Xiao Shuxiang mengamati dua ekor keledai yang sedang asyik memakan rumput. Sekarang hanya tersisa dua ekor keledai ini saja karena Yang Hao dan dirinya sudah menjual tiga ekor keledai yang lain.
Meski dua ekor keledai ini terlihat memakan rumput dengan lahap, namun sebenarnya mereka menjerit di dalam hati.
Kedua keledai ini memaksakan diri memakan rumput walau perut mereka sudah kenyang, alasannya karena Xiao Shuxiang memberikan banyak rumput di depan mereka.
Jika mereka tidak bisa menghabiskan rumput-rumput ini, entah apa yang akan dilakukan Xiao Shuxiang kepada mereka.
Porsi rumput ini harusnya untuk lima ekor keledai, memakan habis semuanya hanya dengan dua ekor keledai tentu saja tidak mungkin. Namun mereka terlalu takut untuk berhenti makan, sebab Xiao Shuxiang selalu mengawasi mereka.
Xiao Shuxiang sendiri melihat tubuh kedua keledai di depannya sedikit gemetar. Saat meneliti raut wajah kedua keledai ini, dia bisa melihat mata keledai-keledai di depannya mengeluarkan air.
"Hei, kalian tidak usah menangis... kalian akan mendapat rumput yang dipegang oleh Xiao Shuxiang ini! Jangan sedih begitu, ini bukan terakhir kalinya aku memberi kalian makan! Ini, ada lagi! habiskan! habiskan! Keledai pintar!" Xiao Shuxiang tersenyum lebar sambil mengelus-elus tubuh kedua keledai ini.
Dia merasa bahwa kedua keledai yang ada di dekatnya begitu senang memakan rumput yang dia berikan, bahkan sampai meneteskan air mata. Xiao Shuxiang tidak menyadari bahwa kedua keledai ini menangis karena harus dipaksa untuk menghabiskan semua rumput, padahal perut mereka sudah tidak bisa menampung lebih banyak lagi.
"Xiao'Er? Apa yang sedang kau lakukan?" Yang Shu terlihat berjalan menghampiri Xiao Shuxiang. Ucapannya ini spontan membuat anak laki-laki itu menoleh.
"Kakek..." Xiao Shuxiang keluar dari kandang keledai dan lalu menghampiri Yang Shu.
Bagi dua ekor keledai ini, kedatangan Yang Shu layaknya seperti malaikat penolong mereka. Hal itu bisa dilihat dari betapa berbinar-binarnya mata kedua keledai tersebut saat Yang Shu datang.
"Aku sedang memberi keledai makan. Kakek, kenapa datang kemari?" Xiao Shuxiang terlihat senang, suasana hatinya sedang baik saat ini.
Yang Shu mengelus pelan kepala cucunya itu, "Kakek kemari ingin mengajakmu pergi melihat sekte Kakek, semalam kau terlihat penasaran sekali. Dan setelah Kakek pikir-pikir, kau memang belum pernah Kakek ajak ke sana." Yang Shu mengelus-elus kumis dan janggutnya.
Xiao Shuxiang tersenyum canggung saat mendengar ucapan Yang Shu. Dia memang penasaran dengan sekte yang dimiliki tua bangka ini.
Sekte macam apa yang mempelajari kitab jurus yang didapatnya di pasar, itu pun bekas pedagang kacang?! itu yang Xiao Shuxiang pikirkan.
"Ba-baiklah Kek, aku bersiap-siap dulu..." Xiao Shuxiang berjalan pergi dan masuk ke dalam rumahnya.
Saat Xiao Shuxiang akan berjalan, tidak sengaja dia berpapasan dengan Xiao Lu. Xiao Lu sendiri langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil mendengus kesal, tindakannya ini membuat Xiao Shuxiang heran.
"Ada apa dengan si gadis cerewet ini?"
Xiao Lu menghampiri kakeknya, dengan wajah kesal dia mulai merutuk. "Kakek, kenapa harus mengajak 'dia' sih?! Aku tidak suka 'dia' ikut dengan kita!" orang yang dimaksud Xiao Lu tidak lain adalah Xiao Shuxiang.
"Lu'Er... Cucu kesayangan Kakek yang paling cantik! Kau jangan seperti itu pada adikmu..." Yang Shu mencubit pelan pipi Xiao Lu.
"Tapi, aku tidak suka dia ikut. Dia hanya akan membuat repot saja di sana!" Xiao Lu mengerucutkan bibirnya.
Yang Shu mengelus pelan rambut Xiao Lu, "Kau ini seperti membenci adikmu saja Lu'Er..." Yang Shu menatap cucunya dalam.
Xiao Lu sebenarnya tidak membenci Xiao Shuxiang, tidak sedikit pun. Tapi dia tidak ingin Xiao Shuxiang ikut ke sekte dengannya. Menurut Xiao Lu, kondisi fisik adiknya itu terlalu lemah.
