Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 20
Pukul lima pagi Amelia terbangun karena tangisan Emi. Biasanya Emi akan bangun di jam tujuh atau delapan pagi, tapi kali ini jauh lebih awal. Emi langsung minta digendong dan Amelia menggendong keponakannya itu sambil berkeliling kamar.
Amelia menarik gorden yang menutupi pintu geser menuju teras agar cahaya matahari bisa masuk, lalu mematikan lampu sambil masih menggendong Emi dan bersenandung untuk gadis kecil itu. Sambil menggendong Emi, Amelia membuat sebotol susu, lalu memberikannya pada Emi setelah suhunya cukup hangat. Emi meminum susunya dengan nyaman di pangkuan Amelia yang memilih duduk di sofa dekat pintu geser. Ia sengaja memutar arah sofa sehingga bisa melihat pemandangan pagi di luar sana.
Kamar yang dipilihkan untuk Amelia menghadap taman bunga yang terawat, dilengkapi dengan teras dan kursi malas sehingga bisa bersantai sambil menikmati pemandangan berbagai bunga dan tanaman hias di taman itu.
Amelia tidak menyangka akan melihat Caelan di taman itu. Jadi, ketika pria itu melambai padanya, Amelia panik sebab penampilannya pagi itu sungguh asal-asalan. Ia bahkan belum mencuci muka, karena setelah bangun langsung mengurus Emi. Amelia mencoba merapikan diri seadanya, tapi percuma ketika Caelan berada di depan pintu geser, penampilan Amelia masih acak-acakan.
Emi merengek ketika Amelia melepaskan dot dari mulut bayi itu. Lalu sambil menggendong Emi, Amelia membuka kunci pintu dan membiarkan Caelan masuk.
“Selamat pagi,” sapa Caelan.
“Pagi,” sahut Amelia.
Emi menangis lebih kencang ketika melihat Caelan. Kedua tangan kecil itu terangkat minta digendong, dan Caelan menuruti permintaan bayi menggemaskan itu.
“Emi bangun terlalu pagi?” tanya Caelan sambil menepuk-nepuk pelan punggung Emi.
Amelia mengangguk. “Mungkin karena tidur di tempat baru.”
“Dia lapar?” tanya Caelan.
“Sudah menghabiskan setengah botol susu,” jawab Amelia. “Sepertinya aku perlu membuatkannya makanan pendamping untuknya, tapi aku tidak membawa bahan-bahannya. Aku cuma membawa biskuit bayi, mungkin kita bisa memberi Emi biskuit dulu.”
“Coba kita lihat apa yang ada di dapur rumah orangtuaku,” ujar Caelan seraya berjalan ke pintu. Namun, langkah Caelan terhenti karena Amelia tidak kunjung bergerak. “Kenapa?”
“Aku mau mandi dulu,” jawab Amelia. “Aku tidak mau keluar dengan penampilan seperti ini.”
“Mandi saja dulu, Emi bisa menghabiskan susunya dulu sementara kau mandi. Aku akan menjaganya.” Caelan berbalik, menghampiri kursi, mengambil botol susu Emi, lalu memberi Emi susu sambil duduk di sofa. Caelan mengajak Emi bicara selagi bayi berumur sepuluh bulan itu menyusu. Dan Amelia masuk ke kamar mandi dengan tenang.
Setengah jam kemudian, Amelia dan Caelan berada di dapur. Amelia memasak bubur daging sapi cincang dengan memakai bahan-bahan makanan yang ada di kulkas sementara Caelan mengajak Emi bermain. Emi semenjak tadi tidak mau lepas dari Caelan. Setiap kali Caelan melepaskan tangan dari Emi akan langsung membuat gadis kecil itu menangis.
Saat Amelia mencincang daging dan sayuran, dua orang ART masuk ke dapur, salah satunya adalah Sandra.
“Kalian membuat makanan pendamping untuk Emi?” tanya Sandra.
“Iya, maaf kami memakai dapur tanpa bilang dulu. Kami juga memakai bahan-bahan yang ada di kulkas,” jawab Caelan yang masih duduk di dapur menemani Amelia memasak sambil menjaga Emi.
“Tidak masalah, kalian bisa memakai bahan apa pun yang diperlukan,” jawab Sandra. “Apa yang kau buat?” tanya wanita itu pada Amelia.
“Bubur daging sapi cincang dan sayuran,” jawab Amelia. Ketika Sandra memerhatikan apa yang Amelia lakukan, Amelia bertanya dengan hati-hati, “Aku melakukannya dengan benar, kan?”
“Ya, kau melakukannya dengan baik. Sangat baik malah, jelas kau cukup ahli dalam memasak,” puji Sandra.
“Terima kasih,” jawab Amelia.
“Aku tidak mendapatkan pujian?” keluh Caelan.
Sandra menepuk-nepuk bahu Caelan. “Kau mengurus Emi denga telaten, terlihat seperti seorang pengasuh profesianal,” ujar Sandra yang disambung dengan tawa.
“Bukan pengasuh, tapi ayah,” ralat Caelan. “Aku seorang ayah, Kak Sandra.”
“Ya, ya, kau seorang ayah sekarang,” ujar Sandra sambil memasang celemek. “Kalian belum sarapan, kan?” Amelia dan Caelan menggeleng. “Akan kami buatkan untuk kalian. Dena, ambil roti, kita akan membuat sandwich ayam.”
