NovelToon NovelToon
Taipan Reborn: Mengubah Takdir Wanita Yang Kucintai

Taipan Reborn: Mengubah Takdir Wanita Yang Kucintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: UaOnes

Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.

Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.

Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.

Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.

Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.

Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.

Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.

Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.

Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.

Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.

Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Asal Bicara

Sore itu Jakarta diguyur gerimis tipis. Bau tanah basah menguar di sela selokan pemukiman padat daerah Tebet.

Rumah sewaan berukuran empat kali enam meter itu menjadi saksi bisu. Di dalamnya hanya ada satu meja kayu jati jengki bekas, dua kursi lipat besi, dan satu unit telepon rumah berwarna abu-abu yang kabel spiralnya sudah melar.

Regan duduk tenang di balik meja. Jemarinya mengetuk permukaan kayu yang agak kasar.

Herman masuk membawa dua gelas kopi saset hangat. Asap mengepul menyebarkan aroma manis yang pekat di ruangan tanpa pendingin udara itu. Kipas angin meja merk siemens berderit pelan di sudut, berputar patah-patah.

"Duit dari proyek seminar kemarin udah masuk semua ke rekening Samudera Inti, Re," kata Herman sambil menaruh gelas seng di meja. "Total bersih sepuluh juta rupiah setelah dipotong bagian Dion."

Regan mengangguk tanpa ekspresi. "Dion nggak protes?"

"Dia sempat nanya kenapa lo bikin PT lagi. Nama lo bahkan nggak ada di dokumen legalitas Regan Muda Persada. Nama gue yang lo pinjam," Herman terkekeh, membetulkan letak kerah kemeja drill-nya yang agak kusam. "Gue bilang aja ini buat muter duit proyekan Glodok."

"Bagus. Nama gue harus tetap bersih sampai krisis finansial nanti," ucap Regan datar. Dia menyesap kopi hitamnya yang terlalu manis.

Otak pria lima puluh delapan tahun di dalam tempurung kepala anak belasan tahun ini sedang memetakan sesuatu yang jauh lebih besar.

Uang sepuluh juta rupiah di tahun 1993 sudah cukup untuk modal awal pergerakan taktis. Perusahaan konsultan investasi dan properti ini akan menjadi kendaraan bayangan. Tempat mengumpulkan para pemain kakap yang sedang kebingungan mencari arah modal sebelum badai moneter menggulung Asia Tenggara.

Pintu kontrakan mendadak diketuk dari luar. Ketukannya tidak sabaran, tiga kali ketukan keras yang membuat tripleks pintu bergetar.

Nara melangkah masuk sebelum Herman sempat membukakan pintu. Rambutnya agak basah terkena sisa gerimis. Dia mengenakan jaket denim kedodoran dan membawa map jepit plastik. Matanya yang tajam langsung menyapu seisi ruangan yang berbau cat baru itu.

"Jadi ini kesibukan lo yang bikin lo absen kelas hukum dagang tadi siang?" tanya Nara, langsung menaruh map jepitnya di atas meja Regan.

Regan tidak terkejut. Dia justru menuangkan air putih dari teko plastik ke gelas kosong untuk Nara. "Minum dulu, Ra. Lo habis dari perpustakaan?"

"Jangan ngalihin pembicaraan, Re," Nara menarik kursi lipat di depan Regan lalu duduk dengan punggung tegak. "Bang Herman bilang lo sewa tempat ini buat bikin biro jasa keuangan. Lo gila ya? Kuliah belum kelar, duit pas-pasan, sekarang mau jadi konsultan? Siapa yang mau percaya sama anak umur sembilan belas tahun?"

Herman berdehem, merasa canggung, lalu perlahan berjalan mundur keluar kontrakan untuk merokok di bawah teras kain terpal.

Regan menatap Nara yang tampak gusar namun menyiratkan rasa cemas yang dalam. Dia tahu Nara mengkhawatirkannya. Di masa lalu, ketakutan terbesar Nara adalah melihat orang-orang yang disayanginya hancur karena keputusan finansial yang salah.

"Ini bukan biro jasa sembarangan, Ra," kata Regan lembut, suaranya rendah tapi penuh keyakinan. "Ini konsultan informasi."

