Seri ketiga dari kisah Cinta Tak Perna Salah Mengisahkan seorang guru relawan yang memilih hidup jauh dari orangtuanya. karena kecintaannya terhadap anak - anak. Maria Theresia namanya gadis Kalimantan ber darah campur China . Dan dia di cintai oleh laki - laki asli papua bernama Roy Denis.
Apakah kisah cinta mereka bisa abadi selamanya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan Kecil
Sampai dirumah Mia langsung mandi dan mengurus anaknya setelah memberi anaknya makan. Mia langsung tidur bersama Hans di kamarnya setelah di kunci. Malam ini d8a mau temani Hans dan memberi waktu buat Rida susternya Hans istirahat.
"Sus, ibu dimana??"
"Seharian di kamar adek pak."
Roy berusaha membuka namun di kunci oleh Mia. Yang sudah tertidur. Roy atas bantuan supirnya membobol pintu kamar Hans, waktu membuka pintu terlihat bayi sepuluh bulan ini sedang mengelus wajah maminya. Roy merasa bersalah sekali. Dia langsung meminta Rida menjaga Hans, sambil menunggu pintu di perbaiki oleh supirnya.
"Papi, bawa mami ya." Roy mencium anaknya dan mengendong Mia yang sudah tertidur ke kamar mereka. Roy menatap wajah istrinya yang sudah tiga tahun hidup bersamanya. Dia menyesali apa yang terjadi. Roy tahu bahwa istrinya sedang tidak baik - baik, dia menutupi perasaannya. Begitu diletakkan tubuh itu diatas tempat tidur. Mia kaget, dan waktu melihat suaminya, tanpa dia berkata bagin dan hendak meninggalkan kamar itu. Namun Roy memeluk tubuh itu. Mia yang sedang menahan emosinya akhirnya pecah sudah amarahnya. Dia memarahi Roy, namun tidak sedikit pun Roy suaminya melawan, melainkan dia semakin erat memeluk tubuh istrinya. Dia menerima semua, apa yang dituduhkan kepada dia.
"Maafkan kaka sayang. Aisah Sara adalah mantan pacar kaka. Namun demi Tuhan kaka tidak ada perasaan ke dia, sejak kaka memilih kamu, dan berjuang mendapatkan kamu."
"Kenapa kaka memberi kesempatan buat dia mendapatkan kaka?? Tidak benar kalau perasaan cinta ke dia sudah menghilang."
"Demi Tuhan Maria Theresia, demi Tuhan perasaan cinta kaka hanya padamu sayang. Kaka tidak mempermalukan dia, karena sebenarnya di mata staf dia sendiri sudah mempermalukan dirinya."
"Saya tidak mau dia ada dinas itu???"
"Kaka punya hak apa sayang."
"Kaka bisa melaporkan kepada Bupati, bahwa kaka tidak bisa bekerja sama dengannya."
"Tetapi sayang kinerja kita sedang bagus, pendaptan daerah kita meningkat seratus persen bahkan over target sayang, Bupati menilai kinerja kaka dan kabid sangat baik."
"Oke, jadi kaka tetap mau dia bekerja bersama kaka."
"Tidak begitu sayang."
"Memohon kepada Bupati pindahkan dia, atau ade akan pulang ke kalimantan bersama Hans. Pilihan hanya itu??"
"Kaka tidak akan ijinkan kamu dan Hans meninggalkan kaka."
"Kalau begitu lapor kepada Bupati, pindahkan Aisah Sara."
Mia masih menangis, dia sudah ke tempat tidur dan tidur membelakangi suaminya hal yang tidak biasa Mia lakukan. Karena setiap dia tidur selalu memeluk Roy dan menyembunyikan mukanya diceruk leher suaminya. Semalam Mia tidak bisa tidur, namun dia tidak mau menunjukan kepada suaminya.
Sedangkan Roy tentu juga tidak bisa tidur. Mau memeluk tubuh istrinya namun Mia kembali melepas tubuhnya. Sampai Mia mengancam akan tidur di sofa. Akhirnya Roy pun tak bisa tidur sampai pagi.
Pagi - pagi sekali Mia sudah bangun. Meski0un dia sedang marah, namun dia tetap menjalankan tugasnya sebagai istri melayani suami dan anaknya. Dia menyiapkan sarapan. Roy yang mau mencium bibir istrinya, namun Mia menolak. Akhirnya Roy hanya bisa mencium pipi istrinya, namun dia mengigit pipi itu. Akhirnya Mia berteriak dan memukul suaminya.
"Suami mau pergi kerja kenapa mukanya begitu."
"Keberatan cari saja muka yang bagus di kantor sana."
"Sayang????"
"Kamu hanya punya waktu empat hari, kalau sampai empat hari kamu tidak bertindak, saya dan Hans akan pulang ke Kalimantan."
"Stop Maria jangan kekanak - kanakan."
Di bentak suaminya. Mia langsung lari ke kamar dan membanting pintu. Roy yang tidak bisa mengendalikan dirinya langsung masuk ke kamar.
"Pak, jangan marah ibu, kemarin siang ibu mengalami pendarahan hebat. Tidak biasa ibu datang bulan seperti itu. Bahkan mimisan juga."
