Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Pelarian dari Lantai 45
Ruang sempit di balik rak buku raksasa itu berbau debu kayu tua dan semir perabot. Luna merapatkan tubuhnya ke dinding beton yang dingin, memeluk map kulit hitam berisi rahasia kelam itu erat-erat di depan dadanya. Gelap gulita menyelimuti pandangannya. Di luar sana, di ruang kerja yang terang benderang, ketukan hak sepatu pantofel Bara terdengar semakin keras, berirama lambat, dan mematikan.
Cklek. Pintu ruang kerja terbuka sepenuhnya. Luna menahan napasnya hingga paru-parunya terasa perih. Ia bisa mendengar suara helaan napas berat dari Bara, seolah pria itu baru saja melewati hari yang melelahkan. Sesuatu diletakkan di atas meja kayu oak—mungkin tas kerja atau segelas minuman.
"Sistem keamanan sialan," gerutu Bara dengan suara baritonnya yang kini terdengar sangat asing dan menjijikkan di telinga Luna. "Kenapa lampu lorong berkedip-kedip? Pasti ada masalah dengan genset cadangan lagi. Gedung murahan."
Di balik celah kecil antara deretan ensiklopedia tebal di rak buku, Luna mengintip. Ia bisa melihat punggung Bara yang terbalut kemeja mahal berwarna merah marun. Pria itu melonggarkan dasinya dengan kasar, lalu berjalan menuju meja kerjanya.
Tiba-tiba, suhu di dalam ruang kerja itu merosot tajam. Udara yang keluar dari ventilasi AC mendadak berubah menjadi kabut putih tipis karena saking dinginnya.
Luna tahu apa artinya itu. Nando mulai beraksi.
Pendar biru terang tiba-tiba meledak dari sudut ruangan, tak terlihat oleh mata Bara, tetapi bagi Luna, Nando tampak seperti dewa badai yang siap mengamuk. Wajah hantu CEO itu mengeras oleh amarah murni. Urat-urat di leher astralnya menonjol. Ini adalah pria yang telah merampas segalanya dari Nando, dan sekarang pria itu berdiri hanya beberapa jengkal darinya.
Bara menghentikan gerakannya yang sedang menuangkan wiski ke dalam gelas kristal. Ia mengusap tengkuknya yang meremang. "Dingin sekali," gumamnya, melirik ke arah panel AC di dinding.
Nando melayang mendekati meja kerja. Meski ia tidak bisa mencekik leher Bara seperti yang sangat ia inginkan, Nando memusatkan seluruh energi kemarahannya ke gelas kristal di tangan pria itu. Pendar birunya menyelimuti gelas tersebut. Suhu di sekitar gelas anjlok hingga jauh di bawah titik beku dalam hitungan detik.
PRANG!
Gelas kristal tebal itu tiba-tiba meledak di tangan Bara, pecah berkeping-keping akibat perubahan suhu ekstrem yang mendadak. Pecahan kaca dan cairan berwarna amber berhamburan ke atas meja dan lantai, beberapa menggores punggung tangan Bara hingga berdarah.
"Bangsat!" umpat Bara terkejut, melompat mundur dari meja kerjanya sambil mengibaskan tangannya yang terluka. Matanya membelalak ngeri menatap sisa serpihan kaca yang berserakan. Tidak ada alasan logis mengapa gelas itu bisa meledak dengan sendirinya.
Namun, teror Nando belum selesai.
Dengan sebelah tangan terangkat, Nando menyalurkan energinya ke arah sakelar lampu utama. Aliran listrik merespons energi astralnya. Lampu di ruang kerja itu mulai berkedip liar. Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt... Suara dengungan listrik terdengar memekakkan telinga. Buku-buku tebal di atas meja kerja Bara mulai bergetar hebat.
Bara menelan ludah, wajahnya yang tadinya arogan kini memucat pasi. Pria itu bukan orang yang tidak percaya hal gaib; justru karena dia pengguna ilmu hitam, dia sangat tahu bahwa fenomena ini bukanlah korsleting biasa. Ada sesuatu—atau seseorang—yang sedang marah di ruangannya.
Di saat kepanikan Bara mencapai puncaknya, Nando menoleh ke arah rak buku tempat Luna bersembunyi. Mata Nando mengisyaratkan satu perintah mutlak: Pergi sekarang!
Luna tidak membuang waktu. Dengan tangan gemetar, ia meraba panel pintu rahasia di belakangnya yang terhubung langsung ke tangga darurat. Klik. Pintu itu terbuka tanpa suara. Luna menyelinap keluar, menutup kembali pintu rahasia itu tepat saat Bara menoleh ke arah rak buku karena mendengar suara derit pelan.
Luna kini berada di tangga darurat lantai 45. Udara di sini pengap dan berbau beton lembap. Tangga beton yang melingkar ke bawah tampak seperti jurang tak berujung yang siap menelannya bulat-bulat.
