Elsa bangkit dari posisi sebelumnya. Kini ia berdiri di tepi pembaringan pasien dengan kepala menunduk.
Di ambang pintu ada salah satu kakak lelakinya, Evan, yang merupakan saudara kembar Elsa. Seorang calon dokter yang sedang praktek di rumah sakit itu. Ia segera mendekat pada Elsa dan menarik pergelangan tangannya, sehingga posisi Elsa kini berada tepat di sisinya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Evan menatap tajam Elsa.
Gadis itu belum berani menjawab pertanyaan dari kakaknya. Ia terlalu malu kedapatan saat sedang berciuman. Terlebih, Evan adalah yang paling galak di antara ketiga kakaknya.
Evan kemudian menatap tajam pada Dokter Willy, yang kini berdiri di hadapannya. Bahkan Dokter Willy sangat santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Siapa dia?" tanya Evan.
Elsa memberanikan diri menatap kakaknya, kemudian menjawab, "Dokter Willy."
"Aku tahu dia Dokter Willy!" bentak Evan. Sebagai seorang calon dokter, ia mengenal banyak dokter, apalagi Dokter Willy adalah kepala rumah sakit di salah satu rumah sakit terkemuka di kota itu. "Yang aku tanyakan, dia itu siapa mu? Jelaskan apa yang baru saja aku lihat!"
Menyadari Elsa tak berani menjelaskan pada kakaknya, Willy pun segera menyela. "Elsa, kau tidak beritahu kakakmu siapa aku?"
Diam seribu bahasa, Elsa tak menyahut. Yang ia lakukan hanya menundukkan kepala. Akhirnya, Willy melangkah maju selangkah dan menarik pergelangan tangan Elsa, namun Evan segera melepas genggaman itu.
"Jangan sentuh adikku!" bentak Evan.
"Baiklah..." ucap Willy santai. "Tapi masalahnya kami adalah sepasang kekasih, jadi sangat wajar kalau kami bersama."
Evan kembali dikejutkan. Ia melirik Elsa dengan tatapan mengintimidasi. "Apa itu benar? Jadi ini alasanmu tidak pulang semalam?"
Dalam keadaan masih bingung, Elsa mencoba menjelaskan. "Bukan seperti itu. Semalam dia menolongku dan ..."
"Cukup! Aku tidak mau dengar!" Evan kembali menatap Willy dan menunjukkan betapa ia sangat tidak suka adiknya didekati Willy. "Jauhi Elsa, atau kau akan berhadapan denganku."
Tanpa banyak bicara lagi, Evan melingkarkan tangannya di bahu Elsa dan membawanya keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Willy yang masih membeku.
"Posesif sekali. Apa semua kakaknya seperti itu?" gumam Willy sembari menjatuhkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur.
Laki-laki itu meraih sebuah dompet miliknya yang terletak di atas meja nakas. Ia membuka dan menatap sebuah foto yang cukup mesra antara dirinya dan mendiang kekasihnya yang telah pergi untuk selama-lamanya.
"Shan, apa kau akan marah kalau aku mencoba sekali lagi? Aku tidak tahu apa gadis tadi bisa merubahku. Tapi sungguh, aku selalu berusaha untuk bisa merelakan kepergian mu."
Di kamar itu ia kembali mengenang kebersamaannya dengan wanita satu-satunya yang pernah mengisi hatinya. Sejak berpisah dari Shanum, Dokter Willy menjadi seorang pengembara cinta. Ia bergonta-ganti pasangan dan hanya memberi waktu tiga bulan bagi para gadis untuk merebut hatinya. Jika tak bisa, ia akan meninggalkan gadis itu begitu saja.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Tiba di sebuah ruangan, Evan melepas genggaman tangannya dari Elsa. Ia menghela napas panjang, berusaha mengurai kemarahannya atas kejutan tak mengenakkan yang baru didapatinya.
"Apa benar kau dan orang tadi berpacaran?" tanya Evan.
"Sebenarnya ... tidak juga," jawab Elsa ragu-ragu.
Jawaban Elsa membuat Evan mendelik. Ia tidak habis pikir dengan adik kembarnya itu. "Kalau tidak kenapa kalian berciuman begitu mesra?"
Elsa pun membeku. Tidak mungkin ia memberitahu kakaknya bahwa dirinya baru saja terlibat sebuah kesepakatan dengan Dokter Willy.
