NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Hari itu matahari bersinar sangat terang dan menyilaukan di langit biru yang cerah tanpa ada setitik pun awan yang menghalangi. Sinarnya yang keemasan menembus masuk dengan leluasa melalui jendela-jendela besar berukuran raksasa di kediaman praditya, menerangi setiap sudut ruangan dengan sempurna dan membuat debu-debu kecil yang beterbangan di udara terlihat seperti bintang-bintang kecil yang menari-nari dengan indah.

Suasana di dalam rumah terasa sangat tenang, damai, dan nyaman sekali. Udara terasa sejuk karena pendingin ruangan yang bekerja dengan maksimal, namun tetap terasa hangat karena kehadiran sosok Aira di sana. Sejak kehadiran Aira beberapa hari yang lalu, suasana rumah yang dulunya terasa dingin, kaku, dan sunyi bak istana es, kini perlahan namun pasti berubah menjadi hangat dan penuh dengan warna, seperti yang sering dikomentari oleh bibi Asih dan pak Budi setiap kali mereka berbincang berdua.

Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, tepat masuk waktu zuhur. Aira baru saja selesai melaksanakan salat zuhur berjamaah bersama bibi Asih di mushola kecil yang ada di dalam rumah yang sangat nyaman dan teduh itu.

Wajahnya terlihat sangat segar dan berseri-seri setelah beribadah, aura ketenangan dan kedamaian terpancar jelas sekali dari wajah gadis itu, membuat siapapun yang melihatnya akan ikut merasa tenang.

“Nah, selesai juga ya salatnya,” ucap bibi Asih sambil merapikan mukenanya yang berwarna ungu dan menyimpan sajadah dengan rapi ke dalam lemari kecil yang sudah disediakan. “Non Aira ini rajin banget ya ibadahnya, bikin malu bibi yang kadang suka molor-molor kalau siang-siang begini.”

Aira tertawa kecil mendengarnya, suaranya renyah dan sangat manis terdengar di telinga. “Ah bibi bisa aja. Kan bibi juga rajin kok, cuma bibi kan sibuk banget ngurusin rumah dan masak terus dari pagi buta sampai malam, jadi ya capek wajar banget kok. Aira ngerti kok.”

“Alhamdulillah ya allah, dikasih istri muda yang baik banget buat tuan muda,” gumam bibi Asih pelan tapi cukup terdengar oleh Aira, membuat gadis itu tersipu malu dan tersenyum bahagia.

“Nah non, sekarang mau istirahat tidur siang dulu gak biar badan seger terus nanti sore gak ngantuk? Atau mau bantu bibi potong-potong buah segar buat camilan sore nanti?” tanya bibi Asih ramah sambil menutup pintu mushola pelan-pelan.

Mata Aira langsung berbinar-binar mendengar kata “buah”. “ Wah boleh banget dong bi! Aira suka banget buah-buahan lho, apalagi yang seger-seger gini. Ayo kita potong bareng-bareng ya bi, pasti seru banget!”

“Ya udah ayo, ke dapur saja non. Buahnya udah siap semua di meja, baru dianterin tadi pagi sama langganan kita.

Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju dapur yang sangat luas, bersih, berkelas, dan sangat dingin karena suhu ac yang memang selalu disetel rendah. Di atas meja makan dapur yang panjang, luas, dan terbuat dari marmer putih yang mengkilap itu, sudah tersedia berbagai jenis buah-buahan segar yang baru saja diantar oleh langganan sayur dan buah keluarga Praditya.

Semuanya terlihat sangat segar, sangat bersih, dan pastinya kualitasnya nomor satu.

Ada semangka merah yang ukurannya besar sekali dan kulitnya mengkilap, melon kuning yang aromanya sudah wangi semerbak dari jauh, pepaya mengkal yang dagingnya oranye cantik, anggur hijau dan merah yang butirannya besar-besar dan mengkilap, serta stroberi segar yang baru dipetik dari kebun.

“ Wah… banyak banget dan segar-segar banget ya buahnya bi!” seru Aira takjub sambil menyentuh pelan buah semangka yang besar dan berat itu dengan kedua tangannya. “Mewah banget ya hidup di sini bi, buah aja semua pilihan yang terbaik.”

Bibi Asih tertawa renyah sambil mengambil pisau dapur yang tajam dan talenan. “Iya non, tuan muda memang paling suka buah-buahan segar buat pencuci mulut atau buat cemilan di sela-sela kerja. Katanya biar kulit tetap sehat, badan tetap fit, dan pikiran jadi jernih. Jadi setiap hari harus ada stok buah yang banyak dan yang paling bagus kualitasnya di rumah ini.”

“ Oh jadi mas Elvano suka buah ya…” gumam Aira pelan, ia mencatat hal penting itu di dalam ingatannya dengan seksama. “Nanti Aira harus sering bikinin salad buah atau jus buah dong buat dia biar dia suka dan sehat terus.”

“Boleh banget dong non! Pasti tuan muda bakal suka banget dan makin sayang sama non Aira kalau dimanja gitu,” jawab bibi Asih penuh semangat.

