Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.
Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.
Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.
Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.
Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.
Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?
Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 : Pemanggilan Paksa
Langit pecah.
Tanpa aba-aba—Aries mengangkat kepalanya.
Kilauan bintang di bulunya menyatu menjadi satu garis lurus yang menyilaukan.
Lalu ia menghilang.
Tidak berlari.
Tidak melompat.
Ia hanya… berpindah.
Dan dalam sepersekian detik—Ia sudah tepat di hadapan Ferisu.
Tanduk hitamnya menghantam ke depan.
Eliza bergerak lebih dulu.
“Spirit Shield!”
Lingkaran cahaya berbentuk perisai muncul di depan mereka. Energi rohnya memadat, membentuk dinding transparan berlapis simbol kuno.
Benturan terjadi.
Suara dentumannya tidak seperti logam bertemu logam. Lebih seperti dua konsep yang saling menolak.
Tanah di bawah mereka retak.
Perisai Eliza bertahan—sesaat.
Lalu retak.
Kilauan bintang dari tanduk Aries menembus lapisan kedua dan ketiga. Energi ledakan menghantam mereka seperti gelombang badai.
Noa terpental beberapa meter.
Anor jatuh berguling di antara akar pohon.
Eliza terdorong mundur keras.
Debu dan daun berhamburan.
Sunyi sejenak.
Aries berdiri di tengah lingkaran yang kini hampir sepenuhnya berubah menjadi pola kosmik.
Ia tidak tampak tergesa. Seolah serangan barusan hanya uji coba.
Di antara puing dan debu—satu sosok bangkit lebih dulu.
Ferisu.
Ia menghapus darah tipis di sudut bibirnya dengan punggung tangan.
Tidak ada aura besar. Tidak ada lingkaran sihir raksasa. Hanya sebilah pedang di tangannya. Pedang sederhana. Bilahnya tidak bersinar.
Ia melangkah maju.
“Aku akan mengalihkan perhatiannya!” serunya tanpa menoleh. “Kalian cepat pergi menjauh!”
Noa memaksakan diri bangun. Eliza juga berdiri, sedikit terhuyung. Anor terbatuk kecil.
Mereka saling bertukar pandang. Mereka tahu. Ferisu kuat. Ia memiliki roh kontrak luar biasa.
Ia pernah memanggil tujuh roh tingkat kaisar untuk meratakan medan perang.
Maka tanpa ragu—Noa mengangguk.
“Kita mundur dulu!”
Mereka bergerak menjauh dari pusat lingkaran.
Sementara itu—Ferisu menyerang. Langkahnya cepat. Tidak ada teleportasi. Tidak ada ledakan mana. Hanya teknik pedang yang bersih dan presisi.
Ia menebas ke arah kaki Aries.
Aries menghindar dengan gerakan ringan yang tidak wajar untuk tubuh sebesar itu.
Balasannya datang seketika.
Tanduknya menyapu horizontal.
Ferisu melompat mundur, ujung jubahnya tersobek tipis oleh gesekan energi kosmik.
Tanah di belakangnya terbelah.
Aries kembali menghilang.
Ferisu memutar tubuhnya tepat saat makhluk itu muncul di sisi kiri.
Bilah pedangnya bertemu tanduk hitam itu. Dentang keras menggema.
Tangannya bergetar.
Tekanan dari benturan itu terlalu besar untuk ukuran pedang biasa.
Namun ia tidak mundur.
Ia menggeser langkah, memutar tubuh, lalu menebas lagi dengan sudut berbeda—mencari celah kecil dalam struktur energi makhluk itu.
Di kejauhan—Eliza tiba-tiba berhenti.
Langkahnya terhenti di tengah akar pohon.
Noa yang sudah beberapa meter di depan menoleh.
“Ada apa, Eliza?”
Eliza tidak menjawab langsung.
Matanya terpaku pada Ferisu.
“Kenapa… Ferisu-sama hanya bertarung dengan pedang dan sihir tingkat rendah?”
Noa ikut menoleh.
Dan baru sekarang ia benar-benar memperhatikan. Tidak ada pemanggilan roh. Tidak ada tekanan mana yang menekan hutan. Tidak ada aura kehancuran seperti saat perang dulu. Hanya gerakan fisik. Dan sesekali sihir penguat tubuh tingkat dasar.
Noa membeku.
