"Maaf, maaf ... Aku terkejut. Aku baru saja bermimpi," ucap Elsa sembari mengusap wajahnya.
"Baguslah kalau kau sudah sadar. Sepertinya kau memang kebanyakan bermimpi." Ucapan Willy yang bermuatan ledekan itu membuat Elsa kesal.
Jika saja bukan Willy yang menyelamatkannya semalam, ia pasti sudah memaki habis lelaki di depan nya. Namun sebisa mungkin Elsa menahan agar tidak sampai terpancing.
"Kalau kau sudah baikan, aku akan pulang."
"Memang siapa yang melarangmu pulang?" ujar Willy. "Oh, ya ... Jangan menyusahkan orang lagi dengan kebodohanmu. Mati bukan jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah."
Elsa menganga tak percaya mendengar ucapan tak berperasaan pria yang sedang terbaring itu. Dalam keadaan sakit pun ia masih sangat menyebalkan. "Memang siapa yang mau bunuh diri? Lagi pula aku tidak memintamu menyelamatkanku. Kau sendiri yang sok pahlawan."
"Cih, selain pemarah, kau juga tidak tahu diri rupanya. Bukannya berterima kasih, kau malah memaki seenaknya," gerutu Willy. Ia membenarkan posisi berbaring nya, sehingga kini duduk bersandar di ranjang pasien.
"Kau pantas mendapatkannya. Lagi pula kau sudah mengambil ciuman pertamaku dengan tidak sopan. Dan kau pikir itu bukan masalah?"
Mendengar ucapan polos Elsa, Willy terkekeh pelan, ia memegangi perutnya yang masih terasa sakit saat tertawa.
"Jadi kau belum pernah berciuman sebelumnya?" ledeknya membuat wajah Elsa merona merah.
Seketika Elsa terdiam. Ia bagai terjebak oleh ucapannya sendiri. Memang benar, ia baru saja mengakui bahwa dirinya belum pernah berciuman dengan pria manapun. "Itu ... aku ..."
"Sudahlah, aku sangat kasihan padamu. Kau belum pernah punya pacar, makanya kau belum pernah merasakan perhatian dari seorang pria. Tapi bukan berarti kau harus bunuh diri, kan? Lihat akibat kecerobohan mu," ujarnya sembari menatap perutnya yang kini terbalut perban.
Kesal, Elsa pun kembali menatap Willy dengan tatapan tajam. "Aku kan sudah bilang, aku ke sana bukan untuk bunuh diri. Kau yang bodoh karena menyelamatkanku tanpa kuminta."
Willy berdecak, tingkah Elsa yang menggemaskan membuatnya tidak tahan untuk kembali menggoda gadis itu.
"Baiklah, kalau begitu, aku harus mendapatkan imbalan karena sudah menolongmu, kan?"
"Apa?" tanya Elsa heran. "Imbalan?"
Willy mengangguk pelan. Menatap Elsa yang kini berdiri di hadapannya. "Aku kan sudah menyelamatkan nyawamu."
"Baiklah, supaya kita impas. Jadi kita tidak perlu lagi bertemu setelah ini. Cepat katakan kau mau imbalan apa? Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan!"
Willy menyeringai misterius, seraya menatap Elsa dari ujung kepala ke ujung kaki. "Yakin?" tanya Willy diiringi anggukan kepala oleh Elsa.
Sesuatu yang mengejutkan pun terjadi. Tanpa sepatah kata pun, Willy menarik lengan Elsa, sehingga tubuhnya sedikit membungkuk. Lalu menarik tengkuknya. Kedua bola mata Elsa pun membulat, ketika merasakan benda kenyal menempel di bibirnya. Irama jantung yang tadinya normal mulai tak beraturan, bahkan Elsa telah lupa untuk bernapas karena terkejut nya. Sedangkan si playboy Willy tak memberi Elsa ruang untuk melepaskan diri.
Tersadar, Elsa akhirnya mendorong dada Willy, sehingga ciuman mendadak itu terhenti. Gadis itu nampak sangat kesal, namun lebih besar rasa malunya.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Elsa dengan kesal.
Dengan santainya, Willy mengusap bibirnya sambil menyeringai. "Aku baru saja merebut ciuman keduamu. Bagaimana rasanya?"
Mendapat pertanyaan itu, wajah Elsa semakin merona merah. Tak dapat dipungkiri bahwa ia merasakan sensasi yang lain saat bibir Willy mendarat mulus pada
tempat yang tidak seharusnya. Antara kesal bercampur malu, namun di balik semua perasaan itu ada sesuatu yang membuatnya berdebar.
"Sepertinya kau menikmatinya," ujar Willy dengan santainya.
Elsa mencoba mengatur napasnya yang memburu. "Kau benar-benar keterlaluan. Dasar dokter mesum!" Kemudian dengan kesal ia menyerang Willy dengan memukul-mukul dadanya. "Mati saja kau! Rasakan ini!"
