NovelToon NovelToon
TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:106.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_va

Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.

Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.

Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.

Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.



Simak cerita selengkapnya 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Cukup

"Cepat sadar, sehat kembali, Nak." bisik Sekar, dipegangnya tangan kanan putra pertamanya itu.

"Mama pulang dulu, sampai jumpa besok."

Sekar menarik napas dalam-dalam, memperhatikan wajah Radit yang seperti orang tidur. Ada kekhawatiran setiap kali pulang ke rumah.

"Tolong kabari jika terjadi sesuatu atau membutuhkan sesuatu," kata Sekar pada perempuan yang bernama Nina.

"Iya, Bu Sekar," jawab Nina.

Sekar tersenyum. "Terima kasih, kamu bekerja dengan baik.

"Sudah menjadi tugas saya, Bu." sahut Nina yang menerima tawaran menjaga pasien karena belum mendapatkan pekerjaan tetap. Hanya bekerja di malam hari saja dengan bayaran sangat layak.

Sedangkan Sekar tidak mungkin berada di rumah sakit selama dua puluh empat jam. Perempuan itu berjalan keluar kamar inap. Berjalan terus melintasi lorong panjang, turun menggunakan lift sampai di lobi.

Langkahnya terus menuju luar gedung rumah sakit. Seunit mobil sedan hitam telah menunggu. Sekar tersenyum pada sopirnya yang membuka pintu mobil.

"Antar aku pulang," katanya.

"Baik, Nyonya," sahut Arga lalu ditutupnya pintu mobil.

Mobil meluncur cepat di jalanan ramai lancar. Sekar menerima telepon dari Denis bahwa sudah memberikan perhiasan tersebut ke menantunya.

Sekar menurunkan ponsel. Perhiasan, lingerie, dan parfum adalah ide yang mendadak setelah mengetahui kalau Rama adalah mempelai pengganti. Menggantikan posisi calon suami Nara yang selingkuh. Pernikahan itu pasti belum dilandasi cinta. Makanya, lingerie menjadi pilihan Sekar. Dari berbagi peluh bisa tercipta cinta. Itu yang diharapkan Sekar.

Sampai di rumah, Jia memberitahu kalau kedua orang tua Bianca datang satu jam lalu.

"Oke, nggak apa-apa," ujar Sekar.

Bianca putri dari pasangan Karina dan Firdaus Heriawan. Keluarga kelas menengah yang harmonis. Sebelum kejadian malam pelecehan, Sekar sangat menyukai Bianca. Cantik dan cerdas. Sekarang, rasa suka itu perlahan pudar. Sekar sering kali melihat ulang rekaman cctv. Di lantai bawah terlihat Bianca dan Rama bicara sebentar. Posisi mereka tidak jelas karena tertutup bunga besar di atas meja. Agak-agak blind spot. Sejak kejadian itu, Sekar menambahkan beberapa cctv lagi.

"Di mana mereka?" tanya Sekar.

"Di halaman belakang, Nyonya," jawab Jia yang tidak pernah ikut ke dalam rumah sakit karena disuruh mengawasi Bianca.

Sekar berjalan ke arah jendela. Melihat besan dan menantunya yang sedang duduk-duduk di kursi teras. Bianca sepertinya sedang menangis, Karina menepuk-nepuk punggung putrinya.

"Nyonya, Pak Abra tadi menghubungi, apakah Nyonya jadi menyelidiki masa lalu Nyonya Bianca?" tanya Jia yang selalu berpakaian rapi.

"Iya. Aku tidak mungkin membuat Bia teler. Dia sedang mengandung." Sekar mengembuskan napas berat.

"Aku masih punya nurani..... Mungkin dua atau tiga hari lagi dia melahirkan."

Mungkin, dengan mengulik masa lalu Bianca ada celah atau petunjuk. Mungkin ada benang-benang halus yang selama ini tidak terlihat.

Sekar melihat Karina yang menoleh ke arah jendela. Si besan bergegas masuk ke dalam rumah. Sekar tahu, akan ada debu pasir.

"Bu Sekar, aku kecewa karena Bu Sekar menginginkan Rama kembali. Tidakkah terpikir olehmu, betapa traumanya Bia Walaupun sudah beberapa kali psikolog, kejadian itu masih berbekas." oceh Karina panjang lebar.

