Willy masih mematung di ambang pintu dengan sisa-sisa keterkejutannya akan kedatangan Elsa yang tiba-tiba. Namun ia segera tersadar dari lamunannya dan membawa gadis itu masuk ke dalam rumah.
Dengan tubuh gemetar akibat rasa dingin, gadis itu melangkah perlahan memasuki rumah minimalis itu. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut. Suasana sangat sepi, hanya ada suara televisi yang memecah kesunyian. Menyadari itu, Elsa yakin Willy tinggal seorang diri. Namun, rumah itu tertata dengan sangat menarik dan bersih di setiap bagian, menandakan pemilik rumah adalah seseorang yang suka dengan kerapihan. Elsa melirik ke lantai, dimana jejak kakinya meninggalkan tetesan air, yang membuatnya merasa tidak enak sendiri.
"Maaf, lantainya jadi basah."
Tanpa menyahut, Willy menuju sebuah kamar, tak jauh dari ruang tamu, dan keluar dalam beberapa menit kemudian dengan membawa jubah mandi berwarna putih dan juga sepasang piyama.
"Ganti pakaianmu dulu, kau bisa sakit nanti."
Elsa menatap mata Willy lekat-lekat. Satu hal yang ia sadari, walau pun menyebalkan dan kadang tidak sopan, Willy adalah seseorang yang tidak tegaan. Elsa mengulurkan tangannya, meraih handuk dan piyama pemberian dokter itu.
"Dimana kamar mandinya?"
"Kau bisa mengganti pakaian di kamarku." Willy menunjuk kamar dimana tadi ia masuk.
Perlahan Elsa mengayunkan langkahnya menuju kamar yang ditunjuk Willy. Begitu masuk, aroma maskulin menguar kuat yang memanjakan penciumannya. Elsa menutup pintu perlahan, lalu meneliti setiap bagian kamar bernuansa abu-abu itu. Ia kembali terkesiap dengan kamar yang baginya sangat rapi dan bersih untuk ukuran laki-laki yang masih melajang.
Hanya ada dua buah lemari dan juga sebuah tempat tidur yang tertata rapi.
Di atas meja nakas, terpajang sebuah foto dengan bingkai kayu. Elsa masih bisa mengingat foto wanita dengan senyum menawan itu adalah wanita yang sama dengan foto yang ia temukan di dalam dompet milik Willy.
Entah sadar atau tidak, Elsa meraih bingkai foto itu dan menatapnya. "Sepertinya dia sangat mencintai wanita ini."
Tersadar dari lamunan, Elsa segera masuk ke kamar mandi. Ia berendam dengan air hangat di dalam sana hingga lupa waktu.
Sementara di luar sana, Willy melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Dahinya mengerut, saat menyadari Elsa tak kunjung keluar dari kamar padahal sudah lebih dari satu jam ia berada di dalam sana. Mungkinkah Elsa pingsan? Hanya pikiran itu yang terlintas di benaknya.
Tak ingin sesuatu terjadi, Willy segera beranjak menuju kamar. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, ia memutar gagang pintu. Sesuatu yang tak terduga pun terjadi.
"Aaaa!" Suara teriakan nyaring Elsa menggema saat Willy memasuki kamar itu. Ia sedang dalam keadaan tak tertutupi sehelai benang pun. Baru saja akan memakai piyama, Willy sudah masuk begitu saja.
Tak seperti Elsa yang terkejut, Willy malah sangat santai. Laki-laki itu lebih mengkhawatirkan teriakan Elsa yang mungkin akan membuat para tetangga bertanya-tanya. Dengan cepat ia mendekat pada Elsa dan menutup mulut gadis itu, yang masih mengeluarkan suara teriakan.
"Ssttt diam!!" ucap Willy dengan mata melotot menakutkan. "Suaramu bisa mengejutkan tetangga."
Dengan kedua tangannya Elsa menutupi bagian tubuhnya yang tidak ingin ia perlihatkan pada siapapun selain kepada suaminya nanti. Namun, dokter mesum itu telah melihat semuanya. Gadis itu mengangguk pelan, sehingga Willy melepas tangannya yang menutupi bibir gadis itu.
"Ke-kenapa kau masuk tanpa mengetuk?" Elsa meraih handuk yang terjatuh ke lantai dan menutupi tubuhnya.
"Dan kenapa kau sangat lama di dalam sini?"
"Aku kan mandi tadi."
"Terserah! Tapi aku tidak mau ada gadis yang mati bunuh diri di rumahku." Tanpa ekspresi yang berlebih, Willy keluar dari kamar itu dengan menutup pintu.
Elsa menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur empuk itu, berusaha meredam rasa malu yang bersarang di hati.
"Santai sekali dia melihat seorang gadis tanpa pakaian."
Pikiran sadarnya kembali bekerja, mengingat Willy adalah seorang dokter ahli kandungan. Tentu saja hal seperti itu sangat biasa baginya.
Gadis itu pun segera memakai pakaian. Ia berdiri di hadapan sebuah cermin sambil memperhatikan penampilannya. Piyama milik Willy sangat kedodoran di tubuhnya, sehingga ia harus melipat di ujung tangan dan ujung kaki.
