NovelToon NovelToon
Cinta Posesif Arlan

Cinta Posesif Arlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Posesif
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Voyager

"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."

Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.

Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fitnah

“Bukan aku!”

Suara Mika terdengar gemetar, tetapi tegas.

Suasana restoran mendadak berubah mencekam. Semua mata tertuju ke arah Pak Kamil

Wajah pria itu pucat pasi. Napasnya tersengal, tak beraturan. Bintik-bintik merah mulai muncul di leher dan lengannya. Tangannya mencengkeram meja, seolah berusaha bertahan dan menahan.

“Pak Kamil alergi udang, ‘kan?” celetuk salah satu staf, suaranya penuh kepanikan.

Beberapa pengawal langsung bergerak mendekat.

“Tuan, Anda baik-baik aja?!”

Tak ada jawaban jelas. Hanya napas berat dan tubuh yang semakin melemah.

Tak lama, chef datang tergesa-gesa. Ia langsung memeriksa hidangan di meja, lalu menatap Mika dengan sorot mata tajam.

“Mika,” katanya pelan, tapi penuh tekanan, “Tadi waktu kamu jatuh di dapur ... kamu nggak sengaja menuangkan bubuk udang, ya?”

Nada suaranya terdengar seperti pertanyaan. Tapi jelas itu tuduhan.

Kilatan ingatan langsung menyeruak di kepala Mika. Beberapa menit sebelumnya. Dapur sedang kacau. Suara perintah bersahutan. Panci berdenting, api menyala besar, dan aroma makanan bercampur memenuhi udara.

“Mika! Taruh botol-botol bumbu itu di meja depan!” perintah salah satu staf dengan nada tidak sabar.

“Iya!” jawab Mika cepat.

Ia membawa beberapa botol kecil berisi bubuk penyedap. Namun, saat berjalan.

Bruk!

Tubuhnya tersandung. Botol-botol itu hampir terlepas dari tangannya.

“Aduh!”

Seorang staf wanita yang berdiri di dekatnya menatap sinis.

“Gitu aja jatuh. Nggak becus banget.”

“Aduh, Mika! Kamu bisa kerja nggak, sih?!” bentak chef dari kejauhan. “Itu pesanan orang penting!”

“Tapi aku—”

“Udah! Nggak usah banyak alasan. Cepat antar!”

Mika menggigit bibirnya, menahan kesal. Ia segera merapikan botol-botol itu, lalu membawa pesanan keluar.

Begitu Mika pergi, staf wanita tadi melirik chef. Keduanya saling bertukar pandang. Senyum tipis terukir di wajah mereka.

“Beraksi,” bisik staf itu pelan.

Itulah yang terjadi sebelum kondisi Pak Kamil semakin memburuk.

“Cepat panggil ambulans!” teriak seseorang.

“Jangan bergerombol!” sahut pengawal, mencoba mengatur keadaan.

Mika melangkah maju. “Biarkan aku bantu,” katanya cepat.

“Jangan sok tahu!” hardik salah satu pelayan. “Nanti malah makin parah!”

Mika menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada Pak Kamil.

“Pak, kita nggak punya waktu,” ucapnya tegas.

Salah satu pengawal ragu, tapi akhirnya mundur memberi ruang.

“Baik, Lakukan.”

Mika langsung berlutut di samping kursi Pak Kamil.

“Tolong dudukkan beliau tegak!” perintahnya.

Beberapa orang membantu mengubah posisi Pak Kamil yang semula bersandar menjadi duduk tegak, sedikit condong ke depan.

Mika memeriksa napasnya. Dadanya naik turun cepat.

Ia segera membuka kancing kerah kemeja Pak Kamil yang mulai terasa sempit. Tangannya gemetar. Namun, gerakannya tetap cekatan.

Tiba-tiba Chef berteriak. “Apa-apaan itu?!” katanya. “Dia mau mencekik Pak Kamil supaya kesalahannya nggak ketahuan!”

Semua orang langsung menoleh. Mika mendongak, matanya tajam. “Aku lagi nolong!” katanya menahan emosi. “Pak Kamil punya Epipen?”

Pengawal saling pandang. “Epipen? Apa itu?”

Mika tertegun. Ia tidak percaya. “Serius ... kalian nggak tahu?”

Situasi semakin genting. Tiba-tiba tangan Pak Kamil meraih tangan Mika. Ia menarik Mika sedikit mendekat.

“Di ... tas—” bisiknya nyaris tak terdengar. Mika langsung mengangguk.

Tanpa ragu, ia meraih tas kerja Pak Kamil.

“Eh! Kamu ngapain?!” teriak salah satu staf.

“Nggak sopan banget!”

“Awas nanti ada barang hilang!”

Suara-suara itu semakin gaduh. Para pengawal mulai ragu. Mereka saling berpandangan, lalu mencoba menghentikan Mika.

“Berhenti! Jangan sentuh barang Tuan!”

