Damon terbangun dari mimpi buruknya.
Ia seperti mendapatkan ilham.
Ibaratnya, Damon bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata dalam mimpinya.
Semua terjadi setelah ia tak sengaja menabrak batu nisan kuno di area Sungai Qinghe.
Apakah benar Damon bisa melihat sesuatu?
Mari ikuti kisah Damon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Waktu Kultivasi Terasa Panjang
Tubuh Damon berpendar terus-menerus, sinar kuat memancar dari arah tubuhnya, ia tampak kesakitan karenanya.
Rupanya pil kultivasi pemberian Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén menyebabkan tubuhnya bereaksi keras, tercabik-cabik bahkan melumatkan seluruh tulang-tulang Damon ketika dirinya ber kultivasi.
Darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang pucat membiru, seperti pil kultivasi itu bekerja keras dalam tubuh Damon.
Perubahan terjadi pada otot-otot Damon yang membesar seperti terbentuk kuat, membuat tubuh Damon kekar seketika tanpa latihan, bahkan rahangnya ikut mengeras bersamaan dengan perubahan pada tubuh Damon.
Senyum tipis mengembang di sudut bibir Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén, latihannya pada Damon ternyata membuahkan hasil meski tahap pertama. Ia terlihat puas dengan apa yang dilihatnya sekarang. Lalu menoleh kepada Kaisar Muchen di sebelah kanannya.
Tampak Kaisar Muchen berdiri dengan tangan terlipat ke depan dada sedangkan kepalanya terbalik ke bawah, dan mahkota emas yang dia kenakan berbunyi dari arah dua belas Liu giok nya.
"Ting... Ting... Ting..."
Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén berkata pada Kaisar Muchen dalam sikap tenang.
"Kupikir dia tidak akan kuat menerima pil kultivasi itu, tapi dia sangat kuat bahkan aku tidak percaya kalau dia sekuat itu, Kaisar Muchen."
"Yah, dia memang hebat. Dan aku percaya padanya, Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén." sahut Muchen tersenyum bangga.
"Ternyata kamu tidak salah pilih, dan pilihanmu sangat tepat, Kaisar. Aku salut padamu karena mengambil keputusan berani dengan memilih Damon tanpa mempertimbangkan baik-buruk nya." kata Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén kagum.
"Aku percaya pada insting ku, karena itulah aku berani mengambil keputusan penting itu walaupun aku belum mengenal betul siapa Damon sebelumnya." sahut Muchen.
Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén tertawa renyah, ia mengelus-ngelus janggut panjangnya sedangkan mata ketiga Zhen Wu miliknya berkedip-kedip.
"Ampun beribu ampunan, Dewa... Saya ingin sekedar bertanya pada anda." kata Muchen sembari menundukkan kepalanya di hadapan Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén.
"Ya, apa yang ingin kamu tanyakan padaku, Kaisar?" tanya Dewa Zhen Wu dengan senyum lebarnya.
"Begini, Dewa... Ada yang ingin saya tanyakan pada anda... Tapi saya ragu-ragu mengatakannya karena saya takut Dewa akan murka..." sahut Muchen masih dengan kepala menunduk hormat.
"Katakan saja padaku. Beritahukan apa yang mengganjal pikiranmu sekarang, Kaisar Muchen." kata Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén.
"Kira-kira kapan masa kultivasi Damon selesai. Apakah masih lama atau mungkin butuh bertahun-tahun waktu kultivasi Damon sebelum menjadi pemburu iblis yang sebenarnya?" tanya Muchen hati-hati.
"Tidak butuh waktu bertahun-tahun untuk ber kultivasi tahap awal, Damon hanya butuh waktu sekitar lima jam saja, jika melihat kondisinya yang sangat kuat, kurasa Damon tidak perlu berlama-lama ber kultivasi tahap pertama." sahut Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén.
"Kalau masalah Damon, terus terang saja saya tidak meragukan kemampuan Damon. Dia sangat kuat bahkan tegar sekali menerima takdirnya." kata Muchen diiringi suara bunyi Ting... Ting... dari dua belas Liu giok nya setiap dia bicara.
"Aku mengerti itu, Kaisar Muchen." kata Dewa Zhen Wu mengangguk paham.
"Saya akan menunggu waktu kultivasi Damon selesai, dan coba sabar meskipun itu tidak mudah bagi arwah seperti ku ini, Dewa." lanjut Muchen dengan pandangan tertunduk hormat.
"Mari kita tunggu Damon selesai ber kultivasi. Dan kita lihat hasilnya." sahut Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén.
"Siap, Dewa..." kata Muchen.
Muchen memandang diam ke arah Damon yang berada di dalam lingkaran kubah yang berpendar-pendar penuh cahaya terang, menunggunya selesai ber kultivasi.
Angin semilir berhembus ringan diantara ruangan apartemen Damon.
Lima jam telah berlalu cepat, tak terasa waktu kultivasi Damon selesai namun dari arah kubah besar belum ada tanda dari Damon.
Kaisar Muchen mulai cemas, ia terus-menerus memeriksa lingkaran kubah bercahaya terang itu dari tempatnya berada saat ini.
Ting... Ting... Ting...
Suara bunyi dua belas Liu giok nya bersuara lagi, ia berbicara pada Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén.
