Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke habitat
PLAKK!
Rasa pedas di telapak tangannya tak menyurutkan emosi Hana.
"Ini lebih baik daripada aku mendengar omelanmu tanpa hasil." ucap Nolan remeh.
"Bajingan." Desis Hana menatap tajam.
Ia berbalik untuk meninggalkan Nolan menuju lantai bawah.
Di perjalanan maupun saat mereka sarapan di bandara, Hana hanya diam membisu.
Nolan tak mempermasalahkannya, ia mengirimkan uang dalam jumlah banyak untuk membayar kekecewaan Hana terhadap sikapnya yang kurang ajar.
Ya, Nolan menyadari kelancangannya pada Hana, ia mengakui tak bisa menahan hasratnya melihat Hana yang terkesan acuh.
Perempuan yang sebelumnya sangat menempel padanya, sangat berbeda dengan Hana yang berjarak seperti seorang asisten dan bodyguard.
Bandara Internasional menyambut kedatangan rombongan Nolan yang baru saja melakukan perjalanan jauh. Terlihat raut kelelahan mereka.
Hana berjalan hampir berlari mengikuti langkah lebar Nolan.
"Terima kasih atas kerja samanya, Hana." Nolan menjulurkan tangannya kepada Hana.
"Ya, terima kasih sudah membayar beserta dendanya." Hana balas menyalami Nolan.
Senyum pria itu tak pernah luntur karena kepribadian Nolan yang memang ramah senyum.
"Kuharap kita bisa bekerja sama lagi di lain waktu, Hana."
"Semoga itu takkan terjadi lagi, tuan. Saya harap anda berubah untuk kebaikan anda di masa depan." Nolan terkekeh pelan.
"Hati-hati di jalan, tuan." Ia bersiap untuk pulang, tubuhnya lelah.
"Tunggu, ayo kuantar pulang."
"Tak perlu, tuan." Hana mengangguk sopan dan berbalik pergi menuju keluar bandara. Nolan hanya menatap kepergian Hana yang enggan menerima tawarannya.
Cuaca cukup terik membuat Hana menyipitkan matanya, ia berencana naik taksi untuk sampai ke kost.
Hana meletakkan tasnya di lantai ketika sampai di kost dan langsung merebahkan diri, begitu banyak hal yang ia pikirkan membuatnya sakit kepala.
Matanya mulai terpejam ketika rasa lelah menyelimuti raganya.
"Setelah ini aku akan membayar semua hutang-hutangku, tuan." Gumam Hana sebelum terlelap.
"Nona Hana sudah sampai di Indonesia, tuan."
"Lalu di mana dia sekarang?"
"Dia berada di kost nya, tuan."
Luca menatap arlojinya yang menunjukkan pukul tiga sore. Satu jam lagi ia akan menghadiri rapat pemegang saham. Dan setelahnya ia akan menuju kost di mana Hana berada.
Ketukan pintu membuat Hana membuka paksa matanya yang masih mengantuk.
Dengan malas ia menyeret kakinya menuju pintu.
"Hello, Hana." Seringaian menyapa wajah kusut Hana yang langsung menegang.
"Tu-tuan?! Kenapa ada di sini?"
"Kau menikmati sebagai pelacur?" Senyuman mengejek terlukis di bibir Luca.
"Apa?" Hana yang masih mengumpulkan kesadaran tak begitu fokus pada ucapan Luca yang terdengar kasar di telinganya.
"Apa bayarannya bisa melunasi hutangmu?"
"Apa maksudnya?" Hana bingung, bagaimana Luca tahu pekerjaan yang ia lakukan dalam seminggu ke belakang.
Apa jangan-jangan firasatnya benar jika Luca diam-diam mengikutinya. Tapi untuk apa pria itu melakukan hal yang membuang waktu dan uang?
"Wow, apa penis pria itu sekarang membuatmu linglung?"
PLAK!!
Yap, sepertinya sekarang Hana memiliki kegiatan menampar orang.
"Jaga ucapan anda, tuan."
"Oh, berarti benar." Luca terkekeh.
"Lalu, apa ada masalah jika saya menjual diri? Yang terpenting bagi anda adalah hutang saya lunas, kan?"
Hana berbalik mengambil tas yang berisi uang ratusan juta dan menyerahkannya pada Luca.
"Maaf, saya belum bisa melunasinya. Sisanya, nanti saya akan bayar. Silakan anda pergi, saya ingin beristirahat."
Hana menutup pintu tanpa menunggu respon Luca yang tertegun memegang tas berisi uang.
Luca menoleh ke arah Ruby yang berada di belakangnya, asistennya itu mendekati dan menerima tas berisi uang tersebut.
"Hitung uang tersebut, dan masukan ke rekening baru."
"Baik, tuan."
Rasa rindu Luca sedikit terobati dengan melihat gadis yang ia rindukan selama satu minggu.
Namun, hatinya bagai tertusuk ketika Hana tak mengelak tuduhannya menjual diri. Jika benar Hana melakukan hal itu, Luca tak akan mengampuninya.
Baginya, Hana sudah menjadi miliknya. Tak boleh seorang pun menyentuh Hana selain dirinya.
Sudah lebih dari satu minggu, Hana kembali pergi bekerja. Ia sangat bersyukur, Luca tak mengganggunya setelah ia membayar begitu banyak pada pria itu.
"Kau pasti tahu perempuan yang sering datang kemari akhir-akhir ini." Dua orang karyawan yang sedang memoles makeup di toilet sedang asyik bergosip.
"Perempuan cantik rambut blonde?"
"Yup, kudengar dia adalah tunangan CEO kita."
"Benarkah? CEO kita belum menikah?"
