BAB 3: Peluang Selamat: 100%

.

[Mendeteksi keinginan bertahan hidup ekstrem.]

[Sistem Peluang 100 persen aktif.]

Sebuah layar semi-transparan mengambang di depan korneanya. Teks putih terang menyala menantang kegelapan malam, memantulkan cahaya biru pucat ke wajah Fais yang membeku di udara.

[Aktifkan peluang selamat 100 persen?]

Di bawah teks itu, ada kotak pilihan maya. YA dan TIDAK.

Fais menganga. Mulutnya kering. Oksigen menolak masuk ke tenggorokannya.

Otaknya pasti rusak. Ini pasti halusinasi menjelang ajal. Kepalanya pasti sedang memproduksi hormon penenang agar ia tidak gila saat tengkoraknya pecah menghantam aspal di bawah sana.

Tapi pendar biru ini menyengat matanya. Terlalu nyata untuk sebuah mimpi buruk.

Ia tidak peduli ini sihir, halusinasi, siasat malaikat maut, atau tipu daya setan proyek mangkrak. Ia tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Ia tidak punya apa-apa untuk hilang.

Ia hanya butuh hidup. Hidup untuk membakar kota keparat ini sampai jadi abu. Hidup untuk menampar senyum teler sang mandor.

Persetan dengan segalanya. Persetan. Persetan.

"Ya," suaranya serak. Hampir tanpa suara. Hanya hembusan udara kosong yang menabrak dinginnya malam. "Aku mau hidup."

Layar biru itu seketika pecah berkeping-keping. Menjadi ribuan debu cahaya yang menyusup masuk menembus kulitnya, mengalir lurus ke sumsum tulangnya.

[Peluang terkonfirmasi. Eksekusi.]

Detik jam kembali berjalan kasar. Tarikan bumi kembali mengganas. Hujan debu semen menampar wajahnya dengan kejam.

Tapi aturan fisika malam itu dihancurkan paksa.

Terdengar bunyi dentingan keras dari arah perancah di lantai tujuh. Dentingan besi beradu besi yang melengking ngilu.

Sebuah kawat sling crane baja putus. Bukan putus perlahan karena usia. Kawat tebal sebesar paha orang dewasa itu meledak lepas dari katrolnya seperti cambuk raksasa yang marah.

Kawat itu melesat liar ke udara. Melesat menembus ruang kosong tepat di bawah tubuh Fais yang sedang meluncur bebas.

CTAR!

Ujung kawat itu menghantam sisi kiri beton, melenting kasar, menggesek tembok dengan percikan api kuning, lalu membelit kuat kerangka tiang baja yang menonjol keluar di lantai empat.

Sling baja itu membentang tegang secara diagonal. Terkunci erat. Membuat sebuah jaring darurat dadakan yang mustahil secara logika mekanika.

Tubuh Fais menghantam sling baja itu dengan telak.

Tulang punggungnya berderak. Udara terkuras habis dari dadanya dalam satu kali hentakan. Organ dalamnya terasa seperti diaduk paksa menggunakan tongkat besi.

Tapi benturan kasar itu menghentikan momentum maut jatuhnya.

Tubuhnya memantul keras ke atas. Terpental seperti boneka kain usang yang dibuang pemiliknya. Melayang melewati pinggiran beton dasar.

Dan jatuh.

Brak.

Ia tidak mencium aspal berdarah. Ia tidak hancur menjadi bubur daging di atas tumpukan bata.

Ia tenggelam.

Tubuhnya terhempas ke dalam gundukan pasir beton sedalam dua meter di pojok area bongkar muat. Pasir basah bekas genangan hujan sore tadi. Pasir dingin yang menelan sisa benturan dan merangkul tubuhnya yang hancur lebur oleh rasa sakit.

Gelap. Dingin. Pasir masuk menyumpal telinga, mulut, dan lubang hidungnya.

Ia terbatuk keras. Batuk serak yang mengeluarkan darah kental ke atas pasir. Darah yang menyengat lidahnya sendiri.

Tapi ia bernapas. Jantungnya berdetak brutal menabrak rusuk. Ia masih hidup.

Suara bising proyek mendadak mati.

Mandor tambun di lantai dasar menjatuhkan botol minumannya. Cairan alkohol oplosan tumpah membasahi sepatu botnya. Helm kuning kusamnya miring. Mulut mandor itu terbuka lebar, rahangnya nyaris lepas menatap lurus ke arah gundukan pasir di sudut area.

