Jalan Cinta Menuju Ridha Ilahi adalah kisah Alya, seorang gadis yang lembut dan taat, yang harus menerima takdir dijodohkan dengan Zidan (seorang pemuda yang dikenal bebas dan jauh dari nilai-nilai agama). Tapi di tengah perbedaan itu, Alya berusaha menjalani semuanya dengan sabar dan tetap berpegang pada prinsipnya. Sementara itu, tanpa disadari, kehadiran Alya perlahan mengubah Zidan menjadi dekat dengan Agama.
Novel ini mengisahkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang proses saling memperbaiki, mendekat kepada Allah, dan menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radia Adawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Sesuatu yang Mulai Terasa Aneh
Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa.
Di rumah Alya, suasana tetap hangat. Persiapan pernikahan terus dilakukan dengan sederhana. Umi sibuk dengan urusan dapur dan kebutuhan acara, sementara Alya membantu sebisanya, menjalani semuanya dengan tenang seperti biasa.
Namun di balik ketenangan itu… ada satu hal yang perlahan berubah.
Faris !
Ia mulai lebih sering diam.
Tidak seperti biasanya yang suka bercanda, kini ia lebih banyak memperhatikan. Terutama… ketika nama Zidan disebut.
Sore itu, Faris duduk di teras rumah. Tangannya memegang buku, namun pandangannya kosong.
Pikirannya kembali ke kejadian beberapa hari lalu, dimana dia pernah tidak sengaja bertemu dengan Zidan dan Teman Temannya. Saat itu Faris sedang di toko sebelah cafe tempat Zidan dan teman temannya nongkrong, dia sedang membeli roti kiriman Umminya. Tapi ketika keluar dia tidak sengaja mendengar obrolan Zidan dan teman-temannya yang sedang tertawa tawa, dan salah satu temannya mengucapkan 1 kalimat , yaitu …
“ Tenang aja… tinggal jalanin aja. Duit 50 juta bukan kecil, bro. ”
Faris menghela napas pelan. Dia bingumg sekaligus heran apa yang sedang mereka obrolkan.
“ Maksudnya apa sih… ” gumamnya.
Ia mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
Mungkin saja itu hanya candaan. Mungkin saja tidak ada hubungannya dengan Alya ( Kakaknya ). Tapi….... Hatinya tetap tidak bisa tenang.
Sedangkan, di dalam rumah, Alya sedang membantu Umi di dapur.
“ Faris kenapa ya, Alya ? Umi lihat dari tadi adik kamu diam saja, ” tanya Umi pelan.
Alya menoleh sekilas.
“ Alya kurang tahu juga, Umi… mungkin dia masih capek karena baru balik dari Mesir.”
Umi mengangguk.
“ Iya juga ya...... Semoga saja begitu ya Nak, Umi jadi agak khawatir sama dia ”
Namun Alya tidak terlalu memikirkan adiknya pada saat itu, meskipun dia sebenarnya juga sedikit khawatir dengan adiknya. Tapi karena ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Tentang pernikahan, tentang masa depan, dan… tentang Zidan.
Di tempat lain, Zidan sedang berada di kamarnya.
Lampu redup, suasana sepi ( yang merupakan gaya khas dari kamarnya Zidan ). Ia bersandar di kursinya, menatap langit-langit.
Kemudian dia teringat Alya,
“ Ribet juga ya… ” gumamnya.
Ia tidak terbiasa dengan kondisi seperti ini. Karena dia tidak bisa bebas chat dan tidak bisa ngobrol sesuka hati. Semua terasa… terbatas.
Dan baru kali ini dia ketemu wanita yang untuk deketin dia susah sekali.
Namun yang paling mengganggu bukan itu.
Melainkan….. pikirannya sendiri tentang Taruhan itu.
" 50 juta...."
Zidan menghela napas panjang.
Awalnya terasa seperti hal biasa. Seperti candaan.
Tapi sekarang…...kenapa terasa berbeda?
Ia teringat Alya. Cara bicaranya, tatapannya matanya yang hanya sebentar melihat dia karena dia menjaga pandangannya, dan ketenangannya.
Zidan menutup matanya sejenak.
“ Gue ngapain sih… ” bisiknya pelan.
Dan akhirnya untuk menghilangkan gundah gulana pikirannya. Malam itu, Zidan kembali bertemu teman-temannya. Di Tempat yang sama, dengan suasana yang sama. Namun kali ini… Zidan tidak seaktif biasanya.
“ Kenapa lo Zid ? Sepi banget hidup lo hari ini ya ? ” tanya salah satu temannya.
“ Biasa aja, ” jawab Zidan singkat.
Temannya tertawa.
“Jangan bilang lo mulai baper sama calon istri lo? ”
Yang lain ikut tertawa.
Zidan hanya diam.
" Eh, tapi serius ya, ” sambung temannya yang dulu mengajukan taruhan.
“ Lo jangan lupa sama deal kita. ”
Zidan menatapnya.
“ Tenang aja. Gue nggak lupa.”
Jawaban itu keluar begitu saja.
Tapi entah kenapa… tidak terasa seperti dirinya.
Di sisi lain…
Faris berjalan sendirian di dekat area kafe kemarin tempat Zidan dan teman-temannya lagi.
Ia sebenarnya tidak sengaja lewat. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang ia kenal yaitu Zidan.
Faris berdiri agak jauh. Ia tidak berniat menguping…..tapi dia penasaran dengan lanjutan yang kemarin.
Tapi suara mereka cukup jelas terdengar.
“ Pokoknya kalau udah nikah, duit langsung cair. Asalkan Lo nggak baper aja sama dia ”
Faris membeku. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak perlu mendengar lebih banyak.
Semuanya mulai tersambung.
Perlahan, Faris mundur. Wajahnya berubah tegang.
“Jadi ini semua…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Malam itu, Faris pulang dengan langkah cepat.
Pikirannya terasa penuh. Ia ingin marah dan
Ingin langsung bicara. Tapi ia menahan diri.
Sesampainya di rumah, suasana sudah tenang.
Alya sedang duduk di ruang tengah, membaca buku dengan wajah yang damai dan tenang.
Faris berhenti di ambang pintu. Ia menatap kakaknya itu cukup lama. Hatinya terasa berat.
“ Haruskah aku bilang sekarang…?” dalam hatinya. Namun ia ragu. Ia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Alya…
Apalagi jika ternyata ia salah mengartikan gimana.....
" Kak Alya…” panggilnya pelan.
Alya menoleh.
“ Iya, Faris ”
Faris terdiam sejenak.
Lalu…
“ Enggak apa-apa, Kak .”
Alya mengernyit kecil.
“ Kamu kenapa ? ”
Faris menggeleng.
“ Enggak… cuma capek. ”
Alya mengangguk pelan.
“ Iya kalau gitu kamu istirahat ya. ”
Faris hanya mengangguk. Ia berjalan menuju kamarnya. Namun langkahnya terasa berat.
Di dalam kamar, Faris duduk di tepi ranjang.
Tangannya mengepal pelan.
“Kalau ini benar…”
Ia menunduk.
“ Aku nggak akan diam. ”
Sementara itu…
Alya kembali menatap bukunya. Namun tanpa ia sadari…..ujian besar sedang mendekat. Perlahan dan tanpa suara. Dan di antara semua ketenangan itu…...ada satu rahasia yang mulai terbuka.
Sedikit demi sedikit, menuju sesuatu yang tidak akan bisa mereka hindari lagi.