Karma tidak pernah salah alamat.
Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.
Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.
Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?
Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Semua Ingin Membunuh
Kusumawati menatap kusir dokar itu.
"Ke kadipaten."
"Nyai, saya sudah bilang—"
"Ini." Kusumawati mengeluarkan beberapa lembar gulden dari balik stagen. Jumlah yang banyak. Sangat banyak untuk ukuran kusir dokar.
Mata kusir itu langsung berbinar.
"Antarkan aku ke kadipaten. Tidak perlu masuk. Cukup sampai di depan gerbang."
Kusir menatap uang itu. Menatap Kusumawati. Menatap uang lagi.
"Baik, Nyai!"
Cambuk dikibaskan. Kuda kurus itu bergerak lebih cepat dari sebelumnya.
Matahari sudah tenggelam sepenuhnya saat dokar memasuki jalan utama menuju kadipaten. Langit berubah gelap. Lentera-lentera mulai dinyalakan di sepanjang jalan.
Kusumawati menatap pemandangan yang familiar.
Pohon-pohon asam tua yang berjajar rapi di sepanjang jalan. Pagar tembok bercat putih setinggi dua meter yang membentang panjang. Atap pendopo yang menjulang di kejauhan.
Tapi semakin dekat, semakin banyak yang dia lihat.
Di sepanjang pagar kadipaten, ada orang-orang yang ... tidak seharusnya ada di sana.
Seorang pria duduk di bawah pohon dengan gerobak kecil—menjual rokok dan kopi. Tapi matanya tidak menatap dagangan. Matanya menatap gerbang kadipaten.
Dua pria muda berdiri di bawah pohon lain, terlihat seperti istirahat setelah berjalan jauh, bersandar ke pohon dengan sikap santai. Tapi posisi mereka strategis—bisa melihat siapa pun yang masuk dan keluar dari gerbang.
‘Mata-mata.’
Kusumawati berdebar.
‘Mereka mengawasi kadipaten.’
Dokar terus bergerak, semakin dekat ke gerbang.
Dan salah satu pria muda itu menoleh.
Matanya menyapu dokar dengan pandangan menilai.
Kusumawati langsung menunduk, menarik kerudung lebih dalam.
Tapi sudah terlambat.
Pria itu menyipitkan mata. Dahinya berkerut. Seperti mencoba mengingat sesuatu.
Kusumawati mengenalinya.
Dia pengikut setianya dulu.
Tapi sekarang menjadi anak buah Kartodirjo.
Pria itu mulai melangkah ke arah dokar.
"Kusir!" Suara Kusumawati keluar panik. "Berbalik! Sekarang!"
"Tapi Nyai, kita sudah hampir—"
"Berbalik ….!" teriaknya.
Kusir itu tersentak. Langsung menarik tali kekang. Kuda meringkik protes saat dipaksa berputar, beruntung jalanan lengang di waktu maghrib.
Kusumawati menunduk dalam-dalam, wajah tersembunyi di balik kerudung. Jantungnya berdegup tak karuan.
Dari sudut mata, dia melihat pria itu berhenti. Menatap dokar yang menjauh dengan pandangan curiga.
Tapi tidak mengejar.
Dokar bergerak menjauh dari kadipaten dengan kecepatan yang menyakitkan—lambat, karena kuda kurus itu sudah kelelahan.
Kusumawati baru berani bernapas lega saat kadipaten sudah tidak terlihat lagi.
"Nyai mau ke mana sekarang?"
Suara kusir membuyarkan lamunannya.
Kusumawati berpikir cepat.
‘Tidak bisa ke kadipaten. Mata-mata di mana-mana.’
‘Kalau aku menampakkan wajah di depan para penjaga, belum tentu mereka akan langsung percaya karena yang orang-orang tahu, aku sakit di kamar. Perlu perdebatan sengit yang akan memancing mata-mata itu mendekat. Atau yang lebih buruk, aku hanya akan dikira sebagai perempuan mirip denganku dan malah dicurigai sebagai penipu. Tidak bisa memaksa ke kadipaten.’
