Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.
Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.
Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Tutorial Memakai Dasi
Sinar matahari pagi menembus celah gorden apartemen, menciptakan garis-garis emas di atas lantai kayu. Hari ini bukan hari biasa. Di atas tempat tidur, sebuah setelan jas berwarna abu-abu gelap terhampar rapi, bersanding dengan kemeja putih yang baru saja disetrika licin oleh Dinara.
Dimas berdiri di depan cermin besar, tampak gelisah. Sesekali ia merapikan kerah kemejanya, lalu melirik jam tangan. Hari ini adalah peluncuran buku terbarunya—karya yang ia selesaikan di tengah hiruk-pikuk kehidupan barunya di kota ini.
"Dek, ini gimana masangnya? Kok malah kayak jerat jemuran," keluh Dimas sambil memegangi selembar dasi sutra berwarna biru dongker.
Dinara yang baru saja selesai merapikan penampilannya—mengenakan gamis anggun dan hijab yang senada dengan dasi Dimas—mendekat sambil tersenyum simpul. Ia melihat suaminya yang biasanya begitu percaya diri di depan laptop, kini tampak tak berdaya hanya karena selembar kain panjang.
"Sini, Mas. Makanya, kalau diajari itu diperhatikan, jangan malah ditinggal ngetik," ujar Dinara lembut.
Dimas menyerah. Ia membalikkan badan menghadap istrinya. "Ya maaf, Sayang. Mas ini kan penulis, bukan manajer bank. Biasanya juga pakai kaos oblong sama sarung kalau nulis. Iki lho, rasanya cekek banget di leher."
Dinara melangkah masuk ke dalam ruang privasi Dimas. Jarak mereka kini hanya tersisa belasan sentimeter. Dinara meraih ujung dasi tersebut, melingkarkannya ke leher kemeja Dimas yang masih terbuka satu kancing di bagian atas.
Seketika, suasana di kamar itu berubah. Suara bising kendaraan di bawah sana seolah meredup, menyisakan deru napas mereka yang saling bersahutan. Dinara harus sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka, sementara Dimas menunduk, menatap fokus pada jemari istrinya yang mulai bergerak lincah menyilangkan kain sutra itu.
"Mas, jangan gerak terus. Nanti miring," bisik Dinara.
Jari-jari Dinara yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Dimas. Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik kecil yang membuat Dimas menahan napas. Ia bisa mencium aroma sabun mandi dan wangi bedak bayi yang samar dari kulit Dinara. Jarak ini terlalu dekat, terlalu intim untuk mereka yang sebenarnya masih dalam fase "belajar" mencintai setelah perjodohan itu.
Dimas menatap wajah Dinara dari jarak sedekat ini. Ia memperhatikan bagaimana bulu mata istrinya lentik saat sedang fokus, dan bagaimana bibir Dinara sedikit mengerucut saat ia kesulitan memasukkan ujung dasi ke dalam simpul.
"Dek," panggil Dimas pelan, suaranya sedikit serak.
"Dalem?" jawab Dinara tanpa mendongak, masih sibuk dengan simpul four-in-hand yang sedang ia buat.
"Kamu kok pinter banget pakai dasi? Belajar dari siapa?"
"Dulu sering bantu Bapak kalau mau ke kantor. Bapak bilang, laki-laki itu kalau pakai dasinya rapi, wibawanya naik sepuluh persen," jawab Dinara. Ia akhirnya berhasil membuat simpul yang sempurna dan mulai menariknya perlahan ke arah kerah leher.
Tangan Dinara bergerak merapikan kerah kemeja Dimas, jemarinya menyelip di bawah kain, memastikan semuanya simetris. Saat itulah, mata mereka bertemu. Dinara yang baru saja mendongak untuk memeriksa hasil kerjanya, mendapati Dimas sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekaguman dan kasih sayang yang mendalam.
Dinara tersentak kecil, tangannya masih menempel di dada kemeja Dimas. Ia bisa merasakan detak jantung suaminya yang berdegup kencang di bawah telapak tangannya.
"Sudah, Mas... sudah rapi," bisik Dinara, namun ia tidak segera menjauh. Ada daya tarik magnetis yang menahannya di sana.
Dimas tersenyum tipis. Ia meraih kedua tangan Dinara yang masih ada di dadanya, menggenggamnya erat. "Makasih ya, Sayang. Mas nggak tahu gimana jadinya peluncuran buku ini kalau nggak ada kamu. Mungkin Mas datang pakai dasi yang diikat kayak tali pramuka."
Dinara tertawa kecil, rasa canggung yang tadi menyelimuti perlahan mencair. "Mas ini berlebihan. Mas itu sudah hebat, buku Mas sudah terbit. Dasi ini cuma pelengkap saja."
"Enggak, Dek. Kamu itu bukan pelengkap. Kamu itu editor terbaik di hidup Mas. Yang merapikan alur hidup Mas yang berantakan," ujar Dimas. Ia membawa tangan Dinara ke bibirnya, mengecup punggung tangan itu dengan takzim. "Doakan ya, semoga acaranya lancar. Mas grogi ini, lebih grogi daripada pas minta izin ke Bapakmu dulu."
"Pasti, Mas. Dinara selalu doakan Mas setiap habis shalat," jawab Dinara tulus.
Dimas melepaskan genggaman tangannya, lalu berbalik kembali ke cermin. Ia membetulkan jasnya, dan benar saja, simpul dasi buatan Dinara membuat penampilannya tampak sangat berkelas. Penulis santai itu kini menjelma menjadi pria mapan yang penuh wibawa.
"Gimana? Sudah ganteng belum? Kira-kira kalau ada pembaca cewek yang minta tanda tangan, mereka bakal terpesona nggak?" goda Dimas, kembali ke sifat aslinya yang jahil.
Dinara mencubit lengan Dimas yang tertutup jas. "Mas! Baru saja dipuji sudah kumat jahilnya. Pokoknya kalau ada yang minta tanda tangan, Mas harus bilang: 'Maaf, dasi saya ini eksklusif buatan istri, dilarang melirik supirnya'."
Dimas tertawa lepas. "Siap, Ibu Hakim! Mas bakal pasang papan pengumuman di meja nanti."
Ia meraih kunci SUV-nya di atas meja. Sebelum keluar kamar, Dimas berhenti sejenak, menatap Dinara yang sedang merapikan hijabnya di depan cermin kecil.
"Dek, nanti pas acara, kamu duduk di barisan paling depan ya? Mas butuh lihat wajah kamu biar nggak lupa kata-kata pas pidato nanti."
Dinara menoleh dan mengangguk pasti. "Nggih, Mas. Dinara bakal di sana."
Mereka melangkah keluar apartemen menuju parkiran. Di dalam lift, Dimas diam-diam merapikan kembali dasinya, memastikan simpul itu tidak berubah. Baginya, dasi itu bukan sekadar kain, tapi bentuk dukungan nyata dari seorang istri yang ia cintai. Dan bagi Dinara, momen "tutorial" singkat tadi adalah langkah kecil lainnya untuk benar-benar membuka hati bagi pria yang dikirimkan takdir untuknya.
Surabaya pagi itu mungkin sibuk dengan urusannya sendiri, namun di dalam SUV yang melaju menuju gedung acara, ada dua jiwa yang sedang merayakan kemenangan kecil mereka—kemenangan atas ego, atas rasa canggung, dan atas cinta yang mulai tumbuh di antara simpul sutra yang rapi.