Mati karena peluru lalu jiwa bertransmigrasi ke dalam raga seorang yang ternyata adalah seorang figuran tanpa nama yang miskin. Anin pun bertekad untuk merubah takdir nya memanfaatkan wajah polos raga barunya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak rapuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chp 10
Karena Silviana tak memiliki kawan sesama perempuan sejak awal membuat ia begitu bergantung kepada pertemanan nya dengan Arsen dkk. Lagipula Silviana tak berniat untuk menjalin pertemanan dengan perempuan, bagi nya itu merepotkan. "Kak, Ara nebeng ya papa gak bisa jemput katanya" ujar Elara
Bel pulang sekolah sudah berbunyi lebih dari 5 menitan. "Gue gak bisa!" tolak Silviana
"Ta-tapi papa gak bisa jemput Ara,"Ucap Elara deng mata berkaca-kaca
"Mandiri dong, pesan taksi keki" Silviana berjalan menuju mobilnya. Meninggalkan Ara yang hampir menangis di parkiran.
Arsen dkk hari ini tidak terlihat di parkiran, bukan karena mereka pulang lebih dahulu tapi karena sedang latihan basket.
"Loh Ara belum pulang?"ucap Sora
"Papa gak bisa jemput" lirih Ara. Mata gadis itu berembun. Gadis yang menegur Ara itu ingin sekali melahap pipi Ara yang kemerah-merahan itu.
"Pulang sama gue yuk, gue bawa mobil." ajak nya.
"Sora bisa nyetir?" Gadis dengan nama lengkap Sora Pratama itu terkekeh geli melihat kepolosan teman sekelasnya ini.
"Bisa dong, gimana mau gak?"jawab Sora
Ara mengangguk. "Yok let's go!" pekik Sora.
Mobil sport itu sampai ke depan gerbang mansion Maheswari dengan mulus tanpa hambatan Ara di antarkan dengan selamat.
"Terimakasih ya Ala," ucap Ara tulus.
Sora mengangguk. "Sama-sama imut!"
Ara masuk setelah mobil Sora menjauh dari depan gerbang. Menghela nafas berat sebentar, Ara kemudian masuk dengan ekspresi polos nya.
Melihat suasana rumah yang sunyi membuat Ara bingung. "Nyonya sedang ke kantor tuan Pramudita, nona muda. Katanya mengantarkan berkas penting." ujar kepala pelayan yang tiba-tiba menghampiri Ara yang
belum naik masuk ke kamar, fyi Ara selama ini tidur bersama dengan Pramudita dan Larasati jadi Ara belum memiliki kamar pribadi.
"Kalo kak Silviana?"tanya Elara
"Non Silviana juga belum pulang."
Ara mengangguk sambil tersenyum. "Terimakasih bi, tolong siapkan makan siang ya Ara lapar," pinta nya dengan senyum canggung kepala pelayan itu langsung mengiyakan dengan cepat Ara yang sudah masuk ke dalam kamar langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Membuka benda pipih miliknya yang di belikan Pramudita itu. Ara memiliki handphone pribadi setelah merengek kepada
Pramudita selama seharian penuh.
"Kayaknya aku harus minta kamar pribadi deh," gumam Ara. Jari kecilnya sibuk menggulir layar. Matanya pun bergerak liar mengamati gambar yang terpampang di layar ttersebut.
"Gimana kalau ini aku praktekin besok?" gumamnya sambil tertawa kecil. Ara menyimpan video itu ke galeri nya. Video dua orang yang berciuman bibir dengan mesra.
"Kira-kira siapa ya?" pikir nya bingung.
"Gimana kalau Julian?" smirk Ara. Dengan cepat Ara mengirimkan pesan kepada Julian. Mengajak nya untuk jalan-jalan saat akhir pekan besok.
Setelah mendapatkan balasan 'ya' dari Julian, Ara melompat dari ranjang. la segera mencari baju santainya.
Ara yang sudah melepaskan seluruh seragam nya berdecak kesal saat melihat tubuhnya di cermin. Tubuh yang terlalu mungil membuat dada berukuran tak seberapa. Tubuh ini pun juga belum menstruasi. "Semoga saat mens nanti aku tidak merasakan sakit perut dan pinggang!" bisik Ara.
la segera memakai pakaiannya saat mendengar panggilan kepala pelayan di balik pintu Ara akhirnya makan sendirian.
Silviana yang tak langsung pulang itu ternyata singgah di sebuah pusat perbelanjaan. Membeli pakaian baru yang feminim.
"Mbak, saya mau nanya. Biasanya dress seperti apa yang cocok buat kencan bersama tunangan?"
