Diceraikan Suami, Dipinang Sahabat Kakakku

Diceraikan Suami, Dipinang Sahabat Kakakku

Episode 1 Kenyataan pahit

Adinda yang masih menjalani perawatan di rumah keluarga suaminya, rasanya seperti kehilangan arah. Ada bagian dari dirinya yang terasa hampa, seolah harapan yang dulu dijaga perlahan memudar. Sejak suaminya lama tidak pulang, kesepian menjadi teman yang tak diundang.

Namun bukan hanya sepi yang menyakitkan,

melainkan kata-kata yang menusuk dari orang-orang yang seharusnya menjadi keluarga.

“Kamu itu nyusahin saja tinggal di rumah ini! Kalau bukan karena permintaan Riko, mana mungkin aku sudi menerima kamu. Dasar menantu tidak berguna!”

Suara ibu mertuanya terdengar begitu tajam, membuat dada Adinda serasa diremas.

Belum sempat ia menelan luka dari ucapan itu,

Zoya, adik iparnya pun ikut menambah perih dengan ucapannya.

“Mending suruh cerai aja, Ma. Biar Kak Riko bebas dari beban. Lagi pula, perempuan yang lebih baik dari dia juga banyak. Aku aja nggak sudi punya kakak ipar kayak gitu.”

Adinda hanya diam.

Matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya memilih bungkam. Ia ingin menjelaskan, ingin berkata bahwa dirinya tak pernah berniat merepotkan siapa pun. Tapi suaranya tertelan bersama air mata yang jatuh tanpa suara.

“Benar juga katamu, Zoya. Mama pun sudah tidak sudi punya menantu seperti dia. Riko pantasnya menikah dengan perempuan lain, perempuan yang jelas kualitasnya.” Ucapan ibu mertua itu meluncur tajam, seolah tanpa hati, dan langsung menembus perasaan Adinda yang sudah lama rapuh.

Adinda hanya terdiam. Bibirnya bergetar, tapi tak ada satu pun kata yang mampu keluar. Ia sudah terlalu sering disalahkan, terlalu sering dianggap beban. Di mata keluarga suaminya, keberadaannya tak pernah berarti apa-apa. Ia sadar, dengan segala keterbatasan fisiknya, ia tidak punya kekuatan untuk melawan, bahkan untuk sekadar membela diri.

“Mbak Tia… tolong antar saya ke kamar,” ujarnya lirih, hampir tak terdengar. Suaranya gemetar, matanya menunduk menahan air mata yang siap jatuh. Ia hanya ingin menjauh, pergi dari ruangan itu sebelum seluruh harga dirinya hancur oleh kata-kata yang semakin kejam. Saat langkahnya perlahan menjauh, suasana rumah itu terasa semakin dingin—seolah tidak ada tempat baginya untuk disebut rumah lagi.

Di ruang keluarga, Nyonya Merti duduk dengan wajah masam, jemarinya mengetuk meja dengan nada kesal.

“Ma, kapan Mama mau memisahkan Kak Riko dari istrinya? Zoya tuh udah malas lihat dia tinggal di rumah ini. Lagian juga cuma nambah beban keluarga,” ucap Zoya dengan nada sinis, matanya berkilat penuh kebencian.

Nyonya Merti tersenyum tipis, senyum yang tak menunjukkan kasih seorang ibu, melainkan rencana yang dingin.

"Tenang saja, Zoya. Mama akan mempercepat semuanya. Lihat saja nanti, Adinda akan benar-benar terpukul setelah Riko menceraikannya."

Sementara itu, di dalam kamar yang kini terasa seperti penjara, Adinda duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong. Ponselnya sudah disita, atas alasan “untuk kebaikannya”—padahal itu hanyalah cara agar ia tak bisa bersuara, tak bisa mengadu kepada suaminya.

Setiap hari, ia merasa seperti dikendalikan. Setiap gerak langkahnya seolah diawasi. Ia hanya bisa pasrah, meski hatinya menjerit.

Yang lebih menyakitkan, suaminya, orang yang dulu ia percayai sepenuh hati, kini dengan mudah terhasut oleh ibunya sendiri.

Katanya, Adinda diam-diam bertemu laki-laki di rumah saat Riko tak ada.

Padahal lelaki itu hanyalah orang terdekat di rumahnya, yakni teman kakaknya yang datang untuk menjenguk, membawa obat dan makanan karena tahu Adinda masih sakit. Tapi bagi mereka, kebaikan itu dijadikan alasan untuk menjatuhkan harga dirinya.

“Mbak Tia, terima kasih ya… sudah setia menemani saya selama tinggal di rumah ini. Saya nggak tahu harus bagaimana tanpa kebaikan Mbak Tia,” ucap Adinda dengan suara pelan, nyaris bergetar.

