"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Rintik hujan menemani langkah kaki kanaya meninggalkan rumah yang telah ia tempati selama 6 bulan kurang lebih, air mata masih menggenang di sudut mata indahnya.
Kanaya pamit dengan seisi rumah kecuali kala, isak tangis mewarnai pamitannya kepada mbak sri.
Tak lupa kanaya juga menyalami pak yatmo, penjaga rumah itu. Haru biru rasanya hati kanaya, dinginnya cuaca pagi itu semakin menambah kesedihan dihatinya.
Untuk kala, dia hanya meninggalkan sepucuk surat menerangkan bahwa perhiasan keluarga mereka telah kanaya kembalikan.
Surat dan kotak perhiasan itu ia letakkan di meja kerja kala, sebenarnya kanaya ingin berpamitan namun kala sudah tidak ada dirumah.
Kanaya menyeret koper lusuhnya, menatap kembali ke arah rumah dengan pandangan sendu.
'Selamat tinggal...kala' desisnya sendu.
Kanaya memutuskan untuk menelepon taksi untuk mengantarnya ke terminal, ponsel di genggamannya tiba-tiba berdering.
Kanaya mengernyitkan keningnya, menatap layar ponsel penuh tanda tanya.
"Nomor siapa nih"
Sebuah nomor masuk tanpa nama, kanaya mengarahkan ponsel ke telinganya setelah menggulir panggilan tersebut kedalam mode terima.
"Hallo..kanaya!" seru suara seorang wanita, terdengar lantang dan keras di telinga kanaya, ia sampai menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
Kanaya masih belum mengenali suara itu
"Ya.....siapa?" tanyanya sopan.
"Ini..aku...syafira, bisa kita bicara sebentar.."
Mimik wajah kanaya langsung berubah, ada rasa tak nyaman menerima panggilan dari wanita itu.
Ingin rasanya ia menolak ajakan syafira untuk bertemu, namun mengingat adab dan sopan santun, akhirnya kanaya mengiyakan ajakan itu dan meminta syafira menentukkan tempatnya.
Rintik hujan semakin deras, kanaya menutup payung yang dipegangnya, meletakkan di tempat tatakan payung yang disediakan.
Kanaya mengibas-ibas roknya yang sedikit basah akibat tempias air hujan, memandang ke dalam cafe, mencari sosok syafira yang katanya sudah menunggu.
Ia melihat wanita itu melambaikan tangannya ke arahnya, tersenyum manis dan tumben, ramah.
Kanaya melangkah masuk, ia melangkah dengan anggun, menuju tempat duduk wanita itu.
"Ada apa yah?" tanya kanaya tanpa basa basi.
Menarik kursi, menatap syafira yang masih tetap tersenyum padanya, kali ini kanaya melihat ketulusan dalam senyuman itu.
"Minumlah dulu, aku pesan minuman hangat, aku tak tahu kamu sukanya apa"
Syafira, wanita itu mendorong susu coklat hangat kearahnya, kanaya hanya mengangguk tipis.
"Langsung saja syafira, aku tidak punya banyak waktu" tukas kanaya datar, tidak kasar namun cukup dingin.
Kanaya melihat syafira menghela nafasnya berat, duduk wanita itu yang kelihatan gelisah dan tidak nyaman, membuat kanaya mulai menatap syafira serius.
Ia yakin syafira ingin menyampaikan hal yang sangat serius, kegelisahan wanita itu menunjukkannya.
"Kamu sudah resmi bercerai dengan kak kalakan?",
Pertanyaan syafira yang langsung to the point, tak urung membuat kanaya mengerutkan keningnya.
"Aku harus menceritakan sesuatu kepadamu naya, kamu harus tahu ini.."
Kanaya menatap bola mata syafira yang berkejap cepat, ia masih diam membiarkan syafira melanjutkan ceritanya.
"Aku yang mengurus surat perceraian kalian,
Aku tahu....kalau...kalau kamu jatuh cinta kepada kak kala"
syafira menatap kanaya serius, kanaya masih juga diam. Ia juga yakin bahwa surat cerai bisa begitu cepat diurus pasti ada campur tangan orang lain, mengingat kala adalah orang yang sibuk.
Tapi ia tidak menduga sama sekali kalau orang itu adalah syafira, hati kanaya sedikit sakit menyadarinya.
"Tapi..kamu gak boleh jatuh cinta ke dia naya"
Ucapan syafira, cukup membuat kanaya sedikit terperanjat, ada rasa tersinggung di hatinya mendengar ucapan wanita itu.
"Lebih tepatnya....kamu gak akan bisa membuat dia jatuh cinta padamu"
"Kenapa...?" sambar kanaya cepat, menatap syafira lekat.
Syafira, wanita itu tersenyum kecut, ada rasa sedih dari senyuman itu. Syafira belum merespon pertanyaan kanaya, wanita itu masih menatap kanaya lekat.
"Karena kamu mencintai diakah?"
Kanaya melihat syafira menggeleng sendu, tatapan mata wanita itu tidak segalak dan sebenci biasanya.
"Karena...cinta kak kala sudah habis untuk aluna"
'Aluna..!?, siapa dia?' bisik kanaya dalam hati, ia ingin bertanya tapi kanaya melihat wajah syafira semakin sendu.
"Aku juga mencintai kak kala, naya"
"Jauh sebelum kak kala kenal dengan aluna aku sudah mencintai dia...."
