Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cara Sederhana untuk Bertahan
Tidak semua kenangan tentangnya terasa menyakitkan.
Ada bagian-bagian kecil yang justru membuatku bertahan lebih lama dari yang seharusnya.
Salah satunya… hari itu.
Aku tidak melihat langsung kejadiannya.
Tapi kabarnya datang lebih dulu.
“Dia berantem tadi.”
Aku mengernyit saat mendengar itu dari salah satu rekan kerja.
“Siapa?” tanyaku, meskipun dalam hati aku sudah tahu jawabannya.
“Raka. Sama temannya.”
Dadaku langsung terasa tidak enak.
“Serius?”
Dia mengangguk.
“Lumayan parah. Mukanya sampai memar.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Aku tidak tahu kenapa reaksiku seperti itu.
Harusnya itu bukan urusanku.
Tapi kenyataannya, aku tidak bisa bersikap biasa saja.
Sepanjang hari, pikiranku terus kembali ke hal itu.
Membayangkan dia dalam keadaan seperti yang diceritakan.
Dan tanpa sadar…
aku mulai merasa khawatir.
Sore itu, saat akhirnya aku bertemu dengannya,
aku langsung tahu cerita itu bukan berlebihan.
Ada memar di wajahnya.
Tidak terlalu parah,
tapi cukup jelas untuk membuatku terdiam beberapa detik.
“Kamu kenapa?” tanyaku pelan.
Dia terlihat sedikit kaget dengan reaksiku.
“Nggak apa-apa,” jawabnya singkat.
Aku menatapnya,
tidak puas dengan jawaban itu.
“Katanya kamu berantem.”
Dia menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis.
“Cuma masalah kecil.”
“Sampai mukamu kayak gini dibilang kecil?”
Dia tertawa pelan.
“Udah biasa.”
Aku tidak ikut tertawa.
Entah kenapa,
melihat dia seperti itu justru membuat hatiku tidak tenang.
“Kamu harusnya lebih hati-hati,” kataku.
Nada suaraku mungkin terdengar lebih peduli dari yang aku rencanakan.
Dia menatapku beberapa detik.
Lebih lama dari biasanya.
Lalu tiba-tiba, dia berkata pelan,
“Maaf ya.”
Aku sedikit terkejut.
“Maaf kenapa?”
Dia menunduk sebentar,
lalu kembali menatapku.
“Aku nggak seharusnya kayak gitu.
Aku tahu kamu pasti khawatir.”
Aku tidak langsung menjawab.
Karena jujur…
aku memang khawatir.
Tapi mendengar dia mengakuinya seperti itu,
membuat perasaanku jadi berbeda.
Lebih hangat.
“Aku cuma…” dia berhenti sejenak.
“Pengen peluk kamu.”
Kalimat itu membuat waktu seolah berhenti sebentar.
Aku menatapnya,
tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Bukan karena aku tidak mengerti maksudnya…
tapi karena aku tidak menyangka dia akan mengatakan itu.
Dalam situasi seperti ini,
dia justru memikirkan aku.
Bukan dirinya.
Bukan rasa sakitnya.
Tapi aku.
Dan entah kenapa…
itu cukup untuk membuat hatiku luluh.
Aku tidak benar-benar memeluknya saat itu.
Tapi kami berdiri cukup dekat,
dalam jarak yang membuat semuanya terasa berbeda.
Lebih dekat dari biasanya.
Lebih jujur dari yang pernah kami akui.
“Jangan berantem lagi,” kataku pelan.
Dia mengangguk.
“Iya.”
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kata-kata manis yang berlebihan.
Tapi cara dia menatapku saat itu…
cukup untuk membuatku merasa
aku berarti.
Dan mungkin,
itu yang membuatku bertahan lebih lama dari yang seharusnya.
Karena di antara semua luka yang perlahan muncul,
masih ada momen-momen seperti ini
yang membuatku percaya…
bahwa dia sebenarnya peduli.
Bahwa di balik semua sikapnya yang berubah,
masih ada bagian dari dirinya
yang memilih aku.
Dan aku…
memilih untuk percaya pada bagian itu.
Meskipun aku tidak tahu,
sampai kapan aku bisa terus bertahan
dengan keyakinan yang sama.
Malam itu, setelah semua percakapan sederhana itu selesai,
aku pulang dengan perasaan yang berbeda.
Bukan karena semuanya tiba-tiba menjadi sempurna,
tapi karena ada sesuatu yang kembali terasa hidup di dalam hatiku.
Untuk sesaat, aku memilih melupakan semua keraguan yang pernah ada.
Aku hanya ingin percaya…
bahwa apa yang aku rasakan hari itu nyata.
Bahwa dia benar-benar peduli.
Dan bahwa mungkin…
aku tidak sepenuhnya sendirian dalam perasaan ini.