NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: RAKA MASUK KE SIMULASI

Dunia nyata lenyap dalam sekejap mata.

Tidak ada transisi halus, tidak ada jeda untuk bernapas. Satu detik Raka masih merasakan dinginnya lantai logam markas dan genggaman tangan Bimo yang kasar, detik berikutnya dia terhempas ke dalam kehampaan yang absolut.

Rasanya seperti jatuh dari ketinggian tanpa akhir. Angin menderu di telinganya, bukan angin udara, tapi aliran data digital yang berdesir kencang, menerpa kulitnya dengan sensasi kesemutan listrik yang menyakitkan. Cahaya putih menyilaukan meledak di depan matanya, lalu pecah menjadi jutaan fragmen warna-warni—hijau neon, merah darah, biru elektrik—yang berputar membentuk pusaran gila.

Raka mencoba berteriak, tapi suaranya tertelan oleh kebisingan statis. Tubuhnya terasa ringan, seolah gravitasi telah dicabut paksa. Dia memejamkan mata rapat-rapat, berusaha mempertahankan fokus pada satu hal: Kai.

"Temukan Kai," batinnya, memegang erat janji itu seperti pelampung di tengah badai. "Jangan biarkan dia sendirian."

Tiba-tiba, hentakan keras.

Raka mendarat. Bukan di tanah, tapi di permukaan yang keras, licin, dan transparan. Dia membuka matanya perlahan, napasnya tersengal-sengal meski dia menyadari bahwa paru-parunya tidak benar-benar membutuhkan udara di sini.

Dia berdiri. Dan apa yang dia lihat membuat darahnya—atau kode yang menggantikan darahnya di dunia ini—membeku.

Dia berada di sebuah ruang raksasa yang tak bertepi. Langit di atasnya bukan langit biru atau hitam, melainkan lautan kode biner hijau yang mengalir deras seperti hujan Matrix, tetapi kacau dan rusak. Angka-angka 0 dan 1 berguguran, beberapa berubah menjadi simbol error berwarna merah, menciptakan pola yang mengganggu secara visual. Tidak ada matahari, tidak ada bulan. Hanya cahaya redup yang berasal dari kode-kode itu sendiri.

Di bawah kakinya, lantai terbuat dari kaca hitam pekat yang retak-retak. Melalui celah-celah retakan itu, Raka bisa melihat ke bawah—ke dalam jurang tanpa dasar yang dipenuhi oleh bayangan-bayangan hitam yang menggeliat, seperti asap padat yang hidup. Bayangan-bayangan itu berbisik, suara-suara tumpang tindih yang tidak jelas namun penuh dengan rasa sakit dan kemarahan.

"Selamat datang di Neraka Data," gumam Raka, suaranya terdengar bergema aneh, seolah dia berbicara di dalam gua kosong.

Dia menoleh ke sekeliling. Di kejauhan, terlihat struktur-struktur bangunan yang familiar namun terdistorsi. Ada menara server yang menjulang tinggi seperti pencakar langit gothic, terhubung oleh jembatan-jembatan cahaya yang berkedip-kedip. Tapi semuanya tampak rusak, hancur sebagian, dikelilingi oleh kabut abu-abu tebal.

"Kai?" panggil Raka. Suaranya tidak keluar sebagai gelombang suara, tapi sebagai pulsa energi yang menyebar ke udara. "KAI!"

Tidak ada jawaban. Hanya gema dari panggilannya yang kembali kepadanya, terdistorsi menjadi tawa kecil yang sinis.

Raka mulai berjalan. Setiap langkahnya menghasilkan riak cahaya di lantai kaca. Dia memperhatikan tubuhnya sendiri. Dia tidak lagi mengenakan seragam prajurit Aurora. Dia mengenakan pakaian sederhana—kaos putih dan celana jeans—tapi tubuhnya memancarkan aura cahaya keemasan samar di sekitar tepiannya. Itu adalah manifestasi dari identitas dirinya, dari "jiwa"-nya yang masuk ke dalam sistem. Di dunia ini, siapa dirimu menentukan bagaimana kamu terlihat. Dan Raka, dengan tekad bajanya, bersinar terang di tengah kegelapan.

Tiba-tiba, lantai di depannya retak lebih lebar. Dari celah itu, muncul sosok-sosok bayangan. Mereka berbentuk manusia, tapi wajah mereka kosong, hanya lubang hitam yang menganga. Mereka merangkak keluar, bergerak patah-patah, mengarah ke Raka.

"Pergi..." desis salah satu bayangan.

"Ini bukan tempatmu..." bisik yang lain.

"Kai milik kami..."

Raka mengepalkan tangannya. Di dunia nyata, tinjunya adalah senjata fisik. Di sini? Dia harus menggunakan kehendaknya. Dia membayangkan kekuatan, membayangkan perlindungan, membayangkan cahaya yang mengusir kegelapan.

"Minggir!" geram Raka.

Dia mengayunkan tinjunya ke udara. Tidak ada kontak fisik, tapi gelombang energi keemasan meledak dari kepalan tangannya, menghantam para bayangan itu. Mereka menjerit—suara statis yang melengking—dan terpental mundur, larut kembali ke dalam kabut.

