi embusan uap yang sia-sia.
"Delapan... tujuh..." perawat itu melanjutkan hitungan mundurnya.
Di sudut ruangan yang gelap, di luar jangkauan lampu sorot, Aruna melihatnya lagi. Sosok Arvand. Pria itu tidak memakai baju rumah sakit. Dia berdiri di sana dengan zirah hitamnya yang hancur, memegang pedang yang sudah patah setengah. Wajahnya yang penuh luka menatap Aruna dengan kepedihan yang sangat dalam.
"Ar... vand..." batin Aruna menjerit.
Tiba-tiba, tangan Aruna yang terikat di meja operasi bergetar. Tanda lahir berbentuk cincin di pergelangan tangannya mulai terasa panas; panas yang membakar, seolah-olah besi mendidih sedang ditempelkan ke kulitnya. Cahaya perak merembes keluar dari balik tali pengikat medis, menyinari ruangan operasi yang steril itu dengan warna yang tidak alami.
"Apa itu? Periksa pergelangan tangannya!" seru sang dokter yang baru saja masuk.
Namun, begitu dokter itu menyentuh tangan Aruna, sebuah gelombang kejut mementalkannya hingga menghantam rak peralatan medis. Gelas-gelas kaca pecah berantakan. Suara mesin jantung berubah menjadi nada panjang yang melengking... piiiiiiiiiip.
Dunia medis di sekitar Aruna mulai retak. Dinding putih rumah sakit mengelupas seperti kertas yang terbakar, menyingkapkan langit merah darah di baliknya. Aruna merasakan tubuhnya ditarik oleh dua kekuatan yang berlawanan. Satu kekuatan menariknya menuju kesadaran rumah sakit, dan kekuatan lain menariknya kembali ke pelukan Arvand yang penuh luka.
"Pilih, Aruna!" suara pria berbaju jas, sang Bos bergema di kepalanya. "Kembali ke kehidupan nyata yang membosankan dan selamatkan nyawamu, atau mati di meja operasi ini demi sebuah halusinasi di dunia naskah yang sudah hancur!"
"Ini bukan halusinasi!" Aruna memaksakan suaranya keluar, memecahkan masker oksigennya.
Dengan sentakan tenaga yang entah dari mana asalnya, Aruna merobek tali pengikat tangannya. Cahaya perak dari tanda lahirnya meluap, menelan seluruh ruang operasi. Saat cahaya itu mereda, Aruna mendapati dirinya kembali berdiri di lantai batu Kuil Langit yang dingin.
Tubuhnya kembali mengenakan gaun putih yang ternoda darah Mira. Dan di depannya, Barka yang sudah hancur tadi kini berdiri tegak kembali, namun wajahnya kini benar-benar menyerupai sang Bos dari kantor penerbitannya.
"Kau keras kepala sekali, Aruna," ujar sang Bos sambil merapikan jam tangan mewahnya. "Kenapa kau memilih tinggal di dunia yang penuh debu dan darah ini?"
Aruna tidak menjawab. Ia berlari ke arah Arvand yang masih terbaring lemah di sudut kuil. "Arvand! Bangun! Aku di sini!"
Arvand membuka matanya pelan. Saat melihat Aruna, tangannya yang gemetar langsung meraih jemari wanita itu. "Kau... kau kembali? Aku pikir aku baru saja melihatmu dibawa oleh cahaya putih..."
"Aku tidak akan pergi," bisik Aruna sambil membantu Arvand berdiri. "Arel di mana?"
Mereka menoleh ke tengah kuil. Pria berbaju jas itu sedang memegang kepala Arel dengan satu tangan. Arel tampak tidak sadarkan diri, tubuhnya melayang beberapa inci dari lantai.
"Anak ini adalah kunci untuk menstabilkan realitas," ujar sang Bos. "Aku akan membawanya ke duniamu. Dia akan menjadi karakter paling sukses yang pernah ada di platform digital. Semua orang akan memujanya, dan aku akan menjadi kaya raya. Kau harusnya berterima kasih, Aruna. Aku memberinya masa depan yang lebih baik daripada menjadi pangeran di kerajaan yang sedang runtuh ini."
"Lepaskan putraku!" raung Arvand. Ia mencoba menyerang, tapi sang Bos hanya menjentikkan jarinya, membuat Arvand tertekuk lutut oleh tekanan gravitasi yang luar biasa.
Aruna melangkah maju. Ia merasakan denyutan di perutnya, detak jantung kedua yang memberinya kekuatan aneh. "Kau bilang kau pemilik hak cipta dunia ini? Kau salah. Penulis sejati memberikan napas pada karakternya, bukan memperbudak mereka demi uang!"
Aruna mengangkat pergelangan tangannya yang bertanda cincin perak. Ia tidak lagi mencoba menghapus cerita. Ia mulai 'menulis' secara langsung di udara. Huruf-huruf bercahaya muncul di sekeliling sang Bos, membentuk sebuah penjara teks yang mengurungnya.
"Bab 22: Kejatuhan Sang Pencipta," desis Aruna. "Tokoh antagonis menyadari bahwa dia hanyalah sebuah paragraf yang bisa diedit kapan saja."
Sang Bos mulai panik saat melihat huruf-huruf itu mulai mengikat kakinya. "Apa yang kau lakukan? Aku atasanmu! Aku yang memberimu pekerjaan!"
"Di sini, kau hanyalah penjahat yang naskahnya sudah basi!" Aruna menghentakkan tangannya.
