Pernikahan Dini Dengan Musuhku

Pernikahan Dini Dengan Musuhku

PDDM Bab 1

[BAB REVISI!]

Kriieeets...

Suara mobil yang berhenti mendadak karena ada seseorang yang lari di depan mobilnya.

Tiiinn...

Orang yang ada di dalam mobil itu menekan klakson mobilnya. Tak lama keluarlah seseorang dari dalam mobil itu.

"Woi, lo bego ya?! Gak punya otak!" Kata seseorang yang hampir menabraknya. Bukannya menanyakan kabar seorang yang hampir ditabraknya, seorang Daffa Arian malah membentak gadis yang hampir ditabrak olehnya.

"Ini jalan umum, bukan jalan punya nenek moyang lo! Masa kecil lu kurang bahagia ya sampe lo lari-lari di jalanan. Bisa mati tau gak sih lo! Punya otak tuh gunain otaknya!" Sambung Daffa memaki-maki gadis yang hampir ia tabrak.

Gadis itu berdiri. Memeluk seekor anak kucing dan mengusapnya dengan lembut. "Maaf, saya cuma mau nolongin anak kucing yang hampir ketabrak sama mobil kamu. Kasian kalau kucingnya ketabrak, dia bisa mati nanti." Jawab Kania sambil menundukkan kepalanya, ia menahan air matanya agar tidak terjatuh. Kania baru pertama kali dibentak oleh orang yang tidak dikenalnya, oleh karena itu Kania hampir menangis dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulut orang asing yang baru dia lihat.

Tak lama terdengar suara berisik kemacetan lalu lintas akibat mobil Daffa yang berhenti di tengah jalan. "Arghh .... Kali ini gue biarin, tapi kalau gue ketemu sama lo lagi, gue bakal ngebales lo! Jadi jangan pernah lu nampakin diri lo depan muka gue, inget!" Ucap Daffa dengan menekankan nada bicaranya, memperingati Kania.

"Iya ...." jawab Kania

Tiiinn...

Suara klakson mobil Daffa yang menyuruh Kania pergi dari depan mobilnya.

Kania segera pergi dari depan mobilnya Daffa dan masuk kembali ke dalam tempat parkir sekolahnya untuk mengambil mobilnya. Gadis itu membawa pulang kucing yang dia selamatkan.

Di perjalanan pulang, Kania terus menangis karena ucapan kasar dari seseorang yang dirinya sendiri tidak mengenalnya. Ia tau itu kesalahannya, tapi tidak seharusnya pria itu berkata kasar.

__________

Sesampainya di rumah, Kania segera masuk ke kamar kucing miliknya, Kania sangat menyukai kucing sehingga dia mempunyai banyak sekali kucing.

Gadis itu mengedarkan pandangan nya. "Bik..." panggil Kania kepada seorang maid yang bekerja di rumahnya.

Tak lama.terdengar suara langkah kecil seseorang. "Iya, kenapa dek?" Tanya maid itu. Bibik Minah-seorang maid yang datang menghampiri Kania.

"Ini aku abis nemuin kucing di jalan, tolong urus dulu ya? Aku mau mandi dulu, habisnya gerah banget" ucap Kania sembari menyerahkan anak kucing yang berada di dalam pelukan nya ke Bibik Minah

"Siap dek... Eh dek Nia kenapa kok matanya sembab, abis nangis ya?" Tebak Bibik Minah. Menatap wajah Kania yang memerah dan sedikit sembab.

Cepat-cepat gadis itu menggeleng. "Nggak apa-apa kok Bik, cuma sakit mata doang. Bentar lagi juga sembuh kok." Jawab Kania dengan tersenyum ke arah Bibik Minah.

Dengan sedikit keraguan nya, Bibik Minah mengangguk mengiyakan. "Oh... Ya udah kalau gitu dek Nia tidur aja biar cepet sembuh ya" ucap Bibik Minah memberikan saran.

"Ya udah kalau gitu, aku ke atas dulu ya Bik"

"Iya silahkan, dek."

__________

Esoknya Kania pergi ke sekolah pagi-pagi sekali. Berjalan memasuki halaman sekolah dan secara tidak sengaja melihat mobil yang hampir menabraknya kemarin.

'Itu… Mirip mobil yang kemaren' batin Kania memperhatikan kendaraan itu dengan intens. Cepat-cepat gadis itu menggeleng. 'Nggak, cuma mirip doang pasti.' Batin Kania kembali. Meyakinkan dirinya kalau kendaraan yang ia lihat berbeda dengan kendaraan yang kemarin hampir menabrak dirinya.