Raka tidak berhenti. Dia terus berlari menuju menara server terbesar di kejauhan, tempat sumber sinyal trauma Kai tampaknya berkumpul. Semakin dia mendekat, semakin kuat tekanan mental yang dia rasakan. Kepalanya berdenyut-denyut, ingatan-ingatan asing menyusup masuk: rasa dingin logam, bau antiseptik yang menyengat, suara tangisan anak-anak, dan perasaan hampa yang begitu dalam hingga ingin mati.

Ini perasaan Kai, realization itu menghantam Raka. Aku merasakan apa yang dia rasakan setiap hari. Kesepian. Ketakutan. Rasa tidak berharga.

Air mata Raka menetes, tapi air mata itu berubah menjadi partikel cahaya sebelum menyentuh lantai. Hatinya hancur mengetahui bahwa sahabat kecilnya telah membawa beban seberat ini sendirian selama bertahun-tahun, sementara mereka semua hanya melihat sisi jenius dan dinginnya.

"Maafkan aku, Kai," bisik Raka, napasnya berat. "Maafkan aku karena tidak tahu sooner. Tapi aku di sini sekarang. Aku tidak akan pergi."

Saat dia mencapai kaki menara server, pintu besar berbahan logam hitam terbuka sendiri. Di dalamnya, koridor panjang terbentang, dinding-dindingnya lined dengan layar-monitor tua yang menampilkan wajah-wajah anak-anak yang sedang menangis.

Dan di ujung koridor, duduk seorang anak kecil.

Anak itu memeluk lututnya, kepalanya tertunduk, rambut hitamnya acak-acakan. Dia mengenakan baju tahanan oranye pudar. Di sekelilingnya, kabel-kabel hitam seperti ular membelit tubuhnya, menariknya ke dalam kursi logam di belakangnya.

Raka mengenali sosok itu segera. Itu adalah Kai. Versi Kai yang berusia delapan tahun. Versi Kai sebelum Aurora menyelamatkannya. Versi Kai yang masih percaya bahwa dia hanyalah alat.

"Kai!" seru Raka, berlari mendekat.

Anak kecil itu mengangkat kepalanya perlahan. Matanya besar, kosong, dan penuh ketakutan. Saat dia melihat Raka, dia justru mundur, menarik kabel-kabel itu tighter hingga kulit lehernya lecet.

"Pergi!" teriak Kai Kecil, suaranya pecah. "Jangan dekat-dekat! Kamu akan dihapus! Mereka akan menghapus kamu juga kalau kamu dekat denganku!"

Raka berhenti, hatinya remuk melihat ketakutan murni itu. Dia berjongkok, mencoba membuat dirinya terlihat tidak mengancam. Cahaya keemasannya dia redupkan sedikit agar tidak menyilaukan.

"Aku tidak akan dihapus, Kai," kata Raka lembut. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menghapus kamu. Aku di sini untuk membawamu pulang."

Kai Kecil menggeleng kuat-kuat, air mata mengalir di pipinya. "Tidak ada pulang! Ini penjara! Ini Project Mind! Aku Subjek 7! Aku bukan manusia! Aku cuma kode! Kalau kamu tetap di sini, kamu akan jadi bagian dari server juga! Lari, bodoh! Lari!"

Di belakang Kai Kecil, bayangan-bayangan hitam mulai berkumpul lagi, membentuk sosok-sosok besar yang menyeramkan—manifestasi dari "Para Penjaga" dalam memori Kai. Mereka menggeram, siap menerkam siapa saja yang mencoba mengambil "milik" mereka.

Raka menatap Kai Kecil, lalu menatap monster-monster bayangan itu. Dia tahu dia tidak bisa bertarung melawan trauma ini dengan kekerasan. Dia harus melawan dengan kebenaran. Dengan cinta.

"Aku tidak peduli kamu Subjek 7 atau Kai," kata Raka tegas, berdiri tegak. Cahaya di sekitarnya mulai menyala lebih terang, bukan sebagai senjata, tapi sebagai suar harapan. "Bagi saya, kamu adalah sahabat saya. Kamu adalah anggota Squadron Aurora. Dan saya berjanji..."

Raka mengulurkan tangannya, telapak tangan terbuka, mengundang.

"...saya berjanji tidak akan pernah meninggalkan Anda sendirian lagi. Ayo, Kai. Pulanglah. Bimo sudah menunggu dengan mie panasnya. Elara sudah menyiapkan obat. Dunia nyata menunggumu. Dan aku... aku menunggumu."

Kai Kecil menatap tangan Raka, ragu-ragu. Air matanya terus mengalir, tapi ada kilatan kecil kerinduan di matanya. Kerinduan akan kehangatan yang sudah lama hilang.

Di luar sana, di dunia nyata, tubuh Raka dan Kai terbaring diam, terhubung oleh kabel neural. Detak jantung mereka berdetak sinkron, lambat namun stabil. Elara dan Bimo menahan napas, berdoa agar cahaya di monitor otak mereka tidak padam.

Karena di dalam sana, pertaruhan terbesar sedang berlangsung. Bukan nyawa, tapi jiwa. Dan Raka sedang mempertaruhkan jiwanya sendiri untuk menyelamatkan sahabatnya dari kegelapan abadi.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!