Masih berusaha meredam emosi, Evan meletakkan tangannya di bahu adiknya itu. "Elsa, dengarkan aku." Evan menatapnya dalam dan menekan. "Jauhi Dokter Willy. Aku tahu benar seperti apa dia. Dia adalah buaya darat. Suka mabuk-mabukan dan menghabiskan waktunya dengan bergonta-ganti wanita. Aku tidak mau kau menjadi korban berikutnya."
Kedua bola mata Elsa membulat sempurna, seolah akan keluar dari tempatnya. Ia tidak menyangka Evan mengenal Willy sejauh itu.
"Kau tahu dari mana?"
Evan melepaskan tangannya dari bahu adiknya itu, kemudian mendudukkannya di sebuah kursi. Ia lalu berjongkok di depannya.
"Gosip ini beredar di kalangan para dokter. Katanya Dokter Willy sangat senang mematahkan hati para gadis. Selain itu aku pernah melihatnya keluar dari sebuah klub malam dalam keadaan mabuk berat dan di papah beberapa orang," jelasnya panjang lebar.
"Tapi semalam dia menyelamatkanku. Aku terjatuh ke danau, selain itu dia sampai dirawat karena menyelamatkanku dari perampok. Mereka melukai Dokter Willy dan membawa kabur mobilku."
"Ya, aku tahu tentang itu. Orang-orang Kak Zian sedang melacak keberadaan mobilmu."
Evan kembali menggenggam jemari adiknya itu. "Aku mohon Elsa, walau pun dia sudah menyelamatkan nyawamu, tapi menjauh lah darinya."
Tak ingin membantah kakaknya, Elsa pun mengangguk tanda setuju. "Baiklah, aku akan menjauh darinya."
"Bagus. Karena kalau kau sampai menjalin hubungan dengannya, Kak Fahri dan Kak Zian pasti akan marah."
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
_
_
_
_
_
Pura-pura bahagia itu sakit. Itulah yang dirasakan seorang gadis cantik bernama Elsa Azkara. Ia boleh saja hidup dalam kemewahan dan termanjakan oleh ketiga kakak laki-laki yang teramat mengistimewakannya. Namun rupanya semua itu bukan jaminan bahwa dirinya akan menjadi gadis paling bahagia di dunia.
Ia merasa, dirinya hanyalah sarang dari luka masa lalu yang tak ada obatnya.
Malam hari, di dalam sebuah kamar dengan pencahayaan temaram, terdengar suara Isak tangis pilu. Elsa sedang berusaha menyatukan kembali sepucuk surat dari masa lalu yang tadi sobek akibat berebut dengan Willy.
Tak dapat ia pungkiri, kehadiran surat itulah yang selama ini menguatkannya. Seorang pria bernama Dimas yang pernah mencintainya telah menikah dan bahagia bersama wanita lain, yang merupakan sahabat Elsa sendiri, Anita.
Tak ingin menjadi penghalang bagi kebahagiaan orang lain, maka Gadis itu hanya dapat mengubur dalam-dalam perasaannya. Tak seorang pun yang mengetahui bahwa dirinya menyimpan perasaan yang sama pada pria bernama Dimas itu. Pun dengan Dimas yang mengira cintanya bertepuk sebelah tangan, sehingga akhirnya memilih menikah dengan wanita lain.
"Aku tidak bisa seperti ini terus. Kak Dimas dan Kak Anita sudah bahagia," gumamnya seraya mengusap air mata.
Dalam pelukan patah hati, gadis itu teringat kembali pada seorang pria dewasa menyebalkan yang menawarkan kesepakatan untuk berpacaran, dengan tujuan untuk mengobati luka hati masing-masing.
Elsa mengusap bibirnya, dimana ciuman pertamanya telah direbut secara tidak terduga oleh seorang pria asing yang baru ditemuinya. Tak dapat dipungkiri, bahwa Elsa sulit melupakan sensasi yang ditimbulkan oleh perlakuan lembut Willy padanya.
"Apa dia benar-benar bisa membantuku untuk keluar dari semua ini?" Ia kembali bergumam. "Ya, aku rasa tidak ada salahnya kalau aku mencoba."
Tak peduli ucapan saudara kembarnya yang meminta untuk menjauhi dokter mesum itu, Elsa hanya ingin terbebas dari patah hati yang menyakitkan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Sweet Girl
Makanya komunikasi... biar tau perasaan singmasing....
2024-07-03
1
Sweet Girl
Lebih dari Evan
2024-07-03
0
Wani Ihwani
semangat Elsa semoga berhasil❤️💪💪💪💪💪💪
2024-04-23
0