Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12: Manis di Balik Luka
Isakan histeris Kalea pecah tak terbendung begitu pintu kamarnya tertutup dengan dentuman keras. Ia meringkuk di lantai, memeluk lututnya sendiri sambil menyentuh bibirnya yang terasa panas dan berdenyut. Perasaan Lea hancur berkeping-keping. Bukan hanya karena kebebasannya yang dirampas, tapi karena untuk pertama kalinya, Gus Malik pria yang selalu menjaga jarak dan pandangan baru saja melakukan tindakan yang paling tidak ia duga sebagai bentuk hukuman brutal untuk menghapus jejak Tom.
Najwa, yang sejak tadi menunggu dengan cemas di ruang tengah, tak tahan lagi. Dengan sisa tenaganya, ia memutar kursi rodanya perlahan menuju kamar adiknya.
"Lea..." bisik Najwa pilu saat melihat adiknya hancur di lantai.
Lea mendongak, wajahnya sembap dan maskaranya luntur parah. "Dia jahat, Kak! Suami lo jahat! Dia nggak punya hak buat perlakuin gue kayak tadi!"
Najwa mendekat, mengusap rambut pirang adiknya. Dengan hati-hati, ia mendengarkan kejujuran Lea tentang pertemuannya dengan Tom di taman kota. Najwa terdiam lama, ia paham kemarahan suaminya, namun ia juga tahu bahwa kekerasan hanya akan membuat Lea semakin menjauh dari hidayah.
Najwa kemudian menemui Gus Malik yang sedang terduduk kaku di meja kerjanya. Pria itu tampak sedang bertarung dengan badai di dalam hatinya sendiri.
"Mas..." panggil Najwa lembut. "Lea memang salah, tapi dia masih kecil dalam hal iman. Dia perlu dibimbing, bukan hanya dihukum dengan amarah. Orang seperti Lea itu sangat *moody*. Kalau sudah sakit hati, dia akan menutup diri selamanya."
Malik menghela napas berat, matanya tetap menatap lantai. "Saya hanya ingin menjaga kehormatannya, Najwa."
"Aku tahu. Tapi cobalah melembut sedikit," Najwa tersenyum kecil. "Lea itu sangat suka coklat. Sejak kecil, coklat adalah obatnya. Mas, pergilah belikan dia coklat, lalu **berikan langsung padanya**. Katakan kalau Mas juga minta maaf karena terlalu keras tadi."
Malik terdiam sejenak, lalu mengangguk meski hatinya merasa sangat gengsi.
Sore harinya, Malik kembali dari kota membawa sebuah kotak coklat premium. Namun, saat sudah berdiri di depan pintu kamar Lea, keberaniannya menciut. Rasa canggung dan gengsi sebagai seorang Gus yang baru saja "meledak" membuatnya tak sanggup mengetuk pintu itu.
Tiba-tiba Arkan lewat sambil membawa mobil-mobilan. Malik segera memanggil putranya.
"Arkan, bawa kotak ini ke kamar Onty Lea, ya?" ucap Malik sambil menyerahkan bingkisan itu. Ia tidak memberikan pesan apa pun, hanya berharap coklat itu sampai ke tangan Lea secara anonim.
Arkan, yang sudah tidak takut lagi melihat abinya sudah tenang, mengangguk antusias. Ia berlari kecil menuju kamar Lea dan mengetuk pintu dengan semangat.
"Onty Lea! Onty!"
Lea membuka pintu sedikit, matanya masih merah. Saat melihat keponakannya yang menggemaskan berdiri membawa kotak besar, hatinya sedikit mencair.
"Ada apa, Sayang?"
Arkan menyodorkan coklat itu dengan tangan mungilnya. "Ini coklat buat Onty biar Onty nggak nangis terus."
Lea menerima kotak itu dengan bingung. "Dari siapa, Arkan? Dari Bunda ya?"
Arkan menggeleng polos sambil menunjuk ke arah koridor di mana Malik sedang bersembunyi di balik pilar. "Bukan, Onty. Ini dari Abi. Abi yang beli tadi di toko besar. Tapi Abi malu mau kasih sendiri."
Lea terpaku. Ia melirik ke arah pilar dan sempat menangkap bayangan jubah Malik yang bergerak menjauh dengan terburu-buru. Kalimat polos Arkan seolah menembus dinding pertahanan Lea.
Ia masuk ke kamar dan menutup pintu. Sambil menatap kotak coklat mewah di tangannya, sebuah pemikiran melintas di benaknya. *Gus dingin itu... ternyata dia masih punya rasa bersalah setelah apa yang dia lakuin tadi.*
Ada rasa hangat yang aneh menyelinap di antara benci dan marah yang Lea rasakan. Meski belum bisa memaafkan sepenuhnya, setidaknya Lea tahu bahwa pria kaku itu bukanlah monster tanpa perasaan. Ia meraih sepotong coklat, merasakannya lumer di lidah, dan untuk pertama kalinya sejak kejadian di taman, napas Lea terasa sedikit lebih ringan.