NovelToon NovelToon
Darah Di Atas Putih

Darah Di Atas Putih

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
​Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidang di Atas Bara

Lift darurat itu merosot tajam, menciptakan sensasi hampa di perut Liana. Di dalam ruang sempit yang berdinding baja itu, Arkan menggenggam tangan Liana begitu erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, gadis itu akan lenyap ditelan kegelapan gedung arsip. Pria berseragam taktis di depan mereka tetap membisu, matanya terpaku pada monitor kecil di pergelangan tangannya yang memantau pergerakan pasukan Senator Bramantyo di lantai atas.

​"Siapa kalian sebenarnya?"

Arkan memecah kesunyian dengan suara rendah yang penuh ancaman. Tangannya yang bebas masih waspada di dekat pinggang, tempat senjatanya berada.

​Pria itu menoleh sedikit, memperlihatkan lencana perak kecil di balik rompi antipelurunya. Sebuah lambang timbangan yang dililit pedang. "Unit 9 tidak melayani politisi, Tuan Dirgantara. Kami melayani sumpah.

Senator Bramantyo sudah terlalu lama menggunakan 'pembersihan aset' sebagai kedok untuk memperkaya kroni-kroninya. Data yang kalian ambil adalah peluru yang kami butuhkan untuk meruntuhkan kerajaannya."

Pintu lift berdenting terbuka di lantai basement yang tersembunyi. Di sana, sebuah van hitam tanpa pelat nomor sudah menunggu dengan mesin menderu. Liana dan Arkan didorong masuk ke dalam, dan van itu melesat keluar melalui jalur keluar darurat yang menyamar sebagai pipa pembuangan kota.

​Selama pelarian di tengah malam yang buta itu, Liana mendekap flash drive di dadanya. Di dalamnya tersimpan bukan sekadar angka dan koordinat, melainkan jeritan ribuan warga Sektor Selatan yang rumahnya diratakan demi keserakahan. Ada nama ayahnya, ada nama ibunya, dan ada nama Elena—ibu Arkan yang dikhianati oleh suaminya sendiri.

​"Besok pagi, Mahkamah Konstitusi akan mengadakan sidang pleno terbuka mengenai sengketa aset negara," ucap agen Unit 9 yang mengemudi.

"Bramantyo akan hadir di sana untuk meresmikan pengalihan tanah Sektor Selatan ke konsorsium internasional miliknya. Itu satu-satunya kesempatan kalian. Jika kalian tidak muncul dengan bukti itu, tanah itu akan hilang selamanya."

Arkan menatap Liana. Wajah gadis itu tampak pucat di bawah lampu jalan yang berkelap-kelip, namun matanya memancarkan keteguhan yang luar biasa. "Liana, ini akan menjadi panggung yang sangat berbahaya. Begitu kita melangkah ke ruang sidang itu, tidak ada jalan kembali. Bramantyo akan mencoba menghancurkan karakter kita, masa lalu kita... dia akan menyebutmu pelayan mafia dan aku sebagai monster pembakar."

​Liana tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan pahitnya pengalaman. "Biarkan dia bicara, Arkan. Abu tidak bisa terbakar dua kali. Kita sudah berada di titik terendah. Sekarang, saatnya kita naik."

​Pagi hari di depan Gedung Mahkamah Konstitusi dipenuhi oleh wartawan dan demonstran. Senator Bramantyo melangkah turun dari mobil mewahnya dengan senyum kemenangan yang dipoles rapi untuk kamera. Ia mengenakan setelan jas termahalnya, melambaikan tangan seolah ia adalah pahlawan yang baru saja menyelamatkan aset negara dari tangan kriminal.

​Di dalam ruang sidang yang megah, suasana sangat formal. Hakim agung mulai membacakan agenda persidangan. Bramantyo duduk di barisan depan, dikelilingi oleh tim pengacara elit. Ia tampak sangat yakin bahwa permainannya telah selesai sempurna.

​Namun, tepat saat hakim akan mengetukkan palu untuk memulai pembacaan putusan pengalihan aset, pintu besar ruang sidang terbuka dengan dentuman keras.

​Seluruh mata menoleh. Kamera wartawan berputar serentak.

​Arkan melangkah masuk dengan setelan hitam sederhana, bahunya tegak, wajahnya menunjukkan otoritas seorang pria yang telah berdamai dengan kegelapannya. Di sampingnya, Liana berdiri dengan anggun mengenakan blus putih yang kontras dengan rambut pendek hitamnya. Ia membawa sebuah map fisik dan flash drive perak di tangannya.

"Interupsi, Yang Mulia,"

suara Arkan menggema di ruang sidang yang tinggi itu.

"Kami membawa bukti baru bahwa aset yang sedang diperdebatkan ini adalah hasil dari pencurian sistematis dan pembunuhan berencana yang didalangi oleh individu di dalam ruangan ini."

​Kegaduhan pecah seketika. Bramantyo berdiri, wajahnya

merah padam. "Yang Mulia! Ini adalah gangguan! Pria ini adalah mantan pemimpin organisasi kriminal The Void yang sudah diasingkan. Dia adalah seorang penjahat! Bagaimana mungkin kesaksiannya diterima?"

