NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Dian menempatkan makan siang Alex dalam sebuah hand bag, setelah itu Dia memanggil Alex yang kini tengah bersiap di dalam kamarnya.

Tuan semuanya sudah siap! kapan asisten anda datang? kalau dia tidak datang biar aku saja yang mengantar anda pulang. lagi pula aku tidak ada pekerjaan untuk dua hari ke depan" ujar Dian.

Alex yang mendengar suara Dian pun langsung membuka pintu kamarnya.pria itu tersenyum manis pada gadis yang ada di hadapannya.

"Ada apa hm... Saya baru selesai mandi honey"ujar Alex yang kini membuat Dian menggeleng pelan.

Tapi tidak lama setelah itu tatapan Dian tertuju pada dada bidang Alex yang kini terekspos, karena Alex masih menggunakan bathrobe.

Dian pun memalingkan wajahnya ke arah lain namun Alex malah sengaja menggodanya.

"Honey tolong siapkan bajuku Aku tidak tahu harus pakai baju yang mana hari ini"ujar Alex sambil tersenyum manis pada gadis cantik yang kini terlihat salah tingkah.

"Kenapa tidak ambil sendiri bukankah semua baju anda sudah tersusun rapi didalam koper, dan anda yang ngatur semua itu?"balas Dian.

Namun Alex malah tersenyum sambil berkata."Saya lupa, oh iya asisten saya datang nanti sore bolehkan aku mengajakmu jalan Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu sambil melihat-lihat pedesaan ini" ujar Alex.

"Atau kita di rumah saja?"ujar Alex sambil menanti jawaban.

"Ya sudah nanti saja setelah aku selesai membersihkan rumah"kata Dian sambil berbalik pergi.

"Honey bajuku!"seru Alex yang kini menggaruk kepala yang tak gatal saat melihat Dian menatap kearahnya.

"Ambil saja sendiri bukankah Anda juga punya tangan saya sedang sibuk"balas Dian dengan sengaja.

"Ayolah kamu itu harus belajar mengurus suamimu"ucap Alex yang kembali menggoda Dian.

" Heh, suami nikah aja belum"balas Dian menggerutu.

"Lalu kapan kamu siap, pernikahan kita akan segera digelar"kata Alex.

" Nikah itu butuh persiapan tuan, saya belum punya persiapan apapun itulah kenapa selama ini saya masih sendiri sedang teman yang lainnya sudah berkeluarga."ujar Dian.

"Jadi bukan karena dia?"kata Alex lagi.

"Anda pikir saya akan terus berharap pada cinta yang hanya sekedar ilusi seperti yang anda katakan?"ujar Dian.

"Honey saya serius"ucap Alex dengan tegas.

"Ah sudahlah tuan saya sedang banyak pekerjaan dibelakang, jika ada ingin pakai baju silahkan ambil sendiri"ujar Dian.

"Oh ayolah, lagi pulang besok kan saya tidak ada di sini"ujar Alex lagi.

Dian pun kembali balik badan dan berjalan menghampiri Alex, lalu masuk ke dalam kamar tamu yang ditempati pria itu.

"Dimana koper anda tuan, perasaan kemarin di sini?"ujar Alex.

"Kamu salah lihat kali honey, saya menaruhnya di sana"kata Alex yang kini menunjuk keatas lemari.

Dian pun mengeleng pelan, dia merasa tidak habis pikir, dengan kelakuan Alex yang sengaja menyimpan koper itu diatas lemari kayu. Sebenarnya Dian bukan tidak ingin membereskan barang-barang Alex kedalam lemari. Tapi dia tidak tau berapa lama pria itu akan tinggal disini.

"Tuan itu tinggi saya tidak bisa menjangkau nya. Lagipula kenapa harus disimpan disana. Bukankah dibawah juga aman, kamar ini bisa dikunci pintunya"ujar Dian yang mengira bahwa Alex takut ada orang yang mencuri barang berharganya.