Dia menghela napas panjang.
‘Tapi … aku butuh tempat menginap.’
"Ke penginapan." Kusumawati berkata. "Yang terbaik. Yang paling dekat dari sini."
Kusir mengangguk, mengarahkan dokar ke jalan yang lebih lebar.
Tidak jauh dari kadipaten, ada deretan bangunan megah—kantor-kantor kolonial, bank, dan sebuah hotel besar bergaya Eropa dengan pilar-pilar putih dan taman yang terawat.
Tempat para pejabat kolonial menginap. Tempat pengusaha kaya mengadakan perjamuan. Tempat ningrat tinggi bertemu untuk urusan politik.
Kusumawati pernah ke sana beberapa kali—sebagai tamu kehormatan, tentu saja.
"Ke sana." Dia menunjuk hotel itu.
Dokar berhenti di depan gerbang yang dijaga ketat.
Seorang penjaga—pria Jawa bertubuh besar dengan seragam rapi—langsung menghampiri.
"Hei! Dokar tidak boleh berhenti di sini!"
Kusumawati hendak turun.
"Nyai mau ke mana?!" Penjaga itu menghalangi jalannya, menatap dari atas ke bawah dengan pandangan jijik.
Dan Kusumawati baru menyadari penampilannya.
Kebaya kusut dan kotor. Sarung batik yang sudah tidak karuan lipatannya. Kerudung yang bau kakus. Sandal rusak dengan sol yang hampir lepas. Wajah berkeringat dan berminyak.
Dia terlihat seperti … gelandangan.
"Ini hotel untuk tamu terhormat!" Penjaga itu membentak. "Pejabat kolonial! Pengusaha! Bangsawan tinggi! Bukan untuk orang sepertimu!"
"Aku—"
"Bahkan ningrat menengah saja tidak bisa masuk tanpa undangan!" Penjaga itu mendorong Kusumawati mundur. "Pergi! Pergi dari sini!"
"Kau tidak tahu siapa aku?"
“Kau?” Pria itu mengerutkan dahi, memandang Kusumawati dari atas ke bawah. “Memangnya kau siapa? Kau pasti gila.”
Kusumawati hendak membuka mulut tapi tahu, itu percuma. Mereka tidak akan percaya. Mulutnya tertutup lagi.
Sang kusir yang ingin cepat pulang mencoba membantu.
“Tuan, Nyai ini … cuma mau turun di sini, tidak akan masuk.”
PLAK!
Penjaga itu menampar kusir.
"Berani-beraninya menurunkan pengemis ke sini!" Dia membentak. "Pergi sebelum kupanggil polisi!"
"Ma-maaf, Tuan! Maaf!"
Kusir itu langsung naik kembali ke tempatnya, menarik tali kekang, wajah ketakutan.
Dokar bergerak menjauh dengan cepat.
Kusumawati duduk di sana, membeku.
‘Ditampar.’
‘Kusir ditampar karena mengantarku.’
‘Dan aku ... diusir seperti pengemis.’
Darahnya mendidih. Ia baru menyadari betapa kejamnya sistem yang selama ini dia banggakan. Tapi tidak ada kata-kata yang keluar.
Apa yang bisa dia katakan? Dalam keadaan seperti ini, siapa yang akan percaya dia adalah ningrat tinggi?
Dokar berhenti di persimpangan jalan.
Kusir menoleh ke belakang, wajah masih merah bekas tamparan.
"Nyai." Suaranya ketus, tidak seramah tadi. "Uang yang Nyai berikan tadi sudah pas untuk ongkos sampai hotel. Saya juga sudah dipukul. Masih bagus saya membawa pergi Nyai sampai sini. Nyai mau pulang ke mana? Saya sudah lelah. Mau pulang juga."
Kusumawati menatap pria itu.