Kania menaiki satu-persatu anak tangga. Saat sudah sampai di atas, Kania melihat ke lantai dasar sekolahnya. Netranya melebar, terkejut ketika melihat orang yang hampir menabraknya kemarin ada di lokasi sekolahnya. Daffa-pria itu sedang berada di dalam satu kumpulan di lapangan sekolahnya.

"Hah, kenapa dia ada disini?!" Ucap Kania terkejut.

"Terus, ngapain juga dia ngumpul bareng anak anak paskibra?" Sambung Kania. Memegang dagunya, heran dengan keberadaan pria itu.

"Duarr!!!"

Kania terlonjak kaget mendengar suara yang kencang memekik telinganya. "Astaghfirullah, siapa sih?!" Ucap Kania sambil membalikkan badannya. Mengelus dadanya yang bergemuruh karena terkejut.

"Nesya! Ngagetin aja, bisa jantungan tau!" Protes Kania ketika melihat siapa orang yang baru saja mengejutkan dirinya.

Nesya-sahabatnya itu tertawa puas melihat wajah Kania. Artinya ia berhasil memgejutkan sahabatnya itu. Tak lama tawanya terhenti. "Lagian ngapain lu disini? Bukannya masuk ke kelas."

"Iya ntar... Aku mau tanya dulu!"

"Tanya apa?" Balas Nesya. Bersedekap dada dan memasang wajah sombongnya, seolah pertanyaan yang akan Kania tanyakan dapat ia jawab.

Tatapan Kania kembali ke arah lantai dasar sekolahnya. "Itu siapa sih? Kok dia disini?" Tanya Kania menunjuk ke arah Daffa.

Nesya menutup mulutnya. Memasang ekspresi terkejut setelah mendengar pertanyaan dari sahabatnya. "Lu nggak tau, apa pura pura gak tau dia siapa?" Tanya Nesya yang masih terkejut.

Kania menggeleng menandakan kalau gadis itu benar-benar tak tau siapa pria yang baru saja ia tunjuk. "Nggak tau. Emang dia siapa?" Balas Kania jujur.

Nesya menggeleng heran. "Dia itu Daffa Arian. Masa lu nggak tau? Dia ketua paskibra di sekolah ini" jawab Nesya menjelaskan. Menunjuk sedikit ke arah Daffa yang sedang melatih para anggota juniornya.

"Oh... Aku baru tau." Kania mengangguk seadanya. Tak terlalu peduli dengan jabatan yang Daffa miliki.

"Emang kenapa? Lu suka sama Daffa ya?"

Buru-buru Kania menggeleng. "Dih... Nggak lah. Itu kemarin, dia hampir nabrak aku." Ucap Kania menjelaskan.

"Hah! Kok bisa?" Tanya Nesya terkejut. Kania menceritakan semua kejadian yang kemarin terjadi. Mulai dari ketika dirinya menyebrang dengan asal untuk menyelamatkan seekor anak kucing yang berada di tengah jalan hingga kejadian Daffa yang memaki-maki dirinya.

Nesya menutup mulutnya, kembali dibuat terkejut. "Wah... Bahaya, ntar lu bisa diganggu sama para fans nya loh!" Peringat Nesya.

"Hah fansnya? Emang dia artis?" Tanya Kania.

"Dih... Lu kudet banget sih!"

"Ya jelas lah dia banyak penggemarnya. Udah ganteng, tinggi, kaya, dan dia anak organisasi paskibra, paskibra kan latihannya berat pasti dia kuat." lanjut Nesya menjelaskan dengan detail.

"Ganteng?" Kania menatap heran. "Pfft… Biasa aja tuh." jawab Kania cepat. Ia menahan tawanya ketika mendengar ucapan 'ganteng' yang ke luar dari mulutnya Nesya.

"Lu nggak bisa bedain mana yang cakep mana yang nggak sih!" Balas Nesya menyindir.

"Terserah lah... " jawab Kania acuh. Lebih memilih meninggalkan Nesya dan berjalan menuju kelasnya.

Nesya menoleh ketika mendengar suara langkah kaki Kania yang berjalan menjauh darinya. "Ih, nggak setia kawan lu. Tiba-tiba tinggalin gue aja!" Ucap Nesya sambil berlari mengejar Kania. Menghentikan langkah sahabatnya agar bisa berjalan bersama memasuki kelas mereka.

