NovelToon NovelToon
Bukan Inginku Jadi MADUMU

Bukan Inginku Jadi MADUMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Single Mom
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.

"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.

Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.

Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ngidam rujak

Suatu malam, jam di dinding baru menunjukkan pukul sepuluh lebih sedikit. Suasana rumah sudah mulai hening. Haikal sudah masuk kamar sejak lama, Nora juga pamit beristirahat lebih awal karena kelelahan setelah seharian bertugas di rumah sakit. Tinggal Yusuf yang masih duduk di ruang tengah, sesekali melirik berkas pekerjaannya yang belum selesai, sebelum akhirnya ia pun beranjak naik ke lantai atas.

Siti sendirian saja di dapur, sedang membereskan sisa-sisa peralatan makan. Perutnya yang makin hari makin membesar terasa berat menekan pinggang dan punggungnya. Namun ada rasa lain yang mengganjal, bukan rasa sakit, melainkan rasa ingin yang mendesak, rasa yang sudah ia tahan sejak sore tadi.

Mulutnya terasa hambar sekali. Lidahnya terasa pahit, dan entah kenapa bayangan potongan mangga muda, bengkuang, nanas, disiram bumbu rujak yang pedas, manis, dan asam itu terus berputar di kepalanya. Sudah hampir dua jam ia berusaha mengusir keinginan itu, minum air putih, makan biskuit, tapi tak ada yang berhasil menghilangkan rasa ngidam yang begitu kuat itu.

"Ingin sekali makan rujak..." batin Siti sambil mengelus pelan perutnya. Janin di dalam sana seolah ikut menuntut, bergerak-gerak tak tenang seolah mendesak ibunya untuk memenuhi keinginan itu.

Tangan Siti berhenti bergerak saat teringat pada Yusuf. Ia sempat berpikir sejenak untuk memanggil laki-laki itu, meminta tolong dibelikan. Tapi bayangan wajah Nora yang dingin namun penuh luka itu langsung melintas di pikirannya. Ia teringat pesan yang tak terucap. 'Jangan minta lebih. Jangan jadi beban. Jangan bikin masalah baru'.

Siti menggeleng pelan, menepis keinginan untuk memanggil Yusuf. "Tidak boleh. Kalau saya minta ke Mas Yusuf, nanti bagaimana kalau Mbak Nora tahu? Pasti dia akan merasa tersinggung. Pasti dia akan berpikir saya mulai menuntut hak istri, mulai meminta-minta perhatian suaminya. Saya tidak mau bikin salah paham lagi. Saya sudah cukup jadi sumber masalah di rumah ini," ucap Siti sendirian.

Ia juga sadar, posisinya di rumah ini sangatlah rapuh. Ia hanya wanita yang menumpang, wanita yang membawa kesalahan ke dalam rumah tangga mereka. Meminta hal sesederhana apa pun pada Yusuf, terasa berat dan salah di hatinya. Ia tak mau merepotkan siapa pun, apalagi sampai membuat suasana hati Nora makin buruk.

"Tidak apa-apa... dekat kok warungnya," gumamnya pelan pada diri sendiri, sambil melirik ke arah jendela dapur. Jarak dari rumah ke warung Bu Lina yang biasa jual rujak itu hanya sekitar lima menit berjalan kaki. Jalanan pun masih cukup ramai dan terang lampu jalan.

Dengan hati-hati, Siti mengelap tangannya, lalu mengambil jilbab dan jaket tebal yang ia gantung di belakang pintu. Ia berniat pergi diam-diam, tak membangunkan siapa pun, tak memberi tahu siapa pun. Cukup ia saja yang tahu. Ia tak ingin merepotkan Yusuf yang pasti sudah lelah, apalagi sampai membuat Nora salah paham seolah-olah ia sedang mencari perhatian.

"Adek pengen banget ya? Kita pergi berdua saja ya. InsyaAllah aman kok, Nak," ucap Siti membawa bayinya bicara.