"Kenapa baru diberitahu sus."
"Maafkan saya pak."
Roy merasa bersalah. Dia langsung masuk ke kamar. Melihat istrinya sedang menangis di atas tempat tidur. Di peluk tubuh lemah itu.
"Maafkan kaka sayang."
"Mia, maafkan kaka."
"Kaka tidak bisa hidup tanpa kamu sayang. Kaka akan menghadap Bupati. Tetapi sebelumnya kaka akan antar kamu ke rumah sakit."
"Saya tidak sakit."
"Mia stop, kamu kira kaka tidak tahu."
"Apa pedulimu, kamu kan sedang sibuk ngurus mantan kamu."
"Mia, I love you. Hanya kamu." Roy mencium bibir yang mau mengatai dia. Dia tidak melepas ciuman itu sampai Mia sudah tidak sanggup menahan nafas baru Roy lepas. Kemudian dia tetap memberi kecupan - kecupan kecil.
"Mia, kaka hanya cinta kamu. Hanya kamu sayang. I love you." Roy memeluk istrinya. Ada sepuluh menit Mia dan Roy berbicara di kamar. Kemudian mereka keluar menuju ke rumah sakit.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Mia hanya diam. Hari ini dia menggunakan kaca mata hitam menutup matanya yang bengkak dari kemarin dia menangis terus. Sampai di rumah sakit mereka langsung mendaftar dan menuju dokter kandungan. Selesai di USG ternyata memang Mia sedang dalam siklus haidnya, pendarahan karena Mia banyak pikiran. Roy memeluk istrinya yang masih duduk di tempat tidur untuk periksa kesehatannya. Roy mencium kening istrinya. Dokter Maya yang memeriksa Mia, hanya tersenyum. Dia tahu bahwa mood Mia istri Roy sedang tidak baik - baik saja. Namun dia senang melihat keharmonisan dua pasangan ini.
"Sayang mau makan dulu??"
"Ngak!!!" Jawaban Mia masih dengan nada ketus. Roy memarkirkan mobilnya. Dan langsung menarik dengan lembut muka istrinya, dia mencium begitu lembut bibir, mata, pipi bahkan kening dari istrinya.
"I love you. Hanya kamu yang kaka cinta. Dan kaka tidak akan ijinkan kamu pergi sendiri dengan Hans ke Kalimantan. Ingat itu Maria Theresia Johan, nyonya Roy Sem." Mia masih dalam mode yang sama diam, namun hatinya senang, karena dari semalam sampai pagi ini, hanya kata cinta yang Mia dengar dari Roy kepada Mia istrinya.
Ternyata mobil langsung menuju ke kantor Bupati. Roy tidak mau mengorbankan rumah tangganya.
"Kemana kak???"
"Kak tidak main - main, kaka tidak mau kehilangan kamu sayang. Ayo turun kita menghadap Bupati."
"Kaka mau ngomong bagaimana dengan bapak??"
"Kaka mau bilang, istri kaka cemburu, Aisah Sara sekantor dengan saya."
"Begitu bahsanya seorang eselon dua."
"Saya menghadap sebagai anak." Roy tertawa. Dia turun dari mobil mengandeng tangan istrinya. Sampai di ruang Bupati, bapak sudah menunggu Roy dan Mia.
"Kenapa anak mantu papa ini???"
Mia langsung menyalami beliau dengan cara mencium tangannya.
"Sini duduk dekat papa??"
"Besok papa akan memindahkannya ke dinas lain. Tadi papa sudah dengar semua. Sampai papa Nico juga tadi ketemu papa."
Roy juga ditegur oleh bapak Bupati, yang sudah menganggap Roy seperti anaknya sendiri. Kalau memang Roy di anak emaskan, karena Roy ini berjuang dengan beliau dari tidak ada sampai menjadi seperti sekarang.
"Papa mau kalian berdua selamanya sampai tua, Roy jangan ikut kelakuan orangtua yang tidak baik. Ingat itu."
"Iya bapak."
"Kamu masih cinta istrimu kan?? Atau kamu mau papa kirim saja Mia dan Hans ke Kalimantan??"
"Jangan bapak. Roy bisa gila nanti. Roy tidak bisa hidup tanpa Mia." Mia sudah tersenyum. Roy yang melihat muka istrinya berubah dari muka jutek menjadi senyum membuat dia senang.
"Atau Mia mau tinggalin Roy, nanti papa bantu??"
"Jangan sayang." Roy sudah memotong jawaban Mia dengan jawabannya.
Malam ini Roy sudah lega karena selesai meniduri Hans anaknya, Mia langsung ke kamar dan tidur memeluk suaminya.
"I love you sayang."
"Love you more."
"Sayang kaka mau, tetapi kamu lagi datang bulan. Kaka bisa berbagi hasil gunung dengan Hans anak kita."
"Kaka....."
"Kaka mau sayang."
Malam ini memang Roy seperti bayi. Tentu kelakuannya ini membuat Mia menjadi terangsang akhirnya mereka saling melayani yang hanya diketahui caranya oleh mereka berdua. Sampai kepuasan terjadi.
"Kaka nakal."
"Hanya sama kamu sayang."