__________

Triiing!

Suara bel istirahat terdengar di seisi sekolah. Murid-murid berhambur dari kelasnya menuju kantin sekolah. Mengisi perut mereka yang berbunyi.

Kania-gadis itu merapihkan satu persatu buku yang berada di atas mejanya. Menata kembali buku pelajaran nya. Kegiatan nya terhenti ketika namanya dipanggil. "Nia ke kantin bareng yok!" Kania menoleh, melihat segerombolan ajak pria di kelasnya yang mengajak dirinya ke kantin bersama.

"Eh... sorry ya, gue bareng temen temen ke kantinnya" tolak Kania tersenyum.

"Yah..."

"Ya udah kalau Nia nolak, tapi lain kali jangan ditolak ya?" Belum Kania jawab, sekumpulan pria itu satu-persatu berhambur meninggalkan nya.

Puukk...

Aina-sahabatnya itu menepuk bahu Kania. "Lu jadi orang jangan terlalu sempurna, jadinya gitu kan?"

"Siapa?" Tanya Kania tak mengerti apa yang dimaksud oleh Aina. Menatap Aina dan meminta penjelasan dari sahabatnya itu.

"Udah lah jangan ngebahas lagi, udah laper gue. Perut gue udah nyanyi nih!" Protes Indah-sahabat yang lain nya. Menyela ucapan antara Aina dan Kania.

"Yuk lah ke kantin!"

___________

Kania menatap ke sekelilingnya dengan bingung. Ada beberapa orang yang berbisik tentang dirinya. Entah apa yang mereka bicarakan tentang dirinya, yang jelas Kania tak tau. Gadis itu memilih diam dan tetap melanjutkan langkahnya menuju meja makan yang berada di dalam kantin.

Bruuk!

Kania menaruh kembali sendok yang tadinya akan ia masukkan ke dalam mulutnya. Mendengar dan melihat siapa yang telah berani menggebrak meja makan nya.

"Woi... Mau apa lu?!" Tanya Septy-gadis yang menggebrak meja makan nya. Menantang Kania yang sedang makan.

"Lah?! Lo yang mau apa? Jangan gak jelas deh ya! Lo dateng-dateng gebrak meja gue terus lo yang tanya maunya kita apa!" Nesya berdiri. Bersedekap dada dan menyipitkan matanya, menatap tajam gadis pembuat onar tadi.

"Gua gak ada urusan nya sama lu, gua cuma mau sama dia" ucap Septy kembali dengan menunjuk ke arah Kania.

"Aku? Emang aku ngapain?" Tanya Kania tak paham. Ikut berdiri dan menatap ketiga siswi yang menciptakan perhatian orang-orang kantin saat itu.

"Halah… Gak usah banyak drama bisa?" Ucap yang lain nya. Vera namanya, seorang siswi kelas 11 yang data lengkapnya terletak di kalung pengenal siswa yang gadis itu kenakan.

"Kita semua tau lu punya niat buruk kan?" tuduh Vera tanpa bukti. Menaikkan wajahnya, menantang Kania yang merupakan Kakak kelasnya

"Niat buruk? Aku aja nggak tau apa yang kalian maksud!"

"Gua tau lu pasti mau menjebak Daffa kan?!!" Tuduh Erina, teman nya yang lain. Menarik ujung hijab yang Kania kenakan dan meneriaki Kania.

Tatapan semua orang yang di dalam kantin tertuju pada meja Kania. Semua orang yang ada di kantin menonton pertengkaran antara Kakak dan adik kelas. Sepertinya tak ada niatan satupun dari mereka melerai pertengkaran tersebut.

"Jangan tarik tarik kerudung dong!!" Ucap Kania kesal. Gadis itu menepis tangan adik kelasnya yang berani padanya.

"Nggak usah sok suci lu, gak usah sok alim. Padahal mah... Aslinya punya niat busuk" ucap Septy seakan gadis itu jijik.

"Dia punya rencana masukin kak Daffa ke penjara kak" rajuk Erina meminta pembelaan. Menatap semua penghuni kantin supaya dirinya dibela.

"Hah?! Kata siapa?!" Tanya Kania tak membenarkan tuduhan yang diberikan padanya.

"Dek, mending lu ceritain semua masalahnya dari pada kita nggak ngerti apa maksud kamu!" suruh Aina.