“Kenapa dia tidak memakai kekuatan saat di perang itu?”
Eliza menggigit bibirnya.
“Dengan satu roh saja, makhluk itu mungkin sudah ditekan.”
Di tengah pertarungan—Ferisu terseret beberapa langkah oleh benturan berikutnya.
Aries memekik tanpa suara.
Kilauan bintang di tubuhnya berkedip lebih cepat.
Ferisu menusukkan pedangnya ke tanah untuk menahan tubuhnya agar tidak terpental lagi.
Napasnya mulai berat.
Di dalam dadanya—rasa sakit lama kembali muncul.
Noa memucat.
“Jangan bilang…”
Eliza menatapnya. “Apa?”
Noa menelan ludah. “Dia tidak bisa.”
Angin berputar di sekitar Aries.
Retakan di langit melebar sedikit lagi.
Eliza menatap punggung Ferisu yang berdiri sendirian di hadapan makhluk kosmik itu.
“Dia menyuruh kita mundur,” bisiknya pelan. “Bukan karena dia yakin bisa menang.”
Satu benturan lagi terjadi.
Pedang Ferisu retak tipis.
Dan untuk sepersekian detik—Aries berhenti menyerang.
Mata galaksi kecilnya menyala terang.
“Energi inti… menurun.”
Ia mengangkat kepalanya.
Kilauan bintang di bulunya menyatu ke satu titik di tanduknya.
Tekanan meningkat drastis.
Noa membelalakkan mata. “Itu bukan serangan biasa!”
Eliza berteriak. “Ferisu-sama!”
Ferisu berdiri tegak. Sendirian. Dengan pedang yang hampir patah.
Waktu terasa melambat.
Aries menundukkan kepalanya lebih dalam. Kilauan bintang di tanduknya menyatu menjadi satu titik pekat, seperti inti galaksi yang dipadatkan.
Tekanan di udara membuat tanah di sekitar mereka terangkat beberapa sentimeter.
Noa berteriak, “Ferisu-sama, cepat pergi dari sana!”
Tapi ia sudah tahu. Ferisu berdiri tegak. Pedangnya retak. Tubuhnya gemetar halus. Namun tatapannya tidak goyah. Rasa sakit itu kembali. Lebih tajam dari sebelumnya. Seperti ribuan jarum menembus jiwanya dari dalam.
Namun kali ini—Ia tidak menahannya.
Ia membuka paksa.
Mana gelap mengalir keluar dari tubuhnya, tidak stabil, seperti sungai yang dipaksa melewati celah sempit.
Ia mengangkat tangannya ke depan.
Udara di sekelilingnya bergetar.
“Datanglah...” suaranya rendah, namun menggema di seluruh hutan.
Aries berhenti sesaat.
Kilauan bintang di tubuhnya bergetar tidak stabil.
Ferisu melanjutkan, suaranya semakin berat seiring darah tipis mengalir dari sudut bibirnya.
“Raja para ular yang menguasai daratan.”
Tanah mulai retak di bawah kakinya.
Akar-akar pohon terangkat.
“Raja yang memiliki pertahanan mutlak dan racun mematikan.”
Noa membelalakkan mata. “Dia melakukan pemanggilan roh…”
Eliza menggertakkan gigi. “Dengan kondisi seperti itu…!?”
Ferisu menekan tangan kirinya ke dada.
Retakan tipis cahaya gelap muncul di kulitnya—seperti pecahan kaca di bawah permukaan.
“Atas nama kontrak jiwa kita…”
Langit bergetar.
Retakan di atas mereka berkedip tidak stabil.
“Aku memanggilmu.”
Aries mengaum tanpa suara.
Tanduknya menyala penuh.
“Munculah di hadapanku dan halau semua musuhku!”
Suara Ferisu berubah menjadi gema yang memecah hutan.
“Datanglah—!”
Mana meledak dari tubuhnya.
“BASILISK!”
Tanah hutan terangkat.
Lingkaran sihir raksasa muncul di bawah kaki Ferisu, simbol tanah kuno berputar cepat, berwarna coklat keemasan dengan inti hitam pekat.
Rasa sakitnya—Tak terlukiskan. Jiwanya seperti diremas dari dua sisi.
Namun kontrak jiwa tidak pernah mengkhianati panggilan.
Tanah di belakang Ferisu pecah.
Bukan retak kecil.