“Tolong, percaya sama aku!” seru Mika. “Ini penting!”

Namun, tidak ada yang benar-benar mendukungnya.

Mika tetap membuka tas itu, mengobrak-abrik isinya dengan panik.

Detik demi detik terasa semakin menekan. Akhirnya, ia menemukannya—sebuah Epipen.

“Nemu!” gumamnya lega.

Para pengawal terdiam. Tanpa menunggu, Mika langsung menyuntikkan Epipen itu ke paha Pak Kamil. Semua orang menahan napas. Beberapa detik terasa seperti menit.

Lalu, Napas Pak Kamil perlahan mulai teratur. Warna wajahnya berangsur membaik.

“Tuan?” panggil pengawal.

Pak Kamil mengangkat tangan pelan, memberi isyarat bahwa ia mulai membaik.

Tetapi, belum sempat Mika bernapas lega, tangannya ditarik kasar oleh chef.

“Kamu ini sembarangan banget!” bentaknya. “Bertindak seenaknya!”

“Aku cuma—”

“Diam!” potong chef. “Kamu ngelakuin ini biar nggak disalahin, ‘kan?!”

Mika menatapnya tak percaya. Di saat yang sama.

Duk!

Sebuah botol kecil jatuh di dekat kakinya. Semua mata langsung tertuju ke sana.

“Lho ... ini bubuk udang, ‘kan?” ujar chef, pura-pura terkejut.

Mika membeku. Tubuhnya benar-benar kaku. Ia langsung menggeleng cepat.

“Bukan aku ... itu bukan punyaku—”

“Tuh, Pak Kamil!” lanjut chef. “Udah jelas dia yang ceroboh masukin bubuk itu ke saus steak!”

Para pengawal langsung bergerak. Mika dipaksa berlutut di depan Pak Kamil.

“Pak, tolong percaya sama saya,” ucap Mika, suaranya bergetar.

Pak Kamil diam. Tatapannya sulit dibaca. Bukti seolah-olah mengarah langsung pada Mika.

Lalu, Kamil mengambil ponselnya dan menelepon manajer kafe. Detik itu juga napas Mika mulai tidak beraturan. 

Dadanya terasa sesak. Tangannya gemetar hebat. Pandangan mulai kabur. Anxiety-nya kambuh. Ia menunduk, mencoba mengatur napas, tapi semakin sulit.

“Lihat tuh, dia gemetaran,” bisik salah satu staf. “Pasti dia yang salah.”

Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh ruangan. Menekan dan menyudutkan posisi Mika yang sedang tidak diuntungkan.

Tak lama kemudian, manajer datang tergesa-gesa.

“Mika! Kamu bikin malu!” bentaknya, lalu menoyor kepala Mika. Mika hanya diam. Tak mampu membela diri.

Manajer langsung berbalik ke Pak Kamil.

“Maafkan kami, Pak, atas kelalaian karyawan kami.”

Pak Kamil berdiri perlahan. Ia tidak berkata banyak. Hanya satu kalimat. “Kamu tau apa yang harus dilakukan.”

Suaranya dingin dan tegas. Manajer langsung menunduk hormat.

“Iya, Pak.”

Setelah Pak Kamil pergi, suasana berubah. Amarah manajer meledak.

Buk!

Tendangan keras mendarat di tubuh Mika. Ia terjatuh.

“Kamu bikin malu!” teriak manajer. “Kalian semua juga sama!”

Semua karyawan menunduk. Tak ada yang berani melawan.

“Kalian tau siapa Pak Kamil?!” lanjutnya. “Dia bisa hancurin tempat ini kapan aja!”

Ia menatap Mika dengan tajam.

“Kamu ... baru kerja udah bikin masalah!”

Mika tetap terdiam. Tubuhnya gemetar. Napasnya masih kacau. Namun, kali ini, bukan hanya karena cemas. Tapi rasa sakit dan ketidakadilan.

“Sampai kapan aku harus ngerasain begini?” gumam Mika dalam hati.

Kepalanya tertunduk. Pandangannya kosong. Di sekelilingnya, bisik-bisik hinaan masih terus terdengar—pelan, tapi menusuk.

“Makanya jangan sok-sokan!”

“Dasar ceroboh.”

“Baru kerja aja udah bikin masalah!”

Suara tawa kecil menyusul. Mika mengepalkan tangannya di atas pangkuan.

Ia ingin membalas. Tapi tubuhnya terlalu lemah.

“Tanggung jawab kamu belum selesai,” Suara manajer tiba-tiba memotong.

Mika mengangkat wajah perlahan. Manajer menunjuk ke meja yang tadi digunakan Pak Kamil.

Di sana, sepiring steak masih tersisa. “Habiskan itu.”

Mika membeku. “Apa?”

“Itu makanan yang kamu rusak,” lanjut manajer dingin. “Makan. Habisin.”

“Tapi, Pak ... aku—”

“Alah, jangan banyak tapi-tapi!” bentak manajer. “Cepat! Tanggung jawab!”