“Nona tidak perlu berterima kasih,” jawab Mbak Tia lembut. “Sudah menjadi tanggung jawab saya untuk menjaga Nona. Juga, pesan dari mendiang Tuan Erizon untuk menemani Nona, seberat apa pun keadaannya, saya harus tetap di samping Nona.”

Adinda menunduk, menatap jemarinya yang saling menggenggam lemah.

“Andai Kak Erizon masih hidup… mungkin semuanya tidak akan serumit ini ya, Mbak. Mungkin keluargaku juga nggak akan berantakan seperti sekarang.”

Mbak Tia segera menatapnya, mencoba menenangkan dengan suara lembut, “Nona jangan bicara sembarangan. Semua akan baik-baik saja, percayalah. Tuhan pasti punya rencana.”

Sebuah senyum pahit terukir di bibir Adinda, senyum yang lebih mirip luka daripada kebahagiaan. Di balik ketenangannya, hatinya terasa remuk. Ia hanya ingin hidup damai, tapi malah terperangkap di antara kebencian dan fitnah.

Tiba-tiba, seorang asisten rumah mengetuk pintu perlahan.

“Permisi, Nona… ada tamu di luar, katanya ingin bertemu dengan Nona, dia Tuan Vikto.”

Adinda mengangkat wajahnya perlahan. “Kalau tamunya Tuan Vikto, suruh masuk saja ya, Mbak,” katanya tenang, meski dalam nada suaranya terselip sesuatu.

Mbak Tia tampak ragu. “Tapi, Nona… kalau Nyonya sampai tahu, dan melapor ke Tuan Riko, bagaimana?”

Adinda menghela napas pelan. “Biarin saja, Mbak. Paling juga mau nanya kabar."

“Tapi, Nona—”

“Sudah, tolong bantu aku keluar dulu. Kamu tidak perlu takut."

Mbak Tia menatap wajah Adinda yang mulai pucat. Ia tahu, ada keputusan besar yang sedang disembunyikan di balik ketenangan itu.

“Baik, Nona,” ucapnya akhirnya, dengan nada khawatir yang tak bisa disembunyikan.

Mbak Tia pun bergegas keluar bersama Adinda.

"Tuan, mari silakan masuk," ucap asisten rumah. Lalu, segera melapor kepada Nyonya Merti sesuai perintahnya kalau ada tamu ingin menemui Adinda.

“Dinda, bagaimana kabarmu?” suara Vikto terdengar hangat, namun ada nada canggung di ujungnya. “Maaf ya, aku baru sempat datang menjenguk. Oh iya, Mbak Tia, ini aku bawa obat, buah, sama sedikit camilan yang Dinda suka. Tolong diterima, ya.”

“Terima kasih, Kak Vikto.” Adinda tersenyum lemah, Mbak Tia langsung menerimanya.

Vikto tersenyum dan mengangguk pelan.

“Kakak tidak perlu serepot ini. Aku sudah cukup, obat dan makanan juga masih banyak di rumah ini.”

Vikto menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Anggap saja… ini cara aku buat menunjukkan kepedulianku padamu. Lagipula, sudah lama juga aku nggak dengar kabar kamu.” Ia menatap Adinda sesaat, matanya penuh iba. “Oh iya, suamimu mana? di kantor kah?"

"Tidak, dia di luar negri sudah dua minggu ini. Waktu itu, pulang cuma sebentar, habis itu berangkat lagi."

"Jadi, suami kamu di luar negri?"

“Iya,” jawab Adinda datar, menatap lantai.

"Ngapain sering di luar negri?"

“Katanya ada proyek baru yang harus ditangani. Biasanya cuma sempat pulang satu atau dua hari, itu pun langsung berangkat lagi.”

Vikto menarik napas panjang, menahan amarah yang tak ingin ia tunjukkan. “Suami macam apa dia, Dinda? Sesibuk itu sampai lupa kalau istrinya sedang sakit? Apa sesibuk itu sampai lupa… kamu itu punya perasaan?”

Adinda menunduk, bibirnya bergetar. “Sudahlah, Kak Vikto. Itu sudah jadi pilihanku. Aku tahu konsekuensinya, jadi Kak Vikto nggak perlu marah.”

“Aku cuma—” Vikto terdiam, menatap wajah pucat Adinda. Ia ingin melanjutkan kalimatnya, tapi lidahnya kelu.

Adinda menatapnya pelan. “Kenapa? Kok nggak jadi ngomong?”

Vikto mengalihkan pandangan. Suaranya merendah, nyaris berbisik.

“Tidak apa-apa… aku cuma takut, Dinda. Takut kamu benar-benar diabaikan oleh orang yang seharusnya paling menjaga kamu.”

Keheningan menutup ruang itu. Hanya suara napas mereka yang terdengar, satu penuh kepedihan, satu lagi menahan sesak yang tak bisa diungkapkan.

