Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa depan Maya
Namun, Aris menahan tangannya. Ia mencengkeram gelang itu erat-erat hingga logamnya terasa panas di kulitnya.
Ia teringat kembali kata-kata yang kini menjadi filosofi hidupnya:
Waktu yang dihabiskan dengan orang yang kita cintai adalah waktu yang paling berharga.
Jika ia memperbaiki segalanya, Dito tidak akan pernah belajar tentang ketangguhan.
Maya tidak akan pernah belajar tentang kekuatan batin yang tumbuh dari luka. Jika ia mencuri proses itu dari mereka, ia mencuri kemanusiaan mereka. Aris sadar, mencintai seseorang bukan berarti membuang semua rintangan dari jalan mereka, melainkan berdiri di samping mereka saat mereka melangkah di atas kerikil tajam.
Aris memilih jalan yang lebih sulit. Ia menghabiskan malam-malam tanpa tidur bersama Dito, membantu sahabatnya mencari pekerjaan sampingan dan memberikan dukungan emosional yang tulus.
Ia menjadi pendengar setia bagi Maya, membiarkan gadis itu menangis di pundaknya tanpa mencoba memberi solusi instan dengan kekuatan waktu.
"Kenapa kamu sabar banget sama kita, Aris?" tanya Maya suatu malam setelah mereka berjuang melewati minggu yang berat. "Dunia rasanya lagi nggak adil, tapi kamu selalu ada di sini."
Aris menatap Maya dan Dito di bawah temaram lampu teras. Ia tidak lagi melihat mereka sebagai pion atau subjek yang harus diselamatkan. Ia melihat mereka sebagai teman yang sedang tumbuh.
"Karena setiap momen ini adalah hadiah," jawab Aris lirih. "Susah atau senang, saat aku menghabiskan waktu dengan kalian, itulah satu-satunya hal yang benar-benar nyata."
Aris belajar bahwa rasa syukur bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan kemampuan untuk berterima kasih atas kesempatan untuk hadir bagi orang lain di masa-masa sulit.
Setiap detik yang ia habiskan untuk menemani mereka melalui krisis tersebut terasa lebih berharga daripada ribuan tahun yang ia habiskan di lorong waktu.
Ia tidak mengubah takdir, ia malah menjadi bagian dari takdir mereka. Dan di situlah, Aris menemukan kebahagiaan yang tidak pernah ia duga sebelumnya—bahwa menjadi manusia biasa yang bisa berbagi beban adalah bentuk kekuatan yang jauh lebih besar daripada kemampuan untuk memanipulasi semesta.
Dito dan Maya akhirnya berhasil melewati badai mereka dengan kekuatan mereka sendiri, dan persahabatan mereka tumbuh menjadi sesuatu yang lebih kokoh dari baja. Aris hanya tersenyum, menyadari bahwa ia telah melukis bagian paling indah di kanvas waktu hidupnya: sebuah potret tentang kesetiaan.
**
Suasana aula sekolah yang biasanya riuh dengan gelak tawa kini berubah menjadi ruang yang sesak oleh rasa haru dan aroma bunga yang menusuk tajam.
Di setiap sudut, terlihat sekelompok siswa yang saling berangkulan erat, seolah berusaha menahan waktu agar tidak beranjak dari detik-detik terakhir masa putih abu-abu mereka.
Alunan musik perpisahan yang mendayu-dayu dari panggung utama seakan menjadi latar belakang yang menyempurnakan kesedihan, sementara di antara kerumunan itu, beberapa wajah mulai basah oleh air mata yang tak lagi mampu dibendung saat menyadari bahwa esok, seragam yang sama tidak akan lagi mempertemukan mereka di gerbang yang sama.
Perpisahan masa SMA terasa menyesakkan di udara. Di balik tawa dan janji-janji manis untuk terus berkumpul, ada perasaan yang selama ini terpendam di sudut hati Maya—perasaan yang sering ia tunjukkan melalui tatapan lama di kantin atau perhatian-perhatian kecil yang hanya Aris yang dapatkan.
Namun, Aris baru saja menemukan sesuatu yang mengubah perspektifnya selamanya.
Di jam tangan peraknya, sebuah tombol merah muncul—sebuah anomali yang baru saja terbuka. Saat ia menekannya tanpa sengaja dalam sebuah lamunan, Aris tidak melihat masa lalu, melainkan sebuah kilasan masa depan yang nyata.