"Bukan begitu honey, aku tadi beres-beres kamar ini dan aku menyimpannya disitu agar tidak terkena debu"alasan Alex.

"Baiklah ambil koper nya, saya buru-buru tuan"ujar Dian.

"Kamu tidak lihat apa yang aku gunakan saat ini honey, kalau tiba-tiba ini lepas, apa kamu sudah siap melihat semuanya sebelum menikah"ujar Alex beralasan padahal dia sudah menggunakan underwear miliknya saat ini.

Dian pun menghela nafas pelan kemudian berjalan menuju pintu keluar untuk mengambil kursi yang akan dia gunakan sebagai pijakan.

Saat itu Alex langsung membantu Dian membawa kursi kayu jati yang dibawa oleh Dian.

"Ambillah sebentar lagi saya harus membantu adik Fandy mengerjakan tugas sekolah nya"ujar dian.

"Baiklah"ujar Alex yang akhirnya mengalah, tapi kemudian Dian meraih koper besar itu, dan segera memilihkan pakaian yang akan dikenakan oleh Alex.

"Pakaian santai atau formal tuan?"tanya Dian.

"Santai saja lagipula bukankah kita akan pergi piknik hari ini?"ujar Alex dengan sengaja.

"Siapa bilang?"ucap Dian.

"Kamu sendiri yang sudah siapkan makan siang untuk kita nanti"ujar Alex.

"Itu untuk anda di perjalanan pulang nanti,"ujar Dian yang kini memberikan satu setel pakaian pada Alex yang kini tersenyum padanya.

"Kalau saya tidak pulang boleh?"ujar Alex.

"Terserah saja, yang pasti tidak tinggal disini "ucap Dian.

"Kenapa memangnya honey?"ujar Alex.

"Saya belum siap untuk menikah secara paksa karena sudah pasti akan timbul fitnah dan mereka akan menggerebek kita"ucap Dian yang kini pergi meninggalkan Alex yang terdiam di tempatnya.

Setelah drama panjang tentang pakaian, Dian pun menyelesaikan kegiatan hariannya di rumah, sementara Alex sibuk dengan laptopnya di ruang keluarga.

Dan kini hanya menyisakan mereka berdua, Dian yang kini sudah mandi dan berpakaian pun langsung bergegas menghampiri Alex.

"Mau jalan atau langsung pulang, saya akan antar anda sampai pemberhentian terakhir"ujar Dian yang kini sudah membawa Hoodie di tangan berikut dengan masker dan kacamatanya.

"Honey sepertinya ada masalah di gudang padi yang ada di desa sebelah, aku harus mengecek nya terlebih dahulu sebelum pulang. Bagaimana kalau kamu temani aku kesana?"ujar Alex yang kini memperhatikan penampilan gadis cantik itu dari atas kebawah.

Dian yang kini menggunakan celana kulot jeans panjang dengan t-shirt berwarna putih dengan rambut kuncir ekor kuda pun terlihat sangat cantik.

"Tuan, please berhenti memanggil saya dengan sebutan itu. Saya tidak ingin orang lain salah faham, apalagi kalau calon istri anda tau tentang itu"ujar Dian yang semalam sempat melihat sosial media dimana disana diberitakan bahwa Alex sedang dekat dengan wanita yang berprofesi sebagai model.

"Calon istri saya hanya kamu. Jadi bagaimana bisa kamu marah pada dirimu sendiri"ujar Alex yang kini menatap lekat wajah cantik itu.

"Sudahlah tuan, saya tau bahwa saat ini anda sedang dekat dengan seseorang dan dia lebih pantas untuk anda dalam segi apapun, jadi jangan bercanda berlebihan"ujar Dian yang kini duduk di sebrang berhadapan dengan Alex yang kini masih menatap kearahnya.

"Honey kamu sedang cemburu, siapa yang sebenarnya kamu maksud?"ujar Alex.

"Cukup tuan saya bilang panggil saya dengan benar, nama saya dian, dan jangan pernah lagi berbicara yang tidak-tidak"ucap Dian tegas.