"Ya! Kau tak tahu dia? Wajahnya terpampang di berbagai majalah pebisnis."
"Wajar saja, aku tak pernah melirik majalah seperti itu."
"Haishh.. Tapi kudengar pertunangan mereka hanya politik."
"Lalu? Itu hal yang normal di kalangan orang seperti mereka."
"Ah, kau sangat menyebalkan!" Seorang karyawan meninggalkan toilet begitu gosipnya tak tersambut dengan baik.
Hana hanya menggelengkan kepalanya ketika ia berada di salah satu toilet.
"Hmm, aku jadi penasaran bagaimana rupa CEO di sini. Apa dia muda dan tampan? Atau.. jangan-jangan dia pria tua dan gendut? Eww."
Karyawan yang masih berada di toilet terdengar bermonolog hingga akhirnya suara ketukan sepatu terdengar menuju pintu keluar.
Hana segera menyelesaikan hajatnya dan mencuci tangan.
"Sa!" Hana memanggil temannya ketika ia menunggu di sebuah kedai usai jam pulang bekerja.
"Hana!" Salsa berlari menghampiri dan memeluk erat sahabatnya yang baru ia temui.
"Apa kau pindah pekerjaan?" Tanya Hana
"Tidak. Kenapa?"
"Kau tak ada di bar selama seminggu."
Salsa terkekeh pelan.
"Ah~ aku menemani tamuku di apartemen, dia membayarku untuk beberapa malam."
"Begitu ya. Louis tak memberitahuku."
"Louis tak tahu. Dia hanya tahu aku menerima tamu. Itu saja."
"Begitu ya."
"Hei, bagaimana perjalananmu? Louis mengatakan kau pergi ke luar negeri, ke mana?"
"Swiss."
"Wow, itu negara yang indah. Ceritakan bagaimana negara Swiss, apa di sana indah?" Salsa sangat antusias dengan kepulangan sahabatnya.
"Ya, sangat indah hingga kau rasanya enggan untuk pulang." Hana menceritakan berbagai kegiatannya di sana pada salsa. Mereka berdua sangat antusias dalam membahas negara tersebut.
"Apa orang yang bernama Nolan itu tampan?
Muda?"
"Ya, dia tampan dan... Aku tak tahu umurnya berapa, tapi dia terlihat muda." Kedua mata Salsa berbinar mendengar semua cerita Hana tentang perjalanan sahabatnya itu.
"Apa kau punya nomor teleponnya?"
"Tidak punya." Hana melupakan tentang kartu nama yang ia simpan.
"Wah, sayang sekali."
"Kenapa?"
"Kau tak ingin menjalin hubungan dengannya? Dari ceritamu sepertinya ia memiliki perasaan padamu, Na."
"Tidak. Dia melihatku hanya seonggok daging."
"Apa maksudnya?"
"Tidak ada." Hana enggan menceritakan bagaimana Nolan melecehkannya, baginya itu seperti melempar kotoran ke wajahnya sendiri.
Salsa mengeluarkan rokok dari tasnya, hal itu membuat Hana mengernyitkan kening.
"Sejak kapan kau merokok?"
"Huh? Sejak dulu." Salsa menghembuskan asap rokok mengenai wajah Hana.
"Sejak dulu? Kenapa aku baru tahu?"
"Karena aku baru mengizinkan kau tahu." Salsa tertawa renyah melihat raut Hana yang seperti orang bodoh.
"Kenapa kau menyembunyikan dariku?"
"Mungkin.. Aku takut kau tak mau berteman denganku?" Salsa mengedikkan bahu asal.
Mulutnya terus mengisap nikotin dan menghembuskan asapnya ke udara.
"Dan kau memberitahu pekerjaan gelapmu padaku."
"Ya, tak sengaja." Ucap Salsa tertawa, Hana memutar bola matanya malas.
"Apa kau sudah membayar lunas semua hutangmu pada rentenir itu?" Salsa tak tahu tentang Luca, sahabatnya itu hanya tahu tentang hutang pada rentenir yang ada di kampung.
"Belum, aku baru bisa membayar bahkan belum separuh."
"Astaga, benar-benar .. kau mungkin bisa menua di rantau orang."
Hana tersenyum kecut.
Sekarang ia tak peduli akan hal itu. Sertifikat rumah ibunya sudah selamat dari ayahnya yang penjudi.
Walaupun mereka masih sering menelepon untuk meminta uang pada Hana.
"Apa kau bisa mencarikanku pekerjaan?"
"Hah?! Tidak cukupkah kau bekerja di perusahaan dan di bar saat malam?" Salsa cukup terkejut dengan kegigihan Hana.
"Sekarang aku bekerja di perusahaan hanya senin-jumat. Weekend aku tak bekerja."
"Kenapa berubah lagi?" Ia kembali menghembuskan asap nikotin ke udara.
"Entahlah, semua tiba-tiba berubah ketika aku kembali masuk." Hana yakin ada suatu permainan.
Di lingkungannya bekerja hampir semua karyawan tak menyukai dirinya, padahal Hana meyakini bahwa ia sudah bekerja dengan baik.
"Astaga, nikmati hari liburmu, Na. Jangan terlalu keras pada diri sendiri."
"Andai aku tak punya hutang. Aku akan lebih memilih menikmati hidup." Tatapan mata Hana yang sendu membuat Salsa tak enak hati.
Ia tak mungkin bisa merasakan bagaimana jadi Hana. Meskipun ia yatim piatu, namun Salsa merasa bebas tanpa memikirkan tanggungan apapun, ia hidup semaunya.
"Kau pasti bisa melalui ini semua, Na." Salsa mengelus pelan punggung Hana menyalurkan energi positif untuk sahabatnya.
"Semoga, Sa."