Ia melihat sebuah pernikahan yang hangat di sebuah taman terbuka. Ia melihat Maya, dengan gaun putih yang anggun, sedang tertawa bahagia. Namun, pria yang berdiri di sampingnya, pria yang memegang tangannya dengan lembut dan menatapnya dengan penuh cinta, bukanlah Aris.
Itu **Dito**.
Aris terpaku di koridor sekolah yang mulai sepi. Bayangan itu hilang secepat ia muncul, meninggalkan detak jantung Aris yang tidak beraturan. Selama ini, ia merasa bahwa kedekatannya dengan Maya adalah takdir, namun penglihatan itu menunjukkan kenyataan yang berbeda. Dito-lah yang akan mendampingi Maya, Dito-lah yang akan mengisi hari-hari gadis itu setelah masa SMA berakhir.
Aris menarik napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya yang serasa baru saja ditikam. Ia menatap telapak tangannya sendiri, tempat ia biasa memegang kendali atas waktu.
Dulu, ia akan menghancurkan apa pun untuk mengubah garis waktu ini demi keinginannya sendiri. Namun, sekarang ia berbeda.
"Aris? Kamu melamun lagi?"
Maya berdiri tepat di hadapannya, dengan keraguan yang tersirat di matanya. Ia mengenakan gaun perpisahan berwarna biru langit, warna yang paling disukai Aris. Maya melangkah mendekat, keberaniannya terkumpul di ujung bibirnya.
"Aris," bisik Maya, suaranya hampir tenggelam dalam musik slow rock yang dimainkan band sekolah.
"Kita sudah lulus. Aku nggak mau ada kata-kata yang tertinggal. Aku... aku sebenarnya punya perasaan lebih buat kamu. Bukan cuma sebagai teman."
Dunia di sekitar Aris seolah melambat. Ia bisa mendengar detak jam di pergelangan tangannya, pengingat bahwa masa depan sudah terpatri. Jika ia membalas perasaan Maya sekarang, ia mungkin bisa membangun hubungan yang indah selama beberapa tahun, sebelum akhirnya takdir—yang ditunjukkan oleh tombol merah itu—mengambil alih dan menyakitkan mereka berdua di masa depan.
Namun, Aris menatap wajah Maya. Ia melihat ketulusan yang murni, sebuah anugerah yang diberikan semesta untuk saat ini.
Ia tidak akan memutar waktu untuk mengubah hasil akhir, tetapi ia juga tidak akan menyia-nyiakan momen yang ada di depannya. Aris menyadari bahwa hidup bukan tentang menguasai hasil akhir, melainkan tentang menghargai perjalanan.
Jika masa depan adalah Dito, maka tugasnya saat ini adalah membuat masa kini Maya menjadi kenangan yang paling indah untuk disimpan selamanya.
Aris tersenyum, lembut dan penuh penerimaan. Ia meraih tangan Maya, menggenggamnya dengan hangat.
"Maya," ucap Aris pelan.
"Aku sangat menghargai kejujuranmu. Kamu adalah gadis yang luar biasa, dan perasaanmu adalah hadiah paling berharga yang pernah aku terima."
Aris sengaja tidak langsung menjawab "iya" atau "tidak". Ia memilih untuk memberikan kejujuran yang menyejukkan.
"Masa depan itu luas, dan kita tidak pernah tahu ke mana kaki kita akan melangkah. Tapi, untuk malam ini, dan untuk waktu yang kita punya setelah ini, aku ingin kita tetap menjadi orang yang saling menjaga."
Maya menatap Aris, bingung namun tersentuh. Ia tidak mengerti sepenuhnya maksud Aris, tapi kehangatan genggaman tangan Aris membuatnya merasa cukup.
Di kejauhan, Dito melihat mereka. Ia tersenyum, sebuah senyum penuh persahabatan yang tidak memiliki kecurigaan apa pun, sebuah senyum yang akan tumbuh menjadi cinta yang tulus bertahun-tahun kemudian.
Aris melihat Dito, lalu kembali menatap Maya. Ia tidak akan mencurangi waktu dengan tombol merah itu lagi. Ia akan melepaskan gelang peraknya, membiarkannya terkunci selamanya. Karena ia telah belajar bahwa waktu yang sebenarnya tidak diukur oleh jam, melainkan oleh seberapa dalam kita mencintai saat ini, tanpa menuntut untuk memiliki selamanya.
***
Saat musik perpisahan mencapai puncaknya, Aris membawa Maya berdansa. Di bawah lampu yang temaram, Aris memejamkan mata, menikmati setiap detik yang berharga, membiarkan masa depan menjadi misteri yang akan ia sambut dengan lapang dada.
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor