Pagi itu, matahari terbit dengan cahaya yang terlalu terang, seolah mengejek kegelapan abadi yang kini menyelimuti jiwa Lily. Gadis itu terbangun di sofa ruang tengah, tubuhnya terasa remuk redam, bukan karena lelah bekerja, melainkan karena trauma fisik dan psikis yang baru saja ia alami malam sebelumnya. Jubah tidurnya berantakan, ada noda cairan asing yang mengering di pahanya, dan rasa perih yang menusuk di setiap sudut tubuhnya. Namun, yang lebih menyakitkan daripada luka fisik adalah hancurnya kepercayaan. Kepercayaan pada sosok ayah, pada keamanan rumah, dan pada kemanusiaan itu sendiri.
Lily duduk memeluk lututnya, matanya kosong menatap dinding depan. Ia tidak menangis. Air matanya sudah habis semalam, tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Ia merasa kotor. Ia merasa hina. Ia merasa seperti benda yang telah digunakan dan dibuang oleh orang yang seharusnya melindunginya.
Budi keluar dari kamar mandi. Wajahnya pucat, matanya cekung, dan langkahnya gontai. Ia menghindari pandangan Lily, berpura-pura sibuk merapikan sandalnya di rak sepatu. Suasananya tegang, penuh dengan rahasia yang belum terucap namun terasa berat di udara.
"Lil..." panggil Budi pelan, suaranya serak dan ragu. Ia tidak berani menatap wajah putrinya. "Kamu... kamu sudah bangun?"
Lily tidak menjawab. Ia hanya menarik selimut yang masih menutupi kakinya lebih erat, seolah试图 melindungi dirinya dari keberadaan pria itu. Tubuhnya gemetar halus, sebuah respons otomatis terhadap kehadiran pelaku traumanya.
Budi menelan ludah, tenggorokannya kering. Rasa bersalah mulai menggerogoti perutnya, bercampur dengan ketakutan akan konsekuensi tindakannya. "Maafin Papa, Lil. Papa... papa tadi malam khilaf. Papa nggak bermaksud nyakitin kamu."
Kata-kata itu keluar dengan datar, tanpa penyesalan yang tulus, lebih seperti upaya untuk membenarkan diri daripada permintaan maaf yang sesungguhnya. Bagi Lily, kata "khilaf" terdengar seperti lelucon yang kejam. Khilaf adalah kesalahan kecil, lupa membawa dompet, atau…
Broken Home
Jeritan Sunyi dan Firasat Jauh
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 76 Episodes
Comments