Langkahnya pelan sekali saat melintasi ruang tengah. Matanya melirik ke arah tangga yang menuju kamar utama. Sunyi. Yusuf dan Nora pasti sudah tidur. Siti menghela napas lega, lalu membuka dan menutup pintu depan dengan sangat hati-hati, hingga tak terdengar bunyi sama sekali.

Udara malam langsung menyambutnya, sejuk dan sedikit lembap. Siti melangkah pelan, tangan kanan selalu menopang pinggang dan perutnya yang membulat besar. Setiap langkah terasa sedikit berat, tapi rasa ingin makan rujak itu seolah memberi tenaga lebih baginya. Di dalam hatinya, ia merasa lega karena tak ada yang tahu, tak ada yang terganggu.

Di dalam kamar utama di lantai dua, Yusuf sebenarnya belum tertidur. Ia berbaring memunggungi Nora, matanya masih terjaga, pikirannya masih kalut memikirkan segala hal. Tiba-tiba, samar-samar ia mendengar suara pintu depan terbuka dan tertutup. Suara yang sangat pelan, tapi telinganya menangkapnya jelas.

Yusuf mengerutkan kening. Jam segini siapa yang keluar? Ia berbalik badan, melirik ke arah Nora yang tampaknya sudah terlelap dalam tidurnya yang tak tenang, terlihat dari alisnya yang sesekali berkerut. Yusuf bangkit perlahan, turun dari tempat tidur, berjalan menuju jendela yang menghadap ke halaman depan.

Dari balik tirai, ia melihat sosok wanita berjalan pelan menjauh dari pagar rumah. Baju gamis sederhana, jilbab yang menutupi kepala hingga sebatas bahu, dan bentuk tubuh yang tak mungkin ia lupakan—perut besar itu milik Siti.

Jantung Yusuf seakan berhenti berdetak sesaat. "Siti? Kemana dia jam segini? Sendirian?"

Tanpa berpikir panjang, Yusuf langsung mengambil jaketnya dan bergegas keluar kamar. Ia tak membangunkan Nora, takut menimbulkan pertanyaan atau keributan yang tak perlu. Ia turun tangga dengan langkah cepat namun tetap berusaha tenang, lalu keluar pintu menyusuri jalan yang sama dengan arah tadi Siti berjalan.

Dari kejauhan, ia melihat Siti berjalan tertatih-tatih, sesekali berhenti sejenak untuk mengusap pinggangnya yang pasti terasa pegal. Hati Yusuf perih melihat pemandangan itu. Wanita itu sedang mengandung anaknya, besar perutnya, namun harus berjalan sendirian di malam hari. Kenapa tidak memanggilnya? Kenapa tidak bilang?

Sampailah Siti di depan warung Bu Lina yang masih buka. Wajahnya yang tadinya tampak lelah, kini sedikit berbinar melihat tumpukan buah-buahan segar di sana.

"Eh, Mbak Siti? Kok malam-malam keluar? Sendirian saja?" sapa Bu Lina kaget, melihat keadaan Siti yang sedang hamil besar.

Siti tersenyum canggung, napasnya sedikit terengah karena berjalan. "Iya, Bu... kebetulan lewat saja. Saya... saya kepingin beli rujak sedikit. Darah daging ini yang minta, Bu," jawabnya sambil tertawa kecil berusaha mencairkan suasana.

"Ya ampun, Mbak. Kalau mau beli suruh saja Mas Yusuf atau asisten yang belikan. Bahaya lho jalan malam-malam begini, apalagi kandungan sudah tua begini. Jangan nekat begitu lagi ya," tegur Bu Lina sambil segera menyodorkan piring berisi potongan buah.

Siti hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, tak berani menjelaskan alasan sesungguhnya. Ia tak mungkin bilang: Saya takut minta sama suami saya, Bu. Saya takut istri sahnya salah paham. Saya takut dianggap merebut hak dia.