"Informasi apa? Rumor pasar Glodok?" Nara melipat tangan di dada, matanya menyipit selayaknya mahasiswa hukum yang sedang menginterogasi saksi.

"Dunia bisnis Jakarta itu kejam, Re. Orang-orang di atas sana punya mata-mata dan analisis formal dari lembaga asing. Mereka nggak butuh ramalan anak kuliahan."

Regan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi lipat yang berderit. Dia mengambil selembar koran Bisnis Indonesia edisi pagi itu yang tergelak di meja. Jarinya menunjuk pada kolom kecil di halaman dalam. Berita tentang rencana pembangunan jalan tol dalam kota tahap kedua.

"Analisis formal sering kali terlambat, Ra," ujar Regan dingin. "Mereka membaca apa yang sudah terjadi. Gue membaca apa yang pasti terjadi. Lo lihat artikel ini? Pemerintah bilang proyek tol koridor timur bakal jadi prioritas utama tahun depan."

"Terus?" Nara condong ke depan, tertarik pada arah bicara Regan.

"Itu cuma pengalihan isu bisnis," Regan menurunkan suaranya. "Bulan depan, keputusan presiden bakal keluar. Koridor barat yang akan didahulukan karena konsorsium besar di belakangnya butuh akses ke lahan industri baru mereka di Tangerang. Siapa pun yang beli tanah di area barat sekarang, modalnya bakal naik tiga ratus persen sebelum akhir tahun."

Nara tertegun. Dia menatap mata Regan, mencari tanda-tanda bualan di sana, tapi mata itu terlalu jernih, terlalu berkuasa untuk ukuran anak muda yang biasanya masih sibuk memikirkan konser musik atau tawuran antar fakultas.

"Lo... dapet info dari mana seberani itu?" bisik Nara, suaranya mengecil.

"Gue punya sumber yang nggak bisa salah," jawab Regan pendek. "Sekarang lo percaya?"

Nara menghela napas panjang, merapikan anak rambutnya yang berantakan dengan jari. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur. "Gue nggak tahu lo kesambet setan apa sebulan terakhir ini, Re. Tapi kalau sampai lo butuh bantuan hukum buat urusan legalitas PT ini, jangan pakai pengacara luar. Pake gue. Gratis."

Regan tersenyum tipis. "Gue emang butuh lo di sini, Ra. Bukan cuma buat legalitas, tapi buat pastiin perusahaan ini berjalan di jalur yang lurus."

Nara mendengus, mencoba menyembunyikan semburat merah di pipinya dengan memalingkan wajah ke arah papan nama laminating di pintu. "Papan namanya jelek banget sih. Bikin malu."

"Nanti diganti marmer kalau kantornya udah pindah ke Thamrin," balas Regan santai.

Nara bangkit dari kursi, mengambil kembali map jepitnya. "Gue balik duluan. Ada tugas kelompok. Jangan lupa makan, muka lo udah kayak mayat hidup dari kemarin."

Regan melepas kepergian Nara dengan pandangan mata yang hangat. Setelah bayangan gadis itu hilang di ujung gang, kehangatan di wajah Regan lenyap seketika. Predator di dalam dirinya kembali bangkit.

Herman kembali masuk ke ruangan, membuang puntung rokoknya ke asbak kaleng. "Bos, klien pertama yang gue ceritain kemarin udah di jalan. Palingan udah nyampe Tebet."

Regan membetulkan posisi duduknya. "Pak Handoyo?"

"Bukan, Bos. Lebih gede dari Handoyo," Herman berbisik, wajahnya tampak tegang. "Namanya Sukardi. Pengusaha tekstil Tanah Abang yang lagi pusing karena tanah gudangnya di kawasan Pluit mau digusur buat proyek normalisasi waduk. Dia dapet info dari Handoyo kalau ada anak muda yang tahu seluk-beluk pemetaan lahan Jakarta."

Regan mengetuk meja sekali. "Bagus."

Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya bertubuh tambun melangkah masuk ke dalam kontrakan sempit itu.

Sukardi mengenakan kemeja sutra motif batik yang mencolok, jam tangan Rolex Datejust berwarna emas melingkar erat di pergelangan tangannya yang berbulu.