Dengan semangat ketiganya bercerita. Melebih-lebihkan kejadian yang kemarin ditimpa Kania dan Daffa. Memgatakan kalau Kania memang sengaja berlari ke depan mobil Daffa agar dia tertabrak dan Daffa akan masuk penjara karena telah menabrak Kania.

"Nggak itu bohong. Lagipula ngapain gue nabrakin diri sendiri?!!" ucap Kania membela diri. Kesabaran nya telah habis. Tak terima dituduh yang tidak-tidak.

"Iya, lagian juga Kania sahabat kita dari dulu, kita semua kenal Kania" ucap Nesya membenarkan perkataan Kania. Menatap garang adik kelasnya yang tak tau malu itu.

"Gua lari ke depan mobilnya Daffa karena ada anak kucing yang hampir ketabrak mobilnya Daffa, gak lebih dari itu" ucap Kania menjelaskan.

"Bohong!" Ucap Vera dengan nada tegas.

"Terserahlah, gua nggak peduli, yang penting sekarang gua udah jelasin kalau gua nggak ada niat buruk sama sekali." Ucap Kania yang langsung pergi meninggalkan meja kantin yang ia tempati tadi. Berjalan meninggalkan kerumunan yang berbisik-bisik tak jelas tentang dirinya.

Mendengar ucapan yang tak mengenakan, Kania berlari keluar kantin dengan air matanya yang terjatuh. Kania memang tidak bisa menahan diri jika ada orang yang datang untuk menjelek-jelekkan dirinya. Ia akan menangis ditempat yang sepi hingga dirinya tenang kembali.

Secara tak sengaja, Daffa dan Kania berpapasan. Tanpa Kania sadari, pria yang hampir menabraknya tadi memitar untuk melihat siapa orang yang berlari tepat di sebelahnya.

'Kok kayak pernah liat ya? Tapi di mana?' Batin Daffa memikirkan orang yang baru saja berjalan memalui dirinya.

_________

Dikelas Daffa

"Woi Daffa, lu jadi bahan berantem lagi tuh sama anak cewek" ucap Kevin.

"Ah males gue dengernya" balas Daffa acuh.

"Tapi kali ini beda, katanya lu kemarin hampir menabrak anak cewek" timpal Rendi.

Daffa yang sedang mengerjakan tugasnya terhenti. Ia mulai tertarik dengan obrolan yang dibicarakan oleh Rendi dan Kevin saat ini. Apa mungkin karena itu suasana kantin saat ia datang sangat tegang?

"Terus-terus?" Tanya Daffa penasaran. Ia meninggalkan tugas yang sedang dikerjakan dan duduk mendekati kedua teman nya.

"Tadi katanya males dengernya" Rendi bersedekap dada. Tersenyum miring karena Daffa yang tiba-tiba berubah pikiran.

"Kejadiannya tadi di kantin pas istirahat pertama" ucap Rendi mulai bercerita. Rendi menceritakan semua kejadian yang terjadi tadi di kantin pada saat istirahat pertama.

Daffa acuh. Tak mempedulikan ucapan Rendi yang meledek dirinya. Lebih milih mendengarkan ucapan dari Kevin yang sedang menjelaskan detail kejadian nya.

Tak lama senyum sinis pria itu mengembang. Memikirkan hal apa yang akan terjadi selanjutnya. "Woy Daf, ngapain lu senyum senyum sendiri?" Tanya Kevin menghentikan ceritanya.

"Emang gak boleh gue senyum denger cerita konyol yang lagi lo ceritain?" Tanya Daffa sinis. Tak suka dengan teman-teman nya yang penasaran ada apa dengan nya.

Daffa tidak mempedulikan ucapan Kevin yang kembali bercerita. Memikirkan bagaimana caranya untuk membuat Kania berfikir bahwa tindakan waktu itu sangat buruk dan ia tidak boleh mengulanginya. Membuat gadis itu kapok berurusan dengan nya

___________

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Lah cengeng,ngapain sih nangis2..dilabrak adik klas aja nangis, Kamu harus jadi cewek yg kuat Kania,jangan gampang mewek,Semangat💪🏻💪🏻💪🏻

Mampir thor🙋🏻‍♀️🙋🏻‍♀️

2023-02-01

0

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

jangan bilang gitu dafa lama² lu bisa jatuh cinta....
mantap..

2022-12-14

0

Rapa Rasha

Rapa Rasha

salam kenal kak semoga ceritanya bagus ya lanjut

2022-12-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!