Jika mengikutkan Xiao Shuxiang, maka perjalanan menuju sekte akan memakan waktu seharian, adiknya itu tidak akan sanggup melakukannya.
Sebelum Xiao Lu mengatakan alasan dirinya tidak suka adiknya ikut kepada Yang Shu, Xiao Shuxiang sudah berjalan keluar dari rumah bersama dengan Xiao WeiWei dan Yang Hao.
"Berhati-hatilah saat di jalan, ambil ini sebagai bekal perjalanan kalian." Xiao WeiWei memberikan sekantung buah-buahan kepada Xiao Lu.
"Kalau begitu kami pergi dulu, ayo!" ajak Yang Shu kemudian, Xiao Shuxiang dan Xiao Lu mengangguk, mereka lalu berjalan di sampingnya.
Selama perjalanan, Yang Shu menceritakan tentang bagaimana sektenya bisa berdiri kepada kedua cucunya ini.
Xiao Lu sebenarnya sudah ratusan kali mendengar cerita Yang Shu, namun dia seakan tidak pernah bosan dengan cerita kakeknya.
Perjuangan Yang Shu sejak masih muda hingga saat ini begitu membuat Xiao Lu terkagum-kagum.
Dari cerita Yang Shu, Xiao Shuxiang mengerti bahwa desa tempatnya tinggal masih berada di benua timur, hanya saja letaknya sangat terpencil.
Dia juga tahu bahwa nama sekte milik Yang Shu sekaligus tempat di mana Xiao Lu belajar ilmu pedang adalah Sekte Kupu-Kupu.
Xiao Shuxuiang tidak pernah mendengar nama sekte ini sebelumnya. Dan sepertinya dia mengerti alasan sekte tersebut tidak terkenal.
Sekte Kupu-Kupu berada di wilayah paling pinggir Benua Timur dan juga murid-muridnya tidak pernah pergi jauh, jadi sudah sepantasnya tidak ada yang mengenal mereka.
"Sekte Kupu-Kupu... aku jadi penasaran seperti apa sekte itu..." Xiao Shuxiang tersenyum tipis, dia jadi tidak sabar untuk melihat sekte yang didirikan oleh Yang Shu.
Perjalanan menuju Sekte Kupu-Kupu memakan waktu setengah hari. Xiao Lu sebenarnya sudah memperkirakan Xiao Shuxiang akan mengeluh karena lelah berjalan, namun ternyata adiknya ini sama sekali tidak merasa lelah sedikitpun. Malahan, Xiao Shuxiang begitu sangat bertenaga.
Yang Shu juga merasa keheranan dengan Xiao Shuxiang, bahkan jika bukan dirinya meminta agar beristirahat sejenak sambil memakan bekal yang disiapkan oleh Xiao WeiWei, mungkin Xiao Shuxiang tidak akan pernah beristirahat.
*
*
Xiao Shuxiang mematung dengan mulut sedikit terbuka, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Mata Xiao Shuxiang berkedip beberapa kali saat melihat keadaan Sekte Kupu-Kupu yang didirikan oleh Yang Shu, kakeknya.
Tidak jauh di depan Xiao Shuxiang berdiri sebuah gubuk tua, berdinding dan beratap jerami.
Ada sebuah sumur kecil yang terletak tidak jauh dari gubuk itu. Terlihat seorang anak laki-laki berusia sekitar 14 tahun sedang menimba air di sumur tersebut.
Selain anak laki-laki itu, Xiao Shuxiang juga melihat dua anak perempuan yang memiliki usia sekitar 9-10 tahun, mereka sedang membakar sesuatu yang menurut Xiao Shuxiang adalah kentang.
Yang membuat Xiao Shuxiang mematung dan tak berhenti berkedip adalah... empat orang anak sedang berguling-gulingan di tanah dengan wajah pucat sambil memegangi perutnya.
"A-ada apa ini?" Xiao Shuxiang berusaha mencerna situasi dihadapannya sekarang.
Berbeda dengannya, Xiao Lu dan Yang Shu seakan sudah terbiasa melihat ini. Xiao Lu kemudian mulai berjalan mendekati kedua gadis yang sedang duduk di tanah sambil memandangi api di depan mereka.
Xiao Shuxiang baru mau melangkah saat sesuatu tiba-tiba jatuh tepat di depannya, membuat Xiao Shuxiang terkejut.
Yang jatuh di depan Xiao Shuxiang adalah dua orang anak laki-laki yang sedang memperebutkan buah jeruk, mereka terlihat seperti hewan buas yang berebut makanan.
"Aku... sebenarnya berada di mana... sekarang ini?" bibir Xiao Shuxiang berkedut-kedut saat melihat kondisi yang ada di depannya.
"Xiao'Er, inilah sekte milik Kakek... Sekte Kupu-Kupu!!" Yang Shu tersenyum lebar sambil mengelus pelan kepala Xiao Shuxiang.
Xiao Shuxiang awalnya berpikir bahwa Sekte Kupu-Kupu dihiasi oleh banyak tanaman bunga, dan tentu saja kupu-kupu indah yang beterbangan sesuai namanya.
