Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU KATA DI UJUNG SENJA
Langit di atas kampus Universitas Nusantara mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Angin sore bertiup lembut, memainkan ujung jilbab pashmina milik Clarissa yang berwarna cokelat susu. Di tangannya, ia memegang sebuah buku catatan kesehatan yang harus ia isi setiap hari sebuah pengingat bahwa meski ia tampak sehat, perang di dalam darahnya belum benar-benar usai.
Di sampingnya, Adrian berjalan dengan langkah yang diselaraskan. Tidak ada lagi jarak yang terasa canggung. Kehadiran Adrian kini seperti oksigen bagi Clarissa; tenang, esensial, dan memberinya kekuatan untuk terus berdiri tegak.
"Gue perhatikan, lo hari ini lebih banyak senyum," ujar Adrian memecah keheningan. "Ujian Statistik tadi nggak bikin lo pusing?"
Clarissa terkekeh pelan. "Pusing sih, tapi gue inget kata-kata lo. Kerjakan semampunya, sisanya serahkan sama Yang Di Atas. Gue nggak perlu lagi jadi yang nomor satu hanya untuk dapet validasi orang."
Adrian berhenti melangkah, membuat Clarissa ikut berhenti tepat di depan bangku taman yang dulu menjadi saksi bisu kekejaman Clarissa pada Maya. Namun sekarang, tempat itu terasa berbeda.
Adrian menatap Clarissa dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada binar kebanggaan, namun juga ada rasa protektif yang besar. Ia tahu Clarissa baru saja melewati fase pengobatan yang berat. Ia tahu di balik jilbab itu, rambut Clarissa masih berjuang untuk tumbuh. Dan baginya, itu adalah pemandangan paling indah.
"Clar," panggil Adrian lembut.
"Ya?" Clarissa mendongak, menatap mata hitam Adrian yang teduh.
"Makasih ya sudah bertahan sejauh ini. Gue tahu itu nggak mudah. Setiap kali lo ngerasa sakit tapi lo tetep maksa buat senyum di depan gue... gue ngerasa jadi cowok paling beruntung sekaligus paling nggak berguna karena nggak bisa bagi rasa sakit itu."
Clarissa menggeleng cepat. "Lo ada di sini saja sudah lebih dari cukup, Dri. Lo itu... penyemangat gue."
Sore itu, suasana taman sangat sepi. Hanya ada suara kicauan burung yang kembali ke sarang. Adrian menarik napas panjang, seolah mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki selama ini. Ia ingin Clarissa tahu bahwa posisinya di hati Adrian bukan sekadar teman hijrah atau objek empati.
"Gue mau lo janji satu hal," ucap Adrian. Suaranya merendah, terdengar sangat intim.
"Janji apa?"
"Jangan pernah ngerasa sendirian lagi kalau lo lagi ngerasa drop. Kabari gue, telepon gue jam berapa pun. Karena buat gue, kebahagiaan lo itu sekarang adalah prioritas gue."
Adrian menjeda kalimatnya sejenak. Ia menatap Clarissa dengan penuh ketulusan, mengabaikan segala ego dan keraguannya selama ini.
"Gue sayang banget sama lo, Sayang."
Waktu seolah berhenti bagi Clarissa. Kata terakhir itu panggilan itu meluncur begitu alami dari bibir Adrian. Bukan panggilan centil seperti yang dulu Clarissa paksa agar orang memanggilnya, tapi sebuah panggilan penuh perlindungan dan komitmen.
Clarissa terpaku. Pipinya memerah di balik balutan jilbabnya. Dadanya bergemuruh hebat, memberikan rasa hangat yang menjalar hingga ke ujung jemarinya. Selama ini ia haus akan kasih sayang, dan ia mencarinya dengan cara yang salah. Sekarang, saat ia sudah menyerahkan segalanya pada Tuhan, kasih sayang itu datang dengan cara yang paling suci.
"Dri... lo panggil gue apa tadi?" bisik Clarissa, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Adrian tersenyum, kali ini lebih lebar. Ia tidak menarik kata-katanya. "Gue panggil lo Sayang. Karena itu lo buat gue sekarang. Clarissa-ku yang kuat, Clarissa-ku yang baru."
Clarissa menunduk, mencoba menyembunyikan tangis harunya. "Gue... gue takut, Dri. Gue takut kalau nanti gue nggak bisa lama-sama lo. Gue takut kalau kata itu bakal jadi beban buat lo kalau kesehatan gue menurun."
Adrian memberanikan diri mendekat, meski tetap menjaga jarak yang sopan sesuai prinsip baru yang mereka sepakati. "Dengerin gue. 'Sayang' itu bukan beban. Itu janji. Gue sayang lo saat lo kuat, dan gue bakal tetep sayang lo saat lo lemah. Penyakit lo itu bagian dari lo, dan gue sudah terima itu sejak gue mutusin buat nunggu lo di depan ruang operasi."
Clarissa mengangkat wajahnya, menatap Adrian dengan sisa air mata di pipi. "Terima kasih, Adrian. Terima kasih karena sudah melihat gue sebagai manusia, bukan sebagai 'Ratu' yang rusak."
Momen emosional itu sedikit terusik saat ponsel Clarissa bergetar. Sebuah notifikasi dari grup lama The Diamonds muncul. Rupanya, Sherly salah satu mantan gengnya yang belum bisa menerima perubahan Clarissa mengirimkan foto lama Clarissa saat masih memakai pakaian terbuka dan sedang mem-bully orang.
“Ada yang ingat ini? Katanya sudah tobat, tapi luka yang dia buat nggak bakal hilang cuma pakai kain di kepala,” tulis Sherly di sana.
Clarissa sempat tertegun melihat foto itu. Rasa malu dan sesak kembali menyerang. Namun, sebelum ia sempat membalas, Adrian yang sempat melirik layar ponsel itu langsung menggenggam udara di depan tangan Clarissa, seolah memberi kekuatan.
"Nggak usah dibalas," ucap Adrian tenang. "Masa lalu lo itu urusan lo sama Tuhan. Masa depan lo, itu urusan kita. Dan bagi gue, lo yang sekarang jauh lebih terhormat."
Clarissa tersenyum, ia langsung mematikan ponselnya. Ia tidak butuh validasi dari mereka lagi. Ia memiliki Bastian, ayahnya, dan sekarang... ia memiliki Adrian yang memanggilnya dengan sebutan paling indah yang pernah ia dengar.
Senja benar-benar hilang, berganti dengan azan Maghrib yang berkumandang dari masjid kampus. Clarissa berdiri, merapikan tasnya dengan hati yang terasa sangat ringan.
"Yuk, ke masjid. Kita salat Maghrib bareng-bareng sebelum pulang," ajak Adrian.
"Ayo, Adrian," jawab Clarissa lembut.
Adrian tertawa kecil. "Kok manggil nama doang? Nggak mau balas panggilannya?"
Clarissa tersenyum malu-malu di balik jilbabnya, lalu berjalan lebih dulu menuju masjid. "Nanti ya, kalau lo sudah minta izin langsung sama Papa dan Bastian!"
Adrian tertawa lepas, mengejar langkah Clarissa dengan penuh kebahagiaan. Malam itu, Clarissa menyadari bahwa hidupnya memang telah berubah total. Ia telah kehilangan rambutnya, kehilangan gengnya, dan hampir kehilangan nyawanya. Namun, ia menemukan imannya, keluarganya, dan cinta sejati yang memanggilnya dengan sebutan Sayang.