"Entahlah, kalau aku boleh jujur, aku tidak percaya kalau Rama melakukan hal itu," kata Sekar.

"Kamu menuduh Bia berbohong?"

"Ya, ada kemungkinan itu." Sekar tersenyum simpul.

"Anda keterlaluan. Andai Radit tidak mengalami kecelakaan...."

"Aku tetap mencurigai Bia," sela Sekar.

"Jadi silakan terus membelanya. Aku pun akan melakukan hal yang sama dengan mempercayai Rama." Sekar berlalu dari depan jendela.

"Silakan nikmati tehnya, Bu Karina."

Karina tampak geram sekali. Jia pun buru-buru mengambil tas, kemudian menyusul sang majikan.

*****************

Kondisi restoran makin sepi. Desas desusnya di antara karyawan tidak lama lagi akan tutup.

Pada akhirnya, hal itu terjadi. Nara merasa sedih karena menyukai bos yang ramah, teman dan lingkungan kerja yang baik.

Nara menggenggam amplop berisi uang gaji sebulan. Wajahnya murung dan tidak bersemangat. Lalu, dia memilih segera pulang. Tidak memberitahu Rama kalau pulang lebih awal.

"Nara, nggak ikutan kumpul di rumah Pak Riko? Perpisahan kecil-kecilan, nangis bareng-bareng." ucap Lela.

"Nggak. Aku males ngumpul, mending tidur. Maaf ya," sahut Nara.

"Nggak apa-apa kok. Nggak wajib. Kalau ada info-info lowongan pekerjaan, tolong aku dikabari," tukas Lela, menyungging senyum lebar. Dipeluknya Nara sebagai tanda perpisahan.

Nara melepas pelukan. Kemudian berjalan keluar dari kantor manajemen restoran. Nara berjalan menyusuri trotoar menuju angkot yang menunggu penumpang. Tidak masalah nunggu cukup lama,

Angkot itu berangkat lima belas menit kemudian, Nara duduk di dekat pintu kendaraan. Mendekap tas pemberian ibu mertuanya.

Mobil angkutan umum berhenti di depan minimarket, Nara segera turun. Melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Sampainya di depan kontrakan, dia terkejut melihat motor suaminya di teras, karena dikıra sedang ngojek. Rama yang sedang berbaring di depan televisi, juga terkejut melihat istrinya sudah pulang.

"Mas...." Nara melepas kaus kaki.

"Kok nggak bilang kalau udah pulang?" Rama duduk memandangi istrinya agak kecewa.

"Aku pikir Mas Rama sedang sibuk," sahut Nara.

"Kami di PHK mendadak."

Rama urung marah. "Mendadak?"

"Sebenarnya nggak mendadak sih. Dari dua bulan yang lalu memang ada desas desus restoran tutup karena merugi," terang Nara.

"Kamu di rumah saja, biar aku yang kerja," kata Rama.

"Tetapi kalau kamu pingin kerja, aku nggak melarang."

Nara duduk di sebelah Rama. Setelah lulus SMA, Nara bekerja karena kedua orang tuanya tidak mampu membiayai sampai perguruan tinggi.

"Udah, jangan sedih gitu...." Rama merangkul bahu istrinya.

Nara terkesiap karena dirangkul suaminya. Tubuhnya sampai miring-miring ke kanan jatuh di tubuh Rama.

"Bagaimana kalau liburan? Mumpung punya voucher menginap gratis," ucap Rama.

Hotel itu bintang empat. Di kawasan pesisir pantai.

"Bagaimana?" ulang Rama.

"Boleh." jawab Nara lalu secepat kilat berdiri. Tidak kuat berlama-lama di dekat suaminya. Hatinya kebat kebit.

"Aku makan dulu, Mas."

"Iya," sahut Rama terkekeh.

Rama menyusul istrinya ke dapur. Memberitahu Istrinya akan melamar pekerjaan.

"Bukannya Mas Rama selalu dijegal papa sendiri?" tanya Nara.

"Menurut informasi dari Denis, papa tidak akan menggangguku lagi. Aku ingin mencobanya," jelas Rama.

"Jadi, mau liburan kapan?"