Wajah lelah. Mata menyimpan kemarahan tapi tidak tega pada penumpangnya.
‘Dia dipukul karena aku.’
Kusumawati merogoh stagen, mengeluarkan beberapa lembar gulden lagi.
"Ini." Dia menyodorkan uang itu. "Untuk tambahannya. Dan ... untuk yang tadi."
Kusir menatap uang itu. Lebih banyak dari sebelumnya.
Wajahnya sedikit melunak.
"Nyai mau ke mana sekarang?"
Senyum langsung mengembang.
Kusumawati terdiam.
‘Ke mana?’
‘Ke mana aku bisa pergi?’
Dia menatap langit yang sudah gelap sepenuhnya. Bintang-bintang mulai bermunculan.
Malam sudah tiba.
Dan dia tidak punya tempat tujuan.
Tubuhnya lelah. Lapar. Lengket berminyak. Bau. Penampilannya seperti pengemis yang sudah berminggu-minggu tidak mandi.
‘Jan Coen.’
Nama itu muncul di kepalanya.
‘Penginapan Tionghoa tempat Jan Coen.’
"Ke …," suaranya keluar serak, "ke kawasan pecinan. Penginapan ... yang diujung kawasan rumah bordil."
Kusir mengangguk.
Dokar bergerak lagi.
Perjalanan kembali ke kawasan pecinan terasa lebih panjang dari seharusnya.
Atau mungkin karena Kusumawati sudah terlalu lelah untuk merasakan waktu.
Saat dokar memasuki kawasan hiburan malam, suasana sudah berubah total.
Tempat yang siang tadi seperti mati, kini menggeliat. Lentera-lentera merah bergantungan di sepanjang jalan.
Musik mengalun dari rumah-rumah bordil. Tawa-tawa perempuan. Suara pria mabuk yang berteriak-teriak.
Rumah-rumah bordil yang tadi siang tertutup rapat sekarang bersinar terang. Perempuan-perempuan berpakaian cheongsam ketat berdiri di balkon, melambaikan tangan ke pria-pria yang lewat.
Kusumawati memeluk dirinya sendiri.
‘Tempat ini …’
Ingatan tentang malam itu kembali.
Gang gelap. Tangan-tangan yang menarik. Suara tawa yang mengerikan. Bau alkohol dan keringat.
‘Hampir diperkosa.’
‘Kalau Jan Coen tidak datang ….’
‘Kusumawati menggigil meski udara tidak dingin.’
Dokar terus bergerak, melewati kerumunan pria mabuk yang terhuyung-huyung di jalanan. Melewati perempuan-perempuan yang menawarkan diri dengan suara menggoda. Melewati sudut-sudut gelap di mana pelacur jalanan menjajakan diri.
Akhirnya dokar berhenti.
Penginapan Tionghoa tempat Jan Coen menginap.
Bangunan dua lantai dengan lentera kuning di depan pintu. Tidak semewah Hotel tadi, tapi juga tidak semurahan tempat-tempat lain di sekitar sini.
"Sudah sampai, Nyai."
Kusumawati turun dengan kaki gemetar.
"Terima kasih."
Kusir mengangguk, menyentakkan tali kekang, dan dokar menghilang di kegelapan.
Kusumawati berdiri di depan penginapan.
Menatap pintu kayu yang terbuka.
‘Apa Jan Coen masih ada di dalam?’
‘Pria yang membeliku seperti barang.’
‘Satu-satunya orang yang tidak ingin membunuhku sekarang.’
jgn khawatir, bupati baru itu ga diragukan lgi kemampuannya. dijamin ga bakal menyesal telah menggantikan putramu 😁
gak sabar saat mereka dipertemukan lagi dAlam keadaan Keti sedang hamil... 🤭
knp dlu kau singkirkan hadeh kejam kan kau
tp skrg apa coba
Heu heu kangen update arjo lg ndoro..
maturnuwun uda update🙏