Mereka pun mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aira mencuci tangannya dengan sabun sampai bersih, lalu mulai memotong-motong buah dengan pisau dapur yang tajam tersebut. Gerakannya cekatan dan terampil sekali, ia memang sudah terbiasa membantu ibunya di rumah sejak kecil jadi urusan memotong dan menata makanan bukanlah hal yang sulit baginya.

Bibi Asih sibuk menyiapkan mangkuk-mangkuk keramik yang cantik dan berwarna-warni, serta menyiapkan gula pasir, madu, atau keju untuk campuran saladnya nanti.

Suasana dapur sangat damai dan menyenangkan. Hanya terdengar suara pisau yang memotong buah dengan ritme yang teratur, suara air keran yang mengalir, dan obrolan ringan mereka yang penuh dengan tawa canda yang membuat suasana semakin hidup.

Namun, siapa yang menyangka bahwa ketenangan dan keindahan siang hari ini akan segera dipecahkan oleh sebuah kejadian kecil yang sangat tidak terduga, sebuah insiden kecil yang akan mengubah detak jantung mereka berdua dan menjadi awal mula getaran cinta yang semakin dalam?

Tiba-tiba…

Krek! Brakk!!

Terdengar suara benda jatuh dan pecah yang cukup keras dari arah rak piring yang ada di bagian agak tinggi di sudut dapur.

“Astaga! apa itu?” seru bibi Asih kaget setengah mati dan langsung menghentikan kegiatannya. “Itu piring keramik kesukaan bibi yang jatuh kayaknya! astaga…”

Bibi Asih langsung berlari kecil mendekati rak itu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata benar, sebuah piring saji berwarna biru bergambar bunga sakura yang memang kesukaan bibi Asih tergelincir jatuh dan pecah berkeping-keping di atas lantai keramik yang dingin dan licin itu.

“Aduh… sayang sekali… baru juga kemarin dipake buat makan malam…” keluh bibi Asih sedih sambil segera berjongkok mengambil pecahan-pecahan itu dengan hati-hati.

“Bibi hati-hati! Jangan kena tangan! Bahaya itu!” Aira ikut panik dan segera ingin berlari membantu membersihkan pecahan kaca itu agar tidak ada yang menginjak.

“Gak apa-apa non, biar bibi saja yang beresin. Non jangan kesini dulu ya, nanti kena injek bahaya, pecahannya tajam-tajam.”

Beberapa menit kemudian, suasana di dapur sudah kembali tenang dan normal. Pecahan piring sudah dibersihkan semua dan dibuang ke tempat sampah, lantai sudah dilap sampai bersih dan kering, dan mereka pun kembali melanjutkan kegiatan semula yaitu memotong buah-buahan segar itu.

Aira sekarang sedang berdiri tepat di tengah-tengah meja dapur, sedang memegang buah semangka yang besar dan berat itu untuk dipotong menjadi dua bagian yang sama besar. karena buahnya cukup besar dan kulitnya sangat keras, Aira harus mengerahkan sedikit tenaga ekstra untuk menekan pisau itu ke bawah dengan kuat.

“Ugh… keras banget ya kulitnya semangka ini ya…” gumam Aira pelan pada dirinya sendiri, keningnya yang halus sedikit berkerut karena menahan tenaga.

Tiba-tiba, dari arah pintu masuk dapur, terdengar suara langkah kaki yang berat, tegas, dan sangat dikenali oleh telinga aira.

Tap… Tap… Tap…

Itu adalah langkah kaki Elvano Praditya.

Pria itu baru saja turun dari kamarnya sebentar. Ia baru saja selesai melakukan rapat online via zoom dengan klien luar kota dan sekarang kepalanya terasa sedikit pening serta tenggorokannya terasa kering sekali. Jadi ia pun turun ke bawah untuk mengambil botol air mineral dingin di kulkas agar bisa melegakan tenggorokannya.

Elvano berjalan masuk ke dalam dapur dengan wajah yang terlihat santai namun tetap memancarkan aura wibawa yang luar biasa. Kemeja kerja yang ia pakai hari ini terbuka dua kancing teratas di bagian leher, memperlihatkan sedikit kulit lehernya yang putih, berotot, dan memiliki urat-urat kecil yang terlihat sangat maskulin dan seksi.

Penampilannya hari ini terlihat sangat santai, tidak terlalu formal seperti saat di kantor, tapi tetap saja terlihat sangat tampan, sangat kaya, dan sangat mempesona.

“Bibi, ambilin air dingin ya…” panggil Elvano pelan tanpa menoleh terlebih dahulu, matanya masih fokus mencari-cari botol minumnya di dekat kulkas.

“Iya sebentar tuan, ini bibi ambilin sekarang!” jawab bibi Asih cepat dan segera berjalan menuju kulkas besar berukuran dua pintu yang ada di sudut ruangan itu.

Saat itulah, tepat pada detik itu juga, kejadian yang ditunggu-tunggu itu akhirnya terjadi.

