"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.
Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.
" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."
_________________________________________________
Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.
Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
"Saya rasa Dewa akan mengahadapi masalah besar pada karirnya." Irwan menyerahkan sebuah tablet yang memperlihatkan vidio yang tengah viral saat ini.
Vidio itu menyebar dengan cepat sejak Sherly merilisnya tadi malam.
"Telepon pengacara, cari jalan keluar agar semua berita itu diturunkan!"
"Baik, Tuan." Irwan pamit pergi untuk menjalankan perintah tuannya.
Sedang pria tua yang duduk di kursi roda itu, terus berpikir keras mencari jalan keluar agar berita Dewangga tidak menyebar lebih jauh.
Ia menghela napas panjang. Di usianya yang renta, hanya satu yang sampai saat ini belum terwujudkan..
"Papa udah minum obat?" tanya Ratna—Istri dari Surya Rahardian.
Surya mengangguk saja.
"Ya udah, ayo kita ke luar. Ada Anggun dan Ajeng datang." Ratna mendorong kursi roda suaminya menuju ruang keluarga, di mana anaknya sudah menunggu.
"Pagi, Pa," sapa Ajeng lebih dulu. Disusul adiknya—Anggun—dan para menantu.
"Papa udah baikan?" tanya Anggun.
Surya malas sekali menjawab. Pertanyaan anak dan menantunya tak pernah tulus. Mereka ingin ia sehat karena ingin membicarakan soal warisan.
Surya memang sudah tua. Sudah saatnya mempersiapkan tentang kepada siapa semua hartanya akan diberikan. Ia punya dua anak dari pernikahannya dengan Ratna, dan satu anak dengan mantan sekretarisnya dulu.
"Kapan Papa siap untuk bertemu Om Hans?" sambung Anggun.
Surya tersenyum miring. Sudah sesuai dugaannya. Hanya ini alasan mereka menemuinya. Warisan.
"Wati!" teriak Surya memanggil asisten rumah tangga.
"Iya, Tuan." Dengan terburu-buru Wati berlari menghampiri tuannya.
"Bawa aku kembali ke kamar, Aku mau istirahat!"
Wati tak langsung mengiyakan. Ia menatap Ratna—Nyonya besar di rumah ini. Wati takut dibilang lancang.
"Wati, kamu denger nggak. Bawa aku ke kamar!" bentak Surya tak sabar.
"Ba-baik, Tuan." Meski takut, Wati tetap mendorong Surya kembali ke kamar.
"Kamu terlalu terburu-buru, Nggun. Papa jadi marah lagi kan, karena kamu yang nggak sabaran itu!" tegur Ajeng.
"Aku juga nggak sabar, Kak. Semua ini gara-gara di anak haram itu!" Anggun jadi kesal sendiri. Terlebih saat saat harus mengingat anak haram papanya.
"Kita nggak boleh tergesa-gesa sama Papa kalau masih mau dapat bagian. Kita semua tahu sifat keras kepala Papa. Harusnya kita luluhkan di dengan lembut, bukan grasa-grusu kayak kamu tadi," ujar Ajeng.
"Kakakmu benar, Nggun. Biarkan Papa tenang dulu. Kita harus rebut hati Papa pelan-pelan." Ratna menambahi.
"Tapi aku nggak bisa sabar, Ma. Perusahaan Mas Miko udah mau kolaps. Aku nggak mau kalau sampai jatuh miskin.
"Iya, Mama tahu. Tapi kita nggak bisa maksa Papa juga. Kamu tahu sendiri, kalau kita maksa Papa, yang ada kita nggak dapat sepeser pun dari semua harta Papa. Kamu mau kayak gitu?"
Anggun mencebik kesal. Ia sudah bosan dengan kata sabar. Yang ia butuhkan sekarang adalah uang untuk membantu perusahaan suaminya agar terus bisa berdiri.
Anggun sama keras kepalanya dengan Surya. Ia tak mau dengar nasehat siapa pun. Yang ia pentingkan adalah apa yang ia inginkan terwujud. Ia pun melangkah pergi, meninggalkan Mama dan Kakaknya begitu saja.
*****
"Semua berita sudah menyebar, Wa. Kita nggak ada lagi jalan keluar," ujar Luky di mobil. Setelah meminta Dewa melihat vidio yang Sherly rilis semalam.
"Itu kita pikirkan nanti saja. Antar dulu aku ke studio Maya. Hari ini pemotretan bukan?" Dewa sudah melihat jadwalnya kemarin.
Luky pun setuju. Sebaiknya Dewa memang tetap harus bekerja, sembari mencari solusi dari semua peristiwa ini. Mobil melaju menuju studio Maya.
Baru juga setengah jalan, sebuah pesan masuk ke ponsel Luky. Ia membuka sembari menyetir.
Usai membaca pesan dari owner yang akan memakai jasa Dewa sebagai model produk fashion, Luky mencari tempat untuk menepikan mobilnya.
"Ada apa?" Dewa tentu kaget.
"Kita nggak jadi ke studio Maya. Mereka men-cancel pekerjaan lo sampai berita tentang lo dan Sherly mereda,"jawab Luky.
"Ya, udah, kalau begitu kita ke lokasi selanjutnya!"
Mobil kembali melaju. Menuju lokasi yang kedua.
Dari spion dalam, sesekali Luky menoleh ke belakang. Melihat Dewa yang sedang serius, muncul rasa kasihan.
Ia tak tahu apa yang akan Dewa hadapi setelah vidio itu menyebar. Pasti akan mempersulit karir Dewa.
"Wa, lo udah hubungi Sherly?" Luky berharap semua masih bisa dibicarakan.
"Buat apa hubungi dia. Toh semua vido sudah menyebar. Kita nggak akan bisa menurunkan berita itu. Pasti vidio itu sudah banyak yang mengunduh."
"Tapi kita tetap harus lapor polisi, Wa. Semua demi karir lo. Lo itu korban, Sherly harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi ini." Luky tak bisa terima jika karir Dewa hancur begitu saja. Ia sudah berjuang keras untuk membawa Dewa sampai di titik popularitas yang sekarang.
Sampai mati pun, Luky tak akan rela. Sherly harus menerima konsekuensi atas tindakan bodohnya ini!