Melainkan terbelah seperti kulit bumi yang membuka mata.
Dari celah itu—muncul sisik pertama.
Hijau gelap bercampur emas kusam.
Lalu kepala raksasa dengan mahkota duri alami dari batu.
Mata kuningnya terbuka perlahan, pupilnya vertikal seperti celah jurang.
Aura berat langsung menekan seluruh hutan.
Basilisk.
Raja para ular.
Tubuhnya yang panjang melingkar sebagian masih berada di bawah tanah, namun hanya bagian atasnya saja sudah cukup membuat pepohonan di sekitarnya runtuh.
Ia mendesis pelan.
Dan suara itu—seperti gunung yang bergeser.
Aries berhenti mengumpulkan energi.
Mata galaksinya menatap makhluk raksasa itu.
“Entitas kelas tinggi terdeteksi.”
Ferisu terhuyung satu langkah.
Namun ia tetap berdiri.
“Halau serangannya,” ucapnya pelan.
Basilisk mengangkat kepalanya tinggi.
Lalu menghantamkan ekornya ke tanah.
Dinding batu raksasa langsung menjulang di depan Ferisu dan yang lain, membentuk pertahanan mutlak yang tebalnya beberapa meter.
Di saat yang sama—Aries melepaskan serangannya.
Cahaya pekat itu melesat seperti komet. Menghantam dinding batu.
Ledakan terjadi.
Tanah bergetar hebat.
Gelombang kejut menyapu hutan sejauh ratusan meter.
Namun dinding itu—tidak hancur.
Retak, ya.
Tapi tetap berdiri.
Debu perlahan mengendap.
Di balik dinding batu—Ferisu berlutut satu kaki.
Darah kini mengalir lebih jelas dari bibirnya.
Noa berlari mendekat.
“Ferisu-sama!”
Eliza menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
“Kenapa kau memaksakan diri sejauh ini…!”
Ferisu mengangkat wajahnya perlahan.
Matanya sedikit kehilangan fokus.
“Kalau tidak… kita semua mati.”
Di depan mereka—Basilisk maju.
Setiap gerakannya membuat tanah bergetar.
Ia membuka mulutnya.
Cairan hijau pekat terkumpul di antara taringnya.
Aries melompat mundur, namun terlambat.
Semburan racun melesat seperti sungai asam, menyentuh bulu hitamnya.
Kilauan bintang di tubuh Aries berdesis.
Sebagian “langit malam”-nya mulai terkelupas, memperlihatkan inti energi yang belum stabil.
“Struktur terganggu,” suara dalam kepala mereka terdengar lebih kasar.
Basilisk tidak memberi waktu.
Ia menerjang.
Tubuh raksasanya melilit Aries, menekan dengan kekuatan daratan itu sendiri.
Tanah di bawah mereka membentuk pilar-pilar batu yang menahan makhluk kosmik itu dari segala sisi.
Untuk pertama kalinya—Aries terdorong mundur.
Retakan di langit bergetar liar.
Namun—Di saat Basilisk menekan lebih kuat—Ferisu menjerit pelan.
Bukan karena serangan.
Melainkan dari dalam dirinya sendiri.
Jiwanya—retak lebih besar.
Cahaya gelap merembes dari celah di dadanya.
Noa membeku.
“Ferisu-sama…!”
Eliza memeluk tubuhnya yang hampir ambruk.
“Ferisu-sama, hentikan kontraknya!”
Namun Basilisk belum selesai.
Ia mengangkat Aries tinggi, siap menghancurkan tubuhnya ke tanah.
Dan tepat saat itu—retakan di langit terbuka lebih lebar dari sebelumnya.
Sesuatu yang jauh lebih besar bergerak di baliknya.
Bayangan raksasa.
Dan suara yang lebih dalam dari sebelumnya bergema.
“Intervensi terdeteksi.”
Basilisk berhenti.
Aries yang terjepit tiba-tiba tersenyum.
Ya.
Tersenyum.
Kilauan bintangnya berubah menjadi merah pekat.
“Otoritas turun.”
Tekanan yang turun dari langit—jauh melampaui Aries.
Basilisk mengangkat kepalanya, mendesis waspada.
Ferisu yang setengah sadar merasakan satu hal yang jelas.
Makhluk yang akan turun—bukan sesuatu yang bisa ditahan hanya dengan satu roh kontrak.