Beberapa kuli bangunan yang tadinya memikul besi beton menghentikan langkah mereka seketika. Besi-besi itu tergelincir jatuh berdentang ke lantai. Kaki mereka gemetar hebat.

Mereka semua melihatnya. Melihat dengan mata telanjang.

Seorang kuli cungkring jatuh bebas dari lantai tiga belas, dipukul oleh kabel crane liar yang entah dari mana asalnya, terpental keluar jalur kematian, dan mendarat presisi di satu-satunya gundukan pasir terlembut di area berdebu ini.

Fais bergerak lambat. Tangannya yang dipenuhi luka gores mencengkeram pasir basah itu.

Pasir basah ini nyata. Kasar. Lengket.

Ia menarik tubuhnya perlahan dari cekungan pasir. Tulang-tulangnya serasa diremukkan dan disusun ulang secara acak oleh tangan tak terlihat. Rasa sakitnya menembus ubun-ubun. Sakit. Sakit sekali.

Tapi otot-ototnya bergerak menuruti perintah otaknya.

Ia duduk di atas pasir. Menghela napas panjang bergetar. Tangannya mengusap kasar mulutnya, mengeluarkan butiran pasir dari celah giginya. Darah menetes lambat dari pelipis kirinya, mengalir melewati matanya yang memerah parah.

Mandor itu berjalan mendekat dengan langkah terseret-seret. Wajah tambunnya pucat sepucat mayat di kamar jenazah. Bau alkohol dari mulutnya lenyap tak berbekas, tergantikan oleh keringat dingin ketakutan yang mengucur deras.

"K-kau... Kau masih hidup?" suara mandor itu bergetar. Gemetar parah seperti melihat iblis bangkit dari kerak bumi. Jari gemuknya menunjuk ke arah Fais dengan ngeri. "Kau jatuh dari lantai tiga belas, anak setan."

Fais tidak menjawab. Sama sekali tidak tertarik menjawab. Matanya tidak menatap mandor itu.

Ia menatap telapak tangannya sendiri.

Telapak tangan yang kotor, kapalan, penuh sisa semen dan darah segar. Tangan seorang manusia yang tidak punya harga sepeser pun dua jam lalu.

Satu kedipan lambat.

Layar transparan biru kecil kembali berkedip muncul di pinggiran sudut pandangannya. Menumpuk di atas pemandangan aspal proyek yang kotor.

[Peluang terselesaikan. Akumulasi status awal sedang diproses ke dalam tubuh Host.]

Fais perlahan mengepalkan tangannya. Erat. Sangat erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan yang terluka.

Uang di bank menolaknya mentah-mentah. Bagas menertawakannya tanpa beban. Dunia membuangnya layaknya sampah sisa.

Tapi malam ini, sesuatu di luar sana baru saja mematahkan hukum dunia hanya karena ia menolak untuk mati.

Fais mengangkat kepalanya perlahan, menatap lurus ke arah mandor tambun yang masih mematung ketakutan di depannya. Tidak ada rasa takut di mata Fais. Hanya ada kekosongan yang mengerikan.

Ia mengusap sisa darah di dagunya. Menyadari bahwa mulai detik ini, nilainya bukan lagi sebatas tiga puluh lima juta.

Terpopuler

Comments

Mamat Stone

Mamat Stone

buktikan merah Mu Jagoan

2026-06-04

1

Mamat Stone

Mamat Stone

waktunya Jagoan Neon beraksi

2026-06-04

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Hidup Seorang Pecundang
2 BAB 2: Pecundang Tidak Punya Pilihan
3 BAB 3: Peluang Selamat: 100%
4 BAB 4: Kemampuan Tidak Masuk Akal
5 BAB 5: Bertahan Dari Ketidakadilan
6 BAB 6: Tujuh Hari Neraka
7 BAB 7: Hadiah dari Perjuangan
8 BAB 8: Uang Mengubah Segalanya
9 BAB 9: Menjadi Kaya
10 BAB 10: Dunia yang Terasa Berbeda
11 BAB 11: Peti Legendaris
12 BAB 12: Ada Harga, Ada Kualitas
13 BAB 13: Kekuatan Luar Biasa dan Penyesalan Abadi
14 BAB 14: Insting Bertarung
15 BAB 15: Passive Income
16 BAB 16: Negosiasi
17 BAB 17: Kontrak
18 BAB 18: Aset Pertama
19 BAB 19: Lisensi
20 BAB 20: Probabilitas Keberhasilan 100%
21 BAB 21: Hutang Lama
22 BAB 22: Negosiasi dengan Bos Para Penagih
23 BAB 23: Kerjasama dengan Sang Perwira
24 BAB 24: 100%
25 BAB 25: Makan Malam Bersama Keluarga
26 BAB 26: Ritme Baru
27 BAB 27: Kehadiran yang Tenang
28 BAB 28: CEO Misterius
29 BAB 29: Reuni Alumni
30 BAB 30: Permukaan Dunia Elit
31 BAB 31: Jejak Lama
32 BAB 32: Inhumane Gen
33 BAB 33: Misi Darurat
34 BAB 34: Anomali
35 BAB 35: Setelah Pertempuran
36 BAB 36: Ekspansi
37 BAB 37: Rapat Penting
38 BAB 38: Tempat Aman
39 BAB 39: Malam Perayaan
40 BAB 40: Pengakuan
41 BAB 41: Ruang di Luar Waktu
42 BAB 42: Ruang Di Luar Waktu (2)
43 BAB 43: Monster Barak
44 BAB 44: Baton
45 BAB 45: Keluarga Floren
46 BAB 46: Anak yang Tidak Berguna
47 BAB 47: Hujan yang Tidak Terasa Dingin
48 BAB 48: Sangkar Emas
49 BAB 49: Bayangan di Bawah Floren
50 BAB 50: Tekanan Bisnis
51 BAB 51: Retakan
52 BAB 52: Persiapan
53 BAB 53: Masuk dalam Senyap
54 BAB 54: Sesuatu yang Berbeda
55 BAB 55: Keluar dari Kurungan Bunker
56 BAB 56: Setelah Keluar
57 BAB 57: Nama yang tersebar
58 BAB 58: Rugi dan Untung
59 BAB 59: Kehangatan di Distrik Barat
60 BAB 60: Kekecewaan dan Kesempatan
61 BAB 61: Setelah Sekian Lama
62 BAB 62: Latihan Terakhir
63 BAB 63: Evolusi dan Sebuah Benih
64 BAB 64: Anak Baru di Unit Cakrawala
65 BAB 65: Keputusan
66 BAB 66: Dua Wanita yang Jatuh Cinta
67 BAB 67: Dua Wanita yang Jatuh Cinta (2)
68 BAB 68: Setelah Malam yang Panjang
69 BAB 69: Setelah Malam yang Panjang (2)
70 BAB 70: Kembali ke Dunia Bisnis
71 BAB 71: Pertemuan Para Elit
72 BAB 72: Duel Dominasi
73 BAB 73: Terpojok
74 BAB 74: Rencana telah Siap
75 BAB 75: Situasi Terbalik
76 BAB 76: Perpindahan Opini
77 BAB 77: Setelah Rapat
78 BAB 78: Triputra dan isinya
79 BAB 79: Toko Sistem
80 BAB 80: Urban Legend "Hantu Tak Kasat Mata"
81 BAB 81: Urban Legend "Hantu Tak Kasat Mata" (2)
82 BAB 82: Rutinitas Sang Penguasa Cakrawala
83 BAB 83: Perbincangan di Meja Makan
84 BAB 84: Pembagian Skill
85 BAB 85: Sampai di barak
86 BAB 86: Evolusi Unit Cakrawala
87 BAB 87: Pengawasan
88 BAB 88: Hal di Luar Jangkauan
89 BAB 89: Membuka Peti Gacha
90 BAB 90: Jane
91 BAB 91: Taktik Gerilya
92 BAB 92: Pengganti Pria Bertopeng
93 BAB 93: Reaksi
94 BAB 94: Dampak yang Diberikan
95 BAB 95: Bahaya di Balik Bayangan
96 BAB 96: Noir
97 BAB 97: Jalur yang Disiapkan
98 BAB 98: Jalur Tebing
99 BAB 99: Variabel
100 BAB 100: Jalan Menuju Kekuasaan
101 PENGUMUMAN
102 Pengumuman karya baru
103 Pengumuman Karya Baru 2
Episodes

Updated 103 Episodes

1
BAB 1: Hidup Seorang Pecundang
2
BAB 2: Pecundang Tidak Punya Pilihan
3
BAB 3: Peluang Selamat: 100%
4
BAB 4: Kemampuan Tidak Masuk Akal
5
BAB 5: Bertahan Dari Ketidakadilan
6
BAB 6: Tujuh Hari Neraka
7
BAB 7: Hadiah dari Perjuangan
8
BAB 8: Uang Mengubah Segalanya
9
BAB 9: Menjadi Kaya
10
BAB 10: Dunia yang Terasa Berbeda
11
BAB 11: Peti Legendaris
12
BAB 12: Ada Harga, Ada Kualitas
13
BAB 13: Kekuatan Luar Biasa dan Penyesalan Abadi
14
BAB 14: Insting Bertarung
15
BAB 15: Passive Income
16
BAB 16: Negosiasi
17
BAB 17: Kontrak
18
BAB 18: Aset Pertama
19
BAB 19: Lisensi
20
BAB 20: Probabilitas Keberhasilan 100%
21
BAB 21: Hutang Lama
22
BAB 22: Negosiasi dengan Bos Para Penagih
23
BAB 23: Kerjasama dengan Sang Perwira
24
BAB 24: 100%
25
BAB 25: Makan Malam Bersama Keluarga
26
BAB 26: Ritme Baru
27
BAB 27: Kehadiran yang Tenang
28
BAB 28: CEO Misterius
29
BAB 29: Reuni Alumni
30
BAB 30: Permukaan Dunia Elit
31
BAB 31: Jejak Lama
32
BAB 32: Inhumane Gen
33
BAB 33: Misi Darurat
34
BAB 34: Anomali
35
BAB 35: Setelah Pertempuran
36
BAB 36: Ekspansi
37
BAB 37: Rapat Penting
38
BAB 38: Tempat Aman
39
BAB 39: Malam Perayaan
40
BAB 40: Pengakuan
41
BAB 41: Ruang di Luar Waktu
42
BAB 42: Ruang Di Luar Waktu (2)
43
BAB 43: Monster Barak
44
BAB 44: Baton
45
BAB 45: Keluarga Floren
46
BAB 46: Anak yang Tidak Berguna
47
BAB 47: Hujan yang Tidak Terasa Dingin
48
BAB 48: Sangkar Emas
49
BAB 49: Bayangan di Bawah Floren
50
BAB 50: Tekanan Bisnis
51
BAB 51: Retakan
52
BAB 52: Persiapan
53
BAB 53: Masuk dalam Senyap
54
BAB 54: Sesuatu yang Berbeda
55
BAB 55: Keluar dari Kurungan Bunker
56
BAB 56: Setelah Keluar
57
BAB 57: Nama yang tersebar
58
BAB 58: Rugi dan Untung
59
BAB 59: Kehangatan di Distrik Barat
60
BAB 60: Kekecewaan dan Kesempatan
61
BAB 61: Setelah Sekian Lama
62
BAB 62: Latihan Terakhir
63
BAB 63: Evolusi dan Sebuah Benih
64
BAB 64: Anak Baru di Unit Cakrawala
65
BAB 65: Keputusan
66
BAB 66: Dua Wanita yang Jatuh Cinta
67
BAB 67: Dua Wanita yang Jatuh Cinta (2)
68
BAB 68: Setelah Malam yang Panjang
69
BAB 69: Setelah Malam yang Panjang (2)
70
BAB 70: Kembali ke Dunia Bisnis
71
BAB 71: Pertemuan Para Elit
72
BAB 72: Duel Dominasi
73
BAB 73: Terpojok
74
BAB 74: Rencana telah Siap
75
BAB 75: Situasi Terbalik
76
BAB 76: Perpindahan Opini
77
BAB 77: Setelah Rapat
78
BAB 78: Triputra dan isinya
79
BAB 79: Toko Sistem
80
BAB 80: Urban Legend "Hantu Tak Kasat Mata"
81
BAB 81: Urban Legend "Hantu Tak Kasat Mata" (2)
82
BAB 82: Rutinitas Sang Penguasa Cakrawala
83
BAB 83: Perbincangan di Meja Makan
84
BAB 84: Pembagian Skill
85
BAB 85: Sampai di barak
86
BAB 86: Evolusi Unit Cakrawala
87
BAB 87: Pengawasan
88
BAB 88: Hal di Luar Jangkauan
89
BAB 89: Membuka Peti Gacha
90
BAB 90: Jane
91
BAB 91: Taktik Gerilya
92
BAB 92: Pengganti Pria Bertopeng
93
BAB 93: Reaksi
94
BAB 94: Dampak yang Diberikan
95
BAB 95: Bahaya di Balik Bayangan
96
BAB 96: Noir
97
BAB 97: Jalur yang Disiapkan
98
BAB 98: Jalur Tebing
99
BAB 99: Variabel
100
BAB 100: Jalan Menuju Kekuasaan
101
PENGUMUMAN
102
Pengumuman karya baru
103
Pengumuman Karya Baru 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!