"Minggu depan saja, Mas."

"Harinya?"

"Terserah Mas Rama saja." jawab Nara.

"Besok saja ya? Nggak perlu nunggu minggu depan. Kelamaan. Aku akan sewa mobil, supaya kamu nyaman."

"Baiklah..." Nara mengangguk tidak protes sama sekali.

"Berangkat siang," imbuh Rama.

***************

Rama benar-benar menyewa mobil. Nara melihat plat kendaraan dari luar kota. Jangan-jangan mobil keluarga suaminya sendiri. Tetapi Nara tidak bertanya. Satu koper kecil dan satu tas pakaian dimasukkan ke dalam mobil.

"Masuk ke mobil. Aku akan mengecek pintu belakang." kata Rama

Walaupun tadi sudah dikunci Nara, Rama juga memastikan selang tabung gas sudah dilepas. Kemudian berjalan keluar rumah. Rama mengunci pintu depan yang ditambahi gembok Bergegas masuk ke dalam mobil

"Ini kunci rumah." Rama juga memberikan dompet miliknya.

"Tolong sekalian disimpan."

Nara memasukkan dua benda tersebut ke tas di pangkuan.

"Pasang sabuk pengamannya," suruh Rama.

"Oiya." Nara tersenyum gugup.

Nara memberitahu ibunya lewat pesan kalau sedang berlibur. Respons Risna membuat kedua mata Nara membeliak.

Risna: [Bilang aja bulan madu, Nara. Mana ada liburan. Peluk suamimu sampai pagi.] Ditambah emoji tertawa terbahak-bahak.

Nara berdecak pelan. Kenapa pikiran ibunya aneh-aneh?

"Ada apa?" tanya Rama.

"Oh, aku ngasih tahu ibu kalau kita liburan," jawab Nara.

"Kok berdecak?" Rama penasaran.

"Ibu bilang kita bulan madu bukan liburan," terang Nara menyimpan kembali ponsel ke dalam tas. Tidak memberitahu perihal peluk sampai pagi.

"Bulan madu yang terlambat." timpal Rama.

Mereka berdua terdiam. Nara memikirkan, apa yang akan terjadi di dalam kamar hotel? Sudah waktunya menjadi istri seutuhnya, bukan?

Sementara Rama, pikirannya tidak berbeda dengan Nara. Kapan diizinkan memiliki tubuh istrinya? Mungkin nanti harus dibicarakan lagi.

Sebagai lelaki normal, jelas ingin lebih dari memeluk. Rama juga menghitung hari selama Nara datang bulan. Sudah delapan hari berlalu, tentu saja sudah bersih.

Nara ketiduran selama perjalanan. Dibangunkan suaminya karena sudah sampai di hotel. Kedua mata Nara mengerjapkan. Perlahan tubuhnya menegak, ternyata mobil sudah terparkir di area parkir. Nara menarik napas panjang seraya merapikan rambutnya. Nara keluar mobil. Wajahnya terlihat masih mengantuk.

"Nanti lanjut tidur di kamar," kata Rama yang menjinjing koper dan tas.

Tanpa bicara, Nara mengikuti suaminya masuk ke gedung hotel. Ikut berhenti di depan resepsionis. Rama memperlihatkan voucher.

Tidak butuh waktu lama, mereka berdua menuju kamar di lantai tiga. Rama menaruh tas dan koper, lalu mengetap kartu kunci. Pintu kamar terbuka lebar. Rama mempersilakan Nara masuk terlebih dahulu.

Kamarnya cukup luas dengan satu tempat tidur tengah ruangan. Jendela berbalkon mengarah ke area pantai. Nara menaruh tasnya di tempat tidur, penasaran dengan pemandangan luar. Selain pantai, di bawah terlihat kolam renang dan deretan kursi berpayung lebar.

"Yahhh, hujan," gumam Nara. Langit yang tadi cerah mendadak menghitam. Angin kencang dan gerimis datang bersamaan. Nara buru-buru masuk lagi.

"Tidak bisa lihat sunset," kata Rama.

"Iya." Nara mengulas senyum.

"Nggak bisa jalan-jalan keluar juga."

"Di dalam kamar lebih hangat, kan?"

Nara yang masih berdiri, merasakan tubuhnya memanas semua.