Baru saja Bu Lina mulai mengulek bumbu rujak, terdengar langkah kaki cepat mendekat. Keduanya serentak menoleh. Yusuf berdiri di sana, napasnya sedikit memburu karena terburu-buru, keningnya berkeringat dingin karena cemas. Wajahnya terlihat campur aduk antara lega karena menemukan Siti aman, dan marah bercampur sedih melihat keadaannya.

"Mas Yusuf?" kaget Bu Lina. "Lho, kok bapaknya datang juga? Tadi katanya Mbak Siti sendirian..."

Siti membatu. Wajahnya seketika memucat. Ia menunduk dalam, tangannya meremas ujung gamisnya. Rasa takut menyelimutinya. Ya Allah... ketahuan. Bagaimana kalau Mbak Nora sampai tahu? Pasti dia akan berpikir saya mencari-cari kesempatan sama Mas Yusuf.

Yusuf tak menyahut ke arah Bu Lina. Ia langsung melangkah mendekat ke sisi Siti, menatap wanita itu lekat-lekat. Matanya menampakkan rasa sakit yang mendalam. Pelan namun tegas, ia bertanya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

"Kenapa tidak panggil aku, Siti? Kenapa harus keluar malam-malam begini sendirian? Kamu sadar tidak sih, kondisi kamu seperti ini... berisiko sekali kalau ada apa-apa di jalan?"

Suara Yusuf rendah, namun terasa begitu berat dan penuh penyesalan.

Siti masih menunduk, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Ma... maaf, Mas... Saya... saya cuma kepingin rujak saja. Cuma sebentar, dekat kok. Saya... saya tidak mau merepotkan Mas. Mas kan sudah capek kerja. Lagian..." suaranya tercekat, "lagian saya takut... takut Mbak Nora salah paham kalau saya minta ini-itu sama Mas. Saya tidak mau jadi masalah lagi. Saya pikir saya bisa beli sendiri, nanti pulang diam-diam, nggak ada yang tahu."

Kalimat itu menusuk tepat di dada Yusuf. Ia menatap wanita itu, melihat betapa kecil dan tak berdayanya posisi Siti di rumahnya sendiri. Bahkan untuk hal sesederhana memenuhi keinginan ngidam, ia harus menimbang-nimbang, harus takut-takut, harus rela berjalan kaki di malam hari demi menjaga perasaan istrinya yang sah, demi menjaga ketenangan rumah tangga yang sudah ia rusak.

Rasa bersalah Yusuf bertambah berkali-kali lipat. Ia sadar, dialah penyebab semua ketakutan itu. Dialah yang membuat Siti harus hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah dan ketidakberanian.

Yusuf menghela napas panjang, lalu mengulurkan tangannya, menyentuh lengan Siti dengan lembut namun pasti. Tatapannya melembut, hilang sudah nada kerasnya tadi.

"Kamu tidak pernah merepotkan aku, Siti. Kamu bawa anakku, anak yang aku tanggung jawabkan. Jangan pernah merasa minta tolong itu salah. Dan... biar aku yang urus soal Nora. Kamu tidak perlu takut, tidak perlu sembunyi-sembunyi begini demi aku atau demi dia. Bahaya kalau kamu kenapa-napa."

Yusuf berbalik ke arah Bu Lina, suaranya kembali biasa namun tegas. "Bu, bungkuskan rujaknya sekalian ya. Yang banyak bumbunya, dia sukanya sedikit pedas. Dan tambahkan buahnya lagi. Saya yang bayar."

Lalu Yusuf kembali menatap Siti, menyodorkan tangannya untuk digandeng. "Ayo pulang. Aku yang antar. Pegang lengan aku. Jangan jalan sendiri-sendiri lagi ya. Kalau ada apa-apa, mau apa saja, meski menurutmu sepele, bilang. Aku janji, aku akan atur supaya tidak ada kesalahpahaman. Tapi tolong... jangan ambil risiko begini lagi. Aku takut, Sit."

