Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Tanpa Jejak
Pagi itu, udara terasa lebih segar di kontrakan sempit Zevanya.
Setelah merasa tubuhnya mulai pulih pasca-persalinan,
Zevanya langsung mempersiapkan diri untuk pergi sejauh mungkin.
Zevanya mengambil surat pengunduran diri yang telah ia tulis dengan tangan gemetar,
lalu memanggil seorang ojek daring untuk mengantarkannya langsung ke tangan Pak Danu di mal.
Zevanya menoleh ke arah Arsen Adistra yang menggeliat pelan di atas tempat tidur.
Ia menghampiri bayinya,
lalu menggendongnya dengan penuh kehati-hatian,
memastikan kain selimut itu memeluk tubuh mungil Arsen dengan hangat.
"Nak, kita pindah dari sini ya,"
bisik Zevanya lembut sambil mencium kepala Arsen yang masih berbau bayi.
"Ibu tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang. Ibu akan terus menjagamu dan, melindungimu."
Air mata haru jatuh di pipi Zevanya. Ia tahu perjalanan ke depan tidak akan mudah.
Mengurus bayi sambil membuka usaha kuliner sendirian adalah tantangan besar,
namun demi Arsen, ia sanggup menantang dunia.
Zevanya membawa tas besarnya keluar.
Sebuah mobil jemputan telah menunggu nya di depan gang.
Ia sengaja tidak berpamitan kepada tetangga,
untuk menghindari pertanyaan yang berlebihan.
Saat mobil mulai bergerak menjauh, Zevanya menatap jendela,
melihat jalanan menuju mal yang biasa ia lalui.
Di kejauhan, gedung-gedung pencakar langit milik Mahendra Group berdiri tegak seolah mengawasi seluruh kota.
Mobil itu membawanya menuju pinggiran kota yang lebih tenang,
ke sebuah rumah kecil dengan kios di depannya yang telah ia sewa.
Sesampainya di sana,
Zevanya Masuk dan tersenyum melihat Arsen yang sangat tenang dan tertidur pulas dalam dekapannya.
Sementara itu, di kantor manajemen mal,
Pak Danu menghela napas panjang setelah membaca isi amplop putih yang baru saja diantarkan oleh ojek daring.
"Ternyata Zevanya mengundurkan diri dan tidak lanjut bekerja.
Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusannya.
Semoga dia dan bayinya selalu baik-baik saja,"
gumam Pak Danu sambil melanjutkan kesibukannya.
Di sisi kota, Arkananta yang masih terobsesi mencari Zevanya kembali mendatangi mal itu,
dan langsung menuju ruangan Pak Danu.
"Di mana Zevanya? Kenapa sampai saat ini dia masih belum bekerja?" tanya Arkan dengan nada menuntut.
Pak Danu menyerahkan amplop putih itu.
"Silakan kamu baca ini. Zevanya sudah mengundurkan diri dari sini karena ingin fokus menjaga anaknya."
Arkan tersentak kaget. "Terus bagaimana bisa saya menemukan dia, Pak? Tolong bantu saya!"
Karena merasa kurang nyaman karena Arkan selalu bolak-balik ke kantornya,
Pak Danu akhirnya luluh dan memberikan alamat kontrakan lama Zevanya.
Arkan yang merasa sangat bahagia langsung berpamitan.
"Terima kasih, Pak! Kalau begitu saya pamit!"
Sesampainya di sana,
Arkan terpaku melihat kontrakan itu sepi dan tampak tidak berpenghuni.
Ia mengetuk-ngetuk pintu berkali-kali, namun tidak ada yang menyahut.
Dengan cemas, Arkan bertanya kepada tetangga yang sedang berbelanja sayuran.
"Maaf, saya ingin bertanya, apa benar ini kontrakan Zevanya?"
"Benar, Tuan," jawab salah satu dari mereka.
"Tapi sepertinya dia sedang pergi. Saya melihat Mbak Zevanya tadi pergi membawa koper, dan anaknya yang baru lahir."
Jantung Arkan seolah berhenti. "Ke mana dia pergi?"
"Saya tidak tahu, Mas."
Arkan langsung berbalik, masuk ke dalam mobil,
Ia memukul setir dengan perasaan kesal yang meluap.
"Sial! Ke mana kamu, Zevanya?! Kata tetangga kamu membawa koper... apa kamu pergi dari kota ini?"
Arkan menunduk, matanya memanas dan ia hampir menangis.
Sulit sekali mencari wanita malam itu.
"Meskipun firasatku kini sekarang mengatakan bahwa wanita malam itu adalah kamu, Zevanya...
tapi aku sekarang tidak tahu lagi di mana kamu berada. Aku menyerah. Dunia ini luas, ke mana aku harus mencarimu?"
Semenjak hari itu,
Arkan berusaha melupakan Zevanya.
Namun, hatinya benar-benar tertutup, ia tidak bisa menerima wanita lain.
Arkan berubah menjadi pria yang sangat dingin dan cuek terhadap setiap wanita yang mencoba mendekatinya.
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