Terpopuler

Comments

Uba Muhammad Al-varo

Uba Muhammad Al-varo

kisah seorang istri yang diabaikan suami nya padahal lagi sakit

2025-11-07

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Kenyataan pahit
2 Episode 2 Shock
3 Episode 3 Spontan kaget
4 Episode 4 Keluar dari rumah
5 Episode 5 Kembali sedih
6 Episode 6 Pertengkaran
7 Episode 7 Merasa tidak berguna
8 Episode 8 Ingin pergi
9 Episode 9 Ucapan yang begitu menyakitkan
10 Episode 10 Pergi ke rumah sakit
11 Episode 11 Hinaan
12 Episode 12 Berdebat
13 Episode 13 Pergi
14 Episode 14 Benar-benar harus kuat dan sabar
15 Episode 15 Bertemu dengan mantan suami
16 Episode 16 Terbongkar
17 Episode 17 Akhirnya
18 Episode 18 Merasa bahagia
19 Episode 19 Disergap warga
20 Episode 20 Canggung
21 Episode 21 Sama-sama kaget
22 Episode 22 Suasana didalam rumah
23 Episode 23 Kabar tak terduga
24 Episode 24 Sangat terkejut
25 Episode 25 Perdebatan tak kunjung reda
26 Episode 26 Merasa terpojok
27 Episode 27 Rapuh
28 Episode 28 Sebuah pesan singkat
29 Episode 29 Kesedihan
30 Episode 30 Kenyataan yang sebenarnya
31 Episode 31 Pulang ke kediaman
32 Episode 32 Merasa gugup
33 Episode 33 Serasa malu
34 Episode 34 Sama-sama gugup dan malu
35 Episode 35 Perdebatan
36 Episode 36 Pulang ke rumah sebelumnya
37 Episode 37 Liburan
38 Episode 38 Malam yang dinantikan oleh Vikto
39 Episode 39 Rahasia yang membuat keluarga penasaran
40 Episode 40 Sangat menegangkan
41 Episode 41 Ketegangan
42 Episode 42 Kebenaran yang terungkap
43 Episode 43 Penuh teka teki
44 Episode 44 Meminta maaf
45 Episode 45 Penuh kecewa dan sakit hati
46 Episode 46 Ada yang gugup dan kikuk
47 Episode 47 Dikantor polisi
48 Episode 48 Keseruan bersama
49 Episode 49 Ada bahagia, ada juga penyesalan
50 Episode 50 Sidang pengadilan
51 Episode 51 Dijodohkan
Episodes

Updated 51 Episodes

1
Episode 1 Kenyataan pahit
2
Episode 2 Shock
3
Episode 3 Spontan kaget
4
Episode 4 Keluar dari rumah
5
Episode 5 Kembali sedih
6
Episode 6 Pertengkaran
7
Episode 7 Merasa tidak berguna
8
Episode 8 Ingin pergi
9
Episode 9 Ucapan yang begitu menyakitkan
10
Episode 10 Pergi ke rumah sakit
11
Episode 11 Hinaan
12
Episode 12 Berdebat
13
Episode 13 Pergi
14
Episode 14 Benar-benar harus kuat dan sabar
15
Episode 15 Bertemu dengan mantan suami
16
Episode 16 Terbongkar
17
Episode 17 Akhirnya
18
Episode 18 Merasa bahagia
19
Episode 19 Disergap warga
20
Episode 20 Canggung
21
Episode 21 Sama-sama kaget
22
Episode 22 Suasana didalam rumah
23
Episode 23 Kabar tak terduga
24
Episode 24 Sangat terkejut
25
Episode 25 Perdebatan tak kunjung reda
26
Episode 26 Merasa terpojok
27
Episode 27 Rapuh
28
Episode 28 Sebuah pesan singkat
29
Episode 29 Kesedihan
30
Episode 30 Kenyataan yang sebenarnya
31
Episode 31 Pulang ke kediaman
32
Episode 32 Merasa gugup
33
Episode 33 Serasa malu
34
Episode 34 Sama-sama gugup dan malu
35
Episode 35 Perdebatan
36
Episode 36 Pulang ke rumah sebelumnya
37
Episode 37 Liburan
38
Episode 38 Malam yang dinantikan oleh Vikto
39
Episode 39 Rahasia yang membuat keluarga penasaran
40
Episode 40 Sangat menegangkan
41
Episode 41 Ketegangan
42
Episode 42 Kebenaran yang terungkap
43
Episode 43 Penuh teka teki
44
Episode 44 Meminta maaf
45
Episode 45 Penuh kecewa dan sakit hati
46
Episode 46 Ada yang gugup dan kikuk
47
Episode 47 Dikantor polisi
48
Episode 48 Keseruan bersama
49
Episode 49 Ada bahagia, ada juga penyesalan
50
Episode 50 Sidang pengadilan
51
Episode 51 Dijodohkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!