NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:142k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Yang Tidak Bisa Kutanyakan

Ayza menatap gedung itu dari dalam mobil. Gedung tempat Kaisyaf menghabiskan sebagian besar waktunya.

Tangannya masih menggenggam setir. Jemarinya perlahan mengencang.

Ia sudah sampai. Tinggal turun. Tinggal masuk. Dan… bertanya.

Sesederhana itu.

Namun tubuhnya tak bergerak. Matanya menatap pintu masuk gedung, tempat beberapa karyawan keluar masuk dengan wajah biasa. Seolah dunia mereka baik-baik saja.

Berbeda dengan dunianya.

Berantakan.

"Kalau aku masuk… aku harus bertanya pada seseorang…"

Pikirannya mulai berputar.

Resepsionis. Staf kantor. Atau… mungkin orang yang cukup dekat dengan Kaisyaf.

"Dan kalau mereka tahu aku bertanya…" Napasnya tertahan. "Kalau sampai ke telinga Abi…?"

Dada Ayza terasa sesak. Ia membayangkan tatapan dingin Kaisyaf. Nada suaranya yang datar. Dan jarak yang semakin terasa.

"Apa ini akan membuat semuanya semakin buruk?"

Tangannya gemetar di atas setir. Ia ingin tahu. Sangat ingin. Tapi…

"Apa aku siap dengan jawabannya?"

Pertanyaan itu justru membuatnya diam.

Dalam mobil terasa sunyi. Hanya suara detak jantungnya yang terdengar begitu jelas.

Ayza menunduk. Matanya terpejam sejenak. Air matanya jatuh tanpa suara.

“Aku… takut…” bisiknya lirih.

Takut kalau semua ini benar.

Takut kalau semua yang ia pertahankan selama sepuluh tahun… benar-benar sudah tidak tersisa.

Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Menatap gedung itu sekali lagi. Lama.

Seolah berharap menemukan jawaban tanpa harus melangkah masuk. Namun yang ia temukan hanya… kosong.

Ayza menghela napas panjang. Lalu, tanpa berkata apa pun, ia menyalakan mesin mobil.

Kakinya menginjak pedal gas. Mobil itu perlahan menjauh dari gedung tersebut. Meninggalkan pertanyaan yang belum terjawab.

Dan rasa takut yang semakin besar.

Ia tidak tahu… bahwa di saat yang sama, seseorang sedang mengamatinya dari dalam gedung itu.

Kaisyaf.

Beberapa menit sebelumnya—

Tok… tok…

“Masuk.”

Pintu terbuka. Ridho, orang kepercayaannya, melangkah masuk.

“Pak, satpam di bawah melapor. Ada mobil Bu Ayza di parkiran.”

Kaisyaf yang sedang membaca berkas terdiam. Beberapa detik. Lalu perlahan ia mengangkat wajahnya.

“Lakukan sesuai perintahku,” ucapnya tenang.

Ridho mengangguk. “Baik, Pak.”

Ia berbalik dan keluar dari ruangan.

Kaisyaf menghela napas berat. Perlahan ia bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju dinding kaca.

Dari sana… ia bisa melihat dengan jelas mobil Ayza di bawah.

Diam. Menunggu. Namun wanita itu tak kunjung keluar.

Beberapa menit berlalu. Lalu… mobil itu bergerak.

Pergi.

Kaisyaf tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti mobil itu hingga benar-benar menghilang dari pandangannya. Tangannya perlahan mengepal.

“Harusnya… aku tidak membawamu sejauh ini,” gumamnya lirih.

***

Di dalam mobil, Ayza mengemudi tanpa arah yang benar-benar jelas.

Matanya menatap jalan, tetapi pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak menemukan jawaban.

"Harus tanya ke siapa…?"

Gumam itu hanya terdengar di dalam kepalanya.

Ia tidak mungkin bertanya pada orang kantor Kaisyaf. Terlalu berisiko. Ia juga tidak ingin masalah rumah tangganya diketahui orang lain.

Tangannya menggenggam setir lebih erat. Lalu… satu nama muncul.

Fahri.

Ayza mengangkat sedikit wajahnya, seolah baru menemukan pegangan.

Fahri… mantan adik iparnya dari pernikahan pertamanya. Namun sejak lama, hubungan mereka tak lagi sekadar “mantan keluarga”. Bagi Ayza, Fahri sudah seperti adik kandungnya sendiri.

Dan… seseorang yang cukup dekat dengan Kaisyaf.

Kedekatan itu bukan tanpa alasan.

Fahri pernah berada di titik terendah dalam hidupnya, dicap anak bandel, pembuat masalah, bahkan hampir kehilangan arah karena dunia balap liar yang ia jalani.

Sampai akhirnya… semuanya berubah.

Dunia balap yang dulu membawanya ke arah gelap, justru menjadi jalan yang menyelamatkannya saat ia masuk ke jalur profesional.