🍁🍁🍁🍁
Setelah berganti pakaian, Elsa segera keluar dari kamar, menuju sebuah sofa dan duduk di sana sambil menonton acara televisi. Willy tak terlihat, namun indra penciuman Elsa menangkap aroma coklat panas dari dalam sana.
Tak lama berselang, Willy datang dengan membawa dua gelas minuman di tangannya. Seulas senyum tipis hadir di sudut bibirnya, saat menatap Elsa dari ujung kepala ke ujung kaki. Gadis muda itu terlihat sangat menggemaskan dengan piyama miliknya yang kebesaran di tubuhnya. Dan entah mengapa rambutnya yang masih basah terlihat cukup sexy di mata Willy.
Laki-laki itu memberikan salah satu gelas di tangannya pada Elsa. "Minumlah, ini akan membuatmu hangat."
Elsa meraih gelas minuman itu, namun hanya menatapnya. Permukaan cokelat itu masih tertutupi oleh selaput putih tipis yang sepertinya menempel di permukaannya, menandakan minuman itu masih dalam keadaan panas. Pun dengan aroma coklat bercampur jahe yang cukup pekat. Sesekali ia menatap Willy, seakan ragu untuk menyeruput minuman itu. Ia masih ingat pesan kakak sulungnya, yang melarang menerima minuman atau makanan dalam bentuk apapun dari orang asing.
Seolah mengerti keraguan gadis itu, Willy segera membuka suara. "Jangan takut, aku tidak sejahat itu." Ia menukar gelas minuman itu untuk meyakinkan Elsa.
Merasa tidak enak karena isi pikirannya berhasil ditebak Willy dengan telak, ia akhirnya menyeruput minuman itu pelan-pelan. Perpaduan coklat dan jahe yang melewati kerongkongan membuat tubuhnya terasa menghangat.
"Kau tinggal sendiri di sini?" tanya Elsa berbasa-basi.
"Iya, aku tidak punya siapa-siapa." Willy kemudian menjatuhkan tubuhnya di salah satu sofa, kemudian menatap Elsa dengan intens. "Kau dapat alamatku darimana?"
"Aku ke rumah sakit dan tidak menemukanmu. Jadi aku bertanya pada petugas dan meminta alamatmu."
"Oh ..." Willy menyeruput minuman di tangannya, lalu menatap Elsa setelahnya. "Kenapa kau mencariku? Bukankah kakakmu memintamu untuk menjauhiku?"
"Aku rasa tidak ada salahnya kalau aku mencoba denganmu. Bukankah kau bilang, kita akan saling memanfaatkan untuk melupakan masa lalu masing-masing?"
Willy tersenyum tipis mendengar penuturan Elsa. Ia dapat melihat kesedihan mendalam di mata gadis itu. Satu hal yang Willy sadari, Elsa hanya seorang gadis rapuh yang berpura-pura kuat dan galak di hadapan semua orang untuk menutupi kelemahannya.
"Kau yakin?" tanya Willy.
"Tidak," lirihnya. "Aku hanya lelah dengan semua rasa sakit ini."
"Tapi kakakmu pasti sudah memberimu peringatan tentang seperti apa aku, kan?"
Willy tahu dan sadar reputasinya di kalangan dokter cukup buruk, mengingat desas-desus yang beredar bahwa dirinya sangat suka bergonta-ganti pasangan.
"Aku akan pura-pura tidak tahu saja."
"Tapi bagaimana kalau aku memang sebrengsek itu?" Tiba-tiba ruangan itu senyap selama beberapa saat. Elsa dan Willy hanya saling tatap. "Bukankah kau sedang mempertaruhkan dirimu pada seseorang yang salah?"
Dan, jawaban Willy kembali membungkam Elsa. Setidaknya ada satu hal yang membuat Elsa yakin. Meskipun Willy mendapat julukan dokter playboy, di balik semua itu ia adalah seseorang yang sangat setia pada satu wanita yang hingga kini tak dapat dilupakannya.
"Aku rasa kau tidak seburuk itu. Lagi pula, kau bisa menjaga cintamu untuk satu wanita saja, dan itu sudah menjadi bukti bahwa penilaian mereka salah."
"Bagaimana kalau ternyata kau yang salah menilai ku? Bagaimana kalau mereka ternyata benar?"
"Maksudmu?"
Willy menghela napas panjang, lalu tersenyum samar. "Mereka benar. Aku memang suka bergonta-ganti pasangan. Selain itu kau tidak akan mampu memenuhi syaratku."
Elsa membeku, napasnya terasa tercekat. Memikirkan sebuah syarat yang dimaksud laki-laki di depannya. Mungkinkah syarat yang dimaksud Willy adalah memberikan tubuhnya?
Tidakkkkk!!!
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
...Like...
...komen...
...bagi hadiah yang banyak 🤣🤣😂😂...
...follow akun IG Kolom Langit biar keren 🥴...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Sweet Girl
Kejauhan...
2024-07-03
1
Sweet Girl
Udah biasa kaliiii
2024-07-03
0
Debi Rosdiani
sebenarnya kamu datang ke orang yang salah Elsa. Tapi hanya Willy manusia cabe yang bisa bikin kakakmu sadar.
2023-12-27
1