Amelia yang menunggui bubur Emi matang menawarkan diri untuk membantu, dan Sandra memberikannya tugas memotong tomat dan sayuran lainnya.
Dapur pagi itu penuh obrolan ringan, terutama diisi cerita Sandra mengenai masa kecil Caelan. Sandra baru bekerja di rumah keluarga Harrison saat Caelan dan Henry lahir, usia Sandra saat itu baru 18 tahun. Setelah Caelan dan Henry bersekolah dan tidak membutuhkan pengasuh, Sandra menjadi kepala ART di kediaman Harrison hingga usia melewati setengah abad, Sandra masih betah menjadi bagian dari Kediaman Harrison dan masih melakukan pekerjaan dengan sangat baik.
Sandra sosok yang hangat dan ceria, membuat Amelia merasa nyaman tanpa merasa canggung ketika berinteraksi dengan wanita itu padahal mereka baru saja berkenalan. Sebenarnya, sikap Sandra hampir sama dengan Anna, penuh kehangatan dan pengertian. Namun, untuk saat ini, Amelia tidak yakin mengenai Anna. Sebab calon mertuanya itu terlihat begitu ramah di luar, tapi juga penuh rencana di dalam.
Caelan sedang menyuapi Emi bubur dan Amelia meletakkan makanan di meja makan ketika Simon dan Anna masuk ke ruang makan.
“Ini pemandangan yang tidak biasa di ruang makan kita, benar kan, Sayang?” kata Simon.
Semua mata mengarah pada Anna yang berdiri di ambang pintu. Anna diam di tempat dengan mata berkaca-kaca. Simon langsung menghampiri Anna, merangkul bahu Anna, dan bertanya dengan nada lembut, “Ada apa, Sayang?”
Anna menjawab sambil menyusut air mata. “Aku tidak menyangka akan bisa melihat pemandangan seperti ini di rumahku.” Anna memeluk Simon.
Amelia yang melihat pasangan suami istri itu hanya diam di tempat. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Keduanya adalah calon mertuanya. Keduanya bersikap ramah dan penuh penerimaan pada Emi dan Anna, terutama Anna. Namun, mereka juga yang mengatur perjodohan Caelan, padahal Caelan sedang dekat dengan Amelia. Bahkan Anna terlihat memberi dukungan pada Amelia.
Dan sekarang Anna bersikap seolah sangat bahagia melihat Caelan bersama Emi dan Amelia. Entah mana sikap Anna yang sebenarnya, Amelia benar-benar tidak dapat menduga.
Amelia menoleh pada Caelan yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit Amelia artikan. Kemudian pria itu mengalihkan pandangan dan menyapa Simon dan Anna.
“Selamat pagi, Pa, Ma,” sapa Caelan. “Kuharap kalian tidak marah karena kami mengacak-acak dapur kalian di pagi hari karena si kecil ini kelaparan.”
“Tentu saja, tidak masalah. Apa pun asalkan Emi senang,” sahut Anna seraya mendekat. Mata wanita itu masih berkaca-kaca. “Kuharap kalian mendapatkan apa yang kalian butuhkan.” Anna mendekati Emi dan menyentuh pipi menggemaskan itu. “Selamat pagi, Emi. Apa tidurmu nyenyak semalam?”
Caelan menoleh pada Amelia, memberi kode agar Amelia yang menjawab. “Emi bangun lebih pagi hari ini, mungkin karena kelaparan.”
“Dia bahkan memilih untuk makan dulu baru mandi pagi,” Caelan menambahkan.
“Tidak masalah, rutinitas pagi bayi tidah harus selalu monoton. Disesuaikan saja dengan kondisinya,” ujar Anna. “Benar kan, Amelia?”
Amelia mengangguk. Cukup terkejut karena Anna bertanya padanya.
“Setelah ini, bolehkah aku mengajaknya jalan-jalan sebentar di taman?” tanya Anna.
“Silakan, kurasa Emi juga ingin menghabiskan waktu dengan neneknya,” jawab Amelia. “Tapi sebaiknya Tante sarapan dulu,” Amelia menambahkan.
“Tentu.” Anna langsung menempati kursi di sebelah Simon yang sudah menyesap kopi hitam. “Kalian menyiapkan sarapan untuk kami?”
“Bukan, Kak Sandra yang melakukannya,” jawab Amelia yang mengikuti cara Caelan memanggil Sandra.
“Dengan bantuan Amelia dan Dena,” sahut Sandra yang baru memasuki ruang makan sambil membawa segelas jus. “Jus Anda, Nyonya.”
“Terima kasih, Sandra,” ucap Amelia.
Kemudian mereka semua sarapan sambil mengobrol. Kebanyakan obrolan diisi oleh suara Anna dan Amelia, Simon hanya sesekali menimpali, dan Caelan terlalu sibuk menyuapi Emi yang juga sibuk menyemburkan makanan, lalu terkekeh saat Caelan menasihatinya.
Setelah Emi selesai sarapan, Amelia membersihkan wajah dan pakaian Emi mempersiapkan gadis kecil itu untuk diajak jalan-jalan pagi dengan Anna. Setelah Emi siap duduk dalam stroller, Amelia menyerahkannya pada Anna.
Sebelum Anna pergi, wanita itu berkata pada Amelia, “Bisakah kau menemaniku dan Emi jalan-jalan?”