"Sudah lima jam waktu telah berlalu, tapi kenapa Damon masih belum selesai-selesai juga ber kultivasinya. Apa yang terjadi padanya, Dewa?" tanya Muchen.
"Sebentar..., aku mau melihatnya..." sahut Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén sambil menggerakkan ujung jari-jari tangannya membentuk lingkaran.
Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén menghitung waktu kultivasi Damon yang terlewat lima jam lebih dari waktu perkiraan.
"Aku akan memeriksa keadaan Damon, tunggulah sebentar. Dan jangan cemas, Kaisar Muchen." ucapnya.
Xuanwu sebesar rumah yang dililit oleh ular Hitam-Putih seukuran tiang listrik miliknya yang ia naiki bergerak ringan ke arah kubah lingkaran di depannya.
Bibirnya komat-kamit membaca doa langit sedangkan mata ketiga Zhenwu miliknya menyala merah terang.
Seketika kubah lingkaran terbuka perlahan-lahan, tubuh Damon melayang diam di dalam kubah.
Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén kembali mengibaskan tangannya lalu Damon jatuh terkulai ke lantai apartemen dalam posisi duduk bersimpuh.
"Damon..." panggil Muchen cemas. Ia melesat cepat ke arah Damon yang tertunduk diam. "Damon..." panggilnya lagi lalu menoleh ke arah Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén.
Tatapan Kaisar Muchen terlihat cemas saat dia menoleh ke arah Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén.
"Kenapa dia diam saja, apa yang terjadi padanya, Dewa?" tanya Muchen.
"Dia baik-baik saja, hanya tubuhnya belum sepenuhnya menerima kekuatan kultivasi itu, ia jatuh tak sadarkan diri karena belum terbiasa saja." sahut Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén.
"Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya, dia tak seharusnya menerima latihan seberat ini. Aku merasa bersalah padanya, dia pasti kesakitan, Dewa..." kata Muchen sesal.
"Sebentar lagi dia akan tersadar, tunggu saja reaksinya, Kaisar." sahut Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén yang bersikap tenang.
Muchen kembali memperhatikan kondisi Damon yang masih terpejam diam, ia rebahkan tubuh Damon ke atas lantai apartemen.
Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén meletakkan telapak tangannya ke atas dahi Damon yang terbaring diam, bibirnya komat-kamit membaca doa langit.
Suara alunan berbisik syahdu dari bibir Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén membentuk irama yang lembut serta menenangkan jiwa.
Udara di sekitar ruangan apartemen Damon terasa sejuk, suasananya turut tenang mengalir ke jiwa-jiwa yang tak pernah tenang bahkan Muchen ikut merasakan arwahnya tak lagi terbakar panas.
Berangsur-angsur kesadaran Damon membaik, kedua matanya perlahan terbuka lebar, wajahnya yang membiru serta pucat pasi mulai menampakkan kecerahan.
Tapi...
"Hiyaaaa... !!!" teriakannya memecah keheningan di ruangan apartemennya. Ia terbangun sadar lalu beringsut mundur dengan wajah ketakutan.
"Se-Setan...!!!" tunjuk nya pada Muchen dan Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén secara bergantian yang ada di depan matanya. Tubuhnya gemetaran karena ngeri yang tak berkesudahan.
"Tenang, Damon. Tenangkan dirimu. Lihat padaku dengan baik-baik. Aku bukan setan tapi Kaisar Muchen." ucap Muchen disertai iringan suara dari dua belas Liu giok nya yang berbunyi senyap.
"Ting... Ting... Ting..."
"Tidak... Tidak... Tidak... Kau setan... Dan aku tidak mengenal mu..." sahut Damon bergidik ngeri saat pandangnya teralihkan kepada Kaisar Muchen yang mendekatinya. Tentu saja Damon ketakutan melihat penampakan Muchen.
Penampilan Kaisar Muchen lebih tepatnya arwah Kaisar Muchen sungguh diluar logika akal sehat Damon.
Kulit pucat kebiruan dan bibir merah darah, wajahnya tampan tapi mayat. Pucat seperti habis direndam sumur ribuan tahun. Bibir merah Kaisar Muchen kering, bukan seksi melainkan lebih ke sudah tidak minum darah sejak dinasti runtuh.
Jubah Naga Hitam-Emasnya selalu berkibar-kibar dengan bordir naga lima cakarnya masih menyala emas tapi bau dupa menyengat dari jubah Kaisar nya. Kontras sekali dengan aura wibawa seorang Kaisar Kuno versi bau kuburan.
Posisi Kaisar Muchen bersandar dan tangan disilangkan ke depan dada. Dia tidak mengamuk tapi gaya bicaranya seperti kasih ceramah, dan sikapnya sangat tenang.
Terutama hal yang paling menonjol dari Kaisar Muchen adalah Mahkota Emas Dua Belas Liu Giok nya. Mahkota Kaisarnya mewah sekali, dua belas ujung dan rumbai gioknya menjuntai. Tapi Liu gioknya diam, tidak goyang. Bunyinya cuma terdengar Ting... Ting... Ting... setiap kali dia bicara.
Sedangkan penampilan Dewa Zhēn Wǔ Jiàngshén tak kalah angkernya dengan penampilan Kaisar Muchen.
Bagaimana Damon tidak merasa ketakutan pada dua orang yang dilihatnya itu.