Mendapat serangan itu, Willy hanya tertawa kecil. Ia mencoba menahan tangan Elsa yang terus menyerangnya membabi buta. Satu hal yang disadari Willy, Elsa tidak benar-benar memukulnya.
Merasa puas memukul Willy, Elsa membenarkan rambutnya yang berantakan, lalu menatap tajam Willy. "Kau sudah mengambil sesuatu yang bukan hakmu. Kau akan berhutang padaku seumur hidup."
"Aku rela membayarnya seumur hidupku." Willy kembali menggoda.
"Aku mau pulang!" seru Elsa. "Ingat, urusan kita sudah selesai. Aku tidak mau lagi bertemu dengan dokter mesum sepertimu."
"Bukankah kau baru saja berkata aku berhutang padamu seumur hidupku?"
"Aku tidak mau tahu!" teriaknya menggelegar, membuat Willy menutup telinga dengan kedua tangannya. "Pergi saja kau dari dunia ini."
Tanpa banyak bicara lagi, Elsa melangkah keluar dari ruangan itu dengan kesal. Bahkan suara hentakan kakinya terdengar sangat jelas.
Tinggallah Willy seorang diri di kamar itu. Ia kembali bersandar di pembaringan, lalu menyibak pakaian yang dikenakannya, hendak memastikan bekas jahitan di perutnya tidak mengeluarkan darah akibat diserang Elsa.
"Dasar gadis pemarah. Tapi menyenangkan juga bermain dengan gadis sepertinya," gumam Willy.
Ia melirik meja nakas di sebelahnya untuk mengambil air putih, namun tatapannya tertuju pada sebuah tas jinjing berwarna cokelat yang tertinggal di sana.
"Apa ini milik gadis tadi?"
Penasaran, Willy akhirnya meraih tas kecil itu, lalu memeriksa isinya. Benar, tas tersebut adalah kepunyaan Elsa yang tertinggal. Willy masih ingat, semalam Elsa sempat berebut tas dengan beberapa pria yang merampok mereka.
Hingga ia menemukan sebuah amplop berwarna putih yang berada di dalam tas tersebut. Penasaran, Willy akhirnya membuka amplop dan mengeluarkan sepucuk surat dari sana. Ia membaca kata demi kata yang tertulis dalam surat itu.
Teruntuk gadis manis ku yang sederhana, Mia.
Mia Sayang, seandainya takdir berbaik hati padaku dan memberiku satu kesempatan saja untuk bisa selalu dekat denganmu sebagai manusia yang lebih layak, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan itu. Akan ku nikmati detik demi detik kebersamaanku denganmu.
Tapi lihatlah kenyataan ini. Aku sangat tidak layak untuk bisa berada di tempat yang sama denganmu. Siapalah aku yang hanya seorang pria yang tidak memiliki apapun yang bisa untuk aku banggakan. Aku, hanya dapat memandangimu dari jauh saja.
Tanpa berani mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya.
Apa kau tahu? Demi dirimu, aku telah mengubur Dimas yang lama, dan membentuk Dimas yang baru.
Aku selalu berusaha menghapus noda hitam yang selalu membayangi hidupku. Bayang-bayang masa laluku yang kelam.
Tapi, bagaimana pun aku berusaha, aku tetap merasa tidak layak berada di sisimu.
Sehingga aku hanya dapat menyimpan perasaan ini jauh di lubuk hatiku.
Kau tahu, setiap hari aku selalu berusaha untuk bisa dan layak berada di sisimu. Dengan harapan, suatu hari nanti aku bisa berdiri di hadapanmu dengan perasaan bangga.
Dan, mungkin saat itu akan ku katakan seluruh isi hatiku.
Lihatlah aku!
Aku hanyalah manusia yang sudah terjebak oleh indahnya perasaan memiliki seseorang di dalam hati, dan sakitnya perasaan itu saat menyadari ketidak layakanku untukmu.
Hanya satu yang aku harapkan. Agar kau selalu bahagia dalam hidupmu. Aku, akan selalu mencintaimu,
Dimas.
"Mia? Dimas?" gumam Willy dengan alis mengerut setelah membaca isi surat itu. "Siapa Mia? Dan siapa Dimas?" Ia membuka kembali amplop itu dan mengeluarkan selembar foto dari sana. "Apa laki-laki ini yang bernama Dimas?"
"Apa yang kau lakukan?" Terdengar suara Elsa yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
***
Terima kasih yang udah ngasih hadiah Bungan dan kopi lope lope sekebon.
...Like banyakin,...
...Komen banyakin...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Wani Ihwani
Dimas tangan kanan nya Zian bukan tor??
2024-04-23
3
zalifa rahmania
dimas bukan'y anak buah kakak'y elsa ya thorr
2023-12-20
0
Retno Anggiri Milagros Excellent
iya .. sudah like se kebonnya.. 🤭😂😂
2023-12-10
0