...*****...

Dan kini setelah hampir satu jam lamanya Dian berada di desa sebelah bersama Alex yang kini sedang berbincang dengan kepala gudang padi yang ada disana.

Sesekali Alex melirik kearah gadis cantik yang kini kembali bersikap dingin terhadap nya.

Alex tidak tau apa yang terjadi pada Dian yang jelas sejak perbincangan mereka tadi. Dian terus bersikap dingin terhadap dirinya. Dia juga menyerahkan uang ganti yang sempat dipinjam oleh Afandi saat kemarin. Tapi Alex tidak mengambil nya dan justru malah memberikan sebuah kartu ATM dengan uang berjumlah ratusan juta didalamnya pada gadis yang juga menolak pemberian nya itu.

"Saya akan terus memantau dari jauh, saya tidak ingin buang-buang waktu pecat saja mereka yang tidak benar-benar bekerja dengan baik" ucap Alex yang kini membuat Dian melirik kearah nya.

Sikap tegas Alex saat ini begitu terlihat jelas oleh Dian yang kini kembali memalingkan wajahnya.

"Berapa banyak karyawan yang ada di sini?"ujar pria itu lagi.

"Dua puluh yang bekerja di gudang, dan lima puluh orang bekerja di sawah dan ladang"ucap pria paruh baya itu.

"Tambah karyawan baru lagi agar hasil panen semakin meningkat, dan ingat kualitas padi' yang dibeli dari luar harus benar-benar diperiksa sebelum transaksi dilakukan. Karena seperti yang selama ini diterapkan jenis padi terbaik yang boleh diterima disini. karena saya tidak ingin ada komplain dari pasar"ucap Alex.

"Baik tuan muda"balas pria paruh baya itu.

"Tuan jika urusan anda masih lama, saya pergi dulu kesana"ucap Dian yang kini menunjuk kearah warung.

Tapi Alex malah menggeleng pelan saat ini bukanya menyetujui perkataan Dian saat melihat kumpulan para pemuda yang ada di warung tersebut.

"Dian sini!"panggil seseorang yang tidak lain adalah teman sekolah Dian saat SMA yang kini berada di kumpulan tersebut.

"Tuan saya kesana dulu"ujar gadis cantik itu tidak mempedulikan tatapan tajam dari Alex yang tidak mengijinkan Dian untuk bertemu dengan para pemuda itu.

"Wow, ini beneran Diandra teman mu bro, dia sangat cantik andaikan saja aku belum punya calon istri"ucap seorang pria tampan yang ada di antara mereka.

"Jangan hiraukan playboy seperti dia, Diandra kamu apa kabar? Maaf ya aku tidak bisa hadir kemarin di acara peringatan kepergian ayah mu." ucap pemuda bernama Rio.

"Kabar ku baik Rio, gak apa-apa aku tau kamu sibuk. Oh iya Rio, kamu juga apa kabar?"balas Diandra yang kini memesan satu botol air mineral dari ibu warung tersebut.

"Ya, beginilah Dian, pengangguran, ternyata jadi sarjana juga masih sulit cari kerjaan"ucap Rio.

"Hm... mungkin karena kamu tidak keluar dari kota ini, coba cari yang ada di luar kota?"ujar Dian.

"Tidak cantik, bukan masalah dia yang tinggal di kota ini, tapi dia salah ambil jurusan.... kalau saja dia ambil jurusan kuli cangkul disini banyak kan, aku dengar kamu juga suka nguli panggul, kamu hebat cantik"ucap pria tadi.

"Bukan hebat mas, tapi terpaksa karena tidak bisa lanjut kuliah" ucap Dian.

"Ah mendingan kamu yang tidak kuliah tapi sudah menghasilkan,nah dia sampai sekarang kerjaannya hanya nongkrong. Sayang kan buang-buang uang"ucap ibu warung.

"Ah ibu bisa aja, dia nongkrong karena sudah memiliki jaminan, sementara saya tidak punya apa-apa "ucap Dian merendah.