Siti mengangguk pelan, air matanya jatuh satu butir, namun ia segera menghapusnya cepat. Ia menerima uluran tangan itu, menggandeng lengan Yusuf dengan ragu namun juga rasa lega yang mendalam.

Di sepanjang perjalanan pulang, mereka berjalan beriringan dalam diam. Yusuf berjalan lebih lambat, menyesuaikan langkah lebarnya dengan langkah kecil Siti. Ia berjalan di sisi pinggir jalan, melindungi wanita itu dari kendaraan yang lewat. Di dalam hati Siti, rasa bahagia sederhana karena keinginannya terpenuhi bercampur dengan rasa sedih yang mendalam. Bahwa ternyata, ia harus menempuh jalan yang memutar dan menakutkan hanya untuk mendapatkan perhatian kecil yang seharusnya menjadi hak anaknya.

Sesampainya di rumah, Yusuf memastikan Siti masuk kembali dengan aman, lalu ia masuk bersamanya ke dapur, membiarkan Siti duduk tenang menikmati rujak yang ia idamkan itu.

"Makan sampai puas. Jangan ditahan-tahan lagi," bisik Yusuf sebelum kembali naik ke atas, kembali ke kamarnya, kembali ke sisi Nora, seolah-olah tak pernah keluar sama sekali.

Namun malam itu, hati Yusuf tak lagi sama. Ia sadar, betapa beratnya beban yang dipikul Siti diam-diam, dan betapa banyak hal kecil yang ia lewatkan hanya karena sibuk menjaga keseimbangan yang rapuh di rumah itu. Dan di sudut dapur yang remang-remang, Siti makan rujak itu dengan perasaan yang campur aduk. Rasanya asam, manis, dan pedas persis seperti hidupnya saat ini. nikmat ada, tapi selalu dibalut rasa sakit dan ketakutan.

Bersambung....

1
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
critany mntap kk,poligami,smngat ykk
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
Nora egois gktulungan
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
srba slah smua kyany SMA snora ini
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
mksd dri prtnyaanmu apa sih anak kutu
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
nah gtu dong hrs tegas
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
prgi aj ish,atau Siti abg tamvan yg jemput mau👉👈,Siti SMA abg tamvan aj,abg jnji Siti abg jaga dan urus sprti Malika skacag kedele🤭
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
gaji?,gila kmu y
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
dia brhak punya ayah,TPI kau gbsa tegas SMA istri tuamu,dsni yg trsiksa badan dan batin itu siti
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
yudh pigi aj,mentalmu jga hrs kau jga
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
mmg sih gda wanita yg mau dmadu,pun pria gda yg mau dduakn,TPI dsni Siti korban uyyy,ingt itu korban,BKN sngja mnggoda suamimu
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
TPI kau jga hrus bnarbnar adil SMA Siti loh Yusuf,slma dia jdi istrimu prlkukan dia sbgaimna istri prtamamu
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
yg sabar sit,SMG nntiny kau gpisah dri ank dan suamimu
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
masih kcil loh itu,psti dia dngr orgtuany blg sprt itu
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
y gmslh KLO Siti ska,kn Yusuf suaminy🙄
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
dih tampol aj udh
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
sykurlh mrtuany baik
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
sharusny Yusuf jgn mngikutin bngt kemauan Nora,bgaimnapn Siti itu istriny,hrs bsa adil dong
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
mka kau brdosa Yusuf
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
kteepaaangg katany🙄
❀∂я🆁🅰🅹🅰Riᷯsͧkᷜyͥ⁴ᵐ•§͜¢•
enkny y mmisahkn ank dan ibu,KLO mmg mau mlepaskn Siti biarkn aj ankny ikt dia, kn Siti ibuny
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!