Di belahan bumi lain, setelah pembicaraannya dengan Marchel dan Wira, Willy merasa sangan galau. Pertanyaan demi pertanyaan terus memenuhi benaknya, tentang bagaimanakah perasaan yang ia miliki pada Elsa. Betapa pun berusahanya Willy melupakan Shan dan menggantinya dengan Elsa, namun perasaan tetap tidak dapat dibohongi. Selama beberapa tahun belakangan sudah banyak wanita yang berkencan dengannya, dan semua berakhir sebelum batas yang telah ditentukan. Dan mungkin dengan Elsa pun akan gagal. Tiga bulan adalah batas waktu yang ditetapkan olehnya.
Bayang-bayang Elsa pun menari-nari di benaknya. Betapa gadis itu sangat berusaha membuat Willy bisa menerimanya dengan merubah dirinya menjadi Shan.
*******
“Apa yang paling kau suka di dunia ini?” Tangan Willy terulur menggenggam tangan Elsa dan meletakkan di dadanya.
Suatu malam yang indah, setelah Willy berhasil membawa kabur Elsa dari ketiga kakaknya menuju sebuah villa yang tidak begitu jauh dari pusat kota. Setelah sebelumnya mampir di supermarket untuk berbelanja bahan makanan dan melakukan pesta barbeque berdua. Ya, sebuah kencan yang sangat romantis. Setelahnya Willy membawa Elsa menuju atap dan berbaring di sana, berselimutkan langit berhias bintang.
“Aku suka bintang,” jawab Elsa. Matanya menatap cahaya bintang, seperti ingin menghitung jumlahnya.
“Kenapa?”
“Karena bintang memiliki cahayanya sendiri. Dia tidak membutuhkan cerminan atau pantulan dari benda lain untuk bisa bersinar. Tidak seperti bulan, yang membutuhkan cahaya matahari untuk bisa bersinar.”
“Cahaya bulan juga indah.”
“Tapi bumi lebih memuja matahari. Karena matahari lebih terang. Selain itu, bumi membutuhkan bulan untuk bisa merasakan cahaya matahari di malam hari.”
Perlahan genggaman tangan Willy yang tadinya erat mulai merenggang. Ia dapat menangkap apa yang coba disampaikan oleh Elsa melalui Bulan, matahari dan bumi. Shan seperti matahari yang terus bersinar di hati Willy, sedangkan Elsa layaknya bulan yang hanya di butuhkan bumi untuk memantulkan cahaya matahari.
“Tanpa adanya cahaya matahari, apakah bumi akan tetap membutuhkan bulan?” Satu pertanyaan Elsa yang berhasil membungkam Willy. Elsa kembali meraih tangan Willy dan menggenggamnya. “Tidak mengapa. Walaupun begitu, bulan tidak pernah mengingkari janjinya untuk datang di malam hari, dan menerangi bumi.”
Seperti hal nya bulan yang memantulkan sinar matahari, begitu juga dengan Elsa yang mencerminkan Shanum di dalam dirinya demi Willy.
Willy tersadar dari lamunan. Ia melirik Elsa yang masih menatap bintang dengan wajah sedih. Terbelenggu oleh rasa bersalah, Willy segera bangkit dan membawa Elsa menuju balkon dimana sebuah teropong bintang tersedia di sana.
“Kau membawa teropong bintang?” tanya Elsa penuh semangat.
“Hem … Tadi kau bilang suka bintang.”
Elsa begitu terpaku oleh sosok pria di depannya, Willy memang sosok yang penuh dengan kejutan, dan kadang keromantisannya membuat Elsa lupa, bahwa mereka menjalin hubungan hanya berdasarkan sebuah perjanjian semata. Namun kali ini, Elsa ingin egois. Tidak apa-apa jika hubungannya dengan Willy hanya sebatas tiga bulan.
Tanpa menunggu lagi, gadis itu mendekat pada benda itu. “Bagaimana cara menggunakannya?”