Bengkel performa yang kini ia miliki berdiri dari proses panjang itu, tempat modifikasi motor balap, riset teknologi mesin, sekaligus markas kecil bagi mimpi-mimpi yang dulu hampir ia buang.

Dan di balik semua itu… ada peran Kaisyaf.

Pria itu bukan hanya partner bisnisnya, tapi juga mentor yang membimbing Fahri ke jalur bisnis.

Karena itu, Fahri cukup tahu tentang pekerjaan Kaisyaf.

Cukup dekat… untuk mungkin mengetahui sesuatu yang Ayza tidak tahu.

Ayza menarik napas panjang.

“Ya… Fahri,” bisiknya pelan.

Tanpa ragu lagi, ia memutar kemudi. Mobilnya berbelok, menuju satu tempat yang sudah sangat ia kenal, bengkel performa milik Fahri.

Suara mesin meraung memecah udara saat mobil Ayza memasuki area bengkel.

Berbeda dengan rumahnya yang tenang… tempat ini hidup.

Bising. Panas. Penuh aroma oli dan logam.

Ayza mematikan mesin mobilnya, lalu turun perlahan.

Langkahnya berhenti sejenak.

Matanya menyapu area di depannya.

Motor-motor balap berjajar rapi. Beberapa terbuka, memperlihatkan mesin yang belum sempurna dirakit. Para mekanik bergerak cepat, tangan mereka hitam oleh oli, suara alat beradu terdengar nyaris tanpa jeda.

Ayza menarik napas pelan.

Dunia ini… jauh dari dunia yang biasa ia kenal.

Tak ada kain, tak ada warna lembut, tak ada garis-garis desain di atas kertas.

Yang ada hanya suara keras, mesin, dan kecepatan. Namun anehnya… tempat ini tidak asing baginya.

Ia melangkah masuk.

Di salah satu dinding, matanya tertarik pada deretan foto yang dipajang rapi.

Fahri.

Dengan baju balap.

Dengan helm di tangan.

Dengan senyum lebar yang berbeda dari yang biasa ia lihat sekarang.

Ayza mendekat. Hal yang tanpa sadar selalu ia lakukan setiap kali datang ke tempat ini. Seolah tak bosan memandang foto-foto itu.

Foto pertama, Fahri berdiri di podium, memegang piala.

Juara dua.

Ia tersenyum tipis.

“Ini pertama kalinya dia naik podium…” gumamnya pelan.

Matanya bergeser ke foto berikutnya.

Kali ini Fahri berdiri lebih tegak.

Di tengah.

Juara satu.

Sorot matanya berbeda. Lebih yakin. Lebih hidup.

Ayza menghela napas kecil.

Lalu foto-foto berikutnya…

Lintasan asing. Nama-nama sponsor luar negeri. Bendera yang berbeda.

Di beberapa foto, Fahri berdiri di antara para pembalap lain.

Bukan di tengah.

Tapi cukup dekat.

Lima besar.

Beberapa kali.

“Dia memang lumayan…” bisik Ayza, nyaris seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.

“Lumayan?”

Suara itu tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

Ayza menoleh.

Fahri berdiri di sana. Kaos hitamnya sedikit kotor, tangannya masih berlumur oli.

Namun senyumnya… sama seperti dulu.

“Cuma ‘lumayan’ buat sebelas tahun perjuanganku?” ujarnya sambil menyeringai.

Ayza ikut tersenyum.

“Kalau sombong nanti jatuh,” balasnya santai.

Fahri terkekeh pelan.

Matanya menatap Ayza beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

“Jarang banget Kak Ayza ke sini,” katanya akhirnya.

Nada suaranya ringan.

Tapi tatapannya… tidak sepenuhnya begitu.

Ayza tersenyum tipis.

“Lagi pengen ngobrol aja.”

Fahri mengangguk pelan.

Ia melirik sekeliling bengkel yang masih ramai oleh suara mesin dan aktivitas para mekanik.

“Di sini berisik,” ujarnya. “Yuk, ke dalam.”

Tanpa menunggu jawaban, Fahri berjalan lebih dulu, memberi jalan untuk Ayza.

Ayza mengikutinya.

Mereka masuk ke sebuah ruangan kecil di sisi bengkel. Tidak terlalu luas, tapi cukup rapi. Meja kerja dipenuhi beberapa berkas, laptop, dan miniatur motor balap di sudut rak.

Suara bising dari luar masih terdengar samar, tapi jauh lebih tenang.

Fahri menarik kursi.

“Duduk, Kak.”

Ayza mengangguk pelan, lalu duduk.

Fahri ikut duduk di seberangnya, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap Ayza.

“Sendiri?” tanyanya.

“Iya.”

Hening sejenak.

Fahri mencondongkan tubuh sedikit.

“Semua baik-baik aja?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi cukup untuk membuat Ayza menahan napas sejenak.

Ayza tidak langsung menjawab.

Tangannya perlahan mengepal di atas pangkuannya.

“Fahri…”

 

...🔸🔸🔸...

..."Tidak semua pertanyaan berani kita ucapkan....