Sukardi melihat sekeliling dengan dahi berkerut dalam. Jelas sekali dia merasa salah alamat melihat kantor konsultan yang lebih mirip pos ronda ini.

"Kamu yang namanya Regan?" tanya Sukardi, suaranya berat dan penuh nada meremehkan. Dia bahkan tidak mau duduk di kursi lipat besi yang disediakan Herman.

"Saya Regan," jawab Regan tetap tenang di kursinya. Dia tidak berdiri untuk menyambut jabat tangan yang memang tidak ditawarkan oleh Sukardi.

"Silakan duduk, Pak Sukardi. Kursinya cukup kuat untuk menahan beban ratusan miliar rupiah."

Sukardi mendengus, merasa tersindir namun entah kenapa dia akhirnya duduk juga. Kursi besi itu berderit agak keras di bawah bobot tubuhnya.

"Gue ke sini cuma karena si Handoyo bilang lo bisa kasih solusi soal tanah gudang gue di Pluit," kata Sukardi, langsung menaruh cerutu yang belum dinyalakan ke atas meja kayu.

"Pemerintah mau ganti rugi cuma lima ratus ribu per meter. Itu harga gila. Modal gue bikin bangunan aja nggak balik. Lo punya kenalan orang dalam dinas tata kota?"

Regan menatap Sukardi dengan pandangan dingin yang membuat pengusaha kawakan itu merasa tidak nyaman.

"Saya nggak punya kenalan orang dalam, Pak," jawab Regan flat.

Sukardi langsung memukul meja dengan telapak tangannya. "Kalau nggak punya, buat apa gue buang waktu ke sini?! Anak ingusan kayak lo mau nipu gue?!"

Regan sama sekali tidak berkedip. Dia memajukan tubuhnya sedikit ke depan meja.

"Ganti rugi lima ratus ribu itu justru berkah buat Bapak," ucap Regan, suaranya rendah tapi bergaung kuat di ruangan sempit itu. "Karena kalau Bapak tahan tanah itu sampai dua bulan lagi, nilainya bakal turun jadi nol rupiah."

Sukardi tertawa terbahak-bahak, tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa gugupnya melihat ketenangan Regan. "Lo ngomong apa? Pluit itu kawasan berkembang! Mana ada tanah nilainya jadi nol!"

"Bulan depan, tanggal empat belas," Regan menyebutkan tanggal dengan presisi mutlak.

"Sistem drainase utama Pluit bakal jebol akibat rob air laut terbesar dalam dekade ini. Seluruh kawasan gudang Bapak bakal terendam air setinggi dua meter selama tiga minggu. Struktur bangunan gudang Bapak bakal keropos, kain tekstil dagangan Bapak bakal membusuk."

Tawa Sukardi mendadak terhenti. Matanya melebar, menatap Regan seolah melihat hantu.

"Lo... lo jangan asal bicara ya! Ramalan cuaca dari BMG nggak ada bilang begitu!" gertak Sukardi, tapi tangannya yang memegang cerutu mulai gemetar kecil.

"BMG membaca awan, saya membaca pola sejarah yang tertunda," balas Regan dengan senyum dingin penuh dominasi.

"Lepas tanah itu sekarang ke pemerintah dengan harga lima ratus ribu. Ambil uangnya, lalu investasikan seluruhnya ke lahan kosong di daerah Serpong yang sekarang harganya cuma seratus ribu per meter. Dua tahun lagi, pengembang besar bernama Bumi Serpong Damai bakal beli tanah Bapak seharga lima kali lipat buat proyek kota mandiri mereka."

Ruangan itu mendadak hening. Hanya ada suara derit kipas angin tua yang berputar lambat.

Sukardi menelan ludah dengan susah payah. Informasi tentang Serpong dan proyek BSD adalah rahasia konglomerat tingkat atas yang bahkan dia sendiri baru mendengarnya samar-samar dari obrolan di klub golf.

Bagaimana bisa anak muda di kontrakan kumuh ini mengetahuinya dengan begitu detail?

1
gina altira
trus jawab,, mau tau aja apa mau tau banget? 🤭🤭🤭
gina altira
lanjutt
Betharia Anggita Dominique
semangat kaka aku tunggu lanjutannya
fredai
Ayo lanjut..... 💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!