"Empat puluh lima lantai," bisik Luna pada dirinya sendiri, menatap ke bawah dengan putus asa. Namun, membayangkan wajah Bara dan kebenaran tentang kematian orang tuanya memberikan suntikan adrenalin murni ke dalam aliran darahnya.
Luna mulai berlari menuruni anak tangga. Suara langkah sepatunya bergema memantul di dinding-dinding beton. Ia melompati dua anak tangga sekaligus, tangannya mencengkeram pegangan besi dengan kuat agar tidak tergelincir. Napasnya memburu, dadanya terasa seperti dibakar. Lantai 40... 35... 30...
Di dalam penthouse, kepanikan Bara berubah menjadi histeria saat matanya tertuju pada lukisan pemandangan laut yang sudah diturunkan dari dinding. Pintu brankas bajanya terbuka lebar.
"Tidak. Tidak mungkin," bisik Bara dengan suara bergetar. Ia berlari mendekati brankas itu, mengabaikan pecahan kaca yang menginjak sol sepatunya. Ia menggeledah isi brankas dengan panik. Emas dan sertifikat tanah lainnya masih ada, tetapi sebuah map kulit hitam yang selalu ia letakkan di tumpukan paling bawah... telah lenyap.
"TIDAAAAAK!"
Raungan frustrasi dan kemarahan Bara meledak, bergema hingga menembus dinding tebal penthouse. Luna bisa mendengar raungan itu samar-samar dari lantai 25. Mendengar suara itu, Luna memacu kakinya lebih cepat, mengabaikan rasa kram yang mulai menyerang betisnya. Bara telah menyadari pencurian itu. Sebentar lagi, pria itu pasti akan mengerahkan penjaga keamanan gedung atau lebih buruk... memanggil entitas gaibnya untuk melacak jejak Luna.
Lantai 15... 10... 5...
Kaki Luna terasa seperti jeli, mati rasa karena dipaksa berlari menuruni ribuan anak tangga tanpa jeda. Paru-parunya menuntut oksigen lebih banyak dari yang bisa dihirupnya. Saat ia akhirnya mencapai pintu baja bertuliskan 'Lantai Dasar - Keluar', ia menabrakkan bahunya ke palang pintu darurat itu dengan sisa tenaga terakhirnya.
Pintu terbuka, menghempaskan Luna ke gang belakang apartemen tempat ia pertama kali menyusup masuk. Angin malam Jakarta langsung menyapu wajahnya yang dibanjiri peluh. Ia terhuyung maju, nyaris tersungkur ke aspal yang berdebu.
Tiba-tiba, sepasang lengan yang memancarkan pendar biru dan suhu sedingin es menahan bahunya, mencegahnya jatuh. Itu adalah sentuhan ilusi, tetapi efek penenangnya nyata.
"Kau berhasil," suara berat Nando berbisik di telinganya. Pria itu sudah berada di sana, menatap Luna dengan raut lega yang tak bisa disembunyikan. Aura birunya sedikit meredup setelah menguras energi di atas tadi, namun ia masih berdiri tegak melindunginya. "Kau berlari sejauh empat puluh lima lantai dalam waktu kurang dari tujuh menit. Sebagai CEO, aku sangat mengapresiasi tingkat efisiensi kerjamu, Luna."
Luna tidak bisa membalas lelucon itu. Ia bersandar pada dinding bata di gang tersebut, melorot turun hingga terduduk di aspal. Ia memeluk lututnya, berusaha menormalkan napasnya yang tersengal-sengal. Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena kelegaan dan beban emosional yang baru saja ia curi dari lantai atas.
Nando berjongkok di hadapannya, mengabaikan fakta bahwa ujung jas mahalnya menembus genangan air kotor di aspal. Ia menatap gadis bermasker hitam itu dengan tatapan yang sangat lembut.
"Kita harus pergi dari sini, Nando," ucap Luna terputus-putus. "Bara tahu map itu hilang. Dia akan mencari siapa pun yang tahu kodenya. Dan di dalam map ini..." Luna menepuk dadanya, tempat map itu berada, "...ada bukti yang bisa menghancurkan hidupnya, dan kehidupan dukun yang membunuh ayah dan ibuku."
"Aku tahu," jawab Nando pelan. "Ayo. Kita cari tempat aman malam ini. Kita tidak bisa kembali ke kosanmu, tempat itu mungkin sudah diawasi oleh sisa-sisa energi Rantai Sukma yang kita segel. Kita pergi ke suatu tempat yang ramai. Energi manusia yang bertumpuk akan mengaburkan jejak astralku dan jejakmu."
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖......
...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...
...****************...
Smoga di pertemuan mereka nanti ada benih2 cinta yang tumbuh diantara mereka. 😄😃😍😍
Tp kynya Lupa bakal minder deh sm Nando, krena Nando kan CEO ky raya sementara dia hnya bekerja di minimarket.😟😞😞
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