"Jaminan apa Diandra, sekarang ayahku hampir saja dipecat karena temannya korupsi, dan ayah dibawa-bawa "ujar Rio.

"Semoga saja tidak Rio, ayah mu orang baik"ucap Dian.

"Semoga saja Dian, duduklah aku mau traktir kamu makan siang"ujar Rio.

"Tidak usah Rio, aku bawa bekal, tadi hanya sedang menemani bos keliling pedesaan,"ucap Dian yang kini menunjuk kearah kedua pria berbeda generasi itu.

" Kerjaan baru ya Dian, boleh dong bagi-bagi?"ucap Rio.

" Coba saja tanya sama beliau, aku dengar tadi mereka bahas rekrut karyawan baru"ujar Dian.

"Maksudnya kuli panggul?"ujar pemuda lainnya.

"Saya tidak tahu bang, coba saja tanya siapa tau cocok, tapi jangan bilang saya yang rekomendasikan"ujar Dian.

"Ah tidak apa-apa kuli panggul juga daripada terus jadi beban keluarga" ucap Rio yang kini membuat Dian mengacungkan jempol nya.

"Dian silahkan duduk,"ucap salah seorang gadis yang tidak lain adalah teman SMA nya juga yang ternyata anak dari pemilik warung nasi tersebut.

"Hilda?"ujar Dian.

"Ya, Diandra... aku baru kembali dari luar kota dua hari yang lalu "ucap Hilda.

"Apa kabar?"tanya Dian pada Hilda sambil duduk di samping Rio.

"Kabar ku baik Dian, hanya saja aku sedang dalam proses perceraian"ujar Hilda.

"Wih ada calon janda muda nih?"ujar mereka kompak kecuali Dian dan Rio yang justru ikut bersedih atas apa yang menimpa teman sekolah nya itu.

"Jangan sembarangan ya, biarpun putri saya akan menjadi janda, saya tidak akan memberikan dia pada kalian yang kerjaannya hanya nongkrong dan mabuk-mabukan"ucap ibu warung itu.

"Jangan sombong ya bu, saya bisa buat warung ini lenyap dalam hitungan detik!"ujar salah satu pemuda yang jauh lebih dewasa dari mereka.

"Woy... santai mas, semua orang memilki pendapat masing-masing"ujar Dian yang kini menghadang pria yang hendak menampar ibu warung yang terus berbicara tanpa henti.

"Minggir kau tidak usah ikut campur atau kau juga akan kena akibatnya"ujar pria itu.

"Mas bisa bicara baik-baik, dia orang yang lebih tua"ujar Dian yang kini menepis tangan pria itu lagi.

"Hey, sudah ku peringatkan jangan ikut campur!"ujar pria yang kini hendak memukul Dian, tapi seketika itu tangan pria itu berpindah posisi.

"Saya bilang bicara baik-baik, lagipula tujuan nya bukan hanya pada anda"ucap Dian yang kini mengunci pergerakan pria yang tengah meringis kesakitan.

"Ada apa ini?"ucap Alex yang kini melepaskan tangan Dian dari pria itu.

"Ayah, dia menghinaku katanya aku tidak pantas mendapatkan anaknya" ujar pemuda itu mengadu pada pria paruh baya yang tadi berbincang dengan Alex.

"Saya tidak berani menghina putra anda juragan"ujar ibu warung itu tiba-tiba.

"Ini hanya salah faham tuan, dia tersinggung saat kami sedang berbicara tentang perceraian Hilda dengan suaminya. Tiba-tiba mereka bilang ada calon janda muda. Ibunya Hilda bilang biar putrinya jadi janda dia tidak akan pernah memberikan putrinya pada mereka, dan bukan pada mas ini saja, tapi dia baper"ujar Dian menjelaskan.

"Dia juga kurang ajar ayah, dia sudah buat tangan ku sakit" ujar pria itu.

"Beraninya anda bilang istri saya kurang ajar.

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!