Pusaran cahaya putih perak yang tadi muncul di langit mulai berputar di dalam kuil, tapi kali ini Aruna yang mengendalikannya. Ia mengarahkan pusaran itu tepat ke arah sang Bos. Pria itu tersedot masuk ke dalam kekosongan dimensi, berteriak ketakutan saat tubuhnya berubah menjadi serpihan kertas digital yang hancur.
Arel jatuh dari udara. Arvand dengan sigap menangkapnya. Begitu sang Bos hilang, seluruh tekanan di kuil itu lenyap. Langit merah kembali menjadi gelap dengan bintang-bintang yang pucat.
"Semuanya... sudah benar-benar selesai?" tanya Arvand sambil memeluk Arel yang mulai sadar.
Aruna terduduk lemas di lantai kuil. Ia memegang perutnya. "Aku harap begitu, Arvand. Aku sudah memutuskan hubungan dengan duniaku. Aku tidak bisa kembali lagi."
Arvand mendekati Aruna, ia berlutut dan mencium kening istrinya dengan penuh hormat. "Terima kasih karena telah memilih kami. Aku bersumpah, mulai hari ini, tidak akan ada lagi naskah yang mengatur hidup kita. Kita yang akan menulis hari esok."
Seraphina muncul dari balik reruntuhan, kipas besinya sudah dilipat. Wajahnya yang biasanya misterius kini tampak lebih manusiawi. "Kalian berdua benar-benar pasangan yang merepotkan. Tapi, kaisar tua sudah menunggu di kaki bukit. Ibu kota masih harus direbut."
Mereka mulai turun dari Kuil Langit. Perjalanan menuruni bukit terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi mayat hidup atau sihir gelap. Hanya suara alam dan harapan yang mulai tumbuh. Namun, saat mereka sampai di gerbang kamp, mereka melihat pemandangan yang tak terduga.
Ribuan prajurit kaisar palsu, pasukan Kaelan berdiri di depan kamp. Namun, mereka tidak menghunus senjata. Mereka semua berlutut dengan kepala tertunduk.
Di tengah-tengah mereka, berdiri Pangeran Kaelan. Tangannya yang hancur dibalut kain putih yang penuh darah. Ia menatap Arvand dan Aruna yang datang.
"Aku sudah membubarkan pasukanku," suara Kaelan terdengar parau. "Kunci tembaga itu... saat meledak, ia memperlihatkan kepadaku sebuah penglihatan. Aku melihat dunia tanpa kalian berdua, dan itu hanyalah sebuah kehampaan yang mengerikan. Aku salah."
Kaelan melepaskan pedangnya dan melemparkannya ke kaki Arvand. "Bunuh aku sekarang, Jenderal. Aku sudah cukup banyak berdosa pada kalian."
Arvand menatap pedang itu, lalu menatap Aruna. Aruna menggeleng pelan. Ia sudah lelah dengan kematian.
Arvand memungut pedang Kaelan, tapi ia tidak mengarahkannya ke leher sang pangeran. Ia justru memberikan pedang itu kembali pada Kaelan dengan posisi gagang menghadap ke depan.
"Gunakan pedang ini untuk menebus dosamu. Bantu kami membangun kembali kerajaan ini. Itu adalah hukuman yang jauh lebih berat daripada kematian," ujar Arvand tegas.
Kaelan tertegun. Ia menerima pedang itu dengan tangan gemetar. Air mata jatuh dari mata sang pangeran yang selama ini dikenal dingin.
Kaisar tua keluar dari tenda, menatap pemandangan itu dengan bangga. "Waktunya telah tiba. Esok, kita akan memasuki ibu kota. Bukan sebagai penakluk, tapi sebagai pemilik sah yang pulang ke rumah."
Malam itu, kamp dipenuhi dengan suasana haru. Aruna duduk di dekat api unggun bersama Arvand dan Arel. Mereka makan dengan tenang, menikmati kedamaian yang terasa sangat mahal. Namun, saat Aruna hendak beristirahat ke dalam tenda, ia merasakan sebuah tarikan aneh di pergelangan tangannya.
Tanda lahir cincin perak itu tidak hilang. Justru, ia mulai berdenyut dengan irama yang aneh.
"Aruna..." suara bisikan lembut terdengar di telinganya. Suara itu bukan suara sang Bos, bukan suara Kaelan. Itu adalah suaranya sendiri... Aruna dari masa depan.
"Cerita ini belum selesai. Ada satu rahasia lagi yang ditinggalkan Lady Ratri di bawah istana ibu kota. Rahasia yang akan membuatmu mempertanyakan kembali siapa dirimu yang sebenarnya."
Aruna membeku di pintu tenda. Ia menatap Arvand yang sedang tertawa bersama Arel di kejauhan. Rasa takut kembali menyelinap di hatinya. Apakah dia benar-benar 'terlempar' ke tubuh ini, ataukah dia sebenarnya adalah bagian dari jiwa Ratri yang selama ini bersembunyi?
Tiba-tiba, dari arah ibu kota di kejauhan, sebuah pilar cahaya ungu raksasa melesat ke langit, membelah awan malam.
"Itu... segel bawah tanah," gumam Kaisar tua yang tiba-tiba muncul di samping Aruna dengan wajah pucat pasi. "Ratri... apa yang sebenarnya dilakukan ibumu sebelum dia meninggal?"
Rahasia kelam apa yang ditinggalkan oleh ibu kandung Lady Ratri di bawah ibu kota? Apakah pilar cahaya itu berhubungan dengan identitas asli Aruna? Dan mampukah Aruna menghadapi kenyataan bahwa ia mungkin bukan sekadar orang asing di tubuh ini?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.