Langkah Anisa baru saja melewati serambi ndalem ketika suara Ibu Nyai memanggilnya lembut.
“Anisa, sini duduk sebentar.”
Nada itu tidak tinggi, tidak pula keras. Nada itu terlalu tenang, yang membuat jantung Anisa berdebar.
Ia duduk bersimpuh di hadapan Ibu Nyai. Umi Laila menatapnya lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang tak terlihat.
“Di Malang… udaranya sejuk, nggih?” tanya beliau pelan.
Anisa mengangguk. “Inggih, Umi...”
“Kalau udara sejuk, orang biasanya merasa nyaman. Nyaman itu kadang membuat lupa batas.”
Kalimat itu meluncur ringan. Tapi maknanya menekan dada Anisa.
Anisa menunduk lebih dalam.
“Statusmu sekarang menjadi istri,” lanjut Ibu Nyai, suaranya tetap lembut. “Itu kemuliaan. Tapi di sisi lain… kamu juga masih santri. Santri itu hidupnya dijaga. Bukan hanya perilakunya, tapi juga kemungkinan-kemungkinannya.”
Anisa meremas ujung kerudungnya.
Ibu Nyai tidak menyebut apa pun secara langsung. Tidak ada kata ‘ranjang’. Tidak ada kata ‘hamil’. Tapi setiap kalimat terasa tajam.
“Kadang sesuatu yang halal di satu tempat… bisa menjadi ujian di tempat lain,” ucap beliau sambil menatap Anisa dalam-dalam. “Bukan karena salahnya. Tapi karena mata manusia sering lebih cepat menilai daripada memahami.”
Anisa mengangguk pelan. Tenggorokannya terasa kering.
“Nama pondok ini sudah lama dijaga. Nama keluarga juga bukan perkara ringan. Dan masa depan seorang perempuan…” Ibu Nyai berhenti sejenak, lalu melanjutkan lebih pelan, “terkadang bisa berubah hanya karena satu kabar yang belum tentu utuh.”
Anisa mulai mengerti arah pembicaraan itu.
“Kami hanya ingin kamu menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai di madrasah. Ilmu itu bekalmu. Jangan sampai ada keadaan yang membuat langkahmu harus berhenti di tengah jalan.”
Sunyi beberapa detik.
“Kalau dua orang sudah halal,” sambung Ibu Nyai, “mereka tentu tahu kapan waktunya mendekat… dan kapan waktunya menjaga jarak. Menahan diri juga bagian dari ibadah.”
Tidak ada nada melarang. Tidak ada ancaman.
Hanya isyarat.
Isyarat yang…
ISTRIKU SANTRIKU
Bab 41 Tragedi Malam Jum'at
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 114 Episodes
Comments
Suharti
sduuuh berat amat sih perjuangan Anisa dan Gus hafiz. kasian.🤭
2026-09-15
0