Kanaya melihat bola mata syafira berkaca-kaca, ujung bibir wanita itu bergetar. Kanaya tertegun menatap syafira dalam, ternyata syafira secinta itu kepada kala.
"Tapi aluna membawa semua cinta kak kala bersamanya, tidak meninggalkan sedikitpun sisa-sisa cinta dihati kak kala"
"Kalau kamu pernah masuk kamar khusus kak kala, kamu akan lihat aluna dipigura foto warna emas yang ada di meja" ujar syafira menatap kanaya sendu.
"Aku tahu naya, betapa sedihnya hatimu...., bagaimanapun aku tahu apa yang kamu rasakan, cinta yang kamu miliki tidak akan pernah berbalas naya....seperti cinta yang aku punya.."
Helaan berat terdengar dari mulut syafira
"Sebenarnya naya...., sebelum kak kala mengenal aluna, aku dan dia sudah tunangan, kami ditunangkan sejak kecil"
Kanaya sedikit terperanjat mendengar ucapan syafira, ia masih saja diam, menunggu lanjutan cerita syafira.
Kanaya mengamati syafira yang mengambil gelas dan menyesap isinya, sepertinya wanita itu ingin membasahi tenggorokannya yang kering.
"Aku yang mengenalkan mereka berdua, dan sampai detik ini terus terang, aku menyesal karenanya. Sampai detik ini...naya, pertunangan kami belum pernah dibatalkan.." jelas syafira menatap mata indah kanaya lekat.
"Makanya, begitu aku mendengar kak kala menikah, aku benar-benar terkejut. Buru-buru aku pulang dari paris, awalnya aku tidak percaya, aku kecewa, aku marah, hingga aku hadiri pernikahan kalian,....aku melihat kecanggungan antara kamu dan kak kala..
Hmmmm....aku menduga, pasti pernikahan kalian bukan karena cinta...
Dan dugaanku itu benar, ketika akhirnya kak kala menjelaskan semuanya padaku, kontrak 6 bulan kalian naya..." jelas syafira panjang.
Kanaya, entah mengapa hatinya bagai teriris, perih. Dia tahu, benar-benar tahu, kalau dirinya bukanlah siapa-siapa bagi kala.
Namun mendengar cerita syafira, bagaimana wanita itu tahu tentang kontrak mereka, tak urung hati kanaya berdarah. Sakit—perih, rasanya bagai luka yang disiram pakai air cuka dan ditaburi garam.
Tiba-tiba syafira menyambar jemari kanaya, mengenggam erat jemari itu, meremas jemari kanaya dan menatapnya penuh harap.
"Kumohon naya..pergilah menjauh dari kak kala, aku sangat mencintai dia. Sebagai sesama wanita, tolong aku naya...", pinta wanita itu menatap kanaya dengan penuh harap.
Kanaya merasa jengah, ia membuang pandangannya, menarik jemarinya dari genggaman syafira.
Jujur hatinya kesal, tapi bagaimanapun kanaya tidak punya keinginan untuk bersaing merebut hati kala.
Penjelasan panjang syafira, semakin menyadarkannya bahwa kehadirannya tidak membawa dampak apapun dihati dan hidup pria itu.
Permintaan syafira yang terdengar kejam, cukup dipahami kanaya. Yah, syafira jauh lebih berhak, karena sampai saat ini mereka masih tunangan.
"Jangan khawatir, syafira, Aku tak punya keinginan sedikitpun menghinakan diriku...mengemis cinta kala"
Kanaya melihat syafira sedikit terkejut mendengar jawabannya, ada rasa tak senang diwajah wanita itu, namun kanaya tidak perduli.
"Bagiku...kontrak 6 bulan itu hanyalah pekerjaan, kuakui aku sempat terbawa suasana, namun kamu gak perlu takut, aku sama sekali tidak punya keinginan untuk menjadi istri kala seutuhnya..." bohong kanaya dengan mimik serius, ada rasa sakit ketika mengucapkannya. Namun ia sudah bertekad untuk tidak lagi berharap apapun kepada kala.
"Terima kasih naya.....terima kasih..."
Ucapan tulus syafira terdengar sangat menyakitkan di telinga kanaya, senyuman sumringah di wajah syafira tak mampu menghilangkan rasa sakit di hatinya.
Walaupun permintaan egois wanita itu cukup terdengar kejam, namun kanaya memahaminya.
Bagaimana mungkin ada wanita yang ikhlas berebut cinta laki-laki yang disayang, dengan wanita lain.
Dan wanita lain itu adalah dirinya, kanaya tak dapat membayangkan bagaimana sedihnya hari-hari syafira ketika pria yang dicintainya, mencintai gadis lain, gadis yang ia kenalkan sebagai teman, merebut pria tunangannya.
Kanaya memahami syafira, walaupun hatinya sakit. Bagaimanapun, ia masih mencintai kala. Kala adalah pria pertama yang menciumnya, pria pertama yang sukses mengisi hatinya, pria pertama yang mengisi mimpi-mimpi indahnya, pria pertama yang kanaya harapkan menjadi pria terakhir dalam hidupnya.
Kanaya meninggalkan cafe dengan langkah gontai, gerimis yang masih turun seakan ikut memahami sedihnya hati kanaya saat ini.
Ia menelepon taksi yang sempat ditundanya tadi, hatinya semakin kuat untuk pergi dari jakarta selamanya. Kanaya akan pulang kampung dan memulai hidupnya tanpa kala.
Bersambung....