Penjaga toko pakaian itu segera menunjukkan beberapa dress yang masuk dalam pertanyaan Silviana. "Dress seperti ini adalah yang paling cocok."
"Benarkah?" tanya Silviana ragu.
Pasalnya dress itu terlihat terbuka di bagian dada dan punggung. Penjaga itu tersenyum. "Ini adalah yang paling cocok karena akan menambah keromantisan apalagi saat dingin datang. Tunangan anda pasti memakaikan jaket atau jas nya kepada anda."
Penjelasan dari penjaga toko itu membuat Silviana tertarik. "Baiklah aku ambil yang ini, ngomong-ngomong apakah kamu tahu salon terbaik di mall ini?"
"Salon Boutique's adalah yang terbaik, pemilik nya adalah rekan saya nona."
Setelah mendapatkan dress itu, Silviana keluar segera mencari salon dengan nama Boutique's itu. Dia akan melakukan perawatan dan make-up tentu saja tujuan nya untuk mengalahkan Ara yang tampangnya seperti anak ingusan.
Pertemuan Pramudita dan Raditya dilakukan di sebuah restoran. Mereka memesan private room terlalu merepotkan untuk booking restoran. "Bagaimana Pram, anak mu setuju?"
Pramudita mengangguk menanggapi pertanyaan Raditya. "Silviana setuju untuk di jodohkan dengan Arsen,"
Arsen yang mendengar itu kaget. "Yah,aku buk..."ucap Arsen dijeda
"Apa langsung tukar cincin?" Silviana memotong ucapan Arsen. "Silviana." tegur Larasati pelan. Santi tersenyum manis,
"tidak usah menegur putri mu. Ya, kita langsung tukar cincin seperti yang putri mu inginkan." Santi mengeluarkan kotak kecil dari tas nya.
"Ayo nak, pasangkan ini di jari gadis mu." ucap Santi dengan nada menggoda.
"Bu, buka..."ujar Arsen dijeda lagi
"Ayo pasang kan, Ara akan rekam dari sini!" sahut Elara dengan semangat
Melihat kondisi yang tidak seperti Arsen bayangkan, pemuda itu terlihat frustasi. Dan Ara menyukai nya. Sepertinya di keluarga Mahendra sedang terjadi kesalahpahaman besar.
"Ah, dia putri ku juga Elara Mahendra," ucap Pramudita menjawab kebingungan dua orang dewasa yang akan menjadi besan nya.
"Maaf sebelumnya om, saya sebenarnya ing..." sahut Arsen dijeda Elara
"Kak Arsen ungkapin perasaan nya nanti aja deh, cepat pasangin cincin nya!" desak Ara tak membiarkan Arsen mengungkapkan keinginan aslinya.
"Ayo sayang, katanya mau cepat-cepat jadiin tunangan. Kok sekarang malah lamban gini?" ujar Santi kepada Arsen
menatap sekali lagi ke arah Ara. Gadis itu terlihat tidak peduli, Ara sibuk memegang satu kamera. Ekspresi nya pun sangat polos.
Dengan enggan dan terpaksa, Arsen memasangkan cincin itu ke jari manis Silviana. Ara kemudian bertepuk tangan heboh sambil mengucapkan selamat.
Arsen yang tak bisa meluruskan kesalahpahaman ini hanya terduduk dengan lemas di kursi nya.
Makan malam itu berakhir. Ara pulang bersama dengan Pramudita dan Larasati sedangkan Silviana bersama Arsen tentu saja atas usulan kedua orang tua Arsen sendiri.
"Arsen aku cantik gak?"ucap Silviana
Arsen menoleh mengamati Silviana. Gadis itu memang berbeda, terlihat lebih feminim. Namun pakaian nya terlalu terbuka. Apakah gadis itu tidak kedinginan? Arsen saja terkadang merinding saat merasakan angin berhembus bebas di sekitar tubuhnya.
"Lain kali jangan berpakaian seperti ini," ujar Arsen. Pemuda itu sudah sampai di pekarangan kediaman Maheswari. Silviana yang mengartikan itu sebagai tanda cemburu pun tersenyum malu-malu.
"Baiklah, selamat malam Arsen,"ujar Silviana
Cup
Silviana segera keluar setelah dengan beraninya mengecup bibir Arsen. Arsen yang mendapatkan kecupan itu menggeram tidak suka. Ia dengan cepat mengusap bibirnya
menggunakan tisu.
"Hanya Ara yang boleh mencium ku!"ucap Arsen
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambunggggggggggg
semangat buat auto ya 💪💪💪