Suasana kembali sunyi. Semua mata menatap Mika. menunggu dan menekan. Dengan tubuh gemetar, Mika berdiri. Langkahnya pelan saat mendekati meja itu. Ia duduk. Tangannya meraih pisau dan garpu. Getaran di tangannya semakin jelas.

Potongan kecil steak itu ia tusuk perlahan. Lalu, ia masukkan ke mulut.

Tawa pecah. “Lihat tuh!”

“Mampus!”

“Rasain sendiri!”

Suara-suara itu seperti gema yang terus berulang di kepalanya.

Mika mengunyah pelan. Namun, dadanya mulai terasa aneh, sesak. Ia menelan dengan susah payah. Satu suapan lagi, tangannya semakin gemetar. Napasnya mulai berat.

“Ada yang nggak beres,” batinnya panik.

Ia memegang dadanya. Meremas kain seragamnya kuat-kuat. Rasa sakit itu, datang lagi. Setengah potong steak sudah masuk ke perutnya.

“Kh—” Tiba-tiba Mika tersedak. Garpu terjatuh dari tangannya. Kepalanya menunduk, tubuhnya mulai membungkuk. Napasnya tersengal pendek dan terputus-putus. Persis seperti yang terjadi pada Pak Kamil.

Beberapa orang mulai memperhatikan.

Bintik-bintik merah perlahan muncul di leher Mika. Matanya mulai berair. Tangannya mencengkeram meja.

“Kenapa aku?” pikirnya kacau.

“Alah, jangan akting, deh!” celetuk chef dengan nada meremehkan.

Beberapa staf masih tersenyum sinis.

“Drama lagi!” sambung manajer, menggeleng kesal.

Mika mencoba bicara. “T-tolong!” Suaranya nyaris tak terdengar. Napasnya semakin pendek. Dadanya terasa seperti diikat. Penglihatannya mulai kabur. Tubuhnya melemah.

Kursi yang didudukinya bergeser pelan saat tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Bruk!

Mika jatuh ke lantai. Kini semua orang mulai benar-benar terdiam.

Bintik merah di wajahnya semakin jelas. Bibirnya mulai pucat kebiruan. Napasnya hampir tak terasa.

“A-apa ini ... beneran?” bisik salah satu staf, mulai panik.

Namun, belum ada yang bergerak. Ketakutan bercampur ragu.

Sampai suara langkah kaki terdengar cepat dari arah lainnya. Semua menoleh serempak. Ternyata itu adalah Arlan. Ia masuk dengan wajah dingin, tatapan tajam menyapu seluruh ruangan.

Sekilas, ia melihat kondisi Mika di lantai. Tubuh kecil itu tak berdaya. Dalam sekejap aura Arlan berubah. Terasa ia ingin menerkam yang ada di sana.

“Bawa dia ke rumah sakit. Sekarang!”

Suaranya rendah, penuh tekanan. Tak memberi ruang untuk menolak. 

Asisten dan para pengawal langsung bergerak tanpa ragu. Mika segera diangkat dengan hati-hati. Tak ada lagi yang berani bicara bahkan tertawa. Semua membeku di tempat. Arlan melangkah mendekat. Tatapannya menyapu meja, piring steak, lalu beralih ke wajah-wajah staf satu per satu.

“Aku harap—” ucapnya pelan, “nggak ada yang coba-coba bohong.”

Tidak ada yang menjawab. Bahkan bernapas pun terasa berat. Karena semua orang tahu, siapa Arlan itu.

1
Moon
ak jdi mika langsung ku tonjok itu
Voyager: sabar bro jangan emosi ah, nggak jelas kali kau. ayo serbu yang di sebelah
total 1 replies
Moon
model!????
Moon
entah kenapa Arlan ini aku bingung sama sifatnya. lanjut Thor. apa nanti si Mika ketemu lagi dg Arlan ? soalnya Arlan itu kn sangat berkuasa! eh iya Thor sepertinya belum di Spil perlkerjaab Arlan pngen tau
Moon
hm, knp ya orang kyak Mika gini selalu digituin dlm novel cba Thor karakter Mika jadi tangguh aj gtu biar nggk di tindas orang. sih Kamalia juga cewek lenje 😤😤😤
Moon: haha GG bxa sbr ak. tau NDRI kesabaranku setipis tisu
total 2 replies
cleo lara91
lanjut lg dong kak , seruu😍
Moon
Rekomendasi banget ini cerita. tokoh pria bikin mengubah emosi pembaca, greget, sifatnya bener" bikin geleng kepala. tokoh wanita pun bikin kita iba, apalagi ketika penyakitnya kambuh. oh ya keluarga tokoh wanita ih bikin emosi parah apalagi dengan saudara tiri yang mokondo
Moon
up 5 bab sehari thor
Voyager: busett haha nanti ya. ayo nulis juga
total 1 replies
Voyager
Arlan gila. anak SMA dibuat nggak berkutik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!