"Ini... kenyataan yang sungguh kejam." Xiao Shuxiang memijat pelan keningnya.
Dia baru saja melihat bayangan tentang anak kecil yang bahagia sedang berlari kecil dikelilingi kupu-kupu, kini retak dan hancur berkeping-keping.
Yang Shu mengajak Xiao Shuxiang untuk masuk ke dalam gubuk jeraminya, namun langkah Yang Shu berhenti tepat di depan empat anak kecil yang sedang merintih sambil memegangi perutnya.
"Wen'Er..." Yang Shu memanggil nama salah seorang anak yang sedang terbaring di tanah.
Anak yang dipanggil oleh Yang Shu ini bernama Yi Wen, satu-satunya perempuan di antara empat anak yang terbaring sambil merintih dengan tangan mengelus-elus perutnya.
Yi Wen menatap Yang Shu cukup lama, pandangan matanya agak buram karena berada di bawah sinar matahari.
"Siapa...?"
Perlahan, penglihatan Yi Wen mulai jelas. Dia sudah bisa melihat Yang Shu dengan baik.
"Tetua!!" Yi Wen berseru, dia segera bangun dan memeluk erat Yang Shu.
Seruan dari Yi Wen membuat teman-temannya yang lain juga ikut melihat ke arah Yang Shu sambil memanggilnya.
Mereka berlari dan meninggalkan apa pun yang mereka kerjakan agar bisa mendekati Yang Shu dan memeluknya.
"Jadi mereka baru sadar?" Xiao Shuxiang kembali mematung melihat tingkah laku anak-anak ini kepada Yang Shu.
"Tetua? Tetua, apa Anda membawa makanan?" salah satu anak yang tadi berguling-gulingan di tanah menatap Yang Shu dengan mata berbinar-binar.
"Tetua... Aku lapar..."
"Tetua! Kakak Jing merebut makananku!!"
"Tetua, beri Aku makanan..."
Xiao Shuxiang tidak tahu harus berkata apa saat melihat anak-anak berkerubung dan memeluk Yang Shu sambil meminta makanan kepadanya.
Sebelum Xiao Shuxiang membuka suara, dia seketika tersentak kala seorang anak laki-laki berusia lima tahun, tiba-tiba menggigit jari tangan kanannya.
"Eh?! A-apa yang kau lakukan?" Xiao Shuxiang merasa heran dengan anak laki-laki ini yang terus mengigit jarinya, perlahan gigitan itu semakin keras dan bahkan dia merasakan perih di jari tangannya.
"Hei, apa kau benar-benar ingin memakan tanganku?" tanya Xiao Shuxiang kepada anak kecil ini.
"Lapar..." anak laki-laki ini menjawab ucapan Xiao Shuxiang tanpa melepaskan jari tangan Xiao Shuxiang yang ada di dalam mulutnya.
Yang Shu mendengar ucapan Xiao Shuxiang, dia yang sibuk mengurusi murid-muridnya kini melihat Xiao Shuxiang itu menatap seorang anak kecil yang sedang asyik menggigit jari tangan cucunya itu.
Yang Shu kaget, dia segera menarik tangan Xiao Shuxiang dan langsung menggendongnya.
"Ying'Er, dia ini Cucuku! bukan makanan!"
Feng Ying terlihat menatap lesu ke arah Xiao Shuxiang. Hanya saja, tatapannya itu seakan menyayangkan Xiao Shuxiang ternyata bukanlah makanan.
Xiao Shuxiang jelas mendengus tidak percaya, bagaimana bisa anak-anak ini begitu kelaparan dan bahkan salah satu anak melihatnya sebagai makanan?!
"Ini... penyebabnya bukan karena kekacauan yang kubuat, kan?"
***
-
Catatan Penulis :
_
_
_
saatnya Dasha Sensei muncul...
.
.
.
*Dasha dan Makanan Kesyuukaannya*
.
.
Apa Kalian Tahu Minna? 〜(^∇^〜)
Biji Bunga Matahari alias Kuaci sangat tinggi dengan Qi berupa vitamin E dan selenium yang berfungsi sebagai antioksidan untuk melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. (*´∀`*)
Biji Bunga Matahari juga bermanfaat menurunkan kolesterol dan gula darah, mengurangi peradangan, mengobati penyakit jantung dan mengurangi diabetes.
Meski kaya akan manfaat, tapi jangan keseringan makan yah! Nanti ujung-ujungnya Nyampah!! ppi (*^ω^*) mhuehehehe
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 515 Episodes
Comments
Bang A.Ai
/Facepalm/
2025-01-17
0
XuZhan
🤭🤭🤭
2024-12-28
0
S P Lani
lama pengenalan nya ber bab. bab mulai belajar kapan ya masih di foging 1 mau naik level mustahil .kenapa ga stop jaa buat ceritanya kalau bacot doang dari awal sampe sekarang aduhhh
2024-09-15
0