Seulas senyum tipis hadir di sudut bibir Willy. Ia berdiri tepat di belakang Elsa, sehingga tangannya melingkari tubuh mungil itu. Sambil menyetel teropong agar menemukan posisi yang tepat.
“Selesai. Skarang cobalah.”
Senyum di wajah Elsa tak pernah meredup, terlebih saat ia dapat melihat dengan jelas bentuk bintang dari jarak dekat. Sesuatu yang ingin ia lihat secara langsung sejak lama.
**
"Kau senang?" bisik Willy.
Elsa diam dan tidak bergerak saat merasakan Willy mengecup ubun-ubunnya, sesaat setelah ia begitu bahagia menatap bintang dengan lebih jelas melalui teropong. Ia menggenggam tangan Willy yang kini melingkar di perutnya.
“Apa boleh aku meminta sesuatu darimu?” tanya Elsa.
“Boleh.”
“Saat kesepakatan tiga bulan kita berakhir, bolehkah kita tetap berteman?” Elsa berbalik sehingga posisi mereka kini berhadapan. “Mungkin aku akan merindukan kegilaanmu, saat kau menculikku dari ketiga kakakku seperti hari ini. Tidak ada yang pernah berani melakukannya selain kau. Jadi aku pikir tidak ada salahnya kalau kita berteman.”
“Apa kau berharap kesepakatan itu berakhir?”
“Bukankah waktunya hanya tiga bulan?”
“Iya … tapi maaf, aku tidak bisa berteman dengan mantan.”
"Kenapa tidak bisa?"
Willy mengusap puncak kepala Elsa dan mengecup keningnya. "Karena itulah jangan pernah menjadi mantan. Kau punya pilihan bersamaku selamanya, lalu kenapa harus berpisah."
"Tapi bagaimana kalau..." Belum sempat Elsa menyelesaikan kalimatnya, bibirnya sudah dilahap lebih dulu oleh Willy. Sebuah ciuman manis yang membuat Willy melupakan sejenak tentang Shan. Tangannya terangkat menahan tengkuk agar kedua bibir itu tidak segera terpisah. Ya, Willy benar-benar menikmatinya. Tanpa ia sadari, sensasi hangat dan lembutnya bibir Elsa telah menjadi candunya.
"Bagaimana kalau kita lupakan tentang perjanjian tiga bulan itu dan memulai segalanya dari awal, dengan lebih serius?" Ucap Willy sesaat setelah melepas ciuman.
Elsa mendongakkan kepala, lalu menatap ke dalam mata Willy. Kini kedua bola matanya dipenuhi cairan bening.
"Kau yakin?"
"Tidak pernah seyakin ini sebelumnya. Kau mau kan, memberiku kesempatan?"
Elsa menjawab dengan anggukan, membuat Willy merengkuh tubuhnya. Menghirup wanginya aroma tubuh gadis manis itu.
******
Kenangan demi kenangan sirna seiring dengan lamunan Willy yang membuyar. Tatapannya kembali tertuju pada potret Shan yang terbingkai indah di atas meja. Ia meraih benda itu, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Entah apa yang terjadi padanya malam itu, sehingga menjanjikan keseriusan pada Elsa. Akan tetapi sebagian hatinya masih milik masa lalu.
"Shan, aku minta maaf, aku gagal lagi. Aku sudah berusaha untuk bisa menerima Elsa. Tapi tetap tidak bisa. Aku tahu aku salah karena menjadikan Elsa sebagai tempatku melampiaskan kerinduanku padamu. Tapi ..."
BRUK
Terdengar suara benda terjatuh, membuat Willy menoleh ke sumber suara. Sepasang netranya membulat penuh, saat menyadari sosok yang ada di sana.
"Elsa?"
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Marhaban ya Nur17
pergilah Elsa ngapain ih wkwkww
2025-01-23
0
Sweet Girl
Keren...
2024-07-03
1
Lilisdayanti
udahlah Elsa,, sebaiknya kamu pulang ke istana es mu,,usah di lanjut,,😥
2023-12-10
1