"Duduklah." Rama menepuk kasur menyuruh Nara duduk di sampingnya.

"Aku ingin bicara."

Nara menarik napas dalam-dalam, melangkah lambat menuju tempat tidur. Duduk di sebelah suaminya.

"Apakah aku boleh meminta hakku?" tanya Rama kedua matanya menatap lekat wajah istrinya yang agak tertunduk.

Nara mengangguk pelan.

"Jawab, Nara..."

"Barusan sudah dijawab, loh." Nara menggigit bibir bawahnya. Mau bilang boleh kok susah amat.

"Aku nggak dengar loh," goda Rama.

"Iya, boleh," kata Nara pelan sekali.

Rama tersenyum, tangan kanannya memegang pipi Nara, mengarahkan menghadap wajahnya. Rama menunduk, mempertemukan bibir mereka. Aksinya hanya sampai menge-cup.

"Sebelum kita bercinta, aku ingin bertanya apakah kamu ingin langsung punya anak?"

"Aku...." Nara tampak kebingungan sendiri.

"Kalau kamu ingin menundanya, nggak masalah," ucap Rama memegang telapak tangan Nara.

"Kalau kita berencana punya anak, aku akan mencari rumah kontrakan yang lebih nyaman."

Nara menatap manik mata sang suami.

"Dua saja, cukup," katanya malu-malu.

"Pertanyaan apakah mau ditunda?" ulang Rama. "Bukan jumlah anak."

"Sama aja jawabannya, Mas. Menjawab dengan jumlah anak sama dengan nggak perlu ditunda. "

"Bahasa cewek memang ribet ya?" goda Rama.

"Kalau ribet ngapain nikah?" Nara berdiri.

"Ngambek nih."

"Dih, siapa yang ngambek. Aku mau mandi dulu." Nara menarik kopernya ke dalam kamar mandi.

1
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
kerjaan nya apaan sih sih pekerja bank apa tentara 😒
A.R
kayak pernah baca deh di aplikasi sebelah,apa author yg sama yhh
Komsiyah Komsiyah
Rama kok berubah ubah namanya jadi Panji
Shiro Oni Weapon Master
baru mampir
Teh Yen
aku udh otw Thor 😁 seru critanya
Teh Yen
trim kasih othor 🙏🤗 sukses.trus ke depannya yah
Teh Yen
yaah udh tamat aj itu anknya Radit blom brojol.thor.cwok.apa.cewek.tuh hehe 😁
Teh Yen
Alhamdulillah Nina udh Hamil.yah
Teh Yen
c Gita mah engg ada kapoknya masa iya satpam apartemen jg d embat yah astagfirullah
Teh Yen
itu pasti.c Gita wah mukanya.hancur.dong eng cantik lagi kena pecahan kaca mobil yah iih ngeri
Teh Yen
sabar yah Nina baru jg nikah berpa.minggu hehe usah aj terus Nina
Teh Yen
lah.mobilnya d curi orang git ,, padahal itu harta terakhir kamu yg paling mewah yah sayang sekali 🥺
Teh Yen
Nina biasa kerja keras skrng jd istri seorang.ceo malah bingung kagak ngapa"in yah Nina 🤭
Teh Yen
haha engg pa pa mas Rama biar membulat bersama kan adil 🤭🤭
Uthie
Baca sedikit cerita nya aja pasti gak kalah bagus dehhh sama yg sekarang sy baca 👍👍👍😘😘😘😘🤩
Uthie: 😘😘😘😘😘😘
total 2 replies
Uthie
Terimakasih atas karyanya yg senang banget bacanya 👍👍👍🤩🤩🤩

Aslii lohhhh.. ini sedari awal mampir langsung maraton dan gak pindah ke lain hati dulu, sampai pada akhir cerita ini 👍👍👍🤩🤩🤩🤩🤩🤗🤗
Tri Wahyuni: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Uthie
Yaaa....udahan 🤩🤩🤩🤩
Uthie
senang nya 👍👍👍
Uthie
nyebelin cowok banci macam si Andre yg adem ayem sama selingkuhan nya dan gak inget sama anak yg dulu dia buat pada mendiang istrinya 😡😡
Uthie
sukkkkaaa BANGETTT 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!