Aira yang sedang fokus memotong semangka dan menekan pisau dengan kuat, tiba-tiba sadar bahwa Elvano lewat di belakangnya. Karena ingin memberi jalan agar Elvano bisa lewat dengan mudah dan tidak terhalang oleh badannya, dengan reflek Aira mundur selangkah ke belakang dengan cukup cepat.

Tapi sayang sekali… ia tidak melihat dan tidak menyadari bahwa posisi Elvano ternyata sudah berdiri sangat dekat sekali di belakang punggungnya saat itu.

Brukk!!

Punggung kecil Aira terbentur cukup keras ke dada bidang yang kokoh, hangat, dan sangat padat milik Elvano Praditya!

Dan yang lebih parah lagi… tangan kiri Elvano yang sedang menggenggam sebuah map dokumen, secara tidak sengaja terangkat ke atas karena kaget, dan…

Menegang!!

Tangan besar, hangat, dan kokoh milik Elvano itu secara tidak sengaja mendarat tepat di bagian lengan atas Aira, lalu meluncur sedikit ke bawah karena gaya gravitasi dan telapak tangannya bersentuhan langsung dengan tangan halus Aira! bahkan jari-jari mereka pun ikut saling bersentuha!

Waktu seakan berhenti berputar sepenuhnya pada saat itu juga.

Dunia seakan berhenti berputar.

Suara apapun di sekitar mereka, suara kipas angin, suara ac, suara burung di luar, semuanya menghilang lenyap seketika.

hanya tersisa di sana hanyalah mereka berdua, dan suara detak jantung mereka berdua yang berpacu dengan kecepatan yang tidak wajar dan sangat luar biasa kencangnya.

“Aaaahhh!!”

Aira menjerit kecil karena kaget bukan main, suaranya halus dan melengking. Ia langsung menegakkan tubuhnya kaku seperti patung yang tidak bisa bergerak lagi.

Wajahnya yang tadi normal dan putih bersih, seketika itu juga berubah warna menjadi merah padam seketika!

Mulai dari pipi yang mulus, merambat cepat ke daun telinga, ke leher yang jenjang, sampai masuk ke dalam kerah bajunya terasa panas membara seperti terbakar api yang sangat besar!

Dengan gerakan yang cepat dan panik, Aira langsung berbalik badan menghadap ke arah Rlvano.

Mata mereka bertemu pandang. Jarak wajah mereka sekarang hanya tinggal beberapa senti saja! Sangat dekat sampai Aira bisa merasakan hangatnya napas pria itu dan mencium wangi parfum mahal yang ia semprotkan.

“Ma… maafkan Aira mas! Aira tidak sengaja! Aduh maaf banget…” Aira langsung menunduk dalam-dalam karena malu setengah mati, jantungnya berdegup kencang tak karuan!

Dug! Dug! Dug! Dug! Dug!

Suara jantungnya berdebar begitu keras dan kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya saat itu juga. Rasanya telinganya berdenging, kepalanya terasa pusing ringan, dan kakinya terasa lemas sekali seolah tidak bertulang sama sekali karena efek dari sentuhan tadi.

Sentuhan tangan pria itu terasa sangat hangat, sangat besar, sangat kuat, dan sangat maskulin. rasa hangat dan panas itu seolah masih tertinggal dan membakar kulit halus di lengannya dan di punggung tangannya sampai sekarang, tidak mau hilang.

Di sisi lain, Elvano Praditya juga tidak kalah kaget dan terpukau oleh apa yang baru saja terjadi.

Pria itu berdiri terpaku mematung di tempatnya, tidak bergerak sedikitpun. Matanya terbelalak sedikit menatap lurus ke arah gadis kecil di hadapannya yang wajahnya sekarang memerah seperti kepiting rebus itu.

Elvano juga bisa merasakan sensasi yang luar biasa itu secara jelas. Kulit aira terasa sangat halus, sangat lembut, sangat kenyal, dan sangat hangat sekali. Saat kulit mereka bersentuhan tadi, rasanya ada aliran listrik statis yang menyengat manis mengalir deras menyusuri seluruh pembuluh darahnya sampai ke ujung jari-jarinya.

Elvano menelan ludahnya kasar untuk menetralkan suaranya yang tiba-tiba menjadi serak.

Glek.

Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang aneh, hangat, dan membuatnya nyaman. Tatapannya tak lepas sedikitpun dari wajah memerah Aira yang terlihat sangat polos, sangat malu, dan sangat menggemaskan saat ini di matanya.

“Ra…” suara Elvano tercekat di tenggorokan, suaranya terdengar lebih berat, lebih dalam, dan lebih serak dari biasanya. “Kamu… gak apa-apa kan?”

Aira menggeleng cepat sekali tanpa berani mengangkat wajahnya sedikitpun. “Ti… tidak apa-apa kok mas… maaf banget ya Aira nabrak mas gitu…”

“Gak apa-apa…” Elvano menarik napas panjang secara perlahan berusaha menguasai diri dan detak jantungnya yang ternyata juga ikut berpacu kencang tidak kalah dengan Aira. “ Cuma… kaget dikit doan, soalnya tiba-tiba ada yang nabrak dari belakang.”

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!