​Liana melangkah maju ke podium saksi, mengabaikan teriakan Bramantyo. Ia menatap hakim agung dengan tenang. "Nama saya Liana Putri. Saya adalah penyintas dari kebakaran Sektor Selatan sepuluh tahun lalu. Saya berdiri di sini bukan sebagai saksi mafia, tapi sebagai ahli waris dari saksi legal kepemilikan tanah Elena Dirgantara."

Liana meletakkan flash drive itu di atas meja bukti. "Di dalam sini terdapat rekaman transaksi digital yang menghubungkan akun rahasia Senator Bramantyo dengan dana operasional The Void untuk meratakan pemukiman warga. Ada juga dokumen asli yang membuktikan bahwa negara telah ditipu. Tanah itu tidak pernah menjadi milik negara untuk disita—tanah itu milik yayasan sosial yang didirikan oleh almarhumah Elena untuk kepentingan publik."

​Sidang berubah menjadi medan pertempuran verbal. Pengacara Bramantyo mencoba menyerang kredibilitas Arkan, menggali kembali detail malam kebakaran, mencoba memprovokasi kemarahan Arkan agar ia terlihat seperti monster di depan kamera.

​"Bukankah Anda yang memegang obornya, Tuan Dirgantara?" tanya pengacara itu dengan nada menghina. "Bagaimana mungkin seorang pembakar rumah bicara tentang keadilan?"

Arkan terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, menatap kamera yang menyiarkan wajahnya ke seluruh negeri. "Ya. Saya memegang obor itu di bawah todongan senjata ayah saya. Saya membawa dosa itu setiap detik dalam hidup saya selama sepuluh tahun.

Dan justru karena itulah, saya berdiri di sini hari ini. Saya tidak bisa mengembalikan nyawa yang hilang, tapi saya bisa memastikan bahwa kematian mereka tidak menjadi pondasi bagi kasino dan hotel mewah milik orang-orang seperti Anda."

​Jawaban jujur Arkan membungkam seisi ruangan. Dukungan publik di media sosial meledak seketika. Tim Unit 9 yang menyusup di antara penonton mulai menyebarkan data digital tersebut secara real-time ke berbagai kantor berita internasional. Bramantyo tidak bisa lagi membendung arus kebenaran.

​Hakim agung memeriksa data tersebut dengan saksama selama tiga jam yang terasa seperti selamanya. Bramantyo tampak gelisah, ia terus-menerus menyeka keringat di dahinya, menyadari bahwa tembok kekuasaannya mulai retak.

Akhirnya, hakim agung mengetukkan palunya.

​"Berdasarkan bukti baru yang tak terbantahkan, pengalihan aset Sektor Selatan ditangguhkan. Mahkamah memerintahkan penyelidikan menyeluruh terhadap prosedur penyitaan yang dilakukan oleh komite Senator Bramantyo. Dan Tuan Arkan Dirgantara serta Nona Liana Putri berada di bawah perlindungan saksi federal mulai detik ini."

​Bramantyo jatuh terduduk di kursinya, pucat pasi. Petugas keamanan mulai mendekatinya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

​Liana dan Arkan keluar dari gedung itu melalui pintu belakang untuk menghindari kerumunan. Di taman kecil di samping gedung mahkamah, Liana bersandar pada pilar batu, kakinya terasa lemas setelah ketegangan yang luar biasa.

​"Kita melakukannya, Arkan," bisik Liana.

Arkan menghampirinya, menarik Liana ke dalam pelukannya. Di tengah hiruk-pikuk kota yang mulai menyadari skandal besar itu, mereka menemukan keheningan mereka sendiri. "Ini baru awal, Liana. Kita harus membangun kembali Sektor Selatan. Bukan dengan beton dan baja milik mafia, tapi dengan taman dan rumah untuk mereka yang pernah terusir."

​Liana mendongak, menatap langit Jakarta yang cerah. "Dan toko bunga kita?"

​Arkan tersenyum, mencium kening Liana. "Kita akan tetap membukanya. Karena dunia ini butuh lebih banyak bunga setelah semua abu yang kita lalui."

​Namun, di kejauhan, di dalam sebuah mobil yang terparkir gelap, seorang pria dengan tato kalajengking di tangannya menutup ponselnya. Sebuah perintah baru telah turun dari sisa-sisa loyalis Baskoro yang kini bekerja untuk kepentingan internasional: "Target masih bernapas. Gunakan cara terakhir."

1
SILVA Nur LABIBAH
Masyaallah sungguh bagus cerita novelnya kak
inna Mardiana: membuat saya makin semangat menulis💪
total 2 replies
Dian
lanjutt
SILVA Nur LABIBAH
rahasia sudah terbuka,,,ayo Arkan & liana bangun kembali srmua yg telah hilang.
SILVA Nur LABIBAH
maaf baru bisa koment, bagus kisah novelnya. bisa mengambil hikmah dendam bisa melukai diri kira sendiri
inna Mardiana: makasih banyak yah Kak udah mampir😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!