...Kadang, kita hanya mencari jawabannya… diam-diam."...

..."Ada hal-hal yang ingin kita ketahui,...

...tapi lebih kita takutkan saat kebenarannya terungkap."...

..."Ketika kepercayaan mulai retak,...

...bahkan diam pun terasa penuh kecurigaan."...

..."Yang paling sulit bukan mencari jawaban,...

...tapi menghadapi kemungkinan bahwa jawaban itu akan menyakitkan."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Akhirnya tamat sudah cerita yang sangat bagus ini.
Terima kasih Author dengan cerita yang bagus, menghibur, terharu, dan bisa dipetik sebagai pembelajaran dalam kehidupan nyata. Semoga Author selalu sehat, semangat, penuh berkat dan senantiasa dalam perlindunganNya 🙏🙏
Anitha Ramto
yaaaa tidak terasa udah end lagi, padahal masih seneng dengan kisah Ayza dan Fahri..

happy ending
Dew666
💜💜💜💜
Anonim
Ternyata Reza mengikut Fahri dan keluarganya yang sedang berada di pantai. Benar-benar penguntit sejati.

Ayza ke toilet. Reza bergerak mendekati bangunan toilet.

Ayza keluar dari toilet - Reza sudah berdiri di depannya. Bikin Ayza terkejut.

Reza sudah mendengar Ayza berkata yang sebenarnya. Apa masih kurang jelas - masihkah mengharapkan sesuatu yang tak mungkin dia miliki kembali.
Hanima
😍👍🙏
Anonim
Reza sebagai pengamat sejati ketika mereka makan pagi. Dia tahu kenapa Fahri terlihat berwajah cerah.

Melihat interaksi atara Fahri dan Ayza. Mendengar Alvian memanggil Abi untuk Fahri.

Semua itu membuat dada Reza terasa semakin sesak.

Alvian mau mancing di pantai. Mereka bertiga menuju pantai.

Reza mau ngapain keluar rumah juga dengan mobilnya.

Ditanya Bundanya - jawabnya ada urusan sedikit.

Sepertinya Rahman was-was terhadap Reza. Tidak akan tinggal diam kalau Reza sampai mengusik keluarga Fahri.
Rea
iya aku bacanya jg loncat krn nangis terus
🌠Naπa Kiarra🍁: Berarti sedihnya sampai nggak kuat ya, Kak 🥹

Tapi bacanya jangan lompat-lompat, kasihan retensinya 😭 Kita sesama penulis pasti tahu rasanya lihat grafik tiba-tiba jungkir balik.

Ujung-ujungnya reward melambaikan tangan dari kejauhan: waalaikumsalam 😂

Yang tersisa cuma mata panda gara-gara sistem baca model kodok.😭
total 1 replies
ngatun Lestari
masyaalloh.... banyak liku" hidup yg jadi pelajaran
Dek Sri
terima kasih atas karyanya kak, semoga sukses selalu
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
mery harwati
Terimakasih author 🙏
Sehat selalu ya 😍
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Sugiharti Rusli
kisah yang haru biru sih, semoga kisah baru yang juga sudah dibaca juga seru yah🥰🥰
Sugiharti Rusli
bahkan pada akhirnya Fahri mengakui perasaan yang dia punya ke Ayza setelah dia sah sebagai suaminya,,,
Sugiharti Rusli
karena mau menolak seperti apapun Ayza, kalo takdirnya berjodog dengan Fahri makanya memang ada jalannya melalui Alvian yang sangat menyayanginya,,,
Sugiharti Rusli
dan Fahri juga tidak pernah melampaui batasannya, bahkan setelah Kaisyaf wafat, dan pada akhirnya takdirlah yang meruntuhkan hati Ayza,,,
Sugiharti Rusli
bahkan mungkin dulu saat akhirnya Ayza berjodoh sama mendiang Kaisyaf, dia tetap ada bersama mereka sebagai adik mereka
Sugiharti Rusli
yah memang pada akhirnya memenangkan hati Ayza bukan karena ambisi buta sih,,,
Eliermswati
trma ksh thor untuk semua cerita nya, smngt dan sukses untuk karya mu selanjutnya, 😍😍😍y q msh penasaran pengen d lnjut tentang alvian gede dan ank ayza sm fahri sih
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Asih Prawawati
Terima Kasih Thour..
Terima Kasih...akhir cerita yang indah .
aku suka .
Bukan sekedar bacaan...yg perlu di baca .
Tapi lebih dari itu ..ada pembelajaran juga .
🙏🙏🙏🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Dek Sri
saya sudah mampir kak
🌠Naπa Kiarra🍁: Iya, Kak. Makasih 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Juriah Juriah
trimakasih kepada author Nana atas crita bagus nya ga krasa aku mengikuti jln crita kisah kehidupan Ayza hingga season 2 dan sudah tamat ..dan sy akan mencoba mengikuti crita yg baru terbit semangat trus buat crita baru yg lebih bagus dan sukses selalu 🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!